Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Penjelasan Dokter Abimanyu


Bunda Anita harus di rawat di rumah sakit, karena kondisinya yang semakin menurun. Memang dia berusaha untuk tetap terlihat baik-baik saja, tetapi hasil pemeriksaan medis tak dapat dibohongi. Kini Bunda Anita sudah berada di ruang perawatan. Sayangnya Nisa belum bisa bicara empat mata dengan dokter Abimanyu. Karena Nisa sibuk mengurus administrasi sang Bunda, sedangkan Dokter Abimanyu sudah selesai jam praktek.


"Maafin Bunda ya Nis, gara-gara Bunda kamu sama Khanza jadi repot. Kalau kamu ingin pulang, pulang saja! Kasihan Khanza. Bunda tak apa-apa kok di rumah sakit sendiri," ucap Bunda Anita.


"Enggak apa-apa kok Bun. Nisa justru senang bisa merawat Bunda. Nisa ikhlas melakukannya. Bunda jangan pikir yang macam-macam ya! Yang terpenting sekarang, Bunda bisa segera sehat kembali," sahut Nisa.


Bunda Anita tak ingin menambah beban sang anak. Terlebih dia tahu sifat Nisa yang begitu perhatian kepadanya, yang selalu berusaha untuk menyenangkan hati Bundanya. Malam ini Nisa dan Khanza menginap di rumah sakit untuk menemani Bunda Anita.


"Bunda mau makan apa? Biar Nisa belikan, sekalian Nisa mau beli makan malam untuk Khanza dan Nisa," ujar Nisa.


"Tidak, Nak! Bunda makan-makanan dari rumah sakit saja. Kamu saja yang beli sama Khanza," sahut Bunda Anita.


Nisa pamit kepada sang Bunda untuk membeli makanan. Kini dirinya sudah berada di warung pecel lele di pinggir jalan dekat rumah sakit.


"Kenapa Bunda harus menyimpannya sendiri? Aku akan berjuang untuk kesembuhan Bunda," ucap Nisa lirih.


Satu masalah hidupnya selesai, kini timbul lagi masalah baru di hidupnya. Semakin berat saja untuk Nisa pergi jauh meninggalkan anak dan bundanya ke Paris dan bekerja. Dia berniat untuk membuka usaha konveksi saja, agar bisa mencari uang sambil mengurus mereka. Namun, untuk saat ini Nisa memilih untuk fokus mengurus bundanya yang sakit.


Nisa mencoba menghubungi Fina lewat panggilan telepon, untuk memberikan kabar masalah pembatalan dirinya ke Paris. Fina terkejut mendengar ibu sahabatnya sakit. Dia bisa mengerti kondisi Nisa saat ini


"Iya Nis. Sabar ya! Semoga Bunda kamu segera sehat. Bagaimana baiknya saja, aku mendukung kamu. Jika kamu membutuhkan bantuan aku, katakan saja! Tak perlu sungkan," ujar Fina.


"Makasih ya Fin, kamu memang sahabat yang luar biasa. Fin, sepertinya aku tak pernah bisa ke Paris deh. Aku tak tega meninggalkan Khanza dan juga Bunda aku," sahut Nisa.


"Iya Nis. Aku turun prihatin dengan kondisi kamu saat ini," ucap Fina.


Akhirnya Fina dan Nisa mengakhiri panggilan telepon mereka. Pesanan Nisa pun sudah selesai dan dia harus kembali ke ruangan Bundanya di rawat. Karena sang anak belum makan.


Nisa berusaha menutupi perasaannya di depan bundanya. Dia ingin bundanya selalu bersemangat untuk sembuh. Nisa belum tahu, kalau sang Bunda mengidap penyakit berat. Semenjak perceraiannya dengan Nisa, Reynaldi tak pernah peduli dengan sang anak. Tak pernah sekalipun dia memberikan untuk Khanza. Seakan dia melupakan sang anak. Maka, jangan pernah salahkan Khanza, kalau nantinya dia sangat kecewa, dan akhirnya membenci sang ayah.


"Sabar ya Nak! Kita akan melewati hidup ini bersama. Bunda sudah memutuskan untuk tidak pergi ke Paris. InsyaAllah disini ada rezekinya untuk kamu," ucap Nisa dalam hati.


Ada perasaan sedih yang dirasakan Nisa saat melihat sang anak. Mereka masih harus di suruh untuk bersabar.


"Khanza tidurnya sama nenek saja disini," ujar Bunda Anita. Khanza terpaksa tidur di sebelah sang nenek, sedangkan Nisa duduk di kursi.


Jam alarm di ponsel Nisa sudah berbunyi, Nisa membuka matanya. Dia berusaha untuk tidak meninggalkan sholat tahajud dan juga duha. Sudah dua bulan lamanya dia bercerai dari Reynaldi. Nisa bersyukur masih bisa bertahan hidup dengan anaknya. Meskipun hidup dengan penuh keterbatasan.


