Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Drop


Hari ini Melani akan melakukan pemeriksaan penyakitnya kembali. Dia sudah berada di rumah sakit, dengan didampingi Lina sang asisten. Ini hari kedua dia berada di Singapura. Dia berharap, setelah ini dia bisa mengalami perubahan menuju sehat.


"Lelah banget," ucap Melani dalam hati. Dia hanya mengeluh dalam hati, tak bicara kepada Lina.


Berbagai rangkaian pemeriksaan dia lakukan. Membuat tubuh dia terasa lelah. Pemeriksaan yang dilakukan, begitu menguras tenaganya. Hingga kondisinya menjadi drop. Melani jatuh pingsan, saat menunggu pemeriksaan selanjutnya. Tentu saja hal itu membuat Lina panik. Untungnya, dia sempat menahannya. Tak sampai bosnya itu jatuh ke lantai.


Lina berteriak memanggil perawat ataupun orang yang berada di sana, untuk menolongnya membawa bosnya ke IGD untuk mendapatkan pertolongan. Bayangan kematian bosnya, mengusik pikirannya. Membuat Lina begitu ketakutan. Dia takut, kalau nantinya dia akan disalahkan. Karena menutupi penyakit Melani.


"Ibu harus kuat! Ibu pasti sembuh!" Lina terus menguatkan bosnya itu. Membisikkan, meskipun saat itu bosnya tak sadarkan diri.


Melani kini sudah mendapatkan pertolongan. Dia terlihat lemah tak berdaya. Wajahnya terlihat pucat, seperti mayat hidup. Lina tampak kebingungan. Mungkinkah ini saatnya dia memberitahu kepada Reynaldi, tentang penyakit bosnya itu.


Ponsel Melani berdering. Membuat jantung Lina berdegup kencang. Dia bingung, apa yang harus dia lakukan. Dia takut, kalau nantinya bosnya akan marah kepadanya.


"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?" Lina bermonolog.


Hingga akhirnya Lina memilih untuk tidak menerima panggilan telepon itu. Membiarkan bosnya sendiri yang menerimanya nanti, jika sudah siuman. Lina bisa bernapas lega, karena suami bosnya tak lagi menghubungi.


"Ayo Bu, bangun! Jangan buat aku khawatir!" ucap Lina dalam hati.


"Alhamdulillah, Bu Melani sadar. Terima kasih ya Allah," ucap Lina lagi dalam hati, saat Melani perlahan membuka matanya.


"Saya kenapa, Lin?" tanya Melani. Suaranya masih terdengar lemas.


Lina menceritakan apa yang terjadi pada Melani tadi. Lina menyarankan kepada Melani, untuk menceritakan penyakitnya kepada sang suami. Lina juga menceritakan, kalau suaminya tadi menghubungi dia.


"Saya tak ingin dia tahu penyakit Saya, Lin! Biar Saya menghadapi penyakit ini sendiri. Terus, kamu gak memberitahu suami Saya 'kan tadi?" Melani berkata kepada Lina.


"Hampir saja. Tapi tak gak jadi. Saya takut kesalahan, Bu. Sebenarnya, tadi Saya ingin memberitahu suami Ibu. Saya panik melihat Ibu pingsan. Saran saya, sebaiknya Ibu jujur kepada bapak!" jelas Lisa apa adanya.


Ponsel Melani berdering kembali. Reynaldi yang menghubungi dia kembali. Namun, Melani tak mungkin menerima panggilan dari suaminya itu. Dia tak ingin, suaminya tahu kondisi dia saat ini. Suaminya pasti kaget.


"Nanti ya, Mas! Aku masih sibuk, belum bisa menerima panggilan dari kamu," jawab Melani berbohong. Dia terpaksa berbohong.


Reynaldi tampak gelisah, dia mulai berpikir yang aneh tentang istrinya. Sudah dua hari, dia dan sang istri tak melakukan panggilan video. Melani hanya ingin komunikasi lewat chat. Membuat Reynaldi curiga, kalau ada sesuatu yang disembunyikan istrinya.


Melani tak mungkin menerima panggilan telepon ataupun video dari suaminya. Dia takut, suaminya akan curiga. Jika mendengar suaranya yang terdengar lemah.


