
"Assalamualaikum," Melani menyapa suaminya.
Dia melakukan panggilan video dengan suaminya. Wajahnya terlihat sumringah, menunjukkan rasa bahagianya. Dia tak ingin menunjukkan rasa sakit yang dia rasakan.
"Waalaikumsalam, istri aku yang cantik. Baru beberapa jam gak ketemu aja, aku udah merasa rindu. Jika boleh memilih, aku tak ingin kamu memiliki usaha di sana. Sudahkah Sayang, buka usahanya di Jakarta saja. Kamu tega membiarkan aku tidur sendirian terus," protes Reynaldi manja membuat Melani tersenyum bahagia.
"Iya. Aku lihat perkembangan dulu di sini ya. Aku juga sebenarnya tak ingin terpisah sama kamu. Nanti kapan-kapan kita kesini ya! Sekalian honeymoon lagi. Ya sudah, aku mau makan dulu sekalian mau ada pertemuan. Kamu semangat ya kerjanya. Jangan tidur malam-malam ya! Nanti aku kabari lagi. I love you," ucap Melani.
"I love you too. Kamu juga ya di sana, jangan tidur malam-malam!" sahut Reynaldi dan Melani mengiyakan.
Mereka sudah mengakhiri panggilan telepon mereka. Melani langsung bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit. Lina sang asisten begitu setia mendampinginya.
"Rasanya begitu sakit, berada di posisi ini Lin," ungkap Melani.
Lina dapat merasakan apa yang dirasakan bosnya itu. Pastinya tak akan mudah melewati hal itu. Dia berdoa untuk kesembuhan bosnya itu. Semoga bosnya bisa merasakan kebahagiaan. Kekuatan cinta dipertaruhkan, disaat pasangan kita memiliki penyakit.
"Ayo kita berangkat sekarang! Saya sudah janji dengan dokter di sana," ujar Melani kepada sang asisten.
Melani dengan Lina sang asisten kini sudah berada di rumah sakit. Melani langsung menuju bagian administrasi, untuk mendaftar dokter yang dia tuju. Dia harus menunggu sampai saatnya dia mendapat giliran.
Kini saatnya Melani bertemu sang dokter. Melani menceritakan apa yang dia rasakan selama ini, dan menunjukkan hasil pemeriksaan rumah sakit di Indonesia. Melani harus melewati beberapa jenis pemeriksaan, agar dokter tersebut bisa memastikan penyakit yang diderita Melani.
Pastinya Melani akan merasa sakit, saat melakukan pemeriksaan. Namun, dia berusaha untuk sabar. Dia menahan rasa sakit yang dia rasakan saat itu, demi kesembuhan, dan tentunya semua itu memiliki efek samping tersendiri.
"Ya Allah sakit sekali rasanya. Begitu menusuk ke tulangku. Kuat aku ya Allah, agar aku bisa melewati semua proses penyembuhan ini. Semoga rasa sakit yang aku rasakan saat ini, dapat memberikan hasil yang maksimal," ucap Melani dalam hati. Dia sampai meneteskan air matanya, menahan rasa sakit yang dia rasakan saat itu.
Lina tampak menunggu Melani di luar. Dia tampak gelisah. Dia takut, bosnya itu tak kuat melewatinya. Lina terus berdoa, demi kesembuhan bosnya itu.
"Kamu masih harus melakukan pemeriksaan lainnya. Agar saya bisa memastikan, sudah sejauh mau sel kanker merambat. Semoga masih bisa dilakukan penghancuran sel kanker, di kepala. Jika tidak, harus dilakukan tindakan operasi. Namun, semua itu membutuhkan penyembuhan cukup lama. Rambut indah kamu pun terpaksa harus dibotakin, dan kamu tak boleh stres. Sampai semuanya benar-benar sembuh," jelas sang dokter.
Melani tampak bersedih. Apa yang harus dia katakan pada suaminya nanti. Terlebih dokter bilang kepadanya, membutuhkan waktu tiga bulan pasca operasi. Apakah mungkin suaminya tak akan curiga kepadanya, jika dia meninggalkan berbulan-bulan seperti itu. Sungguh pilihan yang sulit bagi Melani. Dia membutuhkan kerja keras untuk bisa sembuh.
