
"Yang, bangun!" Nisa berusaha membangunkan suaminya yang sudah tertidur pulas. Reynaldi hanya menyahut, tetapi enggan membuka matanya.
"Aku lapar! Mau makan nasi goreng yang pedas pakai telor mata sapi," rengek Nisa.
"Ya sudah pesan online saja," jawab Reynaldi asal. Tentu saja membuat Nisa merasa kesal. Karena suaminya tak menepati janji untuk menjadi suami siaga.
"Ya sudah kalau tidak mau bangun. Aku keluar saja, beli di luar," ancam Nisa.
"Eemmm, eh tunggu biar aku saja! Kamu pesan online dan setelah itu kamu duduk manis saja, biar nanti aku yang ambil," ujar Reynaldi.
Reynaldi langsung terbangun, dan mencuci mukanya agar rasa kantuk yang dia rasakan hilang. Matanya sudah mulai segar kembali.
"Sudah pesan nasi gorengnya?" tanya Reynaldi lembut, Nisa justru menggelengkan kepalanya. Membuat Reynaldi mengerutkan keningnya.
"Karena kamu sudah bangun, aku menjadi berubah pikiran," ujar Nisa sambil cengar-cengir.
"Maksud kamu? Aku tak mengerti. Terus kenapa kamu cengar-cengir," ujar Reynaldi bingung.
Nisa mengatakan kalau dirinya tak ingin beli nasi goreng, tetapi dia ingin makan masakan suaminya. Tentu saja hal itu membuat Reynaldi tersentak kaget. Karena selama ini Reynaldi tak pernah masak.
"Yang bener saja sih Yang, masa kamu mau masakan aku? Aku pesankan saja ya, sebentar," ujar Reynaldi mencoba memberikan pengertian kepada istrinya.
Namun Nisa menolaknya. Dia merajuk, tidak jadi makan, dan memilih untuk tidur.
"Aku sih mau saja masak. Tetapi kasihan si Dede," ujar Reynaldi.
"Yang mau makan itu, aku! Tugas kamu itu cuma masak! Rasanya seperti apa itu urusan aku," sahut Nisa membuat Reynaldi menarik napas panjangnya. Sepertinya sang anak senang mengerjainya.
Terpaksa dia harus mengikuti mengidam malam istrinya. Kehamilan anak keduanya sangat aneh, tidak seperti saat hamil Khanza dulu.
"Kamu duduk dulu di sini ya! Aku mau masak dulu," ucap Reynaldi dan Nisa tampak menganggukkan kepalanya.
Reynaldi mulai membuka aplikasi Google di ponselnya untuk mencari resep nasi goreng. Dia ingin tahu, bumbu apa saja yang harus dia siapkan dan cara memasaknya. Inilah hal pertama kali yang Reynaldi lakukan.
Dengan percaya diri, Reynaldi bergaya seperti MasterChef di TV. Membuat Nisa tersenyum. Wajahnya terlihat ceria, senyum manis terus terukir di sudut bibirnya. Setelah kejadian itu, baru saat ini Reynaldi melihat istrinya tersenyum kembali.
Nisa memandang wajah suaminya yang sedang sibuk memasak. Dia berdoa dalam hati, berharap suaminya tak akan selingkuh lagi.
"Tara, pesanan Nyonya Reynaldi sudah jadi," ucap Reynaldi sambil meletakkan satu piring berisi nasi goreng dan juga telor mata sapi. Nisa bersyukur karena suaminya sudah banyak perubahan. Menunjukkan sikap baik dan tanggung jawabnya. Reynaldi ikut duduk di sebelah istrinya, menemani sang istri makan.
"Selamat makan anak Ayah sehat-sehat ya di dalam kandungan Bunda," ucap Reynaldi sambil mengelus perut istrinya.
Nisa terlihat menikmati nasi goreng buatan suaminya dengan lahap, sampai-sampai dia melupakan suaminya yang masih berada di sampingnya. Tentu saja hal itu membuat Reynaldi merasa bahagia, karena bisa membuat istrinya merasa bahagia.
"Memangnya enak masakan aku? Kamu kok makan lahap banget?" tanya Reynaldi.
Reynaldi sudah berusaha semaksimal mungkin memberikan makanan yang terbaik, meskipun dirinya baru mencoba sekarang untuk memasak. Nisa langsung mengacungkan jempol tangannya.
"Masa sih masakan aku enak? Semoga tidak bikin kamu sakit perut ya," ujar Reynaldi yang saat itu merasa tak percaya.
