Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Menolak


Mobil yang membawa Melani baru saja sampai di depan rumah yang Rey tempati. Melani mencoba menguatkan dirinya. Berharap Rey akan memaafkan dirinya. Melani menghapus air mata di wajahnya. Kemudian turun dari mobil, dan berjalan menghampiri pagar rumah Rey.


"Assalamualaikum," Melani mengucap salam. Berharap Rey atau sang ART segera menghampiri dirinya.


Mendengar ada orang yang mengucap salam, sang ART langsung bergegas keluar menghampiri. Alangkah terkejutnya sang ART, saat melihat Melani yang datang.


"Pak Reynaldi ada?" Tanya Melani. Dia tak sombong seperti biasanya.


"Ada. Tapi, mohon maaf ya Bu! Saya mau tanya dulu, dia mau ketemu ibu apa tidak," ucap sang ART.


Melani menyadari, apa yang dia lakukan ke Rey sangatlah patal. Dia begitu menyakiti hatinya. Dia berusaha untuk bersabar menunggu di luar, dan berharap Rey mau menemuinya.


Sang ART langsung masuk ke dalam rumah, dan mengatakan kalau di depan rumah ada Melani mantan istrinya. Meskipun Melani telah menyakiti hatinya dan menghinanya, tak menjadikan Rey membenci dirinya. Rey menyuruh sang ART untuk mempersilakan Melani masuk ke dalam. Dia menyuruh Melani menunggu di ruang tamu, karena dia ingin berganti pakaian dulu.


Melani merasa senang, karena Rey ternyata tak mengusir dirinya. Rey juga memperbolehkan dia masuk, dan Rey mau menemui dia. Melani mengira, Rey pasti akan memaafkan dirinya, dan mau menerima dirinya.


Setelah berganti pakaian, Rey langsung menemui mantan istrinya itu. Dia memilih tempat duduk yang berada di hadapan Melani. Mereka hanya duduk di karpet, karena Rey tak memiliki kursi. Kehidupan Rey sangat sederhana.


"Rey, maafkan aku! Aku sudah menyadarinya, kalau apa yang aku perbuat selama ini kepada kamu salah. Aku sudah mengkhianati kepercayaan kamu, dan aku sudah sangat menyakiti hati kamu."


Rey terkejut, saat Melani menghampiri dirinya, dan memegang tangannya. Melani juga mencium tangan Reynaldi. Air matanya menetes satu persatu.


"Maafkan aku! Keputusan aku sudah bulat, untuk bercerai dari kamu! Kehidupan kita sangat berbeda, aku tak pantas untuk kamu! Lebih baik kamu cari laki-laki lain yang sejalan sama kamu. Percuma saja kita lanjutkan, pada akhirnya nanti kita akan sering bertengkar karena perbedaan prinsip. Aku mungkin laki-laki yang egois. Aku dulu memang laki-laki yang brengsek. Tapi sekarang, aku tak terima memiliki istri yang selingkuh, dan bahkan tubuhnya di nikmati laki-laki lain. Lebih baik, urungkan niat kamu untuk kembali kepadaku! Mumpung kamu belum mencintai aku, dan aku pun sudah menghapus rasa cintaku kepadamu. Aku sudah sangat kecewa dengan kamu. Aku kira, kamu akan mencintai aku dengan tulus, dan menjadi istri terakhir untukku," ungkap Reynaldi.


"Aku akui, aku salah! Aku sudah menyadarinya, kalau aku begitu kehilangan kamu, dan kamu begitu berarti untuk aku. Kesombongan, membuat aku kehilangan kamu! Aku ingin memperbaiki semuanya! Aku janji tak akan pernah menyakiti hati kamu lagi! Aku janji akan meninggalkan keburukan aku selama ini, dan menjadi istri yang baik untuk kamu. Aku ingin memiliki keluarga yang utuh. Tolong bantu aku, untuk menjadi wanita yang sempurna. Menjadi seorang istri dan juga seorang ibu. Aku bisa merasakan hamil, melahirkan, dan menyusui. Aku mohon sama kamu! Bagaimana, kalau saat ini benih kamu sedang berkembang di rahim aku?" Ungkap Melani.


