Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Sehat Kembali


Kondisi Melani sudah berangsur pulih. Dia sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Namun, dia tak diperbolehkan berpikir terlalu berat, ataupun stres. Yang nantinya dapat memacu kerja otak lebih cepat. Melani harus menggunakan wig atau rambut palsu, untuk menutupi kepala botaknya bekas operasi. Reynaldi sudah mengurus kepulangan sang istri. Infus di tangan Melani pun sudah dilepas.


"Akhirnya, aku bisa pulang. Aku sudah bosan di rumah sakit. Aku ingin tidur yang nyenyak sambil memeluk kamu," ungkap Melani. Saat membantu sang istri memakaikan wig, sesuai permintaan sang istri.


"Tapi, aku sekarang gak punya rambut. Kepala aku botak. Aku tak cantik lagi," Melani berkata kepada sang suami. Dia tampak meneteskan air matanya. Dia terlihat sedih. Belum bisa menerima keadaannya saat ini.


"Kamu tak memakai wig pun, bagi aku kamu tetap cantik. Sudah ya, jangan sedih lagi! Kamu harus bahagia terus! Ingat pesan dokter! Kamu tak boleh banyak berpikir ataupun stres," ujar Reynaldi sambil mengusap air mata di wajah Melani.


Meskipun sekarang Melani botak, hal itu tak membuat Reynaldi ingin berpaling, dan meninggalkan Melani. Melani memakai jilbab, karena mereka akan pulang sekarang ke apartemen.


Mereka sudah sampai di apartemen, tempat Melani tinggal selama di sana. Untuk sementara waktu, mereka akan tinggal di Singapura. Sampai Melani sudah benar-benar pulih. Melani masih akan terus mendampingi sang istri di Singapura. Kedua orang tua Melani, merasa bahagia. Mendengar sang anak sudah mulai berangsur pulih.


"Minum dulu, Sayang!" ucap Reynaldi sambil memberikan satu cangkir berisi teh manis hangat untuk sang istri.


"Aku ingin istirahat dulu!" ucap Melani kepada sang suami.


Reynaldi langsung membersihkan dan merapikan tempat tidur, agar sang istri bisa tidur dengan nyenyak. Dia ingin memberi kenyamanan untuk sang istri. Melani terlihat menangis, saat menatap wajahnya di depan cermin yang berada di dalam kamar mandi. Dia membuka jilbab yang dia pakai, menyisakan wig menutupi kepala botaknya.


"Semoga saja, suamiku tak berpaling dariku. Aku juga ingin segera hamil, agar aku bisa membahagiakan suamiku," ucap Melani lirih.


Melani menghapus air mata yang membasahi wajahnya. Dia tak ingin menunjukkan kesedihannya di depan suaminya. Melani langsung mencuci wajahnya, agar tak terlihat habis menangis.


"Selamat beristirahat, istri aku yang cantik," ucap Reynaldi yang baru saja selesai merapikan tempat tidur. Melani baru saja keluar dari kamar mandi, dan menghampiri suaminya.


"Aku mandi dulu ya, Sayang!" Reynaldi berkata kepada Melani. Dia juga melabuhkan kecupan di kening istrinya.


"Dibuka saja wignya, jangan dipakai terus!" ucap Reynaldi.


Awalnya Melani menolak, dia merasa tak nyaman dalam keadaan botak. Namun, Reynaldi mencoba menyakinkan sang istri. Kalau dirinya tak mempermasalahkan, kondisinya saat sekarang. Bagi Reynaldi yang terpenting, dia masih bisa melihat wajah istrinya, dan sang istri bisa sehat kembali seperti sedia kala.


Keduanya kini sudah berbaring. Reynaldi tampak sedang memeluk sang istri. Pelukan yang mampu menenangkan sang istri. Perlahan, Melani pun tertidur nyenyak. Perlahan Reynaldi melepaskan pelukan. Suara dengkuran halus terdengar dari bibir istrinya. Akhirnya Melani bisa merasakan tidur di ranjang apartemen. Dia juga masih diberikan kesempatan untuk melihat dunia.


