
Semenjak pindah ke kontrakan baru, Mama Ratih banyak menangis. Dia merasa sedih, karena harus merasakan hidup seperti ini. Ini hal pertama kali dalam hidupnya, berada di titik paling terendah. Hidup di kontrakan petakan.
Namun, dia tak ingin menunjukkan kesedihannya di depan sang anak. Dia tak ingin menambah beban hidup sang anak. Rasa cinta Mama Ratih begitu besar kepada sang anak.
Rey sudah mulai bekerja lagi, setelah dua hari kemarin dia izin bekerja. Di sela-sela waktu luangnya, Rey mencoba mencari-cari pekerjaan yang lebih layak. Dia berharap, bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi.
"Aku coba melamar di perusahaan ini deh. Semoga saja rezeki aku. Aku bisa di terima bekerja di situ. Jadi, aku bisa meninggalkan pekerjaan ini. Kasihan mama, kalau terus menerus tinggal di kontrakan itu. Semoga saja aku bisa memiliki rezeki yang melimpah, untuk bisa menyewa satu buah rumah," ucap Reynaldi dalam hati. Reynaldi berusaha untuk kuat, menghadapi hidupnya ini.
Setelah pulang bekerja, dia berniat untuk membuat surat lamaran kerja ke rental pengetikan. Dia akan mengirim lamaran secara online, melalui ponselnya. Lowongan pekerjaan itu untuk menempati posisi di bagian keuangan. Reynaldi berharap dia bisa diterima di perusahaan itu, dengan pengalaman kerja yang dia miliki.
Abi, Nisa, Khanza, Azzam, Azzura, dan sang ART kini baru saja sampai di rumah yang nantinya mereka akan sewa. Rumah berbentuk minimalis berlantai dua yang berada di sebuah perumahan. Jaraknya cukup jauh dari sekolah Khanza dan rumah sakit Abi bekerja.
Karena di daerah apartemen tempat tinggal mereka sebelumnya tak ada perumahan, di sana hanya ada Mall, rumah sakit, sekolah, perkantoran, apartemen, dan gedung-gedung bertingkat.
"Gimana kalian suka enggak?" Tanya Abi kepada istri dan anaknya.
Menurut Abi rumah ini cocok untuk mereka. Rumah ini memiliki tiga buah kamar, satu kamar utama di lantai 1 dan 2 kamar di lantai dua. Bangunan rumah ini, bangunan baru. Terlihat masih bersih. Rumah itu memiliki tiga buah kamar mandi. Satu di kamar utama di bawah, satu di dekat dapur, dan satunya berada di lantai dua.
"Aku suka si, tapi nanti barang-barangnya gimana? Jadi harus beli semua," ujar Nisa.
"Iya dong sayang, harus beli semua," sahut Abi sambil tersenyum.
"Untuk urusan isinya, tak usah memikirkan. Itu sudah menjadi tugas aku. Aku berani memilih rumah ini, berarti aku sudah memikirkannya. Tugas kamu hanya memilih yang kamu suka! Doakan saja, semoga kita bisa membeli rumah ini. Alhamdulillah rezeki aku bertambah, karena sekarang bukan hanya bunda dan kakak saja yang harus aku nafkahi. Sekarang sudah ada jatah untuk Azzura dan Azzam. Doakan aku terus ya! Karena rezeki suami salah satunya dari doa istri. Insya Allah, aku ada pekerjaan lagi di rumah sakit lain," jelas Abi dan Nisa menganggukkan kepalanya.
"Nanti kakak sekolahnya naik jemputan ya! Semoga ada yang arahnya ke sini. Tapi, kalau enggak ada. Terpaksa bibi yang jemput Khanza ya, Bi? Kecuali kalau nanti bunda sudah kuat nyetir mobil, baru bunda bisa jemput kakak. Kalau pagi, kakak bisa bareng papa ke sekolahnya. Papa akan mempekerjakan satu orang lagi, yang nantinya akan membantu Bibi mengurus Azzam dan Azzura kalau Bunda lagi sibuk," ujar Abi.
Akhirnya, mereka memutuskan untuk menyewa rumah itu. Rumahnya itu tampak asri dan di depannya terdapat taman bermain anak-anak.
"Oke ya? Nanti kita tinggal beli barang-barang yang dibutuhkan. Tugas bunda sekarang, mulai mencatat barang-barang apa yang harus di beli ya. Pastinya banyak itu, karena selama ini kita 'kan enggak pernah beli perabot apapun," ucap Abi lagi.
Setelah urusan rumah selesai, Abi akan mengajak istri dan anak-anaknya ke Mall. Untuk mengajak makan dan mulai membeli barang-barang untuk di di tempat tinggal baru mereka.
