Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Keinginan Reynaldi


Setelah keputusan Reynaldi untuk memutuskan hubungan dengannya. Viona memutuskan untuk memblokir nomor kontak Reynaldi di ponselnya, agar Reynaldi tidak lagi menghubungi dirinya. Sangat sulit baginya untuk melupakan Reynaldi, apabila Reynaldi masih ada di dekatnya.


Sebenarnya di lubuk hatinya yang paling dalam, Viona masih belum bisa terima keputusan Reynaldi yang mengakhiri hubungannya dengan dirinya. Namun, Viona terpaksa melakukannya. Karena mau tak mau dia harus menerimanya. Dia ingin menjalani kehidupan baru tanpa bayang-bayang Reynaldi lagi. Suatu saat nanti, dia juga akan menerima pria lain di hidupnya.


Viona berniat untuk pindah dari kosan lamanya. Kosan yang selama ini telah menyimpan kenangan indah bersama Reynaldi. Sehingga tidak mungkin baginya untuk tetap bertahan di sana. Dia langsung mencari kosan baru, karena secepatnya dia harus pindah.


"Mengapa dunia tak pernah berpihak kepada aku? Mengapa kisah cinta aku selalu seperti ini?"


Sebenarnya bukan dunia yang tak berpihak kepadanya. Tetapi selama ini karena kesalahannya. Berawal di mengkhianati Reynaldi dengan Abimanyu, karena Abimanyu lebih segalanya dari Reynaldi. Kemudian dirinya memutuskan bercerai dari Abimanyu, karena dia merasa kurang mendapatkan perhatian dari Abimanyu.


Setelah bercerai, dia berniat kembali dengan Reynaldi, padahal Reynaldi telah hidup bahagia dengan istrinya. Dirinya tetap memaksa untuk mendekati Reynaldi dan berniat merebut Reynaldi dari istri sahnya. Hingga akhirnya dia terluka, karena Reynaldi lebih memilih istri sahnya.


"Aku benci sama kamu, Rey! Apa kamu tak tahu? Kalau aku sangat mencintai kamu? Bahkan demi rasa cinta aku, aku sampai mau dipermainkan kamu," ucap Viona lirih.


Viona tak mampu membendung perasaannya lagi. Hatinya terasa hancur.


"Tuhan, tolong yakinkan diriku, bahwa dia bukanlah untukku. Tolong hilangkan perasaanku, agar ku tak lagi memikirkan dia," ucap Viona. Hatinya begitu terpuruk.


Hatinya semakin menjerit. Rasanya dia tidak sanggup untuk melangkah. Dia akan kehilangan Reynaldi untuk selamanya. Hal kedua kalinya dia kehilangan Reynaldi di hidupnya.


"Maafkan aku Ay, jujur ini adalah keputusan terberat di hidup aku. Dulu, saat kamu pergi untuk meninggalkan aku. Aku selalu berharap agar kamu segera kembali kepadaku. Namun, nyatanya aku harus merelakan kamu untuk hidup bersama laki-laki lain. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk membuka lembaran baru."


"Kini kau datang kembali. Betapa aku sangat bahagia, hingga akhirnya aku bisa memiliki kamu lagi. Namun, aku menyadarinya. Aku kini tak sendiri lagi. Nama kamu sudah terganti dengan wanita lain. Wanita yang selama ini menemani hari-hari aku. Mengangkat aku dari keterpurukan, dan memberikan aku kebahagiaan yang luar biasa."


Reynaldi mencoba menjalani hidupnya seperti biasa, sebelum adanya Viona di hidupnya. Dia harus ikhlas memberikan kesempatan untuk Viona berbahagia. Tujuannya saat ini yaitu mencoba mengembalikkan kepercayaan Nisa. Cintanya terhadap Nisa lebih besar dari pada ke Viona. Reynaldi yakin kalau keputusan yang diambil saat ini adalah keputusan yang benar.


"Aku mencintaimu, tetapi aku juga mencintai dirinya. Aku tak ingin menyakiti kalian berdua. Maafkan aku Ay, aku harus memutuskan, memilih salah satu diantara kalian."


Jam sudah menunjukkan waktu untuk pulang, Reynaldi bergegas untuk pulang. Agar segera sampai di rumah. Dirinya sudah sangat kangen dengan anak dan istri. Dia akan berusaha untuk menjadi laki-laki yang bersyukur yang telah memiliki kebahagian yang sebenarnya.


