
Reynaldi baru saja sampai di rumah Melani. Dia berusaha menghilangkan perasaan malunya, semua dia lakukan demi sang mama tercinta. Agar nyawa sang mama bisa tertolong. Sang penjaga tampak bingung, saat melihat Reynaldi datang ke rumah Melani.
"Permisi, Pak. Ibu Melaninya ada?" ujar Reynaldi kepada sang penjaga.
"Kalau saya boleh tahu, ada urusan apa ya bapak datang ke sini menemui Ibu Melani?" tanya sang penjaga.
Dia ingin memastikan terlebih dahulu, tujuan dari kedatangan Reynaldi datang menemui majikannya. Dia pun tak ingin memiliki kesalahan, karena menerima Reynaldi begitu saja untuk bisa masuk menemui majikannya. Terlebih, Reynaldi sempat berseteru dengan Melani. Saat Reynaldi mengotot ingin bercerai, dan nekat meninggalkan rumah Melani.
"Ada hal penting yang ingin saya katakan sama Ibu Melani. Tolong kasih kesempatan kepada saya, agar bisa bertemu dengannya," jelas Reynaldi.
"Tapi, Bapak janji ya sama saya! Tolong jangan buat ulah di dalam! Bapak 'kan tahu, gimana Ibu Melani. Bisa-bisa saya dipecat, karena membiarkan bapak masuk ke dalam rumah ini," ucap sang penjaga dan Reynaldi berjanji tidak akan membuat masalah di dalam.
"Baiklah, jika seperti itu! Mari Pak saya antar ke dalam!" ujar sang penjaga.
Reynaldi melangkahkan kakinya menuju rumah Melani dengan di antar oleh sang penjaga. Rumah Melani mewah dan besar. Sang ART menyuruh Reynaldi untuk menunggu di ruang tamu. Setelah itu, sang ART langsung menghampiri Melani di kamarnya.
Saat itu, Melani sedang beristirahat. Hari ini dia tak datang ke perusahaan, karena kondisinya yang drop. Sejak kemarin, tubuhnya terasa lemas. Hingga akhirnya, dia memilih untuk beristirahat. Mendengar suara ketukan pintu, Melani langsung beranjak turun dari ranjang. Kemudian bergegas membuka pintu kamarnya.
"Ada apa?" tanya Melani, saat melihat sang ART yang kini berada di hadapannya.
"Maaf Bu, mengganggu waktunya sebentar. Saya hanya ingin memberitahu, kalau di ruang tamu ada Pak Reynaldi. Dia ingin bertemu dengan ibu. Katanya, ada hal penting yang ingin dia bicarakan sama ibu," ucap sang ART.
Tentu saja Melani terkejut mendengar. Dia benar-benar tak menyangka, kalau Reynaldi mau menginjakkan kakinya di rumah dia lagi. Perasaan Melani saat itu campur aduk. Dia merasa senang mendengar Reynaldi datang. Namun, di satu sisi. Dia juga penasaran, kenapa Reynaldi mau datang menemui dia.
"Suruh tunggu dulu! Saya berganti pakaian dulu!" titah Melani kepada sang ART.
Sang ART langsung datang menemui Reynaldi yang kini berada di ruang tamu. Sedangkan Melani saat ini sedang berganti pakaian, untuk segera menemui Reynaldi. Dia terlihat sangat bahagia. Rasa sakit yang dia rasakan saat itu, langsung hilang. Dia begitu bersemangat.
Setelah berganti pakaian, dia langsung merapikan rambutnya. Wajahnya terlihat pucat saat itu. Dia juga tak memakai riasan apapun, untuk menutupinya. Melani melangkahkan kakinya menuju ruang tamu, dan benar saja saat itu Reynaldi sedang duduk.
"Aku pikir, kamu tak akan pernah mau menginjakkan kaki kamu di rumah ini, menemui aku," ucap Melani kepada Reynaldi, saat dirinya datang.
"Ada hal penting apa yang ingin kamu katakan kepadaku? Sampai-sampai kamu mau datang ke sini, menemui aku," ucap Melani. Hal itu membuat Reynaldi merasa malu, merasa tertampar dengan ucapan Melani kepadanya.
