
"Kalau Agust nggak datang, ayah akan menemui nya lagi." kata Ayah mencoba menenangkan Archi.
"Jangan. Kalau dia nggak mau datang, biarkan saja. Aku sudah memutuskan, kalau dia memang benar-benar ingin pisah, akan aku kabulkan." kata Archi.
"Sayang," Ayah dan Ibu khawatir.
Malam semakin larut. Lampu kamar perawatan Archi telah dipadamkan, hanya lampu temaram yang menempel di sisi-sisi atas ranjang rumah sakit yang menyala. Ayah dengan pulasnya tertidur di sofa panjang.
Hingga saat itupun Agust tidak nampak terlihat batang hidungnya. Archi yang belum tidur memiringkan tubuhnya, dengan tatapan hampa memandang bintang di langit yang terlihat dari jendela kamar rawatnya.
Handphone dengan loudspeaker bervolume kecil memainkan sebuah lagu dari aplikasi pemutar musik berbayar.
...Karna ku tak mau berpisah...
Suara indah Mario G Klau yang menyayikan lagunya 'Semata Karenamu" terdengar di sana. Nada dan liriknya seolah mewakilkan perasaannya kini yang masih memikirkan Agust.
...Malam bantu aku tuk luluhkan dia...
...Bintang bantu aku tuk tenangkan dia...
"Aku nggak pernah menyangka kalau kamu bisa benar-benar jauh dariku. Bahkan kamu nggak peduli aku tidak sadarkan diri dua hari ini. Dimana yang katanya kamu mencintai aku?" batin Archi. Sebutir air matanya jatuh, disusul yang lainnya.
"Tetapi aku berharap kamu akan benar datang besok, Agust. Agar aku yakin dengan perasaan dan keseriusanmu. Datanglah, agar kita tidak berpisah. Karena itu sangat menakutkan untukku."
...Sebenarnya aku tak seburuk itu diriku tak seburuk itu...
...Semua perjuanganku di belakang dirimu...
...Semata karna ku tak mampu hidup tanpamu...
Pagi datang terlalu cepat, membuat pupusnya harapan Archi untuk merubah keputusan pisahnya terjawab dengan segera.
"Besok, tolong urus surat-suratnya ya Ayah." kata Archi saat Ibu menyuapi nya.
"Surat-surat apa?" tanya Ibu dengan matanya yang terbuka lebar.
"Mungkin Agust nggak tahu tentang mengurus surat perceraiannya. Jadi biar kita yang menguruskan untuknya." jawab Archi nampak tenang dan yakin.
"Agust nggak mau cerai Archi." tandas Ayah tak kalah yakin.
"Sudahlah Ayah. Berhenti membuat aku berharap. Ini lebih baik. Benar kata kakak, aku harus melanjutkan hidupku. Aku nggak bisa terus-terusan terpaku pada masalah ini. Aku pun ingin tenang menjalani hidupku." tukas Archi.
"Coba datangi lagi Agust Ayah. Kemarin dia bilang, dia akan datang tetapi dia tidak datang, pasti ada sesuatu." kata Ibu.
"Jangan, sudah! Aku bilang tidak usah."
"Archi, jangan membuat keputusan yang akan kamu sesali!" tekan Ayah dengan wajah seriusnya.
"Nggak ayah. Akan aku pastikan aku nggak akan menyesali ini."
Ayah dan Ibu saling memandang.
"Bagaimana ini?" tanya Ibu kepada ayah di luar ruang perawatan Archi.
"Archi terlihat serius dengan keputusannya." sahut Ayah terdengar pasrah.
"Lagian Agust kemana sih? Katanya dia akan datang?" dengus ibu kesal.
"Ayah juga nggak tahu. Tapi ya sudahlah. Kalau Archi maunya seperti itu. Agust juga salah, tidak menepati janjinya."
"Ibu malah khawatir terjadi sesuatu kepadanya." kata Ibu.
Malam harinya. Setelah meminum obat Archi tampak sangat mengantuk hingga dia bisa tidur lebih awal. Terlebih malam sebelumnya dia pun kurang tidur karena memikirkan Agust.
Ceklek...
Ayah dan Ibu keluar kamar Archi.
"Ibu pulang ya Ayah. Jaga Archi baik-baik." pesan Ibu.
"Iya. Benar nggak perlu ayah antar? Archi juga kan sudah tidur."
"Nggak usah. Ayah di sini saja. Kalau-kalau Archi bangun nanti, dia bingung ayah nggak ada." jawab Ibu.
Langkah kaki bergerak cepat datang ke arah mereka. Ayah dan Ibu mengarahkan pandangannya ke arah suara itu.
Datang tergesa-gesa dengan baju basah karena kehujanan saat datang ke sini,
Agust nampak terengah-engah.
"Assalamualaikum, Ayah, Ibu." kata Agust menormalkan nafasnya.
"Waalaikumussalam!"
"Kamu? Kenapa baru datang?" tanya Ayah kesal.
"Sulit aku jelaskan, ayah. Apa Archi masih bangun?" tanya Agust.
"Archi sudah tidur. Di dalam ada baju ganti ayah, pakailah baju itu untuk ganti bajumu." suruh Ayah.
