
Keduanya tampak sedang sholat subuh berjamaah. Selama menjadi pasangan suami istri, baru pertama kalinya mereka melakukan sholat berjamaah. Setelah selesai sholat, Viona langsung berdoa secara khusyuk di dalam hati. Reynaldi memilih membiarkan sang istri berdoa.
"Ay, aku beli sarapan dulu ya," ujar Reynaldi.
Reynaldi hanya pamit, dia khawatir nantinya sang istri akan mencari dirinya. Reynaldi berniat membelikan Viona bubur ayam, dan nasi uduk untuknya. Karena jam sekarang tak ada pilihan lagi, selain makanan seperti itu.
Setelah membeli makanan, Reynaldi langsung kembali lagi ke ruangan sang istri di rawat. Dia melihat sang istri yang sedang membaringkan tubuhnya di ranjang, wajahnya terlihat pucat. Tentu saja hal itu membuat dia merasa khawatir dengan sang istri.
"Kamu kenapa?" Tanya Reynaldi kepada sang istri.
"Aku? Memangnya aku kenapa? Aku baik-baik saja kok," jelas Viona.
"Oh gitu? Syukurlah, kalau kamu baik-baik aja. Kamu ngomong ya, kalau ada yang kamu rasa," ujar Reynaldi dan Viona menganggukkan kepalanya.
Reynaldi langsung menyiapkan makanan untuk sang istri. Kemudian menyuapi sang istri makan. Sejak tadi Viona merasa area sensitifnya terasa sakit. Namun, dia berusaha untuk menutupinya dari sang suami.
"Nanti, jam 08.00 kita berjemur ya. Biar tubuh kamu sehat terkena sinar matahari," ujar Reynaldi dan Viona mengiyakan.
Hari ini Viona terlihat begitu manja, sejak tadi dia selalu ingin dekat sang suami. Reynaldi tampak duduk di tepi ranjang, dan Viona terlihat menyenderkan kepalanya di pundak sang suami.
"Ay, nanti kalau aku meninggal. Kamu menikah lagi atau tidak? Sebenarnya, aku tak masalah si kamu menikah lagi. Karena aku 'kan sudah tak ada di dunia lagi, aku tak akan cemburu lagi melihat kamu bersama wanita lain. Aku jadi ingat dulu, saat kita bertemu Nisa di Mall. Pasti Nisa sedih banget, saat melihat kamu bersama aku. Seperti yang aku rasa dulu, saat Reza mantan suamiku berselingkuh sama Meli. Aku menemukan dia di kamar kos kami, dalam keadaan polos. Saat itu merasa begitu sakit, tapi kenapa aku malah mengikuti jejak dia ya," Viona terus saja bercerita kepada sang suami.
"Sudah, jangan bicara macam-macam! Lebih baik, kamu fokus sama kesehatan kamu! Kamu harus bersemangat untuk segera sembuh," sahut Reynaldi. Ucapan Viona, mengingatkan dirinya juga. Betapa bodohnya dia dulu. Padahal dia dulu sudah memiliki segalanya, tetapi masih saja terlena dengan masa lalu.
Reynaldi meraih ponselnya yang dia letakkan di atas meja dekat ranjang tempat dia duduk. Dia ingin tahu jam berapa saat ini. Ternyata jam sudah menunjukkan pukul 07.30 WIB. Reynaldi memutuskan untuk mengajak sang istri berjemur.
"Yang, kita berjemur yuk, sekalian berjalan-jalan ke taman! Biar kamu tak merasa jenuh, tidur terus di ranjang," ajak Reynaldi. Tentu saja Viona langsung terima ajakan suaminya itu. Reynaldi membantu sang istri turun dari ranjang, dan mendudukkan sang istri di kursi roda yang sudah dia pinjam dari rumah sakit.
Reynaldi langsung mendorong sang istri ke taman yang berada tak jauh dari ruangan Viona di rawat. Reynaldi tampak duduk di kursi panjang yang berada di taman, menemani sang istri berjemur.
"Jika sakit bisa membuat aku diperlakukan kamu seperti ini, pasti aku akan memilih untuk sakit seumur hidupku. Agar aku selalu merasakan cinta dari kamu," ungkap Viona.
