
"Ya sudah, aku ke kamar dulu. Pasti Nisa saat sedang menangis karena kecewa sama aku," ucap Reynaldi dan Mama Ratih hanya menganggukkan kepalanya. Dirinya akhirnya bisa bernapas lega, karena Reynaldi tak membahas lagi.
Reynaldi menghampiri istrinya yang sedang memainkan ponselnya. Ternyata di luar dugaannya, Nisa tak lagi menangis. Dia tak ingin terlihat lemah di depan suaminya.
"Yang, Maafkan aku! Aku akui, aku dulu memang salah. Tetapi, semenjak kejadian itu. Aku tak lagi berhubungan dengannya," ucap Reynaldi yang kini bersujud kaki Nisa. Entah sudah berapa kali dia meminta maaf dan bersujud di kaki istrinya. Untuk mengakui kesalahannya.
"Aku ingin kita pisah! Aku lelah dengan kebohongan kamu. Aku yang urus atau kamu yang urus perceraian kita?" tanya Nisa dengan lantang.
Reynaldi memanggil Bi Surti untuk mengajak Khanza bermain dan membelikan Khanza es krim. Dia tak ingin kalau sang anak mendengar pertengkaran orang tuanya lagi.
"Khanza main sama Bibi dulu ya! Sekalian Khanza beli es krim," ucap Reynaldi yang mencoba memberi pengertian kepada anaknya. Untungnya Khanza menuruti permintaan Ayahnya untuk ikut bersama Bi Surti.
Wajah Nisa begitu menakutkan, hari ini dia menunjukkan bukan menjadi Nisa yang selama ini lemah tak berdaya. Dirinya sudah merasa sangat lelah dengan semua kebohongan yang Reynaldi perbuat.
"Yang, aku mohon! Dengarkan aku dulu," pinta Reynaldi dengan wajah yang memelas.
"Apa lagi yang kamu ingin bicarakan? Apakah kamu tak mengerti ucapan aku tadi?" tanya Nisa sinis.
Nisa menatap mata Reynaldi dengan tatapan yang sangat tajam. Itulah Nisa, seorang wanita pendiam tetapi bila kesabarannya telah hilang. Dia akan menjadi orang yang sangat kejam bahkan dua kali lipat dari orang yang kejam biasa. Reynaldi tidak mampu lagi menahan ketakutan dan kesedihannya. Dia tidak bisa membayangkan apabila Nisa akan benar-benar pergi meninggalkannya.
Dia berusaha untuk memohon kepada Nisa, agar Nisa mengurungkan niatnya untuk bercerai darinya. Dia berlutut di kaki Nisa memohon kepada Nisa untuk memaafkan kesalahannya dan memberikan kesempatan lagi untuknya.
"Please, jangan bicara seperti itu! Apa kamu tega Khanza harus merasakan perpisahan orang tuanya? Aku mohon tolong beri kesempatan aku lagi untuk tetap memiliki kalian! Aku sayang sama kamu, aku tidak mau kehilangan kamu," ucap Reynaldi lirih.
"Heh, harusnya kamu itu mikir! Saat kamu melakukan semuanya padaku, apa kamu tidak memiliki perasaan kepadaku? Sekarang kamu mau menyalahkan aku, apa yang Khanza rasakan nanti? Sadar! Kamu itu penyebab perceraian kita. Aku sudah lelah dengan permainanmu," sahut Nisa ketus.
"Iya, aku akui aku memang salah. Aku tak pernah memikirkan perasaan kamu, jika pada akhirnya kamu tahu perselingkuhan aku dengan dia. Aku tak pernah berpikir akan terjadi seperti apa akibat perbuatan aku," ucap Reynaldi.
Reynaldi terus berlutut di kaki Nisa, agar Nisa mau memaafkannya.
"Sudahlah, tak perlu kita sesali apa yang sudah terjadi. Mungkin ini semua jalan percintaan kita, dan jodoh kita cuma sampai sini. Kita bisa urus Khanza bersama-sama. Meskipun kita tak bisa bersama lagi," ucap Nisa. Dia sudah mulai terlihat tenang.
Hari ini sudah tidak ada lagi tangis kesedihan Nisa Dia sudah mencoba mengikhlaskan apa yang telah terjadi pada dirinya. Mungkin jodoh dia bersama Reynaldi sudah berakhir sampai sini, dan mungkin ini yang terbaik untuk mereka.
