
Abi, Khanza, dan Nisa saat ini sedang sarapan pagi bersama. Usia kandungan Nisa saat ini sudah 8 bulan. Jadwal periksa kandungannya setiap dua minggu sekali. Rencananya Nisa akan melahirkan secara sesar.
"Aku berangkat kerja dulu ya sayang! Nanti kita ketemu di rumah sakit ya! Nanti kamu naik taksi online saja, pulangnya bareng aku," ucap Abi dan Nisa mengiyakan. Abi merasa khawatir, jika sang istri menyetir mobil sendiri. Abi juga tak membiarkan Nisa untuk menjemput Khanza. Abi 'lah yang selalu berusaha untuk pulang cepat, agar dia masih ada waktu untuk menjemput Khanza di sekolahnya.
Seperti biasa, Nisa akan mengantarkan suaminya dan anaknya sampai depan pintu. Dia selalu mencium tangan suaminya dan Abi melabuhkan kecupak di kening istrinya. Menunjukkan rasa cintanya kepada sang istri.
Suami dan anaknya sudah berangkat. Kini saatnya dia untuk bekerja, sebelum dia berangkat untuk periksa kandungan. Bulan depan Nisa akan melahirkan. Tiba-tiba dia jadi teringat kenangan buruknya dia dulu, saat harus kehilangan anak yang dia cintai. Sakitnya masih begitu terasa. Padahal, dia, Khanza, dan Reynaldi sudah menanti kelahiran anak itu. Semua karena mantan mertuanya, yang selalu bersikap jahat kepadanya.
"Semoga, kalian sehat-sehat terus sampai kalian lahir ke dunia. Bunda, Papa, dan Kakak sudah menunggu kehadiran kalian," ucap Nisa sambil mengelus perutnya.
Nisa tak mau terus terhanyut dengan kenangan buruknya dulu, yang membuatnya dia merasa sedih. Hingga akhirnya dia memilih untuk memulai bekerja, mumpung dia masih sempat.
Jam sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB, Nisa memutuskan untuk bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit. Karena jam 12.00 dia harus sampai di rumah sakit, bertemu suaminya dahulu.
Nisa sudah terlihat cantik. Menggunakan gamis berwarna pink motif bunga-bunga kecil. Dia juga merias sedikit wajahnya dengan riasan natural. Agar terlihat lebih segar. Selama hamil, aura wajahnya menjadi lebih bersinar.
"Bi, ibu berangkat dulu ya! Kamu hati-hati ya di apartemen," ujar Nisa kepada sang ART, dan Sang ART mengiyakan.
Nisa memesan taksi online untuk mengantarkan dia ke rumah sakit. Dia sudah menunggu di lobby. Tak lama kemudian taksi online yang dia pesan datang, Nisa langsung naik ke mobil. Kini dia sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit. Letak rumah sakit itu tak jauh dari apartemen Nisa tinggal. Nisa baru saja sampai di rumah sakit. Dia meminta di turunkan di lobby.
Kebahagiaan terpancar dari wajah wanita yang sebentar lagi akan menyandang status ibu tiga anak. Nisa berjalan perlahan masuk ke dalam rumah sakit. Dia datang sendirian, karena Abi sudah menunggunya di dalam sana seperti biasanya, untuk mengantarkan sang istri periksa kandungannya.
Ada kalanya dia membandingkan kehidupannya sebelumnya, saat dia masih menjadi istri Reynaldi. Dia harus hidup ditengah perselingkuhan yang indah menurut Viona dan juga Reynaldi, tanpa memikirkan dirinya yang tersakiti. Entah mengapa ada sedikit rasa kasihan dalam hatinya mengingat kini Reynaldi sudah kehilangan Viona dan dirinya. Tapi, Nisa tetap meyakinkan bahwa dia adalah orang yang paling bahagia karena sekarang telah memiliki Abi.
Dari jauh Rey sudah melihat kedatangan mantan istrinya itu. Rey berniat untuk bicara dengan Nisa. Nisa bersikap cuek kepada mantan suaminya itu, dia memilih untuk langsung menuju tempat sang suami.
