Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Kemarahan Nisa


"Aku harus ambil foto dia sedang bergandengan tangan. Agar bukti ini bisa menguatkan aku di persidangan. Kamu harus kuat Nisa! Kamu pasti bisa!" Nisa berusaha untuk menguatkan dirinya sendiri. Meskipun kini tangannya sampai bergetar. Jantungnya bekerja begitu cepat. Dia berusa untuk kuat.


"Ayo Nis, jangan seperti ini!" Nisa terus bermonolog.


Akhirnya dia berhasil foto mereka berdua. Nisa langsung memasukkan kembali ponselnya ke foto.


"Ayah Bun, sama wanita lain," ucap Khanza.


"Iya, Ayah benar selingkuh," ucap Nisa di iringi isak tangis. Melihat kondisi Bundanya saat ini, Khanza menjadi sangat kecewa dengan sang Ayah. Baginya sang Ayah sangat keterlaluan, padahal Bundanya lebih cantik dari sang pelakor.


Justru Khanza yang terlihat gregetan, ingin meluapkan perasaannya saat ini.


"Hapus air mata Bunda sekarang! Bunda tak boleh lemah! Bunda tak usah takut, ada aku yang selalu ada untuk Bunda. Ayo kita hampiri Ayah, aku ingin beri pelajaran untuk mereka berdua," ucap Khanza. Terlihat sekali kebencian di wajah Khanza kepada sang Ayah.


"Jangan Khanza! Nanti kita bicara saja, saat Ayah pulang," ucap Nisa sambil menyapu air mata yang menetes membasahi wajahnya.


"Enggak Bun, kita harus kasih pelajaran! Kita harus mempermalukan mereka," ucap Khanza tegas. Bahkan dia lebih tegas dari sang Bunda.


Khanza sudah tak peduli lagi dengan tujuan awalnya ke Mall yaitu untuk membeli buku cerita untuk dia bawa besok pagi saat sekolah. Khanza menarik sang bunda, dan membawanya ke restoran steak.


"Bisa-bisanya mereka bermesraan di atas penderitaan Bunda. Aku tidak terima!" ucap Khanza.


Khanza langsung melepaskan tangan sang bunda dan langsung menghampiri meja di mana sang Ayah berasa dengan sang pelakor. Reynaldi terkejut, saat melihat sang anak berada di hadapannya. Dengan berani Khanza langsung mengambil air minum milik Viona dan langsung menyiramnya ke wajah Viona. Belum cukup sampai di situ, dia juga mengambil gelas milik sang Ayah dan menyiramnya ke wajah Ayahnya. Perbuatan Khanza membuat Nisa melongo, Reynaldi dan Viona terlihat sangat marah. Terlebih mereka kini menjadi pusat perhatian.


Nisa memilih untuk berasa di posisi cukup jauh, tetapi dia masih bisa melihat apa yang terjadi. Dengan tangan bergetar, Nisa mencoba mengambil video pertengkaran suaminya dengan Khanza. Durasi itu tak panjang, hanya sebagai syarat. Dia takut Reynaldi mengetahuinya dan akan menghancurkan barang bukti. Suasana pun semakin memanas, dia harus segera menghampiri sang anak.


"Anak kurang ajar, berani-beraninya kamu berlaku seperti itu kepada Ayah kamu," bentak Reynaldi, dia juga secara spontan menampar anaknya itu. Namun, Khanza terlihat kuat. Anak sekecil itu bisa menahan tangisnya, karena rasa kecewanya terhadap sang Ayah.


"Ayah? Mulai hari ini aku tak sudi memiliki Ayah seorang pengkhianat! Aku benci kamu! Pantas kalian mendapatkan ini! Kalian pasangan yang tak memiliki hati dan perasaan! Padahal Anda seorang wanita, kok bisa-bisanya Anda merebut laki-laki ini dari istri sahnya. Apa Anda tak memiliki harga diri? Dasar wanita murahan!" Ingin rasanya Khanza menampar wajah Viona, tetapi sayangnya dia tak sampai. Karena Viona kini sudah dalam posisi berdiri. Dia terlihat sangat marah, tak terima.


