
Nisa dan Abi sudah bersiap-siap untuk berangkat ke pabrik garment milik Nisa. Hari ini mereka hanya pergi berdua, karena Khanza memilih untuk bersama sang nenek di rumah. Menikmati waktu kebersamaannya dengan sang nenek. Karena jam 15.00 WIB, mereka akan kembali Jakarta dengan menggunakan pesawat.
"Ma, titip Khanza ya! Aku sama Nisa berangkat dulu. Katanya Khanza enggak mau ikut," ujar Abi kepada sang mama.
"Iya, pergi deh! Kalian nikmati waktu kebersamaan kalian berdua, biar Khanza sama mama saja di rumah. Dia juga masih ingin puas-puasin sama mama. Nanti sore 'kan kalian mau kembali ke Jakarta," ujar sang mama. Abu pun mengiyakan.
Kini mereka sudah dalam perjalanan menuju pabrik garment milik Nisa. Abi tampak menggenggam tangan sang istri dengan mesra, dan sesekali menciumi tangan istrinya. Membuat Nisa tersenyum ke arah suaminya, dan Abi mengucapkan I love you.
"I love you too. Makasih ya mas sudah mau mengantarkan aku ke pabrik," ucap Nisa kepada sang suami.
"Iya, sudah kewajiban bagiku melakukan hal itu kepada istriku. Selama aku bisa, aku tak akan membiarkan kamu sendiri," sahut Abi.
"Kamu so sweet banget si yang. Membuat aku semakin cinta sama kamu," puji Nisa kepada sang suami.
Obrolan mereka harus terhenti, karena mobil Abi sudah memasuki parkiran pabrik. Nisa turun lebih dulu, sedangkan Abi harus memarkirkan mobilnya terlebih dahulu. Nisa langsung di sambut baik semua pegawainya. Mereka begitu senang melihat kedatangan bosnya itu.
Mereka terlihat merindukan bosnya itu. Tak seperti kebanyakan di perusahaan lain, yang justru berharap bosnya tak datang ke perusahaan. Nisa sosok yang tegas, tetapi selalu bersikap baik kepada pekerjanya.
"Ibu, kenapa enggak kembali lagi tinggal di Yogyakarta? Kami ingin lihat kembar lahir. Pasti nanti ibu akan semakin sulit ke Yogyakarta, kalau kembar lahir," protes seorang karyawan dan membuat Nisa tersenyum. Dia bersyukur karena dikelilingi orang-orang yang begitu peduli baginya, menjadikan hidupnya lebih berarti.
"Untuk saat ini, belum bisa. Sebagai seorang istri yang baik, pastinya akan selalu berada di samping suami. Menemani dirinya kemana pun dia berada. Saya tak ingin mengabaikan tugas utama saya sebagai seorang istri, yang mengutamakan keluarga. Insya Allah nanti ke Yogyakarta lagi. Kalau keadaan sudah memungkinkan melakukan perjalanan jauh," ungkap Nisa.
Saat itu Abi sudah berada di sana, dia begitu bangga dengan penuturan sang istri yang tetap memprioritaskan keluarga. Padahal, Abi sangat tahu. Usaha ini adalah mimpinya. Demi dirinya, sang istri rela ikut ke Jakarta.
"Sayang," panggil Abi yang kini berada di sebelah istrinya. Abi terlihat mesra di depan semua pegawai Nisa. Nisa menyuruh sang suami untuk duduk, karena dia ingin berbincang dengan beberapa pegawainya. Abi hanya menatap sang istri dari tempat duduknya. Dia begitu bangga memiliki Nisa.
Dengan setia Abi mendampingi sang istri, menemani sang istri sampai selesai. Mereka selalu mendukung profesi pasangannya. Nisa pun sangat mengerti profesi suaminya itu. Nisa siap, jika suatu saat Abi harus pergi meninggalkan dirinya secara tiba-tiba untuk bekerja. Di luar jam kerja Abi. Berbeda halnya dengan Viona yang justru menganggap suaminya itu selalu sibuk dengan pekerjaannya, dan tak mempedulikan dirinya.
Setelah berada di pabrik kurang lebih tiga jam, Nisa pamit pulang. Nisa sudah menyuruh asistennya untuk memesan makan siang untuk semua karyawannya. Dia ingin berbagi kepada karyawannya.