"Maaf ya! Selama ini aku sering kali mengabaikan kamu, tak mempedulikan kamu," ucap Reynaldi.
"Iya, aku paham. Yang terpenting bagiku, cinta kamu ke aku tak pernah berubah, dan justru semakin cinta padaku. Cintaku padamu akan ku bawa sampai mati," ucap Viona.
Viona selalu saja membahas tentang kematian, bahkan dia sudah mengatakan pada sang suami. Kalau dirinya ingin dikubur dekat kuburan sang papa. Dia ingin dekat sang papa.
"Sudah, jangan bicara seperti itu! Kita akan selalu bersama. Aku lihat kondisi kamu sudah semakin membaik kok. Yang terpenting, apa yang dokter katakan. Kamu harus mengikutinya! Ingat pesannya padamu! Kamu enggak boleh stres, enggak terlalu capek, dan harus melakukan pola hidup sehat. Harus makan-makanan yang bergizi, agar daya tahan kamu tetap stabil," sahut Reynaldi.
Viona akan menjalani apa yang disuruh dokter, karena dia selalu berharap bisa umur panjang. Bisa selalu bersama suaminya.
Viona tampak memegangi dadanya, tiba-tiba saja dadanya terasa sakit. Tentu saja membuat Reynaldi merasa khawatir dengan istrinya.
"Kamu kenapa, Ay? Apa yang kamu rasa?" Tanya Reynaldi kepada sang istri.
"Dada aku terasa sakit. Sepertinya paru-paru aku bermasalah," ungkap Viona.
Hingga akhirnya Reynaldi langsung membawa sang istri kembali ke ruangan.
"Sus, tolong panggil dokter! Istri saya sesak napas," teriak Reynaldi dari jauh.
Sejak tadi Viona mencoba menarik napas, untuk mengurangi rasa sesak yang dia rasa. Reynaldi langsung menggendong sang istri dan membaringkan tubuhnya sang istri di ranjang.
Suster langsung berlari menghampiri ruangan Viona, untuk melakukan tindakan. Sang perawat langsung memasangkan selang oksigen di hidung Viona, untuk mengurangi rasa sesak yang Viona rasakan.
Denyut jantung melemah, hingga dokter harus melakukan alat pacu jantung. Reynaldi langsung menghubungi sang ibu mertua untuk memberitahu kondisi Viona saat ini. Mendengar sang anak kritis kembali, Mama Susan langsung bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit.
"Ay," panggil Viona. Dalam kondisi lemah saja, dia ingin selalu Reynaldi berada di dekatnya. Reynaldi tampak menguatkan sang istri menggenggam tangan Viona dengan erat. Air mata Viona menetes satu persatu. Sungguh rasanya dia tak ingin terpisah dengan sang suami. Dia masih ingin bersama sang suami.
"Kamu pasti kuat, Ay! Kamu pasti bisa melewatinya," ujar Reynaldi.
"Tidak, Ay! Sepertinya ajalku telah tiba, saatnya aku harus pergi membawa cinta sampai mati. Aku mencintaimu," ungkap Viona. Dengan suara yang mulai terasa berat, dia masih ingin mengucap perasaan cintanya kepada sang suami.
"Kamu pasti sembuh! Ayo semangat!" Reynaldi terus mengucap kata semangat, menguatkan sang istri. Perlahan kesadaran Viona menurun, hingga akhirnya dia jatuh pingsan.
Dokter mengatakan kepada Reynaldi, bahwa kondisi Viona menurun kembali. Perawat dan dokter mencoba memberi pertolongan kepada Viona. Berharap Viona bisa melewati masa kritisnya.
Padahal sebelumnya dia terlihat sudah mulai segar dan membaik. Reynaldi juga merasa senang, karena sang istri sudah banyak perubahan.
"Ya Allah, aku mohon selamatkan istriku! Bantulah dia untuk melewati masa kritisnya. Berilah dia kesempatan umur panjang," ucap Reynaldi. Dia khawatir, sang istri tak bisa di selamatkan lagi.