
"Mas Reynaldi selingkuh Mba, dan bahkan dia sudah menikah siri dengan wanita itu. Tadi sore aku ke Mall sama Khanza dan melihat Mas Reynaldi menggandeng tangan wanita itu dengan mesra," ungkap Nisa diiringi isak tangis.
"Sabar ya Nis! Kamu harus bersyukur, karena akhirnya Allah menunjukkan kepada kamu kalau dia seorang pengkhianat. Dari sebelum-sebelumnya Mba juga 'kan sudah bilang sama kamu, kalau laki-laki yang pernah selingkuh pasti dia akan selingkuh lagi, dan laki-laki yang sudah biasa berbohong dia pasti akan seperti itu terus. Ya sudah, sekarang kamu sudah tahu kebenarannya. Sudah cukup kamu tersakiti sama dia, tak perlu kamu tangisi lagi laki-laki seperti dia!" ucap Mba Rania. Dia juga tampak memeluk sang adik, sebagai sandaran untuk sang adik meluapkan kesedihannya.
"Laki-laki breng*sek seperti dia, patut diberi pelajaran. Biar dia bisa merasakan penderitaan yang kamu rasakan saat ini! Pelakornya juga kasih pelajaran biar merasakan apa yang kamu rasakan!" ucap Mba Rania.
Nisa tampak berpikir. Sebenarnya dia bukan tipe orang yang pendendam, dia lebih memilih meninggalkan dan bercerai. Lagipula dia melihat penyesalan pada diri Reynaldi, membuat dia tak tega. Namun, ucapan sang kakak membuat dia tersadar. Apa yang diperbuat suami dan mantan mertuanya sungguh keterlaluan. Dia juga ingin memberi pelajaran kepada pelakor yang membuat rumah tangganya hancur.
"Kira-kira apa ya yang harus aku lakukan untuk mereka bertiga?" tanya Nisa yang kini menatap ke arah sang kakak dengan wajah serius.
"Kamu laporkan saja sama bos kamu dulu, kamu tahu tidak rumahnya? Kamu datangi rumah bos kamu dulu, dan ceritakan apa yang terjadi dengan rumah tangga kamu. Bukannya bos kamu itu baik sama kamu? Mba yakin si laki-laki breng*sek itu akan di pecat dari perusahaannya. Biar dia hidup menderita. Makan tuh selingkuh, biar mertua jahat kamu dan istri barunya ikut merasakan si Reynaldi di pecat dari pekerjaan yang selama ini membawanya dalam kesuksesan," ucap Mba Rania.
Nisa tampak menyimak ucapan Mba Rania. Sebenarnya, ada perasaan tak tega di benaknya kalau sampai Reynaldi di pecat. Dia yakin kalau Reynaldi akan marah besar, dan dia juga tak akan bisa memberi nafkah untuk Khanza kalau sampai di pecat dari pekerjaannya.
"Mba, apakah balasan itu tak terlalu sadis untuk Mas Reynaldi?" tanya Nisa lagi.
"Tidak! Menurut Mba pantas. Dasar laki-laki, apa dia tak ingat siapa yang membuat dia bisa sukses seperti itu? Ingat, dia itu dulu hanya seorang supervisor, atasan kamu di perusahaan itu. Setelah menikah sama kamu, karier dia menanjak menjadi manager dan bahkan orang kepercayaan bos kamu itu. Semua itu atas andil kamu. Memangnya kamu mau, keberhasilan atas dukungan kamu di bagi untuk wanita murahan itu dan ibunya yang jahat. Kalau Mba jadi kamu, Mba enggak akan mau. Mba akan laporkan, biar laki-laki itu dipecat jadi pengangguran dan bekerja dari bawah lagi," jelas Mba Rania dengan penuh semangat. Dia merasa geram dengan apa yang dilakukan Reynaldi kepada sang adik.
