Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Tinggal Kenangan


Abi tampak ikut menggotong keranda jenazah Viona. Jenazah Viona mulai diletakkan di tanah. Renaldi ikut turun hingga ke tempat peristirahatan terakhir sang istri. Wajahnya terlihat sedih, tetapi dia mencoba menahan air matanya. Dia berusaha untuk tegar. Jenazah Viona kini sudah tertutup tanah.


"Selamat jalan Ay, namamu akan selalu di hatiku. Semoga kamu bahagia di sana," ucap Reynaldi dalam hati.


Prosesi pemakaman Viona telah selesai. Abi pamit pulang kepada Reynaldi, sang mantan ibu mertua, dan juga mantan kakak iparnya. Dia meminta maaf, karena tidak bisa ikut untuk acara tahlilan nanti malam. Abi hanya memberikan amplop kepada Reynaldi, sebagai uang takziah atas meninggalnya Viona. Reynaldi menyerahkan uang itu kepada sang ibu mertua, untuk kebutuhan acara tahlilan selama tujuh hari.


Reynaldi baru akan pulang ke rumah, setelah acara tahlilan selesai. Dia ingin ikut mendoakan sang istri. Reynaldi terus teringat wajah sang istri, saat terakhir kali Viona bergelayut mesra kepadanya. Dadanya terasa sesak kala mengingat kenangan terakhirnya bersama sang istri. Saat mereka melakukan sholat subuh berjamaah, saat dia menyuapi Viona makan, dan saat dirinya mendampingi sang istri saat sakaratul maut tadi.


"Mungkin, Allah lebih sayang sama kamu. Makanya Allah mengambil kamu dari aku. Sekarang kamu tak merasa sakit lagi, kamu sudah bahagia," ucap Reynaldi dalam hati.


Reynaldi tampak termenung, tatapannya terlihat kosong. Sampai-sampai dia melupakan belum makan sejak siang tadi.


"Rey, makan dulu! Ayo makan, nanti kamu sakit repot. Nanti Viona sedih, kalau melihat kamu seperti ini," ucap sang kakak ipar.


"Iya, Kak. Tapi, aku belum lapar. Nanti saja Kak," sahut Reynaldi.


"Paksain Rey, meskipun dikit. Kamu harus makan, nanti kalau kamu sakit. Kamu jadi repot enggak bisa kerja." Kakaknya Viona mencoba mengingatkan sang adik ipar.


Hingga akhirnya Reynaldi pun mau untuk makan. Meskipun dia hanya makan sedikit, rasanya begitu sulit dia menelan makanan. Acara tahlilan berjalan lancar, banyak orang yang mendoakan Viona.


Abi baru saja sampai di apartemen. Dia memilih untuk langsung mandi, membersihkan tubuhnya. Sebelum dia mendekati sang istri. Setelah selesai, barulah dia mendekati sang istri yang saat itu sedang menyiapkan makanan untuknya makan. Demi bisa ikut menyolatkan dan menguburkan Viona, dia sampai melupakan makan siangnya.


Nisa telah menyiapkan makanan di meja makan. Khanza pun sudah datang menghampiri kedua orang tuanya. Mereka bertiga kini makan bersama.


"Tadi sudah disampaikan Mas salam dari aku? Kamu jadinya ikut sampai mengubur?" Tanya Nisa kepada sang suami.


"Memangnya siapa yang meninggal Bun?" Tanya Khanza sambil tangannya sibuk menyuapi makanan ke dalam mulutnya.


"Tante Viona meninggal. Tadi Papa datang melayat setelah selesai praktek, sekalian ikut mengubur," jelas Abi.


"Oh, akhirnya meninggal juga itu orang. Bagus deh, ngurangin penduduk di Jakarta," sahut Khanza ketus.


"Kakak maafin Tante Viona ya! Kasihan, orangnya sudah meninggal, biar tenang di sana," ujar Nisa mencoba mengingatkan sang anak.


"Enggak akan! Sampai kapanpun aku tak akan pernah memaafkan dia. Biar dia mati penasaran, tidak di terima sama Allah," sahut Khanza.


"Kak, enggak boleh seperti itu! Kita sebagai umat muslim, harus saling memaafkan. Apalagi sekarang dia sudah meninggal, kasihan! Allah saja maha pemaaf, hambanya yang salah." Nisa mencoba mengingatkan sang anak untuk memaafkan kesalahan yang diperbuat Viona dulu.


Khanza memilih tak menjawab lagi ucapan sang bunda, dia justru memilih untuk diam. Keputusannya tetap sama, dia tak akan memaafkan sang ayah ataupun Viona.


"Sabar! Biarkan saja dulu!" Abi selalu mengingatkan Nisa untuk bersabar, di kala Nisa merasa bingung menghadapi sang anak.


Tak banyak yang diceritakan Abi tentang Viona kepada sang istri, karena tak ada yang patut di bahas. Abi justru lebih memilih untuk bermanja-manja dengan sang istri.


