Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Keterkejutan Reynaldi


Reynaldi masih setia menunggu Melani siuman. Dia duduk termenung di kursi yang berada di ruangannya. Lina sang asisten, sesekali melirik ke arah suami bosnya. Dia merasa kasihan melihatnya. Rumah tangga Reynaldi dan Melani baru saja dimulai, tapi mereka sudah langsung diuji dengan penyakit Melani.


"Kamu pulang saja ke hotel! Ibu Melani, biar saya saja yang menjaga! Kamu sudah capek, menunggu dia. Lebih baik sekarang kamu pulang, dan beristirahat!" ujar Reynaldi.


"Bapak yakin, memperbolehkan saya pulang?" tanya Lina. Reynaldi terlihat dingin kepada Lina.


"Tentu saja! Sebelum saya datang, kamu sudah sibuk menjaganya! Kini giliran saya, yang menjaga istri saya! Sudah sana, pulang saja! Kalau nanti saya perlu, saya akan menghubungi kamu. Saya minta nomor telepon kamu!" ucap Reynaldi dan akhirnya Lina memberikan nomor telponnya kepada Reynaldi.


Setelah memberikan nomor teleponnya, Lina pamit pulang ke hotel. Kini hanya Reynaldi yang menunggu Melani di rumah sakit. Lina sudah kembali ke hotel. Dia menjadi kepikiran bosnya. Berharap bosnya bisa segera sehat.


Reynaldi teringat, kalau dia belum menghubungi anaknya. Untuk membatalkan rencana jalan-jalan besok. Melihat nomor telepon ayahnya menghubunginya, Khanza langsung menerima panggilan telepon itu.


"Assalamualaikum. Kak, maaf. Besok Ayah gak jadi ajak kamu jalan-jalan. Mama Melani sakit di Singapura, masuk rumah sakit. Ini Ayah di rumah sakit, lagi jagain dia. Ayah minta do'anya ya Kak, biar Mama Melani cepat sadar, dan sembuh kembali!" ucap Reynaldi kepada sang anak.


"Iya, Ayah. Tak apa-apa. Ayah fokus aja dulu sama Mama Melani. Semoga Mama Melani bisa segera sadar, dan sehat kembali. Aamiin. Sabar ya Ayah, ini ujian untuk Ayah!" sahut Khanza.


Reynaldi terus saja berdoa, untuk kesembuhan istrinya. Melani masih memejamkan matanya. Entah sampai kapan dia seperti itu. Reynaldi duduk di sebelah sang istri, dan menggenggam tangan istrinya. Sesekali dia juga menciumi istrinya.


"Bangun dong, Sayang! Aku merindukan kamu. Memangnya, kamu gak kangen sama aku?" ujar Reynaldi. Dia sengaja mengajak bicara istrinya, karena dia yakin. Kalau sang istri, bisa mendengar ucapan dia.


Reynaldi menghampiri ruang perawat, untuk menanyakan penyakit yang diderita istrinya saat ini. Sampai-sampai sang istri mengalami koma. Reynaldi langsung shock, saat mendengar pernyataan dari perawat. Berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan Melani.


"Apa, kanker? Sudah stadium berapa? Apa pasien, masih bisa disembuhkan?" tanya Reynaldi kepada sang perawat. Dia membutuhkan penjelasan dari sang perawat.


"Ya Allah, cobaan apalagi yang engkau berikan? Kakiku seakan tak bisa berpijak. Dadaku terasa begitu sesak. Apakah aku tak patut untuk bahagia? Mengapa aku selalu dihadapkan dengan situasi seperti ini lagi?" ucap Reynaldi dalam hati.


"Kenapa kamu menutupi penyakit kamu dari aku? Jika aku tahu dari kemarin-kemarin. Aku pasti akan mendampingi kamu terus. Kita lewati bersama!" ucap Reynaldi lagi dalam hati.


Perasaan Reynaldi kala itu begitu hancur. Rasanya, masih seperti sebuah mimpi. Dia berharap istrinya segera sehat. Allah masih memberikan waktu kepadanya, kesempatan bersama. Reynaldi langsung menghampiri Melani kembali, menggenggam tangan Melani kembali yang terasa begitu dingin. Air mata Reynaldi jatuh satu persatu. Dia begitu terpukul, mengetahui istrinya mengidap kanker otak.