Kini mereka sudah dalam perjalanan menuju Mall yang letaknya tak jauh dari apartemen mereka tempati saat ini. Azzam terlihat sedang menyusu dengan sang bunda. Sedangkan Azzura terlihat tidur nyenyak di pangkuan sang ART.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam. Akhirnya mereka sampai di Mall. Abi memilih menurunkan sang istri, anak, dan ART di lobby, agar mereka tak jalan terlalu jauh. Abi menurunkan stroller untuk kedua anaknya, agar tak di gendong terus menerus. Setelah menurunkan istri, anak, dan ARTnya. Abi baru melajukan kembali kendaraannya mencari tempat parkiran.
Abi sudah selesai memarkirkan mobilnya, dan dia langsung menghubungi istrinya untuk menanyakan keberadaan sang istri saat ini. Setelah dirinya tahu, Abi langsung bergegas mencari keberadaan istri dan anak-anaknya.
"Ayo!" Ajak Abi. Abi yang mendorong stroller anaknya.
"Kita mau makan dulu apa langsung lihat-lihat peralatan rumah tangga?" Tanya Abi kepada sang istri.
"Kakak sudah lapar belum? Kalau sudah, kita makan dulu. Biar tenang nanti cari-carinya," ujar Nisa.
"Mending makan dulu saja deh, biar tenang nanti. Kakak mau makan apa?" Tanya Abi. Abi dan Nisa selalu memprioritaskan sang anak dalam urusan pemilihan makanan kalau lagi makan di luar.
Khanza menjatuhkan pilihannya pada ayam kriuk. Abi dan Nisa menurutinya. Mereka kini sudah di restoran ayam kriuk. Abi dan Khanza yang akan membeli makanan, dia menyuruh Nisa untuk duduk. Meskipun Nisa sudah terlihat segar, Abi tak memperbolehkan Nisa terlalu banyak berjalan dan melakukan pekerjaan yang berat.
"Kakak mau makan apa saja?" Tanya Abi kepada sang anak sambungnya.
"Aku mau es krim, french fries, chicken ball, sama fried chickennya," sahut Khanza.
Abi memilih membeli paket burger di tambah french fries dan juga fried chicken. Sedangkan untuk sang istri, Khanza, dan ARTnya, Abi memesan paket nasi ditambah french fries, dan juga es krim. Abi membelikan sang istri soup ayam hangat.
Setelah membeli makanan, Abi dan Khanza datang dengan membawa nampan berisi makanan. Nisa tampak bingung, karena sang suami memesan banyak makanan. Abi memang sengaja memesan makanan, agar sang istri dan anak makan dengan puas.
Mereka makan dengan lahap. Menikmati hidup, setelah berjuang keras. Pastinya tak mudah bagi mereka untuk meraih kesuksesan seperti sekarang ini. Setelah kesedihan dan rasa sakit yang sempat mereka rasakan.
Mereka sudah selesai makan, mereka langsung menuju toko elektronik yang berada di Mall itu. Abi akan membeli mesin cuci, dua buah AC, kulkas, sofa, TV, dua buah ranjang untuk dia dan juga Khanza. Untuk sang ART Abi hanya membeli dua buah kasur dan lemari baju plastik. Dia juga membeli lemari plastik untuk pakaian Khanza, dan juga lemari besar untuk pakaian utama. Nisa membeli kompor, magicom, blender, microwave, dan mixer. Agar dia bisa membuat kue.
"Kita beli yang peralatan kecil-kecilnya juga. Jam dinding 3, karpet untuk ruang tamu 1, dan untuk di ruang TV satu. Harus beli piring, mangkuk, pokoknya semua perlengkapan rumah," ujar Abi kepada sang istri.
"Untuk perlengkapan dapur aku beli online saja deh mas. Takutnya, waktunya enggak cukup. Pasti lama. Kalau enggak nanti aku beli sendiri saja ke Mall," jelas Nisa dan Abi mengiyakan.
Karena Nisa pun sudah merasa lelah, ingin segera pulang. Payu*daranya juga sudah terasa kencang, karena Azzam dan Azzura banyak tidur, dan tak menyusu. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pulang sekarang. Kini mereka sudah dalam perjalanan pulang. Tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di apartemen. Abi menyuruh sang istri dan ART untuk langsung ke atas. Sedangkan dia harus memarkirkan mobilnya terlebih dahulu. Untuk semua eletronik dan perabot lainnya, nantinya akan langsung di kirim ke rumah barunya. Lusa Abi sengaja mengambil cuti kembali, karena harus mengurus barang-barang untuk pindahan.