Nisa mengambil wudhu dan langsung sholat tahajud. Dia yakin, kalau Allah tak akan memberikan masalah melebihi batas kemampuan umatnya. Nisa yakin, akan hadirnya sebuah kebahagiaan di hidupnya.


Saatnya Dokter Abimanyu memeriksa kondisi Bunda Anita. Ingin sekali dia menjelaskan kepada Nisa apa yang terjadi dengan sang Bunda. Namun, Bunda Anita selalu saja melarangnya. Hingga akhirnya Nisa mencoba mencari celah untuk bisa bicara empat mata dengan Dokter Abimanyu.


"Semoga Dokter Abimanyu belum pulang. Aku harus bertemunya," ucap Nisa.


Nisa bergegas mencari keberadaan Dokter Abimanyu. Dia menanyakan kepada perawat yang berada di ruangan perawat. Nisa bisa bernapas lega, karena Dokter Abimanyu masih ada. Dia sedang mengisi laporan pasien yang dia periksa.


"Dokter, maaf. Ada keluarga pasien yang ingin bertemu," ujar sang perawat.


"Iya, tunggu sebentar. Saya selesaikan dulu buat laporannya," jelas Dokter Abimanyu. Dokter Abimanyu adalah dokter yang ramah. Banyak di sukai pasien-pasiennya.


Selama ini dia mengabdikan dirinya sebagai dokter, dan selalu bersikap profesional. Namun, rumah tangganya tak semulus pekerjaannya. Istrinya tak terima profesinya. Menganggap dia selalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai dokter. Sampai saat ini dia masih memilih hidup sendiri.


"Assalamualaikum. Maaf, Dok. Apa saya bisa minta waktunya sebentar untuk bicara sama Dokter," ucap Nisa lembut.


"Waalaikumsalam. Iya boleh. Kita ngobrol di ruangan saya atau di sini saja?" tanya Dokter Abimanyu.


"Dokter masih lanjut bertugas atau sudah selesai tugasnya? Kalau sudah, bagaimana kalau kita berbincang di kafetaria? Biar ngobrolnya lebih enak," ujar Nisa.


Hingga akhirnya mereka sepakat mengobrol di luar. Karena jam prakteknya sudah selesai. Nisa ingin berbincang banyak dengan Dokter Abimanyu. Kini keduanya sudah berada di kafe yang berada di lobby.


"Maaf. Dokter mau pesan apa? Kopi atau teh?" tanya Nisa.


"Teh manis hangat saja. Saya tak minum kopi," sahut Dokter Abimanyu dan Nisa menganggukkan kepalanya.


Nisa akhirnya memesan dua cangkir teh manis hangat untuk dirinya dan juga Dokter Abimanyu. Dokter Abimanyu diam-diam mencuri pandang ke arah Nisa yang sedang memesan minuman untuk mereka. Ada perasaan penasaran dibenaknya terhadap sosok wanita yang kini bersamanya.


"Maaf ya, Dok. Gara-gara saya, dokter jadi pulang terlambat," ucap Nisa.


"Iya tak apa. Kebetulan, saya lagi sempat saja," sahut Dokter Abimanyu.


Nisa mulai menanyakan apa yang terjadi dengan sang Bunda. Dokter Abimanyu tampak terdiam. Dia terlihat bimbang. Sebenarnya, inilah saat yang tepat untuknya bercerita tentang kondisi Bunda Anita.


"Ada apa Dok sebenarnya? Tolong katakan yang sejujurnya tentang penyakit Bunda saya. Saya mohon kepada Dokter," ujar Nisa dengan wajah memelas.


"Iya. Sebenarnya, saya pribadi, saya juga ingin mengatakan apa yang terjadi sebenarnya. Ibu Mba adalah pasien saya sejak dua tahun belakang ini. Namun, dua minggu ini, Ibu Mba enggak pernah lagi cuci darah. Padahal selama ini saya sering kali mengingatkan, jangan sampai terputus melakukan cuci darah. Namun, Ibu Mba justru pasrah. Merasa jenuh, tak ada perubahan. Hingga akhirnya penyakitnya menjadi semakin parah," ungkap Dokter Abimanyu.


"Ya Allah Bunda, mengapa Bunda melakukan hal ini. Mengapa Bunda merahasiakan penyakit Bunda dari aku. Untung saja, akhirnya aku mengetahuinya. Kalau tidak, aku akan menyesali diri aku seumur hidup," ucap Nisa diiringi isak tangis. Nisa tak mampu menahan air matanya lagi. Dadanya terasa sesak, dia tak menyangka kalau bundanya akan menderita penyakit yang berat.


"Saya tahu perasaan Mba. Tapi maaf, semua ini keputusan Bu Anita. Dia selalu bilang sama saya, kalau permasalahan hidup Mba sangat banyak, dan Ibunya Mba tak ingin menambah beban. Hingga akhirnya dia meminta merahasiakan penyakitnya dari Mba," jelas Dokter Abimanyu.