"Sini aku suapin, kamu cobain sendiri," sahut Nisa yang ingin menyuapi suaminya. Ternyata bahagia itu sangat sederhana, mewujudkan keinginan sang istri seperti itu, sudah mampu membuat istrinya bahagia
"Ya ampun Yang, makanan seperti ini kamu bilang enak? Jangan-jangan kamu lagi kena covid, makanya sampai hilang rasa seperti ini. Rasa tidak karuan seperti itu, dibilang enak. Aneh banget kamu," cerocos Reynaldi.
Reynaldi akhirnya meminta sang istri untuk tidak menyuruh dirinya masak lagi. Karena dia ingin istri dan anaknya yang masih di dalam kandungan sang istri mendapatkan makanan yang enak dan bergizi.
"Bukan seperti itu, Sayang. Kamu jangan salah paham! Ya sudah, aku janji. Aku akan menepati semua keinginan kamu" rayu Reynaldi.
Setiap malam, istrinya selalu minta dibuatkan makanan. Reynaldi menurutinya. Demi membahagiakan istrinya.
Rumah tangga Reynaldi dan Nisa semakin harmonis, dengan hadirnya anak kedua mereka yang masih di dalam kandungan. Tak pernah terpikir oleh Reynaldi untuk berselingkuh kembali.
"Sebelum aku pulang, ada yang kamu ingin titip tidak? Nanti aku mampir dulu di jalan," ujar Reynaldi.
"Apa ya? Bingung aku," ucap Nisa. Semenjak dirinya hamil, suaminya semakin perhatian kepadanya.
"Sepertinya seblak enak. Nanti tolong belikan ya, kalau di jalan ada yang jual seblak," ujar Nisa dan Reynaldi mengiyakan."
Reynaldi baru saja sampai di rumah, dia terlihat menenteng satu bungkus berisi seblak.
"Apa itu Rey?" tanya sang Mama.
"Ini Seblak, Ma. Nisa tadi nitip, sewaktu aku mau pulang," ujar Reynaldi.
"Mentang-mentang sedang hamil. Sengaja mengerjai kamu. Kesempatan banget," sindir sang Mama.
"Tak apa-apa, Ma. Aku senang melakukannya. Selama aku bisa, aku akan menuruti keinginan Nisa. Nanti kalau aku tak menurutinya, anak aku ngeces gimana," ujar Reynaldi.
"Ah, aturan apaan itu. Tak ada kaitannya. Itu alasan ibunya saja, minta diperhatikan," cerocos Mama Ratih.
Reynaldi tak ingin memperpanjang dengan Mamanya. Dia pamit untuk naik ke kamarnya.
" Semakin berkuasa saja wanita murahan itu," gerutu Mama Ratih.
Nisa terlihat senang, karena suaminya membuktikannya. Menuruti yang dia inginkan. Namun, bukan berarti dia terlena dan memaafkan kesalahan suaminya.
"Yang, aku tidak mau seblaknya. Aku ingin makanan buatan kamu," rengek Nisa.
Dia hanya menginginkan Seblak, tetapi pada akhirnya tidak dimakan lagi. Nisa hanya memiliki keinginan, tetapi tak pernah menghabiskannya. Dia hanya lahap makan, buatan suaminya. Hingga akhirnya Reynaldi menuruti keinginan istrinya, meskipun matanya sangat mengantuk.
"Mau makan apa?" tanya Reynaldi.
Reynaldi sudah siap sedia. Dia sudah tak merasa aneh, jika istrinya tiba-tiba meminta dirinya memasak.
"Aku ingin makan burger saja," ucap Nisa.
"Hah, bagaimana caranya?" tanya Reynaldi kepada sang istri.
Nisa mencoba mengajarkan suaminya cara membuat burger. Mereka tampak mesra masak berdua di dapur.
"Kalian ngapain malam-malam masak," ujar Mama Ratih yang datang secara tiba-tiba. Wajahnya terlihat sinis, menunjukkan wajah tak suka.
"Ini Ma, aku lagi mau buatkan burger untuk Nisa," ujar Reynaldi.
"Nisa ... Nisa! Pintar sekali kamu. Kehamilan, kau jadikan alat untuk mencari perhatian suami kamu. Tega banget si kamu, malam-malam disuruh masak. Dasar istri tak punya akhlak. Suami kamu itu capek. Apa tak kasihan sama suami," sindir Mama Ratih.
Sambil menunggu up, mampir yuk di karya Teh Ijo