Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Pertemuan dengan Khanza


"Bun, Bunda kapan periksa adik bayi lagi? Khanza ikut dong bun ke rumah sakit. Khanza mau lihat adik bayi," ujar Khanza.


"Ya sudah, minggu depan kakak ikut. Nanti bunda ambil yang periksa hari Sabtu saja. Biar kakak bisa ikut ke rumah sakit," ujar Nisa dan Khanza mengiyakan.


Hari yang dinanti oleh Khanza akhirnya tiba, hari ini dia akan ikut dengan sang bunda ke rumah sakit. Mereka bertiga sudah terlihat rapi, dan akan segera berangkat ke rumah sakit.


Saat itu jam menunjukkan pukul 10.00 pagi, Nisa ambil yang jadwal periksa jam 11.00 siang sampai jam 14.00 WIB. Mereka saat ini sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit.


"Kira-kira adik bayinya cewek atau cowok ya Bun? Apa kembarnya cewek satu dan cowok satu. Kakak jadi enggak sabar, ingin tahu jenis kelamin keduanya," ujar Khanza kepada sang bunda.


"Berdoa saja, mudah-mudahan nanti saat USG. Adik bayinya enggak ngumpet, jadi bisa kelihatan jenis kelaminnya. Usia kandungan Nisa saat ini sudah 6 bulan lebih. Sesuai perhitungan sekitar dua bulan setengah lagi, Nisa akan melahirkan.


Mereka kini baru saja sampai di rumah sakit. Khanza berjalan beriringan dengan sang Bunda dan sang papa. Saat itu berpapasan dengan sang ayah. Laki-laki yang selama ini Khanza benci. Khanza menunjukkan wajah tak suka, dia terlihat ketus. Terlihat sekali kebencian di wajahnya.


"Kak, itu Ayah Reynaldi. Salam sana," ujar Nisa kepada sang anak.


"Biarin saja, aku tak kenal sama dia," sahut Khanza ketus.


Khanza berjalan begitu saja, meninggalkan Reynaldi. Rasa sakitnya begitu dalam kepada sang ayah. Sehingga sulit baginya untuk memaafkan sang ayah. Tentu saja, Reynaldi merasa sedih melihat sikap anaknya yang seperti itu kepadanya. Semua ini karena kesalahannya.


Khanza ikut duduk bersama sang bunda dan papanya di poli. Nisa mencoba memberi pengertian kepada sang anak, tetapi Khanza tetap keras kepada. Dia tetap tak mempedulikan Reynaldi.


Reynaldi menghampiri Khanza, dan berdiri di hadapan sang anak.


"Kak, tolong kasih waktu untuk ayah sebentar saja. Please, ayah mohon," ucap Reynaldi dengan wajah mengiba.


"Mau apa lagi Anda? Bukankah kita sudah tidak saling kenal lagi? Bukankah Anda sudah tak peduli pada saya? Lebih baik Anda sekarang pergi dari hadapan saya, karena saya sudah tak ingin melihat wajah Anda," ujar Khanza tegas.


"Kak, tak boleh seperti itu! Bagaimanapun Ayah Rey adalah ayah kandung kamu. Kamu tak boleh berbuat seperti itu. Kamu harus sopan," ujar Nisa mencoba mengingatkan sang anak.


Mereka kini menjadi pusat perhatian para ibu hamil yang ingin periksa. Namun Khanza tak peduli.


"Dia yang buat aku seperti ini, dan sekarang dia harus siap menerimanya. Memangnya Bunda sudah lupa, apa yang dia lakukan pada kita dulu? Dulu dia kemana? Apa pernah dia memberikan aku uang untuk sekolah aku. Tidak 'kan? Dia lebih senang menikmati hidupnya dengan pelakor itu," sahut Khanza.


Rey berusaha terus, agar sang anak mau memaafkan dirinya. Tetapi keputusan Khanza tetap sama, dia tak mau memaafkan Rey. Hingga akhirnya Reynaldi pergi dengan perasaan sedih. Karena dia harus melanjutkan pekerjaannya lagi.


