
"Sabtu ini aku ingin mengajak Khanza jalan-jalan. Sudah lama juga aku tak bertemu dia," ucap Reynaldi kepada sang istri.
"Apa aku boleh ikut dengan kalian?" tanya Melani kepada sang suami.
"Boleh ya? Please, aku ingin dekat dengan Khanza. Bagaimanapun, Khanza anak aku juga," rayu Melani.
Tentu saja Reynaldi senang mendengarnya, karena Melani melakukannya tanpa dengan paksaan. Akhirnya, Melani menerima kehadiran Khanza di kehidupan mereka. Ya, meskipun sebenarnya selama ini Melani tak pernah melarang Reynaldi dengan anak kandungnya. Hanya saja, baru kali ini mereka akan jalan bertiga.
"Makasih ya Sayang, kamu sudah menerima Khanza di kehidupan kita," ucap Reynaldi sambil melabuhkan kecupan di pucuk kepala istrinya.
"Iya, dia itu anak kamu. Berarti dia juga anak aku. Aku ingin menjadi ibu tiri dengan baik. Jika kamu ingin membawa dia untuk tinggal di sini pun, aku tak merasa keberatan. Aku ingin, kamu menjadi ayah yang bertanggung jawab. Meskipun status kamu sudah bercerai dari ibunya," jawab Melani.
"Aku tak terpikir sejauh itu sih. Aku tetap menghargai Nisa, dia lebih berhak atas Khanza. Saat sidang dulu, hak asuh Khanza jatuh ke dia. Namun, tak menutup kemungkinan. Jika Nisa mengizinkan, Khanza tinggal bersama kita. Aku tak ingin banyak menuntut, karena saat itu aku berasa di posisi yang salah. Yang terpenting bagiku saat ini, aku harus memberikan nafkah untuk Khanza dari hasil keringatku. Meskipun Khanza tetap tinggal bersama Nisa. Selama ini, Nisa yang berjuang membesarkan Khanza. Kini saatnya aku berperan penting untuk Khanza. Kamu tak keberatan 'kan, Sayang?" Reynaldi bertanya kepada sang istri, untuk memastikan.
"Tentu saja! Mengapa aku harus keberatan? Justru aku senang melihat kamu menjadi ayah yang bertanggung jawab untuknya," sahut Melani. Reynaldi mengiyakan.
Obrolan mereka terhenti, karena Reynaldi akhirnya mengajak Melani untuk tidur.
"Selamat tidur, Sayang! Semoga mimpi yang indah. Terima kasih sudah hadir di hidupku, memberikan kebahagiaan untukku. Semoga kamu selalu diberikan kesehatan dan umur panjang, agar kita bisa selalu bersama membesarkan Anak-anak kita kelak!" ucap Reynaldi sambil melabuhkan kecupan di kening Melani. Melani mengaminkan ucapan suaminya.
Seperti biasanya, Reynaldi lebih suka menyetir mobil sendiri. Setelah kesusahan yang dia rasakan, kini Reynaldi mendapatkan kebahagiaan. Allah memberikan kesempatan kepadanya, untuk hidup bahagia. Memberikan kembali jodoh terbaik untuknya.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua jam, akhirnya mereka sampai di depan rumah Nisa. Melani ikut turun bersama Reynaldi. Reynaldi menekan bel rumah Nisa dan mengucap salam.
Tak lama kemudian keluarlah sang ART, dia mempersilahkan Melani dan Reynaldi masuk. Mendengar sang ayah datang, Khanza yang sudah siap langsung turun dan pamit kepada sang bunda. Alangkah terkejutnya Nisa, saat melihat Melani pun ikut bersama mantan istrinya.
"Hai Nis, apa kabar? Aku izin ikut bersama mereka ya! Aku ingin berusaha untuk dekat dengan Khanza. Bagaimanapun, Khanza adalah anak aku juga. Kamu tak keberatan 'kan?" Melani berkata sopan. Dia tak ingin terjadi salah paham antara dirinya dengan Nisa.
"Iya, tak apa-apa. Aku justru senang, kalau kamu bisa menerima Khanza. Aku tak akan melarang Khanza dekat sama Mbak dan Mas Reynaldi," jawab Nisa.
Hubungan mereka tampak akur, meskipun dulu sempat ada kisah yang begitu menyakitkan. Nisa memilih untuk berdamai. Dia lakukan demi Khanza. Khanza berhak mendapatkan kebahagiaan dari kedua orang tuanya, meskipun orang tuanya telah berpisah.
Lagi pula, mereka sudah memiliki kebahagiaan masing-masing. Nisa pun sudah hidup bahagia bersama Abi. Dari pernikahannya dengan Abi dia akan memiliki tiga orang anak. Allah sudah merencanakan sebuah yang indah untuknya. Apa yang terjadi padanya dulu, adalah sebuah ujian untuk mencapai kebahagiaan.
Reynaldi dan Melani pamit untuk membawa Khanza pergi bersama mereka. Kini mereka sudah dalam perjalanan menuju Mall. Melani berusaha untuk akrab dengan anak tirinya. Saat ini Melani duduk di belakang bersama Khanza. Reynaldi senang melihat kedekatan Melani dengan Khanza.
"Terima kasih ya Allah, telah memberikan aku seorang wanita yang luar biasa. Meskipun aku dulu seorang baji*ngan, yang mengkhianati Nisa dengan Viona. Aku berjanji, tak akan mengulanginya lagi. Betapa bodohnya aku, jika sampai hal itu aku lakukan."