Ayah melihat ke arah Ibu.
"Ya sudah kalau begitu. Kabari kami kalau ada sesuatu," pesan Ayah.
"Siap Ayah."
Setelah ayah dan ibu pulang, Agust mengganti baju basahnya dengan kaos dan celana ayah. Agust menarik kursi ke dekat tempat tidur Archi. Dia tatap istrinya yang begitu pulas tertidur.
"Archi, maafkan aku. Aku tahu aku salah. Ngga seharusnya aku meninggalkanmu apapun yang terjadi." kata Agust.
"Dan maaf aku baru bisa datang sekarang. Kemarin aku berubah jadi kucing di waktu yang salah. Aku mencoba masuk ke sini tetapi sulit. Jadi aku kembali ke kontrakan semalam. Beruntung aku bisa berubah lagi malam ini." ceritanya meski Archi bahkan tidak dapat mendengarnya.
Agust masih terjaga hingga lewat tengah malam. Archi terusik dalam tidurnya, matanya yang sayu perlahan terbuka. Dari sudut matanya yang belum terbuka sempurna, dia menangkap sosok Agust yang duduk memandanginya.
"Archi...!" sapa Agust berwajah gembira melihat Archi terbangun.
"Agust? Kamu ngapain lagi ke sini?" tanya Archi ketus.
"Maafkan aku Archi. Aku tahu aku salah, tetapi aku ingin memperbaikinya sekarang." jawab Agust membungkuk di atas tempat tidur Archi.
"Kenapa baru sekarang?" tanya Archi, matanya mulai berkaca-kaca.
"Sesungguhnya setelah berkonsultasi dengan ayah kemarin aku akan datang ke sini. Tetapi aku harus berubah jadi kucing lagi. Aku mencoba masuk ke sini, tetapi aku tidak bisa dengan sosok kucingku. Untuk memanjat juga sulit, ini terlalu tinggi dan nggak ada pijakannya." kata Agust.
"Benarkah?" tanya Archi, terharu mendengar pengakuan Agust.
"Iya. Akhirnya semalam aku kembali ke kontrakan. Tetapi sekarang aku di sini." kata Agust mengusap rambut Archi.
Archi mencoba bangun, dengan perlahan Agust membantunya duduk. Saat itu sambil menangis Archi memeluk Agust begitu erat.
"Maafkan aku yang selalu menumpahkan air matamu." ucap Agust balas memeluk Archi erat.
"Nggak Agust, aku yang seharusnya minta maaf, tidak bisa menjadi istri yang baik untukmu."
"Jangan bilang begitu. Kamu selalu berusaha semampu kamu, tetapi aku selalu salah sangka kepadamu."
"Ya sudah kita saling memaafkan dan mulai berubah satu sama lain."
"Iya. Aku sayang dan rindu kepadamu Archi."
"Aku juga Agust." kata Archi melepaskan pelukannya. Agust membantu mengusap air mata di pipi Archi.
"Gara-gara aku kamu sampai di rawat di rumah sakit."
"Sudah Agust, jangan ngomong begitu lagi."
"Owh iya, maaf." kata Agust nyengir.
"Tetapi kamu sudah membaik kan?" tanya Agust lagi duduk di pinggir tempat tidur Archi.
"Iya." jawab Archi.
"Sekarang kamu bisa tenang, tidurlah lagi. Ini masih malam. Kamu masih perlu banyak istirahat."
"Aku sudah tidur dua hari full Agust." kata Archi mengingatkan.
"Haha...kamu itu. Ya nggak apa-apa, tidur lagi aja sekarang. Kita ngobrol lagi besok." kata Agust.
"Kamu akan di sini terus, kan?" tanya Archi.
"Iya," Agust mengangguk sambil tersenyum.
"Aku masih mau mengobrol sama kamu. Aku kangen ngobrol bareng kamu." kata Archi yang sudah berbaring, menyamping.
"Besok kita masih mengobrol. Kalau kamu nggak tidur, nanti aku yang dimarahi Dokter." kata Agust.
"Ah...iya. Berbaringlah di sini!" pinta Archi.
Agust berbaring di sebelah Archi saling berhadapan.
"Aku kesepian tidur sendirian di rumah." kata Archi merajuk.
"Aku juga sama." jawab Agust menggunakan tangannya yang dilipat sebagai bantalannya.
"Tetapi aku senang, sekarang aku bisa sama kamu lagi." kata Archi.
Mereka tersenyum bahagia. Agust memeluk Archi begitu erat dengan perasaan terharu. Mereka saling menatap dalam.
Wajah mereka semakin mendekat dan mendekat, menutup jarak di antara mereka. Luapan rasa rindu yang tak tertahankan, mereka lampiaskan dengan ciuman hangat keduanya di malam yang dingin ini.
Begitu lama dan intens bibir Agust berpaguutan dalam menghiisap atas bawah bibir Archi.
Nafas mereka memburu saat keduanya melepaskan ciuman mereka. Mata Agust terbuka lebar,
"Kenapa lagi?" tanya Archi.
"Aku lupa, kita kan belum rujuk!" seru Agust. "Kalau ketahuan Ayah, dia pasti marah." kata Agust lagi menelan salivanya.
...~ bersambung ~...