Kini saatnya Nisa mendapatkan giliran periksa. Ketiganya tampak masuk ke dalam ruangan periksa. Dokter menanyakan keluhan apa yang Nisa rasakan saat ini. Nisa juga berkonsultasi mengenai perjalanan dia ke Yogyakarta dengan menggunakan pesawat. Dokter memperbolehkan, asalkan Nisa tidak memiliki keluhan saat akan berangkat.


"Baiklah, sekarang ibu Nisa coba berbaring dulu di ranjang," ujar sang dokter.


Rencananya, Nisa akan melahirkan secara sesar. Mengingat saat ini Nisa sedang mengandung anak kembar. Abi khawatir, dengan kondisi sang istri.


Setelah mendapatkan resep dari sang dokter, ketiga keluar dari ruang periksa. Menuju apotek. Kini mereka sudah berada di apotek, menunggu obat dan vitamin untuk Nisa minum.


Reynaldi hanya bisa menatap sang anak dari jauh. Hatinya terasa sakit, anaknya sendiri tak mau mengakui dirinya lagi. Kini hanya tinggal penyesalan seumur hidupnya, jika sang anak tak pernah mau memaafkan dirinya


"Semoga Allah membukakan hati kamu Kak, dan memberikan kesempatan kepada Ayah untuk bisa memeluk kamu lagi. Ayah sayang kakak," ucap Reynaldi dalam hati. Hati Reynaldi. Reynaldi memegangi dadanya yang terasa sakit.


Reynaldi menghampiri Nisa, saat Nisa hendak ke toilet.


"Nis, aku mohon tolongin aku! Tolong bujuk Khanza untuk memaafkan aku," ucap Reynaldi memohon. Wajahnya terlihat memelas


"Tadi kamu 'kan sudah dengar sendiri, kalau aku sudah berusaha untuk mengingatkan Khanza agar dia mau memaafkan kamu. Kamu dengar sendiri 'kan? Dia tetap bersikeras menolak kamu," jelas Nisa. Nisa langsung pergi meninggalkan Abi. Karena dia memang sudah tak tahan ingin buang air kecil.


Setelah selesai buang air kecil, Nisa langsung kembali ke apotek. Duduk di sebelah sang anak lagi.


"Kak, kasihan ayah Rey. Pasti dia sekarang sedih. Dia ingin memeluk kamu," ucap Nisa kepada sang anak.


"Aku tak peduli! Dia pun dulu tak peduli padaku. Sudahlah bun jangan bahas dia lagi, aku mual. dengarnya," sabut Khanza. Membuat sang bunda akhirnya terdiam tak berbicara lagi.


Setelah mendapatkan obat, mereka memutuskan untuk pulang. Reynaldi tampak menatap kepergian anak kandungnya yang kini sudah bahagia dengan papa angkatnya. Hatinya meringis, saat melihat sang anak begitu akrab dengan papa angkatnya.


"Ayah mohon Kak, tolong maafkan ayah. Ayah kangen sama kakak, ayah ingin memeluk kakak," ucap Reynaldi. Air matanya menetes satu persatu membasahi wajahnya.


Abi memutuskan untuk mengajak Khanza dan sang istri ke Mall untuk makan di Mall. Mereka kini baru saja sampai di Mall.


"Kalian mau makan apa?" Tanya Abi kepada anak dan istrinya.


"Makan apa ya?" Khanza tampak berpikir.


Hingga akhirnya Khanza memilih untuk makan ramen. Abi pun bertanya kepada Nisa. Apakah Nisa mau atau tidak. Nisa menyetujui keinginan Khanza. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk makan ke restoran Jepang.


Nisa langsung memesan makanan untuk dia, anaknya, dan suaminya. Berikut minumannya. Mereka terlihat sedang mengobrol, sambil menunggu makanan datang. Nisa sengaja tak ingin membahas masalah Reynaldi, dia tak ingin anaknya nanti jadi bete. Merusak momen kebersamaan mereka.


Khanza pun tak bisa disalahkan dalam hal ini, dia merasa sang ayah telah membuang. Karena Rey pernah tak peduli padanya, dan berpikir kalau dia bisa memiliki anak dari Viona.