
Seperti biasa, setiap pukul 06.00 pagi. Rey sudah bersiap-siap akan berangkat ke kantor. Dia sudah terlihat tampan. Wajahnya kini sudah terlihat lebih segar, tak suram seperti dulu. Rey sudah merasa senang, karena sekarang dia sudah bisa dekat dengan anaknya lagi, dan tugasnya sekarang yaitu membalikkan kepercayaan sang anak. Menjadi ayah yang bertanggung jawab, yang bisa menafkahi anaknya.
"Ma, Rey berangkat dulu ya! Semoga, Rey cepat dapat gaji. Nanti, kalau Rey sudah gajian. Kita ke rumah sakit ya berobat! Semoga saja mama bisa sembuh. Jangan sedih lagi ya!" Ujar Rey kepada sang mama. Rey mencium tangan sang mama, kemudian barulah dia pergi meninggalkan kontrakan petakan.
Rey berniat untuk mencari rumah kontrakan bulanan yang satu rumah. Agar sang mama menempati tempat tinggal yang lebih layak. Sedikit demi sedikit, Rey berusaha untuk bangkit menjadi lebih baik lagi.
Rey baru saja sampai di perusahaan. Dia berusaha untuk bekerja dengan baik. Tak pernah terpikir olehnya lagi untuk korupsi seperti dulu. Pengalaman dulu, cukup dijadikan pelajaran berharga untuknya. Sekarang, tak akan ada lagi yang membantunya. Jika dia nantinya tersandung masalah.
"Rey, tolong kamu ke ruangan saya sekarang!" Melani menghubungi Rey dari panggilan line telepon kantor.
"Baik bu, saya akan segera ke sana," sahut Rey.
Rey langsung ke luar dari ruangannya, menuju ruangan Melani. Rey mengetuk pintu ruangannya, sebelum masuk.
"Masuk!" Perintah Melani dari dalam ruangannya. Rey langsung membuka pintu ruangan Melani secara perlahan, dan masuk ke dalam.
"Hei Rei, santai saja bicara sama saya! Sini masuk, silahkan duduk!" Ujar Melani. Meskipun Melani bersikap baik padanya, dia berusaha untuk menjaga jarak.
Dengan rasa ragu, Rey akhirnya mengikuti perintah Melani untuk duduk bersamanya. Rey merasa canggung duduk bersebelahan dengan Melani. Dia mencoba mengatur napasnya untuk bisa bersikap tenang. Melani adalah sosok wanita yang cantik, dia masih terlihat awet muda. Meskipun kini sudah berusia 35 tahun. Usianya lebih tua tiga tahun dari Rey.
"Jadi begini Rey, sabtu ini saya ada acara keluarga. Aku ingin kamu menemani aku di acara itu. Aku soalnya lelah, ditanya terus kapan nikah," ucap Melani. Membuat Rey menelan salivanya. Padahal, dia sudah merasa senang dan hidup tenang seperti sekarang ini. Dirinya hanya ingin fokus kepada anak semata wayangnya dan juga mamanya.
Rey tampak terdiam. Dia bingung. Apa yang harus dia katakan. Sejujurnya, dia masih belum mau terikat. Terlebih, dengan wanita yang lebih unggul darinya. Sebagai seorang laki-laki, dia merasa malu.
"Ayo lah Rey! Memangnya, kamu enggak mau menolong aku? Aku jatuh cinta sama kamu, sejak pertama kali kita bertemu. Aku ingin menikah denganmu," ucap Melani to the point membuat Rey melongo. Tak mampu berkata-kata. Dia tak menyangka Melani akan seperti itu.
"Tapi, Bu. Kita ini sangat berbeda. Yang seperti saya pernah bilang sama ibu. Saya enggak pantas untuk ibu. Lebih baik ibu cari laki-laki lain yang pantas untuk ibu. Kalau memang hanya menemani ibu datang. Ok. Saya enggak keberatan. Saya siap menemani ibu. Tapi, kalau masalah menikah. Saya enggak siap bu. Saya bukan orang yang berada, status saya pun sudah duda anak satu," jelas Rey kepada Melani.