
"Kamu kenapa? Mengapa wajahnya kamu pucat?" tanya Reynaldi.
"Aku juga tidak tahu, tiba-tiba saja perut aku mual dan kepala aku pusing. Tadi sewaktu di arena bermain, aku sudah merasa pusing. Mungkin aku lagi tak enak badan. Nanti juga sehat" ujar Nisa.
Reynaldi mengajak Nisa untuk ke dokter. Tetapi, Nisa tak mau. Karena dia yakin hanya butuh istirahat. Jika tak ada perkembangan, baru besok dirinya mau ke dokter.
Namun, baru saja sampai di parkiran. Nisa sudah merasa mual kembali. Membuat Reynaldi merasa panik. Khanza pun ikut menangis, melihat bundanya seperti itu.
"Tuh 'kan muntah lagi, pokoknya kita ke dokter sekarang! Aku tidak mau menunda-nunda lagi. Ini minum dulu," ujar Reynaldi sambil memberikan air minum mineral.
"Untuk kali ini, aku tidak akan menuruti kamu Terserah kamu akan menyebut aku jahat atau apa. Tujuan aku baik kok. Aku tidak mau kamu terjadi apa-apa. Aku ini sayang sama kamu. Masa iya melihat kamu muntah dua kali, aku diam saja," cerocos Reynaldi.
Hingga akhirnya mau tak mau Nisa mengikuti keinginan suaminya. Karena yang diucap suaminya memang benar adanya. Nisa memilih untuk diam selama perjalanan, untuk mengurangi rasa mual yang dia rasa.
"Kenapa diam? Marah ya sama aku? Maaf kalau aku bersikap keras kepada kamu. Habisnya kamu keras kepala," ucap Reynaldi membuka obrolan.
"Tidak. Aku tidak marah. Aku hanya sedang menahan rasa mual," sahut Nisa lesu. Wajah Nisa bertambah pucat. Membuat Reynaldi bertambah panik. Hingga menyetir mobil seperti orang kesetanan, karena ingin segera sampai di rumah sakit.
Kini mereka sudah sampai di rumah sakit, Reynaldi langsung membawa sang istri ke IGD untuk mendapatkan tindakan medis. Tak bisa terbayangkan betapa paniknya Reynaldi saat itu. Bahkan dirinya meminta agar sang istri yang lebih dulu mendapatkan tindakan. Padahal ini bukan hal pertama kali bagi Reynaldi.
"Sabar, ya Sayang! Tenang! Aku baik-baik saja kok," ujar Nisa sambil tangannya mengelus tangan suaminya, mencoba menenangkan. Dia khawatir sang suami membuat keributan di rumah sakit.
"Bagaimana aku bisa tenang dan sabar melihat kamu seperti itu," sahut Reynaldi.
Terlihat sekali wajah Reynaldi yang panik. Sikap Reynaldi kepadanya, membuat Nisa merasa dicintai. Suaminya begitu perhatian kepadanya. Hanya senyum manis Nisa yang membuat Reynaldi merasa tenang.
Reynaldi mulai menjelaskan apa yang terjadi dengan istrinya, dia ingin sang istri mendapatkan pemeriksaan secara keseluruhan. Reynaldi merasa sangat khawatir, berbeda dengan Nisa yang justru terlihat lebih tenang.
Nisa mengira kalau yang dia alami saat ini, karena penyakit lambungnya kambuh.
"Bagaimana, Dok? Sebenarnya istri saya sakit apa?" tanya Reynaldi, saat sang dokter datang membawa kertas hasil lab yang di beri sang perawat.
Menurut hasil pemeriksaan, dokter menerangkan bahwa kadar zat asam Nisa mengalami peningkatan. Membuat lambung Nisa bermasalah. Namun, ada hal yang menjadi kecurigaan sang dokter.
"Apa pasien saat ini sedang hamil? Hal ini biasanya terjadi pada wanita hamil di masa trimester pertama. Kadar zat asam terbilang meninggi membuat wanita hamil sering mengalami mual dan muntah," jelas sang dokter.
"Jadi, maksud dokter istri saya sedang hamil?" tanya Reynaldi penuh penekanan.
