Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Karma Untuk Viona


"Pak, berdasarkan data riwayat pasien. Istri bapak saat ini mengidap penyakit kanker serviks," jelas sang dokter.


Ucapan sang dokter membuat Reynaldi melongo. Seperti sebuah bom yang meledak di kepalanya. Reynaldi tak mampu berkata-kata. pupus sudah harapannya untuk memiliki seorang anak. Sedangkan anak kandungnya, justru dia sia-siakan.


"Apa bisa di sembuhkan dok?" Tanya Reynaldi.


"Hanya mukjizat dari Allah Pak, dan tentunya dukungan dari orang terdekat. Hal ini bisa memotivasi dia untuk terus semangat hidup. Harus rajin kontrol, kemoterapi, pola hidup sehat, jangan terlalu capek, dan juga jangan stres. Untuk Bapak juga terpaksa harus bisa menahan hasratnya, karena ibu tak bisa berhubungan suami istri lagi," jelas sang dokter, Reynaldi hanya menganggukkan kepalanya. Dirinya terlihat lesu tak bersemangat. Beban pikirannya bertambah.


Reynaldi duduk termenung di kursi depan IGD. Dia tampak bingung. Apa yang harus dia lakukan.


"Kalau menurut dokter, Viona enggak boleh stres, enggak boleh capek. Lantas gimana pekerjaan rumah. Viona juga sering bertengkar dengan mama," Reynaldi bermonolog.


Reynaldi jadi teringat wanita sempurna yang dia khianati, dan anak semata wayangnya.


"Aku banyak dosa sama kamu, Nis. Inilah balasan untuk perbuatan aku selama ini kepada kamu. Allah sangat marah sama aku, hingga akhirnya dia mencabut nikmat aku satu persatu," ucap Reynaldi lirih.


Reynaldi teringat kenangannya dulu. Betapa jahatnya dia dulu, saat berselingkuh dengan Viona. Dia rela membohongi Nisa, demi ingin bercinta dengan Viona. Sekarang, setelah menikah dia justru tak bisa menikmatinya. Betapa jahatnya dia dulu kepada Khanza, hingga Allah tak memberikan dia kesempatan untuk memiliki anak kembali. Dulu, dia bisa meraih posisi manager karena Nisa, dan akhirnya Allah mengambilnya kembali. Sekarang dia sulit mendapatkan pekerjaan lagi, dan harus jadi pengangguran. Dia telah kehilangan segalanya.


"Pak, istrinya sudah siuman," ujar sang perawat yang memanggil Reynaldi.


Reynaldi langsung menghampiri Viona, yang kini terbaring lemah tak berdaya di brankar rumah sakit.


"Ay, aku kenapa?" Tanya Viona lesu. Wajahnya terlihat pucat.


"Kamu tadi pingsan dan mengalami pendarahan. Untungnya dokter berhasil menghentikan pendarahan kamu," jelas Reynaldi.


"Ay, kamu kenapa si enggak jujur sama aku? Kalau kamu mengidap kanker serviks?" Tanya Reynaldi. Terlihat rasa kecewa di wajah Reynaldi.


"Aku takut, kalau nantinya kamu akan meninggalkan aku. Menceraikan aku, karena aku tak bisa memberikan kamu seorang anak, dan tak bisa memuaskan kamu," sahut Viona.


"Ya. Tapi, apa kamu tak memikirkan kondisi kesehatan kamu? Dokter bilang sama aku, katanya kamu enggak boleh capek-capek, kamu juga enggak boleh stres. Hal itu bisa membuat kondisi kesehatan kamu menurun, kamu bisa drop. Sedangkan di rumah, kamu itu capek. Harus mengurus mama dan rumah," ucap Reynaldi.


Viona tampak terdiam. Posisi yang sangat sulit. Di satu sisi dia merasa lelah hidup menderita, harus mengurus mertua tak tahu dirinya. Dia juga harus mengerjakan semua pekerjaan rumahnya, padahal dia pun sedang sakit. Tetapi, dia tak mau kehilangan suaminya. Dia juga tak mau jauh dari suaminya.


"Terus, aku harus gimana? Aku enggak mau kehilangan kamu, dan aku juga ingin selalu dekat kamu," ucap Viona yang sudah terisak tangis. Air matanya menetes satu persatu, membasahi wajahnya.