"Tidak, Yang! Aku tidak mau pisah dari kamu. Aku sudah memilih dirimu untuk selalu menjadi istriku. Istri yang selalu mendampingi aku sampai kapan pun. Aku tak mau pisah. Aku siap kamu melakukan apa pun asalkan kamu tidak meninggalkan aku. Hubungan aku sama Viona sudah berakhir, kami sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi," ungkap Reynaldi sambil menangis histeris.
"Aku yakin, kalau kamu itu belum memutuskan hubungan dengan Viona. Kamu hanya mencoba menenangkan dia, agar dia mengerti kalau saat ini aku sedang memanas sama kamu," sindir Nisa.
Membuat Reynaldi tak mampu berkata apa-apa lagi. Karena apa yang diucapkan Nisa tadi semuanya benar. Kalau dia bukan memutuskan hubungannya dengan Viona, justru dia mengungkapkan tidak bisa kehilangannya, dan tak mau berpisah. Meskipun Nisa tetap menjadi yang istri pertamanya.
"Ok, aku akan kasih kesempatan kamu sekali lagi! Kesempatan ini aku berikan, karena kamu adalah Ayah dari Khanza. Namun, jika suatu saat aku mengetahui kalian masih berhubungan. Jangan salahkan aku untuk bersikap tegas kepada kamu," ujar Nisa.
"Memberikan kesempatan, bukan berarti aku sudah memaafkan kamu. Namun, aku ingin melihat seberapa kerasnya kamu untuk mempertahankan pernikahan ini," ucap Nisa lagi.
"Makasih ya, Sayang! Aku akan buktikan kepada kamu."
Pagi ini Reynaldi bekerja seperti biasa. Nisa tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. Namun, dirinya terlihat diam dan tak ingin di sentuh. Reynaldi pamit untuk berangkat bekerja.
Setelah dia selesai bekerja, dia akan menemui Viona untuk menyelesaikan semuanya. Dia sengaja tidak berbicara dulu kepada Viona. Sebenarnya Reynaldi sangat berat untuk melepas Viona. Dia tak mau Viona dimiliki laki-laki lain seperti dulu. Tetapi, dia lebih tidak mau lagi kalau harus berpisah dari Nisa.
Reynaldi sudah memutuskan untuk mengikhlaskan dan berpisah dari Viona. Ultimatum Nisa tadi, masih terlintas di pikirannya. Dia lebih memilih untuk tidak mau kehilangan Nisa dan juga anaknya.
Reynaldi baru saja sampai di kosan Viona. Rasanya begitu sulit untuknya berucap kepada Viona. Namun, dia tidak mau melakukan kesalahan lagi, yang pada akhirnya dia akan kehilangan Nisa untuk selamanya.
"Ay, ada hal serius yang ingin aku bicarakan sama kamu," ucap Reynaldi dengan berat hati.
"Ya sudah bicara saja, aku dengerin," sahut Viona santai. Dia tidak tahu, kalau Reynaldi akan memutuskan hubungan dengannya.
"Aku sudah putuskan, kalau hubungan kita lebih baik tidak dilanjutkan lagi. Aku minta maaf sama kamu. Aku sudah memilih Nisa. Karena aku tak ingin bercerai dengannya. Hubungan kita sebuah kesalahan," ungkap Reynaldi.
Viona langsung menangis histeris, dia langsung menampar wajah Reynaldi. Semudah itu Reynaldi mengakhiri hubungan dengannya. Dia merasa dipermainkan.
"Dasar laki-laki brengsek! Enak ya menjadi lo, bisa buang gue seenaknya saja seperti sampah. Kemarin lo ngomong apa ke gue? Ok, kalau mau lo begitu! Jangan pernah ganggu hidup gue lagi! Gue akan cari kebahagiaan gue sendiri. Sekarang lo pergi dari sini, gue tidak mau melihat wajah lo lagi," bentak Viona.
"Ay, dengerin aku dulu! Memang aku memutuskan hubungan kita, dan lebih memilih dirinya. Namun, asal kamu tau, aku tak pernah bisa melupakan kamu. Rasa sayang aku tak pernah bisa hilang ke kamu," ujar Reynaldi.
"Gue bingung sama lo, masih bisa-bisanya lo ungkapkan perasaan lo ke gue? Gue sudah tidak peduli lagi. Cepat lo pergi dari sini sekarang! Gue tidak mau melihat wajah lo lagi," ucap Viona.
Viona mendorong Reynaldi keluar. Dia mengusir Reynaldi dari kosannya. Hatinya terasa begitu sakit, karena apa yang diperbuat dan apa yang dia perjuangkan ternyata sia-sia. Dia akan mencoba untuk membuka lembaran baru, dan akan membuka hatinya untuk pria lain di hidupnya. Dia akan berusaha untuk melupakan Reynaldi.