"Saya pamit pulang dulu ya! Soalnya harus siap-siap untuk kembali ke Jakarta sore ini. Terima kasih untuk kerja sama kalian untuk memajukan usaha ini. Semoga kita semua bisa dipertemukan kembali dalam keadaan sehat walafiat. Mohon doanya dari kalian, semoga persalinan saya diberikan kelancaran. Kembar bisa lahir dengan selamat dan tanpa ada kekurangan satu pun," ucap Nisa dan semua karyawannya mengaminkannya.
Nisa akhirnya pergi meninggalkan pabriknya, Abi menggandeng tangan istrinya dengan mesra. Mereka kini sudah dalam perjalanan pulang.
"Makasih ya mas untuk hari ini, mas sudah mau menemani aku," ujar Nisa.
Sebelum pulang mereka memutuskan untuk mampir dulu untuk makan. Masih ada waktu untuk bisa berduaan. Abi memarkirkan mobilnya, di sebuah tempat makan. Setelah itu Nisa dan Abi pun turun memasuki tempat makan. Sebuah tempat yang nyaman untuk duduk bersantai.
Tempat itu memiliki beberapa saung untuk duduk secara lesehan. Di bawanya terdapat kolam ikan. Abi dan Nisa tampak duduk bermesraan menunggu makanan datang. Mereka selfie bersama, untuk mengabadikan momen kebersamaan mereka.
"Makasih ya Mas untuk semua kebahagiaan yang mas berikan untukku. Menjadikan aku wanita yang beruntung di dunia ini," ucap Nisa.
"Karena kamu memang pantas mendapatkannya. Aku pun merasakan hal yang sama. Karena kamu telah menjadikan aku sebagai laki-laki yang beruntung. Aku sangat bahagia hidup dengan kamu," ungkap Abi.
Makanan datang. Aneka makanan sudah tersaji di meja. Kini saatnya mereka menikmati makanan. Nisa mengambilkan sang suami makanan. Mengambil nasi dan meletakkannya ke piring. Kemudian memberikannya kepada sang suami. Untuk urusan sayur dan lauk, Nisa menyuruh sang suami mengambil sendiri. Sesuai keinginannya.
"Terima kasih sayang," ucap Abi.
Abi mengambil semua lauk yang tersedia. Kemudian dia mulai melahapnya. Mereka tampak menikmati makanannya. Setelah selesai makan, mereka memutuskan untuk langsung pulang ke rumah. Karena dia harus bersiap-siap untuk pulang ke Jakarta.
Mereka kini sudah dalam perjalanan pulang menuju rumah orang tua Abi. Tak terasa, hari ini mereka harus kembali lagi ke Jakarta. Karena besok, Abi akan mulai bekerja kembali. Dia tak bisa izin terlalu lama.
Mobil mereka telah terparkir rapi di parkiran mobil rumah orang tua Abi. Nisa turun lebih dulu, dan masuk ke dalam rumah. Setelah itu, barulah Abi yang ikut masuk juga ke dalam rumah. Saat itu Khanza sedang duduk di ruang keluarga bersama nenek dan kakeknya. Demi bisa bermain dengan cucunya, sang kakek rela izin tidak bekerja. Kedua Abi akan mengantarkan Nisa, Abi, dan Khanza ke bandara. Menjelang persalinan Nisa, kedua orang tua Abi akan datang ke Jakarta.
Sang mama menawarkan Nisa dan Abi untuk makan siang, tetapi mereka menolaknya. Karena mereka sudah makan di luar. Nisa pamit ingin merapikan barang-barang yang akan di bawa pulang.
Saat itu jam menunjukkan pukul 13.30. Abi, Nisa, Khanza, beserta kedua orang tua Abi sudah bersiap-siap untuk berangkat ke bandara. Rasanya mereka begitu berat melepas kepergian anak, cucu, menantunya.
Mobil yang membawa mereka telah sampai di bandara. Mereka pun turun untuk masuk ke dalam.
"Ma, Abi pulang dulu ya! Nanti mama ke Jakarta ya, kalau Nisa mau melahirkan. Semoga mama dan papa selalu diberikan kesehatan," pamit Abi kepada sang mama.
Nisa pun melakukan hal yang sama kepada ibu mertuanya. Mereka tampak mendoakan yang terbaik untuk anak dan juga menantunya.