Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Menjadi Suami Siaga


Selama sepuluh hari lamanya, orang tua Abi berada di Jakarta, dan besok rencananya mereka pamit untuk pulang ke Yogyakarta kembali. Karena Papanya Abi harus kembali bekerja mengurus perusahaannya.


"Nis, Abi. Mama sama papa pamit pulang ya ke Yogyakarta besok. Soalnya, Papa sudah terlalu lama meninggalkan pekerjaannya," ujar Mamanya Abi, saat mereka sedang sarapan pagi bersama.


"Iya, Ma. Maaf ya Ma, Pa. Nisa jadi merepotkan kalian," ucap Nisa.


"Loh, kenapa harus meminta maaf. Kamu tak salah. Mama dan papa 'kan tak sabar ingin bertemu cucu-cucu kami. Kami justru berterima kasih pada kamu, karena kamu telah memberikan kebahagiaan kepada kami. Akhirnya, Abi bisa memiliki keturunan," sahut Mamanya Abi.


"Khanza kangen deh sama nenek," ucap Khanza.


"Khanza sekolahnya di Yogyakarta saja yuk sama nenek. Biar nemenin nenek," ujar Mamanya Abi.


"Pengen si nek, tapi Khanza pengen dekat sama Azzam dan Azzura juga. Nanti, kalau Khanza libur. Khanza nginep di sana ya," jawab Khanza dan sang nenek mengiyakan.


Setelah selesai sarapan, Abi pamit untuk berangkat bekerja. Seperti biasa, dia akan mampir mengantarkan Khanza dulu ke sekolah, dan baru setelah itu Abi berangkat bekerja.


Seperti biasa, Nisa mengantarkan sang suami sampai depan unit apartemen. Nisa mencium tangan sang suami, dan Abi mengecup kening sang suami. Rutinitas yang biasa mereka lakukan. Hal itu membuat kedua orang tua Abi ikut merasa senang melihat keharmonisan hubungan anak dan menantunya.


Nisa tersenyum, kala melihat orang tua Abi yang begitu menyayangi kedua anaknya. Sebagai seorang wanita, dia merasa dihargai. Tak seperti dulu. Mamanya Abi justru menyuruh Nisa untuk beristirahat. Karena mereka yang akan menjaga Azzam dan juga Azzura.


Berbeda halnya dengan Nisa dan juga Abi yang kini sedang berbahagia, Reynaldi justru sedang merasa bingung. Kontrakan rumahnya sudah mau habis. Tetapi dia tak ada uang untuk mengontrak rumah tahunan. Karena uang dari hasil penjualan rumah dulu sudah habis, dan gaji yang Reynaldi dapatkan hanya cukup untuk biaya kehidupan sehari-hari.


"Ma, sepertinya kita harus pindah kontrakan ke kontrakan petakan yang bisa bayar bulanan. Soalnya, uang kita tak ada untuk perpanjangan kontrakan tahunan," ungkap Reynaldi.


Reynaldi hari ini libur tak bekerja. Dengan berat hati, dia terpaksa harus mengatakan hal ini kepada mamanya. Mama Ratih tampak meneteskan air mAatanya. Kehidupan dia semakin sulit saja. Bahkan, selama dia sakit. Tak ada satu keluarga pun yang datang menengoknya. Karena dulu, Mama Ratih sangat sombong.


"Kenapa hidup kita semakin sulit seperti ini? Bahkan kita, harus tinggal di kontrakan petakan," ujar Mama Ratih di iringi isak tangis.


"Mungkin, Allah murka kepada kita. Sampai-sampai dia menghukum kita seperti ini," ujar Reynaldi kepada sang mama. Mama Ratih hanya terdiam mendengar penuturan sang anak.


Mama Ratih hanya bisa menikmati hari tuanya di tempat tidur. Wajahnya sudah terlihat tua tak ceria lagi seperti dulu. Sudah tak bisa lagi bergaya dengan barang-barang mewah. Tubuhnya pun sangat kurus, hanya tinggal tulang saja.