Melani benar-benar menyesal. Dulu, dia tak menghargai tubuhnya sendiri. Yang dia pikiran hanya untuk bekerja dan kesenangan semata. Sekarang, dia harus menerima atas apa yang dia lakukan selama ini.
Melani tampak lesu, dia terlihat tak bersemangat sejak pulang dari rumah sakit. Menangis pun tak akan mengubah semua itu. Yang dia bisa saat ini, hanya berdoa. Semoga mukjizat menghampirinya. Allah mengangkat penyakitnya.
"Bu, kenapa ibu gak cerita saja sama Pak Reynaldi? Biar Pak Reynaldi bisa mendampingi ibu. Dia juga tak akan salah paham sama Ibu, kalau nantinya Ibu harus berlama-lama di sini," ucap Lina.
"Tapi, saya gak tega merusak momen kebahagiaan kami. Saya tak tega menukar kebahagiaan dengan kesedihannya. Saya ingin dia selalu tersenyum bahagia," ujar Melani terdengar lirih. Lina yang saat itu mendengarnya, menjadi ikut sedih.
Bosnya itu memiliki segala. Namun sekarang, dia justru diuji dengan penyakitnya. Rasanya, uang yang melimpah tak ada artinya. Jika diri kita sakit.
"I miss you. Aku sudah di hotel. Aku istirahat dulu ya," tulis Melani di pesan chat kepada suaminya. Dia juga mengirimkan foto kamar apartemennya.
Dia sedang tak kuat, jika melakukan panggilan video dengan suaminya. Hingga akhirnya dia memilih untuk beristirahat sejenak. Lina pun memilih beristirahat di kamar yang satunya. Apartemen itu memiliki dua buah kamar.
Melani terbangun, dia merasa sakit yang luar biasa. Hingga dia tak sanggup untuk bangun. Dia harus meminum obat pereda rasa sakit, jika mengalami sakit seperti saat ini. Melani berteriak memanggil Lina. Wanita berusia 24 tahun itu pun akhirnya terbangun dari tidurnya, dan langsung menghampiri Melani. Dia melihat bosnya yang tak berdaya, yang meringis kesakitan.
"Lina, tolong ambilkan obat di dalam tas saya! Sekalian, tolong air putihnya!" pinta Melani dia terlihat lemah. Sakit yang dia rasa saat itu sungguh luar biasa. Melani lupa meminum obat itu. Dia sudah kecanduan obat itu.
Lina membantu Melani duduk, dia juga memberikan obat itu ke tangan Melani, dan juga air putih. Melani sampai bergetar. Membuat Lina semakin merasa tak tega. Perlahan rasa sakit yang dirasakan Melani mereda. Dia sudah mulai terlihat tenang.
"Terima kasih, Lin! Maaf, saya merepotkan kamu terus," ucap Melani kepada Lina.
"Iya, Bu tak apa-apa. Ini sudah menjadi tanggung jawab saya, sebagai asisten ibu," sahut Lina.
Untungnya Lina belum menikah, dia bisa menemani Melani. Jika dia sudah menikah, pasti suaminya tak akan mengizinkannya. Lina merasa kagum dengan sosok bosnya itu. Dia memilih tidak menikah cepat, dia ingin membahagiakan orang tuanya dulu. Dia terlahir dari keluarga yang sederhana. Melani suka dengan Lina, karena Lina pintar, cekatan, dan tak banyak macam. Lina gadis muslimah, dia memakai jilbab. Dia juga seorang wanita yang lembut.
"Lemah sekali saya! Semoga saja saya bisa cepat sehat, agar tak menyusahkan kamu terus," ucap Melani kepada sang asisten.
"Ibu seperti ini 'kan, karena ibu sedang sakit. Selama ini, ibu selalu terlihat kuat. Nanti juga, kalau ibu sudah sehat. Ibu tak akan seperti ini lagi. Tetap semangat untuk sembuh ya Bu! Semoga Allah segera mengangkat penyakit Ibu!" sahut Lina.