Reynaldi telah sampai di rumahnya, dia memilih untuk langsung naik ke atas menemui anak dan istrinya.


"Hari ini aku tidak masak. Mau aku masakin dulu sebentar?" tanya Nisa.


Nisa masih belum bisa memaafkan kesalahan Reynaldi, dia masih ingin melihat dulu perubahan Reynaldi. Terlebih Reynaldi sudah berulang kali membohongi dirinya. Meskipun demikian, dia tetap melayani Reynaldi dengan baik. Dia hanya ingin menjadi istri saleha.


"Iya, aku mau. Aku tunggu ya! Aku main sama Khanza dulu," ucap Reynaldi dan Nisa menganggukkan kepalanya.


Nisa tampak sibuk memasak membuatkan suaminya makanan. Malam ini dia hanya menggoreng ayam, membuatkan sambal terasi, dan juga menggoreng tempe dan tahu. Nisa yakin suaminya pasti sangat menyukainya.


Melihat hubungan Nisa dan Reynaldi kembali harmonis kembali, tentu saja membuat Mama Ratih tak suka. Terlebih Viona sudah pamit kepadanya, untuk mundur. Semakin sulit saja untuk dirinya memisahkan Reynaldi dengan Viona.


Reynaldi mengajak Khanza turun, untuk menunggu makanan. Sebenarnya dia merasa kasihan dengan psikologi sang anak, yang merasa tak memiliki kebebasan. Khanza jarang sekali main di bawah, dirinya lebih banyak menghabiskan waktunya bersama sang Bunda di atas.


Terlintas di pikirannya untuk membelikan rumah untuk istri dan anaknya. Sudah waktunya dia hidup mandiri. Selama ini dia selalu menuruti keinginan Mamanya untuk tinggal bersamanya. Namun, Mamanya selalu saja menunjukkan sikap yang tak baik kepada istri dan anaknya.


"Em, masakan Bunda memang tiada duanya," puji Reynaldi. Namun, kali ini Nisa tak tersenyum. Dia tak ingin langsung terlena, dan Reynaldi harus menyadari kesalahannya.


Setelah selesai makan, mereka naik kembali ke atas. Khanza mengajak kedua orang tuanya untuk tidur. Dia merasa bahagia, karena akhirnya kedua orang tuanya akur kembali.


"Yang, aku ingin bicara sama kamu," ucap Reynaldi yang mencoba mengajak bicara istrinya. Khanza sudah tertidur pulas. Sekarang waktunya untuk mereka mengobrol.


"Yang, aku ingin kita menjalani kehidupan normal kembali seperti dulu sebelum ada dia! Please aku mohon, lupakan masa lalu demi anak kita! Aku sudah menghapusnya dari hidup aku," ucap Reynaldi sambil memegang tangan Nisa.


"Begini saja, kita coba jalani saja dulu! Aku tak mungkin semudah itu dong bisa memaafkan kamu, aku ingin melihat seberapa besar usaha kamu untuk membuktikannya! Aku sudah tak percaya ucapkan kamu, aku hanya perlu bukti. Seperti yang aku ucapkan waktu itu," Jelas Nisa tegas.


Nisa berusaha untuk tegar. Dia hanya ingin menjalankan apa yang Allah telah rencanakan untuk dirinya. Oleh karena itu, bila memang harus bercerai dengan Reynaldi pun dirinya sudah siap.


"Aku juga sudah memutuskan untuk mengajak kamu pindah dari sini! Sudah waktunya kita hidup mandiri. Selama ini kamu sudah begitu sabar menghadapi sikap Mama ke kamu dan juga Khanza. Kini giliran aku yang berkorban untuk kamu. Aku ingin kredit rumah untuk kamu," ungkap Reynaldi.


"Alhamdulillah. Aku senang mendengarnya. Kalau kamu memang benar ada niat untuk hidup mandiri. Aku seperti ini, bukan karena aku membenci Mama kamu. Namun, ini semua memang harus terjadi di dalam sebuah pernikahan. Setelah menikah, memang lebih baik hidup mandiri. Meskipun hanya bisa mengontrak. Itu justru lebih baik, dari pada hidup satu atap bersama mertua," ungkap Nisa dan Reynaldi mengiyakan.