"Nisa!" Panggil Reynaldi. Namun, Nisa memilih untuk tidak mempedulikannya. Dia terus melangkahkan kakinya menuju tempat suaminya.
Hingga akhirnya Reynaldi sedikit berlari mengejar Nisa.
Meskipun dirinya sudah mengikhlaskan mantan istrinya itu, Rey ingin kalau Nisa tahu kalau dirinya saat ini masih cinta kepadanya. Kini Rey berdiri tepat di hadapannya. Menghalangi Nisa. Rey mengajak Nisa ke suatu tempat, dia meminta kepada Nisa, memberi waktu kepadanya untuk berbicara.
“Mas Rey ini apa-apaan si? Sebenarnya Mas ini mau apa memanggil aku? Cepat katakan! Waktuku tak banyak, aku harus segera menemui Mas Abi. Aku mau periksa kandungan,” cerocos Nisa.
Tak ada rasa malukah mantan suaminya itu, berkata tentang cinta kepadanya. Kata-kata itu keluar begitu mudahnya dari mulut Reynaldi, membuat Nisa tersentak kaget. Sontak membuat Nisa mundur beberapa langkah, saking tidak mengertinya apa yang ada dalam kepala mantan suaminya itu.
"Mas ini gila ya? Apa tak sadar dengan ucapan Mas?” sindir Nisa.
"Mas belum bisa melupakan kamu. Mas tau kalau dulu mas salah, sekarang mas menyesal, Mas sudah sadar. Tolong beri Mas kesempatan, mungkin saja nantinya Khanza akan memaafkan aku. Kalau kita kembali seperti dulu,” ungkap Reynaldi.
“Oh, ya? Mas pikir aku peduli dengan perasaan Mas kepada aku? Jawabannya tidak sama sekali! Dulu juga mas sering kali mengatakan itu padaku. Tapi nyatanya Mas selingkuh ‘kan sama almarhumah Viona? Sudahlah Mas, tak perlu dibahas lagi! Kisah cinta kita telah usai. Aku kini sudah bahagia bersama Mas Abi, sebentar lagi aku akan melahirkan buah cinta kami. Tolong Mas jangan pernah ganggu hidup aku lagi! Bahkan kini Khanza telah membencimu,” jelas Nisa penuh penekanan.
Reynaldi menatap wajah mantan istrinya itu lekat. Wajah yang dulu begitu mencintainya, kini telah berubah sinis kepadanya.
"Sudah ya Mas, aku pamit! Aku takut Mas Abi sudah menunggu aku, dan aku tak ingin ada salah paham diantara aku dan Mas Abi. Bagaimanapun kita dulu pernah memiliki hubungan,” ujar Nisa. Nisa melangkah pergi tanpa memperdulikan Reynaldi lagi.
Kisahnya dengan Reynaldi telah selesai, kini dia sudah hidup bahagia dengan Abi. Dia sudah merasa yakin, kalau pilihannya sudah tepat. Abi adalah laki-laki yang baik, yang mampu membuat dia merasa bahagia. Terlebih orang tua Abi begitu baik padanya. Reynaldi pun kini sudah hidup susah, untuk apa dia kembali lagi kepadanya. Yang ada dia harus mengurus mantan mertua jahatnya itu.
Nisa sudah berada di depan poli tempat suaminya praktek, mencoba untuk mengatur napasnya. Dia mencoba menetralkan perasaannya saat ini. Dia tak ingin suaminya tahu, apa yang terjadi dengan dirinya dan Reynaldi tadi.
"Assalamualaikum," ucap Abi yang menghubungi istrinya.
"Waalaikumsalam," sahut Nisa menjawab ucapan suaminya.
"Kamu di mana yang? Aku sudah selesai praktek," ungkap Abi.
"Aku sudah di depan, duduk di depan poli kamu," sahut Nisa.
Hingga akhirnya Abi keluar dari ruangannya menghampiri sang istri yang sudah menunggu dirinya di depan poli.
Reynaldi tampak memperhatikan Nisa dan juga Abi yang kini terlihat begitu mesra. Hatinya terasa sakit, melihat wanita yang masih dia cinta, kini bersama dengan laki-laki lain.