"Bu, Bapak telepon lagi. Gimana ini, Bu?" tanya Lina. Dia di suruh mengambil ponsel bosnya, dan melihat siapa yang menghubunginya. Ternyata, suami bosnya yang menghubungi ponsel bosnya.


Melani tetap memilih menolak untuk menerima panggilan telepon ataupun video dari suaminya. Kondisinya masih drop. Sudah dua hari di rumah sakit, Melani masih belum diperbolehkan pulang. Dia masih harus bersabar.


"Ya Allah, sebenarnya apa yang terjadi pada istriku? Semoga saja dia tak membohongi aku lagi," ucap Reynaldi.


Sedangkan, di tempat lain. Melani tampak menangis, dia merasa sedih. Suaminya pasti merasa curiga kepadanya. Namun, keadaan tak memungkinkan untuk dia bicara ataupun melakukan panggilan video.


"Ya Allah, aku mohon kepadamu! Tolong angkat penyakitku. Izinkan aku hidup bersamanya, lebih lama lagi!" doa yang Melani ucapkan.


Berbeda halnya dengan pasangan Melani dan Reynaldi. Nisa justru sedang menikmati, masa kehamilan keduanya saat menikah dengan Abi. Dia mengalami mual cukup hebat, lebih banyak berbaring di ranjang. Untungnya, ada ART yang membantu dia mengurus Azzam, Azzura, dan juga Khanza.


"Maafin aku ya, Mas! Akhir-akhir ini aku gak bisa membuatkan kamu makanan. Baru mencium bau bawang putih saja, aku merasa mual. Tubuh aku juga terasa lemas, dan kalau gerak sedikit pasti langsung mual. Maaf, aku gak bisa menjadi istri yang baik," ucap Nisa. Terlihat sekali wajah bersalahnya.


"Iya, Sayang. Tak apa-apa. Aku paham kok. Lagi pula, kamu seperti ini bukan keinginan kamu. Aku tak masalah kok. Lebih sekarang, kamu fokus dengan kehamilan kamu. Kesehatan kamu lebih penting," ucap Abi lembut sambil mengusap kepala istrinya lembut.


Saat ini mereka sudah di ranjang. Nisa tampak meletakkan kepalanya di dada bidang suaminya. Azzura dan Azzam saat itu sudah tidur nyenyak. Waktunya mereka untuk berduaan. Abi dan Nisa selalu memiliki waktu khusu untuk bisa berduaan. Mereka selalu memberikan waktu untuk pasangan, meskipun hanya sekadar mengobrol. Dengan tujuan, untuk memperlancar komunikasi mereka. Hal itu yang membuat rumah tangga Nisa dan Abi selalu harmonis.


"Ya sudah, kita tidur yuk! Mas sudah mengantuk. Kamu juga, butuh istirahat!" ucap Abi kepada Nisa. Tak lupa, dia juga melabuhkan kecupan di pucuk kepala, dan kening istrinya.


Nisa tampak memeluk sang suaminya. Selama hamil, Nisa selalu ingin tidur di dekat suaminya. Perlahan mata mereka meredup, hingga akhirnya keduanya tertidur nyenyak.


Sedangkan Reynaldi justru sampai saat ini belum tidur. Dia masih memikirkan istrinya, yang belum juga kembali ke Indonesia. Terlebih saat ini, sang istri sulit dihubungi. Dia hanya bisa Komunikasi lewat pesan chat.


Reynaldi sudah membaringkan tubuhnya di ranjang. Berharap dia bisa segera tidur. Rasa rindu menghampiri Reynaldi terhadap istrinya. Dia tampak memandang ruangan sekitar, yang tampak sepi sejak sang istri pergi meninggalkan dirinya ke Singapura.


Ruang tidurnya tampak sunyi. Terlebih kamar itu, memiliki ruangan yang cukup luas. Perlahan Reynaldi mencoba memejamkan matanya. Hingga akhirnya dia tertidur nyenyak. Berbeda halnya dengan Reynaldi yang sudah tertidur nyenyak, Melani justru masih terjaga. Dia begitu merindukan suaminya. Berharap dia bisa segera kembali ke Indonesia. Tubuh Melani terlihat lebih kurus. Obat yang dia minum, membuat dirinya tak nafsu makan.