Sang dokter menjelaskan dan menyarankan agar Reynaldi melakukan pemeriksaan lebih detail ke poli kandungan untuk memastikan bahwa sang istri saat ini sedang hamil atau tidak. Alangkah bahagianya Reynaldi. Jika nantinya dirinya mengetahui kalau saat ini sang istri dinyatakan hamil.
"Jika Bapak ingin melakukan pemeriksaan, Bapak bisa lakukan sekarang. Kebetulan dokter kandungan masih praktek di poli," jelas sang dokter yang menangani Nisa.
Reynaldi memang suami yang romantis, bahkan perawat dan dokter yang berada di sana ikut tersenyum melihat sikap manis Reynaldi kepada sang istri. Mereka tak tahu kalau laki-laki yang di hadapannya sempat tergoda wanita lain.
Setelah melakukan pendaftaran, Reynaldi menggendong tubuh Nisa dan meletakkan ke kursi roda. Kemudian mendorongnya. Awalnya Nisa menolaknya. Dia merasa malu, lagi pula dirinya masih merasa kuat untuk berjalan.
"Selamat malam, Dok." sapa Reynaldi dan Nisa saat memasuki ruangan periksa.
Reynaldi langsung menjelaskan kepada sang dokter mengenai apa yang terjadi dengan sang istri, dan dia memberitahu kalau dirinya mendapatkan rujukan dari dokter IGD yang memeriksa kondisi Nisa. Reynaldi juga menyerahkan hasil pemeriksaan darah.
"Baiklah, mari kita periksa dulu! Ibu berbaring dulu ya di sana," ujar sang dokter.
Dokter mulai melakukan pemeriksaan dengan USG. Untuk mengetahui apakah saat ini Nisa benar sedang hamil atau tidak.
"Selamat, istri Anda memang benar sedang hamil. Bisa Bapak lihat di layar monitor! Ini kantung bayinya! Saat ini usia kandungan sudah 8 minggu," ujar sang Dokter.
Reynaldi merasa terharu meneteskan air mata. Merasa tak percaya, kalau dirinya akan diberikan kesempatan memiliki keturunan kembali. Reynaldi langsung memeluk tubuh istrinya dan mengecup kening istrinya. Menunjukkan perasaan bahagianya dan rasa syukur karena sang istri telah mengandung buah cinta mereka.
"Usia kandungan Ibu masih sangat muda. Tingkat resiko keguguran tinggi. Jadi, benar-benar harus dijaga! Ibu jangan terlalu capek dan mengangkat yang berat-berat! Saya akan memberikan obat mual, penguat kandungan, dan vitamin."
Dokter juga mengingatkan agar Nisa tak lupa untuk minum susu hamil dan perbanyak makan sayur-sayuran, buah-buahan, dan minum air putih.
"Yeay, akhirnya Khanza akan punya adik," ucap Khanza. Dirinya merasa senang.
Reynaldi mengucapkan rasa syukurnya, karena diberi kesempatan untuk bersama kembali dengan anak dan istrinya. Bahkan kini dirinya diberi amanat lagi. Istrinya sedang hamil anak kedua.
"Terima kasih ya Sayang, karena kamu mau mengandung anak aku lagi. Aku sayang banget sama kamu," ucap Reynaldi sambil terus menciumi tangan istrinya.
"Semoga dengan hadirnya anak ini, bisa menguatkan cinta kami. Suamiku tak lagi berselingkuh," doa yang Nisa panjatkan.
Reynaldi, Nisa, dan Khanza baru saja sampai di rumah. Reynaldi langsung menghampiri kedua orang tuanya yang saat itu masih menonton TV.
"Ma, Pa, Reynaldi ada kejutan untuk kalian," ucap Reynaldi dengan wajah yang sangat bahagia.
"Kejutan apa?" tanya Mama Ratih dengan penuh penasaran.
Reynaldi mengungkap kepada kedua orang tuanya, kalau saat ini istrinya sedang hamil anak keduanya. Mendengar menantunya sedang hamil kembali, tentu saja Papa Faisal merasa senang. Dirinya berharap, rumah tangga anaknya selalu tentram, damai, dan harmonis. Namun, hal itu berbeda yang dirasakan Mama Ratih. Justru dirinya merasa kesal.
"Semakin sulit saja, Reynaldi berpisah dari wanita itu," gerutu Mama Ratih.