
Suara adzan sudah berkumandang. Suaranya begitu terdengar jelas. Membuat Reynaldi perlahan membuka matanya. Kini dia sudah berubah menjadi sosok Reynaldi yang dulu lagi, menjadi Reynaldi yang taat agama. Tak meninggalkan sholat.
"Sudah bangun, Rey?" Tanya sang mama dengan suara khas orang bangun tidur.
"Iya, ma. Sudah waktunya sholat subuh. Mama juga kok sudah bangun? Apa ada yang mama inginkan?" Tanya Reynaldi balik.
Reynaldi tampak sedang duduk di tepi ranjang sambil merenggangkan tubuhnya. Tatapannya kini mengarah ke arah sang mama.
"Mama mau sholat, Rey!" ucap Mama Ratih kepada sang anak. Mama Ratih meminta sang anak memakaikan dia mukena. Dia akan bertayamum.
"Alhamdulillah. Rey senang dengarnya. Akhirnya, Allah memberikan hidayah kepada mama. Rey sayang mama. Semoga kita selalu istiqomah menjalani kewajiban kita sebagai seorang muslim dan muslimah," ucap Rey dan di aminkan oleh sang mama.
Rey langsung mengambilkan mukena, dan memasangkannya ke sang mama. Rey begitu sabar mengurus sang mama. Setelah mengurus sang mama. Dia langsung mengambil wudhu, dan sholat subuh.
Sama halnya yang dilakukan Nisa dan juga Abi. Mereka kini sedang sholat subuh berjamaah. Nisa berharap, sikap dan rasa sayang sang suami tak pernah berubah kepadanya. Tak tergoda dengan wanita lain di luar sana. Cukup satu kali dia merasakan sakit hati, karena perselingkuhan mantan suaminya.
Setelah sholat, Nisa langsung menuju dapur untuk memasak. Menyiapkan sarapan pagi untuk suami dan anaknya. Meskipun dia memiliki ART, Nisa berusaha untuk memasak. Sang ART memasak, hanya saat dirinya baru melahirkan Azzura dan Azzam.
"Emmm, harum sekali. Kamu masak apa, sayang?" Tanya Abi yang datang menghampiri sang istri yang sedang memasak.
Bukan hanya Abi saja, Khanza pun sudah turun dari kamarnya. Saat mencium harumnya masakan sang bunda. Setelah sholat subuh, dia memutuskan untuk turun, dan sekarang Khanza sedang di kamar sang bunda melihat kedua adiknya yang saat ini sedang tertidur nyenyak. Untungnya, Azzura dan Azzam bukanlah anak yang rewel. Dia memberikan kebebasan kepada sang bunda, untuk memasak.
"Ini Mas, aku lagi masak tumis kangkung, sambal, dan ayam goreng," sahut Nisa sambil tangannya sibuk memasak.
"Mantap. Mas jadi enggak sabar, ingin segera makan. Bikin perut langsung lapar," sahut Abi sambil terkekeh dan Nisa membalasnya dengan senyuman.
Reynaldi saat ini sedang sarapan nasi uduk yang dibelikan sang ART. Hari ini dia akan mendatangi perusahaan mantan istrinya, untuk mengajukan surat pengunduran diri. Dia juga akan meminta kompensasi gaji yang harus dibayarkan perusahaan untuknya.
Reynaldi berusaha untuk tenang dan tidak stres menghadapai permasalahan di hidupnya. Setelah selesai makan, dia memutuskan untuk mandi, dan bersiap-siap untuk berangkat. Sama halnya dengan Abi dan juga Khanza. Jarak tempat tinggalnya sekarang cukup jauh ke rumah sakit, sehingga dia harus berangkat lebih awal. Agar tidak terlambat sampai di rumah sakit.
"Bi, saya berangkat dulu ya! Saya titip mama saya ya! Mungkin saya pulang lebih awal hari ini. Nanti tanya mama saya saja ya, dia mau makan apa," ucap Reynaldi kepada sang ART.
Reynaldi langsung melajukan motornya menuju perusahaan mantan suaminya. Keputusannya sudah bulat untuk bercerai dari sang mantan istri. Sudah cukup Melani menginjak-injak harga dirinya sebagai seorang suami. Tak ada artinya dia pertahankan, karena pada akhirnya dia akan semakin terhina. Istrinya akan selalu berkuasa.
Khanza pun pamit kepada sang bunda. Dia akan diantarkan Papa Abi ke sekolah. Sedangkan yang menjemputnya nanti yaitu sang bunda. Kini Khanza dan Abi sudah dalam perjalanan menuju sekolah Khanza. Setelah mengantarkan Khanza ke sekolahnya. Barulah dia melanjutkan perjalanannya menuju rumah sakit tempat dia bekerja.