"Iya, boleh. Mama sama Papa pasti senang kita pulang kampung. Tapi waktunya mepet ya, jadi kamu enggak bisa lihat pabrik dulu. Nanti aku coba izin dulu ke manajemen, biar kita pulangnya bisa hari senin. Besok coba kamu telepon mama, bicarakan acara ini," sahut Abi dan Nisa mengiyakan.


Setelah selesai acara, Reynaldi pamit untuk pulang. Dia pulang dengan menggunakan ojek online, karena motornya masih di rumah sakit.


"Ma, Rey pamit pulang dulu ya! Besok Rey enggak bisa ikut acara tahlilan, karena Rey masuk shift 2 baru pulang jam 10.00 malam. Rey nanti kirim doa sendiri," ujar Reynaldi.


"Iya enggak apa-apa, kalau memang kamu enggak bisa. Yang terpenting kirim doa untuk Viona jangan terputus," sahut Mama Susan dan Reynaldi menganggukkan kepalanya.


Kini Rey sudah dalam perjalanan pulang menuju rumah. Dia melihat Viona dari jauh yang tampak tersenyum kepadanya. Viona terlihat bahagia. Setelah memberikan senyuman kepada suaminya, dia pun pergi begitu saja.


"Alhamdulillah. Aku senang melihat kamu tersenyum di alam sana," ucap Reynaldi dalam hati. Viona sudah tak tersiksa lagi.


Reynaldi baru saja sampai di rumah, dan langsung menghampiri kamar sang mama. Kini hanya tinggal sang mama yang Reynaldi miliki. Sayangnya sang mama saat itu sedang tidur.


Mama Ratih membuka matanya, saat merasa ada yang memegang tangannya.


"Rey, akhirnya kamu pulang. Mama kangen sama kamu," ucap Mama Ratih. Baru beberapa hari tak bertemu saja, sang mama sudah merasa kangen dengan sang anak. Seakan sudah bertahun-tahun tak bertemu.


"Iya, ma. Maafin Rey ya, ma! Maafin Rey, karena kemarin harus meninggalkan mama, untuk menemani Viona di rumah sakit. Sekarang Rey, tak akan meninggalkan mama lagi. Viona sudah meninggal, tadi pagi Viona menghembuskan napas terakhirnya. Reynaldi langsung mengurus pemakamannya, dan ini baru pulang selesai tahlilan," ungkap Reynaldi.


"Maafkan kesalahan Viona ya Ma, biar dia tenang di sana. Dia sudah tak merasa sakit lagi," ucap Reynaldi lagi.


"Bagus deh, kalau dia sudah meninggal. Jadi, kamu enggak usah repot-repot mengurus dia lagi," sahut Mama Ratih.


"Astaghfirullah al'azim. Kok mama ngomongnya gitu. Mama jangan bicara seperti itu, bagaimanapun dia sudah berjuang banyak mengurus mama. Sampai-sampai dia tak memikirkan kesehatannya sendiri. Dia rela menahan rasa sakitnya, demi bisa mengurus mama," ucap Reynaldi. Dia merasa kecewa dengan sikap sang mama yang masih saja tak berubah.


"Iya, iya. Ya sudah sana istirahat! Pasti kamu kurang istirahat selama di rumah sakit. Lumayan, mengurangi beban kamu," ujar Mama Ratih.


Reynaldi akhirnya meninggalkan sang mama, memilih untuk langsung mandi. Membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Tadi dia sudah sholat, sebelum acara tahlil di mulai. Kini dia hanya tinggal beristirahat.


"Ya Allah, aku mohon! Turunkan hidayahMu untuk mamaku. Semoga dia bisa berubah menjadi orang yang lebih baik, sebelum ajal menjemputnya," ucap Reynaldi.


Melihat apa yang terjadi dengan sang mantan istri, Reynaldi jadi teringat akan kematian. Bahwa kematian seseorang tak ada satu orang pun yang tahu. Semua sesuai kehendak Allah. Padahal, kemarin kondisi Viona sudah terlihat membaik, tetapi nyatanya Viona tiba-tiba saja drop. Hingga akhirnya, nyawanya tak tertolong lagi.


Reynaldi meraih ponselnya, dia pandangi foto kebersamaan dirinya tadi bersama Viona saat di taman. Foto itu adalah foto terakhir kebersamaan dirinya dengan Viona. Kini semuanya hanya tinggal kenangan.


"I miss you," ucap Reynaldi sambil mengecup foto yang dia lihat di layar ponselnya.


Masih Rey ingat saat terakhir kalinya dia membisikkan dan menuntun sang istri mengucap dua kalimat syahadat. Reynaldi juga teringat, saat tadi dia mengecup pucuk kepala, kening, dan bibir sang istri yang rasanya sudah terasa dingin.