
"Mama. Mama aku meninggal," ungkap Reynaldi di iringi isak tangis. Dia terlihat begitu sedih.
"Ya udah, kamu pindah ke kursi penumpang. Biar aku saja yang menyetir," ucap Melani. Melani langsung turun dan kini dia yang menyetir mobil.
Dia tak mungkin menyuruh suaminya menyetir mobil dalam kondisi seperti saat ini. Terlebih, mobil di belakang terus saja menekan klakson. Tak menunda waktu lama, Melani langsung menginjak gas. Melajukan mobilnya menuju rumahnya
"Kak, kamu pulangnya nanti sama supir mama ya! Mama soalnya harus segera sampai di rumah. Nenek meninggal," ucap Melani dan Khanza mengiyakan.
Terpaksa Khanza ikut bersama mereka, karena Melani tak mungkin mengantarkan Khanza dulu. Nantinya Khanza akan diantar pulang oleh supir pribadi Melani.
"Sabar ya, Sayang! Semoga saja, nyawa mama masih bisa tertolong. Aku fokus nyetir dulu ya, biar cepat sampai," ucap Melani dan Reynaldi hanya menganggukkan kepalanya.
Reynaldi tak mampu berkata-kata. Lidahnya terasa kelu. Dia terlihat begitu rapuh. Mobil yang dikemudikan Melani, melesat membelah jalanan ibu kota. Saat itu Melani menyetir dengan kecepatan tinggi, agar mereka bisa segera sampai di rumah.
Mereka baru saja sampai di rumah. Reynaldi langsung turun dari mobil, dan bergegas ke kamar sang mama berada.
"Kalian ini gimana sih? Masa iya, gak ada satu orang pun yang tahu mama saya kritis. Kalau kalian menolongnya, pasti saat ini mama saya masih ada. Ini terjadi, karena kalian tak melihat mama saya pada saat kejadian," tegur Reynaldi. Dia terlihat begitu marah. Matanya terlihat merah, menahan air matanya.
Reynaldi langsung menghampiri sang mama, dan memeluk tubuh sang mama.
"Kenapa mama tinggalin Rey secepat ini?"
Rasanya seperti sebuah mimpi. Tak ada kata-kata terakhir terlontar dari bibir sang mama. Mama Ratih pikir, sang anak kini sudah hidup bahagia. Sudah saatnya dia pergi meninggalkan dunia.
"Sabar Yang, mama sudah tenang! Ikhlaskan! Sekarang, mama sudah tak merasa sakit lagi. Mungkin ini yang terbaik untuknya. Kita do'akan saja, semoga mama husnul khatimah, dan lapangkan kuburnya!"
"Sekarang, lebih baik kita urus pemakaman mama! Kita harus segera menguburkannya." Melani mencoba menenangkan sang suami, meskipun dia pun merasa sedih. Dia begitu kehilangan ibu mertuanya.
"Iya, aku tahu. Tapi, tadi mama gak ada omongan apapun. Kalau tahu, tadi ada yang dirasa. Kita tak akan jadi pergi. Aku tak akan meninggalkan dia." Reynaldi masih terlihat tak terima kenyataan.
Melani menghampiri ibu mertuanya, dan mengusap kepala ibu mertuanya untuk terakhir kalinya.
"Selamat jalan, Ma! Terima kasih sudah melahirkan laki-laki hebat untuk aku. Sayang sekali, mama pergi sebelum melihat anak kami lahir. Semoga Allah mengampuni semua dosa-dosa yang mama perbuat, dan menerima amal ibadah mama! Melani sayang mama," ucap Melani.
Reynaldi terlihat belum beranjak pergi meninggalkan sang mama. Dia masih begitu berduka. Hingga akhirnya Melani yang mengambil inisiatif, yang akan mengurusnya.
Melani juga yang mengajak Khanza masuk. Reynaldi sampai lupa dengan kehadiran Khanza saat itu. Khanza tampak menghampiri sang nenek untuk terakhir kalinya.
Masih dia ingat dulu, betapa jahatnya sang nenek kepadanya. Tega memisahkan dia dengan sang ayah. Sang nenek tega merusak rumah tangga orang tuanya, membuat orang tuanya terpisah.
"Kak, maafin nenek ya! Nenek banyak salah sama kamu dan bunda," ucap Reynaldi yang baru tersadar kehadiran sang anak di dekatnya.
"Iya, Yah. Khanza udah maafin nenek kok. Bunda juga sudah memaafkan nenek. Semoga nenek tenang di alam sana," sahut Khanza.
Khanza pamit pulang kepada sang ayah dan juga Melani. Dia diantar supir pribadi Melani. Reynaldi mengantarkan sang anak sampai sang anak pergi meninggalkan rumahnya. Setelah itu, barulah Reynaldi masuk kembali ke dalam.
"Yang, kamu fokus mengurus mama di sini saja. Untuk pemakaman, biar orang suruhan aku saja yang mengurusnya. Kita terima beres. Termasuk mobil jenazah. Aku juga mau suruh Pak Anton ke mesjid, untuk mengumumkan meninggalnya mama. Untuk di rumah, aku akan menyuruh Bi Inah memanggil ibu-ibu pengajian yang biasa mengurus di sini!" jelas Melani.
"Makasih ya Sayang, kamu sudah peduli sama mama," ucap Reynaldi.
"Sudah menjadi kewajiban aku sebagai seorang menantu mengurus mertuanya. Selama mama hidup, aku kan gak pernah mengurus mama. Aku soalnya gak bisa terus menerus dekat dengan almarhumah mama. Maaf, setahu aku. Wanita hamil tak boleh dekat orang yang meninggal. Tak baik," ucap Melani.
"Iya. Kamu jangan capek-capek! Aku juga gak mau kamu sakit! Pikirkan kondisi kamu dan anak kita! Aku sudah tak memiliki siapapun. Hanya kamu, Khanza, dan anak dalam kandungan kamu saja. Aku gak mau kehilangan kamu," ucap Reynaldi.
"Hei, memangnya aku mau kemana? Aku sehat. Ya udah, aku ke kamar ya Sayang! Aku tak bisa terus menerus berada di dekat almarhumah mama. Kalau kamu butuh sesuatu, termasuk uang. Bilang saja! Lakukan yang terbaik untuk mama, terakhir kalinya!" ujar Melani dan Reynaldi mengucapkan terima kasih.
Umur tak ada yang tahu. Padahal Reynaldi sempat ketakutan Melani meninggal, karena Melani mengidap penyakit yang mematikan. Tapi ternyata, Allah memiliki rencana lain. Yang meninggal justru Mama Ratih.