"Maaf, jika kedatangan aku ke sini membuat kamu tak suka. Aku terpaksa melakukan seperti ini. Semoga saja kamu mau membantuku! Mamaku sakit, masuk rumah sakit, dan harus di rawat di ruang ICU, karena kondisinya kritis. Jika sampai aku tak melakukan hal ini, nyawa mamaku bisa tak terselamatkan. Aku mohon, tolong bantu aku! Aku janji, akan melakukan apapun yang kamu mau. Yang terpenting bagiku saat ini, mamaku bisa selamat. Dia bisa membuka matanya kembali," ungkap Reynaldi.
"Baiklah, aku akan membantu kamu. Asalkan kamu mau kembali kepadaku. Aku butuh kamu di sisiku," ucap Melani dan Reynaldi mengiyakan.
Dia terpaksa menjilat ludahnya kembali. Reynaldi menerima permintaan Melani, untuk kembali kepadanya. Saat itu pikirannya sedang kalut, dan dia pikir yang terpenting sang mama bisa tetap hidup. Dia akan mencoba untuk memaafkan Melani, dan membuka hatinya kembali untuk Melani.
"Ya sudah, aku siap-siap dulu ya! Kita ke rumah sakit sekarang. Kita pergi bersama saja, motor kamu simpan di sini saja," ucap Melani dan Reynaldi mengiyakan.
Melani berniat bangkit dari tempat duduknya. Namun, tiba-tiba saja kepalanya terasa pusing. Dia hampir saja terjatuh, untungnya Reynaldi dengan sigap langsung menangkapnya. Kini netra mereka saling bertemu.
"Kamu sakit?" tanya Reynaldi.
"Hanya lagi gak enak badan saja. Mungkin karena kecapean, dan selama ini pola tidur aku berantakan. Gak apa-apa kok, aku baik-baik saja. Kamu tak perlu khawatir!" ucap Melani. Dia tak ingin membuat Reynaldi khawatir.
"Tapi, wajah kamu pucat. Kalau kamu sakit, kamu tak perlu ikut ke rumah sakit. Biar aku saja yang urus. Setelah selesai, nanti malam aku pulang ke sini. Aku titip sama perawat di sana atau nanti si bibi yang jaga. Tadi saja kamu hampir jatuh," ujar Reynaldi.
"Tiba-tiba saja tadi aku merasa pusing. Tapi, sekarang sudah membaik kok. Pasti aku akan cepat sembuh. Kamu 'kan sudah kembali sama aku. Jadi, aku gak akan galau lagi seperti biasanya. Aku habiskan waktuku untuk bekerja, dan aku kerap begadang," ungkap Melani sambil terkekeh. Dia berusaha untuk kuat, tak ingin menunjukkan sikap lemahnya.
"Ya sudah, kalau kamu merasa. Kamu baik-baik saja. Aku tunggu di sini ya!" ucap Reynaldi dan Melani mengiyakan.
Melani langsung pergi meninggalkan Reynaldi. Dia langsung masuk ke kamarnya, untuk bersiap-siap. Sebelum dia pergi, dia minum obat terlebih dahulu. Untuk meredakan rasa sakit yang kerap dia rasakan. Dia harus minum obat itu, agar tak merasa sakit yang luar biasa.
Setelah berganti pakaian. Melani sedikit merias wajahnya, agar tak terlalu pucat wajahnya. Kini dia sudah terlihat lebih segar. Dia langsung menghampiri Reynaldi kembali di ruang tamu. Mereka pergi bersama. Selama dalam perjalanan menuju rumah sakit, Reynaldi terlihat canggung. Berada satu mobil dengan Melani. Dia harus memulai dari awal kembali. Dia harus berusaha menerima Melani kembali, dan membuang kenangan buruk tentang Melani.
Sesungguhnya, dia masih merasa jijik dengan apa yang terjadi dengan Melani waktu itu. Di mana dia menemukan sisa sper*ma di area sensitif Melani. Istrinya bercinta dengan laki-laki lain. Sungguh, ini suatu hal yang sangat fatal.