"Ya sudah Rey, tak apa-apa. Kalau memang kita harus pindah ke kontrakan petakan. Mama serahkan semuanya kepada kamu. Barang-barang kita, dilelang saja. Uangnya bisa bermanfaat untuk hari-hari," ujar Mama Ratih. Dia sudah pasrah. Sudah tak ada semangat hidup lagi.


Abi keluar dari kamar, dan berniat bicara dengan sang mama, membicarakan tentang masalah ART. Abi duduk di sebelah sang mama.


"Ma, besok mama 'kan pulang. Nanti, kalau sudah di Yogyakarta. Tolong carikan ART ya, sepertinya Abi perlu menambah ART. Kasihan Nisa, wajahnya terlihat sangat lelah. Itu padahal ada mama dan papa. Bagaimana kalau nanti enggak ada. Abi enggak tega melihatnya," ujar Abi. Abi juga sudah meminta ART nya yang berada di Yogyakarta, untuk mencarikan orang yang mau bekerja.


"Iya, nanti mama coba carikan. Iyalah, pasti sangat lelah. Mama saja dulu mengurus kamu satu saja, sangat lelah. Apalagi, Nisa 'kan masih baru banget, jahitannya takut robek lagi. Tak boleh banyak gerak dulu. Kamu harus jadi suami siaga," sahut Mamanya Abi.


Orang tua Abi akan pulang naik pesawat jam 09.00 pagi WIB. Sayangnya sang anak tak bisa mengantarkan kedua orang tuanya ke bandara. Mereka terpaksa harus naik taksi online.


"Maafin Abi ya Ma, Pa. Abi tak bisa izin. Mama jadi harus naik taksi online," ucap Abi.


"Sudah, tak apa-apa. Kamu fokus bekerja saja! Mama dan Papa bisa naik taksi online," sahut Papanya Abi.


"Semoga mama dan papa selalu diberikan kesehatan dan umur panjang. Jadi bisa kesini lagi," ujar Abi. Abi langsung berpelukan dengan sang mama


Abi dan Khanza berangkat lebih dulu dari kedua orang tua Abi. Setelah itu barulah kedua orang tua Abi pamit untuk pulang. Nisa hanya bisa mengantarkan kedua mertuanya sampai dengan rumah. Sebelum pergi, Nisa mencium tangan kedua ibu mertuanya.


Kini tinggallah Abi dan Nisa yang harus bergantian merawat Azzam dan juga Azzura, dengan di bantu Khanza. Khanza pun harus mandiri, karena sang bunda sibuk mengurusi kedua adiknya.


Abi dan Khanza baru saja sampai di rumah, dan melihat Nisa yang sedang tertidur nyenyak. Membuat mereka tak tega menggangunya. Hingga akhirnya Khanza memutuskan untuk keluar dari kamar sang bunda. Khanza sempat mengintip kedua sang adik yang tertidur juga.


Abi sudah terlihat segar. Dia memilih untuk tiduran di sofa yang berada di depan TV. Ternyata, dia justru ketiduran. Kini giliran Nisa yang melihat sang suami tertidur nyenyak, membuat dia tak tega. Saat malam, Abi sering begadang membantu Nisa untuk mengurus Azzam dan juga Azzura. Dia berusaha menjadi suami siaga. Yang siap membantu sang istri mengurus ketiga buah hatinya.


Mendengar ada pergerakan, Abi perlahan membuka matanya.


"Mas, sudah pulang dari tadi? Maaf, tadi aku tak menyambut Mas. Aku ketiduran," ujar Nisa.


"Iya, tak apa. Aku ngerti, pasti kamu sangat lelah," sahut Abi.


Ya, rasa lelah begitu terasa. Tetapi Nisa selalu berusaha untuk menjadi ibu yang baik untuk ketiga buah hatinya.