"Benar juga apa yang dikatakan Mba Rania. Aku tak sudi memberikan kebahagiaan untuk wanita itu. Aku akan membalasnya. Tak peduli Mas Reynaldi marah sama aku, dia pantas mendapatkannya," ucap Nisa dalam hati.
"Mba, besok tolong anterin aku ya! Aku mau ambil motor aku di rumah mereka. Sekalian aku mau cari kontrakan untuk sementara kami tinggal. Karena aku harus urus gugatan cerai juga, Mba. Khanza juga biar sekolah dulu, sampai urusan aku di Jakarta selesai. Setelah itu aku ingin pulang ke Yogya saja temani Bunda di kampung, sekalian aku mau buat usaha di sana. Khanza terpaksa aku pindahkan sekolahnya ke Yogya," ungkap Nisa.
Bahkan rasa kesal Mba Rania lebih besar dari Nisa. Setelah selesai mengobrol. Mba Rania menyuruh Nisa untuk beristirahat. Besok dia akan menemani sang adik untuk mengurus semuanya. Sudah menjadi tanggung jawabnya untuk melindungi sang adik. Dia juga akan berencana menginap, menemani sang adik dulu.
Selama ini Nisa sudah banyak membantu keluarga Mba-nya, kini sudah waktunya sang kakak dan suaminya membalas kebaikan Nisa selama ini. Suami Mba Rania mendukung sang istri untuk membantu sang adik menyelesaikan permasalahannya. Dia tak masalah di tinggal dan Nabila sang anak terpaksa izin dulu dengan gurunya.
Reynaldi terbangun dari tidurnya, saat itu jam sudah menunjukkan pukul 05.00 pagi. Dia teringat kembali dengan sosok wanita cantik yang menemani hari-harinya selama 7 tahun lebih. Biasanya, setiap pagi Nisa akan membangunkan dirinya. Mengingatkan dia untuk sholat subuh. Air mata Reynaldi tak mampu tertahan lagi, menetes satu persatu.
"Yang, aku kangen sama kamu. Kamu boleh menghukum aku apapun itu, tetapi aku mohon jangan tinggalkan aku. Kamu sama Khanza dimana?"
Mata Reynaldi terlihat sembab karena semalaman dia menangis, hingga akhirnya dia tertidur. Dia terlihat murung, tak bersemangat. Seakan separuh napasnya pergi dari hidupnya. Bahkan dia sampai melupakan untuk makan.
Dia tampak menciumi bantal, selimut yang masih menyisakan wangi tubuh istrinya. Dia sangat merindukannya. Bahkan dia berlaku seperti orang yang tak waras. Reynaldi bangkit dari ranjang dan mengambil air wudhu untuk sholah subuh. Air matanya terus mengalir, dan bahkan semakin deras. Dia menangis sesenggukan di dalam sujudnya. Dadanya terasa sesak.
"Ya Allah, kuatkanlah hamba dalam melanjutkan hidup hamba selanjutnya. Bantulah hamba untuk menghilangkan rasa cinta ini, karena dia sudah tak pantas untuk hamba cintai. Rasanya masih begitu terasa, saat mendengar kalau dia diam-diam telah menikahi wanita itu. Aku mohon, berikan rezeki yang melimpah untuk hamba. Agar hamba bisa membesarkan anak hamba," doa yang Nisa ucapkan di dalam sholatnya.
Memang, semuanya tak semudah itu. Tak semudah membalikkan telapak tangan. Dia akui, dia masih mencintai Reynaldi. Delapan tahun kebersamaan mereka, bukan waktu yang sebentar. Senang sedih dia rasakan. Reynaldi yang mengenalkan dia cinta, dan Reynaldi juga yang menggoreskan luka di hatinya. Reynaldi adalah cinta pertama Nisa. Dulu, Reynaldi begitu mengejarnya dan berjuang agar Nisa mencintai. Semuanya hanyalah tinggal kenangan, dan akan berakhir di meja hijau.
Sambil menunggu up, mampir yuk di karya aku lainnya yang tak kalah menguras emosi😊