Reynaldi baru saja sampai di perusahaan Melani. Dia langsung memarkirkan motornya, di parkiran perusahaan. Kemudian, dia langsung masuk ke dalam perusahaan. Semua mata memandang ke arahnya. Mereka bingung, mengapa Rey datang sendiri tak datang bersama Melani. Tak seperti biasanya. Namun, tak ada satu orang pun yang bertanya kepada Rey. Mereka takut, kalau nantinya Reynaldi akan mengadukan mereka kepada Melani sang bos.
Reynaldi langsung menuju ruangan HRD untuk mengajukan surat pengunduran diri. Dia bukan seorang pengemis. Dia memilih berhenti dari pekerjaannya, daripada harus menggantungkan hidupnya kepada sang mantan istri.
"Permisi, Pak!" ucap Reynaldi. Reynaldi mengetuk pintu ruangan terlebih dahulu, setelah itu langsung membuka pintu ruangan sang HRD secara perlahan.
"Ya, silakan duduk Pak Reynaldi! Ada yang bisa saya bantu?" Tanya sang HRD dengan sopan. Dia juga terlihat menghormati Reynaldi, karena dia belum tahu. Kalau Reynaldi sudah menalak Melani.
Reynaldi langsung memberikan surat pengunduran dirinya kepada sang HRD. Alangkah terkejutnya sang HRD, saat menerima surat itu.
"Mengapa Bapak melakukan hal itu? Apa Ibu Melani sudah tahu, perihal keinginan bapak untuk berhenti dari perusahaan ini?" Tanya sang HRD untuk memastikan.
"Maaf, mungkin hal ini berkaitan dengan masalah pribadi kami. Kami sudah bercerai secara agama. Saya sudah menalak Ibu Melani. Maka dari itu, saat memutuskan untuk melakukan pengunduran diri di perusahaan ini," jelas Rey.
"Serius, Pak? Apa ada permasalahan yang begitu berat yang akhirnya membuat Bapak memutuskan untuk bercerai dari Ibu Melani? Saya benar-benar terkejut, tak menyangka mendengarnya. Padahal, Bapak dan Ibu Melani sangat cocok," ungkap Sang HRD.
"Intinya, ini yang terbaik. Ternyata, kami tak berjodoh. Saya sudah memutuskan untuk bercerai darinya. Mungkin, saya tak pantas untuk Ibu Melani. Terlalu banyak perbedaan di antara kami," jelas Reynaldi kepada sang HRD.
Melani baru saja sampai di perusahaan, dan langsung menuju ke ruangannya. Sedangkan Reynaldi saat itu sedang merapikan barang-barangnya, yang akan dia bawa. Sang HRD datang menghampiri Melani yang saat itu berada di ruangannya.
Sang HRD langsung menjelaskan kepada Melani, kalau Reynaldi mengajukan surat pengunduran diri untuk bekerja di perusahaan itu. Sang HRD langsung memberikan surat itu kepada Melani, Melani langsung membacanya.
"Cih, sombong sekali dia!" umpat Melani dalam hati.
Melani tampak kesal, karena Reynaldi menantang dirinya. Dia tetap memilih bercerai, meskipun harus kehilangan pekerjaan dan juga fasilitas dari mewah Melani. Dia langsung keluar, menghampiri Reynaldi yang saat itu baru selesai merapikan barang-barangnya.
"Apa kamu sudah merasa yakin mengundurkan diri dari pekerjaan kamu saat ini? Harusnya kamu senang mendapatkan jabatan sebagai seorang manager. Setelah ini, saya pastikan sama kamu! Saya yakin, hidup kamu pasti sengsara. Kamu akan menjadi seorang pengangguran lagi! Dasar sombong! Dikasih hidup enak, malah memilih hidup susah kembali seperti dulu," sindir Melani.
"Ya, saya yakin dengan keputusan saya saat ini! Ini yang terbaik untuk saya! Dari pada, saya harus terus menerus di injak-injak harga diri saya, sebagai seorang suami. Lebih baik saya hidup susah," sahut Reynaldi tegas. Melani tampak tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan Reynaldi yang begitu percaya diri. Hingga kini mereka menjadi pusat perhatian karyawan di sana. Melani menghina Reynaldi di depan banyak orang. Namun, Reynaldi memilih untuk tidak melayani ucapan Melani. Dia terlihat hanya diam.