"Sudah saatnya kita bertobat Ay! Perbanyak istighfar, dan beribadah. Selama ini kita sudah lalai, menjalankan perintah agama. Kita tak pernah sholat. Dulu kita juga sering berzina, dan mengkhianati kepercayaan Nisa. Hingga Allah murka kepada kita, kini kita mendapatkan balasan karma atas perbuatan yang kita lakukan dulu," ucap Reynaldi.


"Tapi, semua ini gara-gara Nisa. Jika Nisa tak melaporkan kamu, kita tak mungkin hidup sengsara seperti ini," sahut Viona.


"Sudah, jangan menyalahkan orang dalam hal ini! Ingat, kamu sekarang sudah sakit! Daripada kamu menyalahi orang, lebih baik perbaiki diri kamu! Nisa tak salah, dia wajar melakukan hal itu. Karena, aku mendapatkan jabatan itu karena dia. Sudah sepantasnya dia menariknya kembali. Pastinya dia tak akan sudi, jika kamu yang menikmatinya," jelas Reynaldi. Dia mencoba memberi pengertian kepada Viona.


"Oh, jadi kamu belain dia? Kenapa si dia selalu beruntung dari aku?" sahut Viona.


Tak ada gunanya juga Reynaldi bicara panjang lebar, Viona wanita yang keras kepala. Reynaldi terpaksa harus pulang, karena dia tak bisa meninggalkan sang mama terlalu lama di rumah sendiri.


"Ay, kamu coba hubungi mama kamu ya! Tolong gantian jaga kamu dulu! Aku harus pulang, aku tak mungkin meninggalkan mama sendiri di rumah," ucap Reynaldi.


"Kamu benar-benar keterlaluan ya, Ay? Aku sakit, kamu malah membuang aku," ujar Viona.


"Bukan aku ingin membuang kamu. Please kamu ngertiin aku! Aku berada di posisi yang sulit, kamu 'kan tahu kalau mama tak bisa apa-apa. Dia hanya bisa terbaring di ranjang. Kamu pikir aku enggak stres, menghadapi kamu dan mama? Pusing aku Ay, di satu sisi aku juga enggak tega ninggalin kamu. Tapi, kalau bukan aku yang mengurusnya, siapa lagi? Aku belum mampu untuk membayar gaji pembantu. Saran aku, lebih baik kamu tinggal sama mama kamu saja. Kamu fokus dengan kesehatan kamu dulu!" sahut Reynaldi.


Reynaldi sudah pasrah, jika akhirnya Viona menceraikan dirinya. Reynaldi tak bersemangat. Harapannya satu persatu hancur, karena keserakahan dirinya. Keinginan memiliki keduanya. Padahal, dia telah memiliki wanita yang sempurna, yang mampu memberikan dia keturunan, dan juga kebahagiaan.


"Aku kangen sama kamu, Nis? Apa kamu sudah benar-benar melupakan aku?" Reynaldi bermonolog.


Reynaldi mencoba menghubungi mamanya Viona, untuk memberitahu kalau anaknya saat ini masuk rumah sakit. Reynaldi meminta sang ibu mertua menjaga Viona, karena dia harus pulang ke rumah.


Tentu saja sang ibu mertua sangat marah mendengarnya. Karena anaknya di buang seperti itu. Saat anaknya sakit, dan butuh dukungan, Reynaldi justru meninggalkan sang anak. Memulangkan Viona ke orang tuanya, tidak bertanggung jawab.


"Maaf aku Ma, aku tak bermaksud seperti itu. Kalau di mama 'kan Viona ada yang ngurusin, ada yang masakin. Kalau di rumah aku, enggak ada yang urus. Aku enggak ada pembantu," jelas Reynaldi.


"Menyesal saya, menikahi anak saya dengan kamu. Kalau tahu akhirnya akan menderita seperti ini," ujar Mamanya Viona ketus.


Berbeda halnya dengan Reynaldi yang sedang terlihat stres, sedang menunggu ibu mertuanya datang. Mama Ratih justru sedang ketakutan. Dia sedang ketakutan, karena melihat dua bayangan berbadan besar menghampiri dirinya. Dia takut kalau bayangan itu, adalah malaikat pencabut nyawa.


"Rey, kamu kemana? Mama takut Rey! Mama belum mau mati," teriak Mama Ratih. Dia tak bisa berkutik, dia hanya bisa menangis di ranjang. Padahal waktu dia sadar, dia mengatakan lebih baik mati daripada hidup menderita. Saat di hadapkan seperti itu, dia justru takut.