
Waktu bergulir begitu cepat tanpa disadari oleh orang-orang yang selalu mencoba berdamai dengan sang kehidupan. Banyak orang berharap waktu melambat, meski hanya sedetik saja. Namun, tak kalah banyak juga orang yang
berharap waktu berjalan secepat mungkin. Seperti pasangan Abi dan Nisa, yang tengah menunggu kelahiran sang buah hati mereka.
Usia kandungan Nisa, saat ini sudah sembilan bulan. Nisa sudah menyiapkan hati dan fisiknya untuk melakukan operasi sesar. Malam ini Nisa harus masuk rumah sakit, karena besok jam 06.00 pagi, dia akan melakukan operasi sesar.
"Mas, kenapa ya kok aku jadi tegang begini?" Nisa mengutarakan apa yang dia rasakan saat ini. Padahal, ini bukanlah hal pertama kali dia rasakan.
"Yakinlah, semua akan baik-baik saja! Insya Allah, operasi sesar besok, dilancarkan. Kamu tak sendiri! Aku akan selalu mendampingi kamu selama persalinan," ucap Abi dan Nisa mengiyakan. Abi berusaha untuk menenangkan sang istri, agar tak tegang.
Abi langsung memeluk tubuh istrinya, meyakinkan sang istri kalau dia begitu mencintai istrinya.
"Mas sayang sama kamu. Terima kasih sudah mau berjuang untuk melahirkan buah hati kita," ucap Abi sambil memberikan kecupan di pucuk kepala dan kening istrinya.
"Makasih ya, Mas. Karena Mas telah memberikan aku cinta yang tulus," sahut Nisa dan Abi membalas dengan senyuman.
Jam menunjukkan pukul 16.00 WIB, mereka akan makan bersama. Selepas sholat magrib, Nisa dan Abi akan berangkat ke rumah sakit. Kedua orang tua Abi sudah berada di apartemen. Mereka ingin melihat kedua cucunya pertama kali lahir. Kedua orang tua Abi bersyukur, karena akhirnya bisa memiliki cucu. Bahkan Allah memberikan dua orang cucu sekaligus untuk mereka.
"Ma, Pa, Nisa minta doanya! Semoga operasi besok pagi berjalan lancar. Kembar bisa lahir dengan selamat," ucap Nisa kepada kedua mertuanya di sela-sela makan bersama.
"Iya, sayang. Doa mama dan papa menyertai kamu. Abi dan Khanza pun akan mendoakan kamu. Semangat ya sayang. Insya Allah semuanya dilancarkan," ucap sang ibu mertua.
"Amin, Ma." sahut Nisa menunduk sopan.
Nisa menitipkan Khanza kepada ibu mertuanya. Besok pagi selepas sholat subuh, mereka baru akan ke rumah sakit. Menunggu operasi sesar Nisa.
"Untuk urusan Khanza, biar Mama saja yang urus. Kamu tak perlu memikirkan! Kamu fokus saja sama persalinan besok," ujar sang ibu mertua.
"Bener Bun kata nenek. Bunda enggak usah mikirin Khanza ya! Bunda fokus sama kelahiran adik bayi saja." Khanza ikut bicara. Nisa pun menganggukkan kepalanya. Dia sudah merasa tenang.
Alangkah bahagianya Nisa memiliki mertua yang begitu baik dan menyayangi Khanza. Meskipun Khanza bukan anak Abi. Bahkan perlakuan kedua orang tua Abi melebihi orang tua Reynaldi dulu. Sampai-sampai Nisa meneteskan air
mata. Dia merasa terharu.
Nisa sempat melakukan sholat berjamaah dengan sang suami sebelum mereka berangkat ke rumah sakit. Nisa berusaha untuk tenang, dan menyerahkan semuanya kepada Allah. Mereka terlihat sudah bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit.
"Besok pagi kakak datang ke rumah sakit bareng kakek dan Nenek ya,
Sayang!" Bunda dan Papa berangkat sekarang," ujar Abi kepada sang anak.
Nisa tampak memeluk tubuh sang anak, sambil meneteskan air matanya. Khanza melepaskan pelukan sang bunda.
"Bunda jangan sedih dong! Bunda harus semangat, berjuang melahirkan adik bayi untuk aku. Besok kita 'kan bertemu lagi," rayu Khanza sambil menghapus air mata di wajah sang bunda. Kemudian, dia langsung mencium tangan sang bunda.
Mereka melepas kepergian Nisa dan Abi sampai depan pintu unit apartemen mereka. Abi tampak menggandeng tangan sang istri mesra, dan tangan satunya sambil menarik koper yang akan dia bawa ke rumah sakit.
Bagi Nisa, ini adalah salah satu kebahagiaan dari setumpuk kebahagiaan lain yang dia miliki. Dicintai seperti ini membuatnya semakin yakin
kalau dia tak salah memilih bertahan bersama Abi sampai maut memisahkan mereka. Toh, selama ini lelaki itu tak pernah mempermasalahkan hal terkait dirinya dan juga Khanza. Abi bahkan dengan senang hati menganggap Khanza sebagai anak dan juga memberikannya kasih sayang yang sempurna.
Abi terus memberi semangat kepada istrinya, dan selalu meyakinkan kalau semuanya akan berjalan lancar. Mereka baru saja sampai di rumah sakit. Abi langsung mendaftarkan sang istri, dan Nisa langsung mendapatkan tindakan.
Abi begitu setia mendampingi sang istri. Tangan Nisa kini sudah di infus. Jam 12.00 malam nanti, Nisa sudah mulai puasa, persiapan operasi. Abi terus menggenggam tangan istrinya erat, seakan dia tak ingin terpisah.
"Mau tidur enggak? Apa ada makanan yang kamu inginkan? Biar aku belikan ke luar," ujar Abi kepada sang istri.
"Enggak mas. Aku belum mengantuk, aku juga sudah kenyang. Tak ingin makan apapun," sahut Nisa.
"Ya, sudah! Aku sholat isya dulu ya. Kamu sholat tayamum saja deh! Sholat di ranjang," ujar Abi dan Nisa mengiyakan.
Setelah sholat, Abi terlihat sedang menemani sang istri untuk tidur. Tangannya terus mengusap kepala sang istri dengan lembut.
"Tidurlah sayang! Besok pagi kamu 'kan harus operasi," ujar Abi dan Nisa menganggukkan kepalanya.
Perlahan mata Nisa meredup, hingga akhirnya tertidur nyenyak. Setelah sang istri tertidur, dia pun langsung membaringkan tubuhnya di sofa untuk beristirahat. Tak butuh waktu lama, dia pun sudah tertidur pulas. Abi sengaja memesan kamar VVIP, untuk kenyamanan dirinya dan juga Nisa.