"Tapi, kamu telah mencampurnya dengan benih laki-laki lain. Bagaimana aku bisa yakin, kalau anak itu adalah anakku? Semoga saja kamu tak hamil! Aku akan bertanggung jawab, jika memang anak itu adalah anakku. Tapi, maaf. Aku tak bisa kembali sama kamu! Mungkin, sudah menjadi takdir aku. Aku harus menerima karma, atas apa yang aku perbuat dulu!"


Tak semudah itu Rey menerima tawaran dari Melani. Dia ingin mencari pekerjaan lain dulu, karena dia tak ingin bergantung kepada Melani. Dia lebih memilih untuk bekerja di tempat lain, meskipun dirinya tak bisa sehebat saat bekerja di perusahaan Melani.


"Sudah sampai mana progres proses perceraian kita? Aku ingin hidup tenang, tanpa ikatan lagi dengan kamu! Kamu pun bisa mencari kebahagiaan dengan laki-laki lain!" ujar Reynaldi.


Melani tampak lesu, karena Rey menolak untuk kembali kepadanya. Kini hanya tinggallah penyesalan. Semua tak akan pernah kembali seperti dulu lagi. Rey sudah sangat kecewa dengannya. Dia sudah menggoreskan luka di hati Rey. Nasi sudah menjadi bubur. Semua yang sudah hancur, tak akan bisa menyatu seperti dulu lagi.


Melani akhirnya pamit untuk pulang, dengan perasaan kecewa. Tak ada harapan lagi untuknya, bisa kembali dengan Rey. Rey sudah menutup hatinya, untuknya. Mau tak mau, dia harus menerimanya. Rey tetap bersikap baik, menyambut kedatangan wanita yang masih resmi menjadi istrinya. Namun, dia sudah tak mau kembali lagi dengan Melani. Keputusannya dia untuk bercerai dari Melani sudah bulat.


Reynaldi mengantarkan Melani sampai depan rumah. Sampai mobil Melani pergi meninggalkan rumah Rey. Setelah itu, barulah dia masuk ke dalam rumah.


"Maafkan aku, Mel! Mungkin, ini keputusan terbaik untuk kita! Semoga kamu bisa menerimanya! Semoga kelak, kamu akan mendapatkan laki-laki yang mau menerima kamu apa adanya, dan kamu akan bahagia dengannya," ucap Rey dalam hati.


Berbeda halnya dengan Rey yang justru terlihat tenang, menghadapi wanita yang sebentar lagi akan menyandang status sebagai mantan istrinya. Melani justru sedang menangis sesenggukan. Dia tak mampu lagi menahan perasaannya. Air matanya mengalir deras. Melani merasa terluka, karena Rey menolak dirinya. Kini Melani sudah dalam perjalanan pulang menuju rumah. Hatinya begitu hancur.


"Puas lo? Rumah tangga gue sekarang hancur! Dia menceraikan gue, dan enggak mau memaafkan gue! Dia enggak mau kembali lagi sama gue." Tulis Melani ke Vino.


Melani merasa kesal, dia langsung blokir nomor kontak Vino. Dia juga memilih mengakhiri pertemanan dia dengan teman-teman sosialitanya. Dia ingin hidup tenang, dan akan menghentikan kegilaan dia selama ini. Melani ingin menyendiri.


"Siapa yang datang Rey, tadi?" Tanya sang mama.


"Melani, Ma. Dia datang ingin meminta maaf, dan mengajak Rey kembali. Tetapi, Rey menolaknya. Rey sudah sangat kecewa dengannya. Semoga saja keputusan yang Rey ambil ini, tak salah. Doakan Rey selalu, semoga ini adalah keputusan terbaik untuk Rey," ungkap Rey kepada sang mama.


"Sabar ya, Rey!" Hanya kata itu yang sang mama ucapkan untuk sang anak. Mama Ratih berharap, Rey akan mendapatkan kebahagiaan.


"Iya, Ma. Mama tenang saja! Doakan aku ya, Ma! Semoga aku bisa menemukan pendamping, yang mencintai aku apa adanya," ucap Reynaldi dalam hati.