"Semua sudah jelas Mas! Aku ingin kita bercerai! Sudah cukup kamu membohongi aku," ucap Nisa. Tentu saja hal itu membuat Viona tersenyum puas. Akhirnya yang di nanti datang juga, Reynaldi akan berpisah dengan Nisa.


"Khanza maafkan Ayah, iya Ayah salah sama kamu dan Bunda. Tapi di lubuk hati Ayah yang paling dalam, Ayah tak ingin kehilangan kalian. Ayah sama Tante Viona hanya menikah secara diri, karena bagi Ayah, istri pertama Ayah hanya Bunda," ungkap Reynaldi. Terlihat sekali penyesalan di wajahnya. Dengan gentle dia mengakui, kalau dirinya sudah menikah secara siri dengan Viona.


Seperti di sambar petir di siang bolong. Nisa di buat melongo dengan penuturan sang suami, yang baginya tak tahu malu.


"Dasar laki-laki pengkhianat! Ceraikan aku sekarang juga! Aku tak sudi di madu! Lebih baik aku bercerai, dari pada menerima di poligami. Apapun alasannya, aku tidak terima. Aku akan menggugat cerai kamu! Sudah cukup kamu menyakiti hati aku," ucap Nisa tegas. Satu tamparan mendarat di wajah Reynaldi.


"Dasar wanita murahan! Tak punya hati! Sekarang kau nikmati saja dulu kebersamaan kalian! Aku yakin suatu saat nanti kau akan merasakan bagaimana rasanya dicampakkan," umpat Nisa. Nisa juga sempat melayangkan sebuah tamparan sebelum dia pergi meninggalkan mereka berdua.


Nisa langsung mengajak Khanza untuk pergi. Nisa berhasil, dia berhasil menahan air matanya untuk tidak menetes.


"Kamu pasti bisa melewati semua ini!


Viona menarik tangan Reynaldi, saat Reynaldi hendak pergi meninggalkan dirinya untuk mengejar Nisa.


"Lepas Ay! Aku harus pergi mengejar Nisa, aku tak mau Nisa pergi dari hidup aku," ucap Reynaldi sambil menghempaskan tangan Viona.


Reynaldi tak peduli dengan rengekan ataupun teriakan Viona yang memanggilnya. Reynaldi lebih memilih mengejar Nisa dan anaknya. Bahkan dia memutuskan untuk pulang ke rumah, padahal masih ada waktu satu hari untuk bersama Viona. Reynaldi tak mempedulikannya.


Viona merasa malu, karena dia kini menjadi bahan bullyan orang-orang di restoran itu. Mereka juga menyoraki Viona. Hingga akhirnya Viona memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Wajahnya terlihat memerah menahan perasaan malunya. Nisa dan Khanza memutuskan untuk langsung pulang ke rumah, dan tak jadi beli buku cerita. Khanza sudah tak mempedulikannya.


"Aku mohon Nis, tolong maafkan aku! Jangan tinggalkan aku, sampai kapanpun aku tak ingin bercerai darimu," ucap Reynaldi.


Dia terlihat begitu ketakutan, kalau Nisa akhirnya berbuat nekat untuk pisah dengannya. Allah telah memberikan kuasanya untuk memberikan bukti kepada Nisa, kalau suaminya memang selingkuh. Reynaldi dibuat tak berkutik. Selama ini dia masih bisa mengelak dan menutupi kebohongannya, tetapi tidak untuk sekarang. Tak ada harapan lagi, untuk membuat Nisa memaafkan dirinya.


Nisa sudah sampai lebih dulu, dia langsung masuk begitu saja. Tak peduli mertuanya yang sedang duduk menonton TV. Pemikirannya sudah tepat, dia sudah mempunyai uang pegangan untuk bertahan hidup. Untuk sementara waktu dia akan tetap tinggal di Jakarta sampai perceraian dirinya dengan Reynaldi selesai. Untuk saat ini dia tak ingin Bundanya tahu permasalahan rumah tangganya. Namun, dia akan menceritakan hal ini kepada sang kakak. Agar sang kakak kelak menjadi saksi saat sidang perceraian.


Nisa langsung merapihkan sisa barang-barang miliknya dan Khanza yang belum dia masukkan. Dia memasukkan semua barang-barang miliknya dan Khanza tanpa tersisa.


"Lagi apa sih mereka? Berisik banget di atas," gerutu Mama Ratih.