"Terima kasih ya Allah, karena engkau masih memberikan kesempatan kepadaku untuk memeluk istriku kembali. Aku sangat menyayangi istriku," ucap Reynaldi dalam hati.


Reynaldi pun akhirnya ikut tertidur. Selama istrinya di rumah sakit, dia kurang beristirahat. Tidurnya pun tak nyenyak. Perlahan, dia pun tertidur nyenyak.


Melani terbangun lebih dulu. Namun, dia masih tak ingin beranjak turun dari ranjang. Dia justru tampak sedang memandang wajah laki-laki yang masih menjadi suaminya. Dia bersyukur, karena tak salah memilih pasangan hidup.


Besok, dia akan kembali Indonesia. Dia merasa kasihan, melihat sang suami yang harus berpisah lama dengan sang mama karena harus menemani dia di Singapura. Ditambah lagi, mereka harus memikirkan perusahaan milik Melani. Tak mungkin dia tinggal terlalu lama.


Singapura memiliki kenangan tersendiri untuk mereka berdua. Banyak kenangan yang mereka dapatkan, baik senang maupun sedih. Melani berharap, dia kembali ke sini lagi bukan untuk berobat. Tetapi, untuk berlibur.


Keduanya tampak berjalan kaki sambil bergandengan tangan. Mereka banyak mengabadikan kebersamaan mereka dalam sebuah foto dan juga video. Senyuman keduanya terlihat lepas, mereka terlihat bahagia.


"Terima kasih, untuk kasih sayang yang kamu berikan untukku," ucap Melani kepada sang suami.


"Semua aku lakukan, karena aku mencintai kamu," sahut Reynaldi. Reynaldi semakin memperat genggamannya. Seakan tak ingin terpisah.


Mereka sudah bersiap-siap untuk kembali ke Indonesia, dan kini mereka sudah dalam penerbangan ke Indonesia.


"Kamu gak mau tidur?" Reynaldi bertanya kepada sang istri.


"Tidak! Aku ingin menikmati penerbangan ini, melihat pemandangan yang indah," sahut Melani. Reynaldi tak henti-hentinya menunjukkan sikap romantisnya kepada sang istri.


Akhirnya, mereka sampai di Indonesia. Mereka sudah menginjakkan kakinya di Jakarta. Mereka akan langsung di jemput supir Melani. Kedua orang tua Melani pun sudah tahu, kepulangan sang anak ke Indonesia. Mereka akan mendatangi rumah sang anak. Lina pun sudah tahu, kalau bosnya akan kembali ke Indonesia. Dia ikut bahagia mendengarnya.


"Akhirnya, aku bisa melihat rumahku lagi. Bisa menikmati ranjangku kembali. Terima kasih ya Allah untuk semuanya," ucap Melani dalam hati.


"Aku bisa jalan sendiri. Kamu tak usah khawatir!" ucap Melani kepada sang suami.


Dia tak ingin terlihat lemah. Dia menolak bantuan suaminya, karena dia ingin berjalan sendiri. Semua para pekerja di sana menyambut bosnya dengan suka cita. Mereka turut bahagia, melihat bosnya bisa sembuh kembali.


Sebelum dia ke kamarnya, Melani terpikir ingin menemui mertuanya dulu, ingin meminta maaf karena Reynaldi harus menemani dia di Singapura.


"Iya, tak apa-apa Mel! Mama mengerti. Anak mama, sekarang sudah menjadi seorang suami. Dia harus bertanggung jawab dengan istrinya juga, terlebih disaat kamu lebih membutuhkan dia. Mama ikut senang, karena akhirnya kamu sembuh kembali. Bisa bersama kembali dengan Reynaldi," ucap Mama Ratih kepada menantunya.


"Aamiin. Terima kasih, Ma. Ya sudah, aku ke kamar dulu ya. Mau mandi dan beristirahat," ucap Melani kepada sang ibu mertua.


Melani berpapasan dengan Reynaldi, saat dia hendak membuka pintu keluar dari kamar sang mama. Melani ingin langsung mandi, dan beristirahat. Kini dia sudah membaringkan tubuhnya di ranjang.


"Tidurlah duluan! Nanti aku menyusul," ucap Reynaldi kepada sang istri.