
"Kak, tadi Ayah Rey telepon kamu saat kamu sekolah. Katanya, dia ingin mengajak kamu bertemu. Sudah lama juga, kamu tak bertemu sama dia. Sabtu ini dia ingin mengajak kamu jalan-jalan," ucap Nisa kepada sang anak.
Saat ini Khanza, Nisa, dan Abi sedang makan bersama. Rumah tangga Nisa dan Abi selalu harmonis, tak pernah ada pertengkaran. Rasa cinta mereka semakin hari semakin besar, terhadap pasangannya.
"Nanti kakak coba hubungi ayah," ucap Khanza dan Nisa menganggukkan kepalanya, karena sang bunda saat ini sedang menikmati makanannya.
Setelah selesai makan, Khanza pamit kepada sang bunda untuk ke kamarnya. Dia ingin menghubungi sang ayah. Hubungan Khanza dengan Rey kembali baik. Mendengar ponselnya berdering. Rey langsung mengambil ponselnya. Senyuman melengkung di sudut bibirnya, saat melihat nomor telepon sang anak yang menghubungi dirinya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Yah, tadi kata bunda. Ayah telepon aku ya, pas aku tadi sekolah?" Ujar Khanza, mengawali pembicaraan dengan sang ayah.
"Iya, tadi ayah bicara sama bunda. Ayah izin sama bunda. Nanya, boleh enggak Ayah bertemu kamu. Alhamdulillah bunda mengizinkan. Sabtu kamu libur enggak? Ayah ingin mengajak kamu jalan-jalan. Sudah cukup lama, ayah tak bertemu kamu. Ayah sayang Khanza," ungkap Rey.
"Khanza juga sayang Ayah. Sampai kapanpun, Ayah tetap menjadi ayah aku," ucap Khanza membuat Rey merasa terharu mendengar penuturan sang anak. Sampai-sampai dia meneteskan air matanya. Rey teringat apa yang terjadi dulu. Saat dirinya berseteru dengan sang anak. Di mana Khanza begitu membenci dia. Namun akhirnya, Allah memberikan kesempatan kepadanya untuk bisa dekat kembali dengan sang anak.
Setelah mengakhiri panggilan telepon dengan sang Ayah. Khanza langsung turun menghampiri kedua orang tuanya, untuk sholat berjamaah. Inilah rutinitas yang mereka selalu lakukan, jika sedang berkumpul di rumah. Abi 'lah yang menjadi imam. Mereka baru saja selesai sholat. Khanza mencium tangan kedua orang tuanya, secara bergantian.
"Bun, tadi aku sudah telepon ayah. Aku sudah berjanji mau bertemu Sabtu ini. Boleh 'kan bun?" Ujar Khanza. Nisa mengiyakan, dia memperbolehkan sang anak bertemu mantan suaminya itu.
Kini mereka sudah di kamar masing-masing. Khanza sudah membaringkan tubuhnya di ranjang. Dia tampak asyik melakukan chat dengan sang ayah. Meskipun tak memiliki istri, Rey tak merasa kesepian. Dia justru merasa bersyukur, karena dia memiliki dua wanita hebat di hidupnya. Wanita yang berperan penting dalam hidupnya.
"Yah, aku tidur ya! Ngantuk. Besok soalnya sekolah pagi," ucap Khanza kepada sang ayah.
"Iya. Ya sudah, tidur deh kamu! Biar besok fresh. Sekolahnya yang rajin ya, biar kamu bisa menjadi orang yang sukses! Ayah akan selalu mendoakan kamu. Semoga kamu kelak menjadi orang yang sukses," ucap Rey dan diaminkan oleh Khanza.
Rey selalu berdoa, agar sang anak selalu di lindungi Allah. Dia tak ingin nasib sang anak akan seperti mantan istrinya, yang dikhianati olehnya. Disakiti dirinya. Dia berharap, sang anak bisa hidup bahagia, dan mendapatkan pendamping hidup yang baik dan setia. Meskipun dia dulu breng*sek. Dia tak ingin sang anak merasakan di sakiti juga oleh suaminya.