Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
97. Tak Bisa Kembali


Kucing putih menjilat pipi Archi, "Agust...!" lirih Archi dengan mata sedikit terbuka memandang kucing sebelum akhirnya benar-benar hilang kesadarannya sepenuhnya.


"Archi!!!" panggil batin kucing putih


Ceklek....


Kucing putih berlari bersembunyi di bawah tempat tidur.


"Ya Allah....Archi....!" pekik Ibu panik menghampiri Archi. "Ayah...Kakak...Archi pingsan!" jerit Ibu merangkul putrinya.


Ayah membawa Archi ke rumah sakit. Setelah pemeriksaan di IGD Archi yang belum sadar di bawa ke ruang perawatan dengan selang infus menempel di punggung tangannya.


"Nona Archi kelelahan, dan sepertinya kurang nutrisi jadi tubuhnya melemah." kata Dokter yang memeriksakan Archi.


Dengan cemas Ayah dan Ibu menunggu Archi sadar dari pingsannya di ruang perawatan.


"Ini nggak bisa dibiarkan. Ayah akan menemui Agust. Seenaknya saja dia sebagai suami meninggalkan istrinya. Apapun alasannya nggak seharusnya dia berbuat begini." kesal Ayah.


"Iya Ayah. Tetapi besok saja. Kita fokus saja dulu dengan pemulihan Archi." kata Ibu yang tidak berhenti hatinya berdzikir dan matanya berlinang air mata.


"Sebenarnya apa yang terjadi kepada mereka? Masalah serius apa yang membuat Agust pergi?" tanya Ayah.


Di tempat lain....


Susan, Andini, dan Icha mencari Agust di Irene's Pizza.


"Mas Agustnya hari ini libur, Kak!" kata Vita.


"Ada apa kalian mencari Agust?" tanya Irene sengit.


"Bukan urusan kamu pelakor!" sungut Susan blak-blakan.


"Apa kamu bilang?" pekik Irene tidak terima.


"Aepa kyamu biyang!" dengan meunya menye Susan mengikuti gaya bicara Irene.


"Nggak usah, sok nggak terima begitu. Akuin aja kamu tuh pelakor. Laki masih punya bini dipepet terus. Nggak tahu malu!" timpal Andini.


Beberapa Karyawan yang mendengar hal itu mengamini kata-kata Andini yang mereka rasa benar.


"Keluar kalian dari restoranku. Membuat keributan saja!" Usir Irene.


"Kami juga mau pergi! Nggak betah lama-lama di tempat pelakor." sahut Icha.


"Nyebelin banget sih mereka!" gerutu Irene kesal. "Untung sedang nggak ada pelanggan." gumamnya yang tetap merasa malu di depan karyawannya.


...****************...


"Bagus kita ketemu kamu di sini!" sentak Susan saat berpapasan dengan Agust di jalanan komplek.


Agust terdiam, tidak berani menatap mereka.


"Kami tahu ini urusan rumah tangga kalian dan kami nggak berhak ikut campur. Tapi melihat Archi sampai jatuh sakit gara-gara kamu, kami jadi merasa punya hak untuk menuntut keadilan untuk teman kami!" cecar Susan.


"Kami nggak tahu apa yang kamu pikirin tapi nggak seharusnya kamu memperlakukan Archi seperti itu." lontar Icha kemudian.


"Apalagi cuman karena pengen dekat sama bos pelakor kamu itu!" timpal Andini dengan sengit.


"Sumpah jijik banget gua ngedenger laki yang begitu ngebela selingkuhannya buat nutupin kesalahan mereka!" sungut Susan.


"Tapi memang aku nggak selingkuh sama Irene. Terserah kalian percaya atau nggak. Alasan aku ninggalin Archi itu juga demi kebaikan Archi. Agar Archi bisa bahagia, dan nggak terbebani lagi sama aku yang nggak berguna ini." jawab Agust dengan nada sedikit meninggi.


"Archi sendiri yang bilang kalau nggak seharusnya dia nikah sama aku. Dan aku mengabulkan keinginannya itu sekarang. Mungkin terlambat, tetapi itu buat kebaikan dia." sambung Agust.


"Hufh...kalau itu buat kebaikan Archi dan bisa bikin Archi bahagia, nggak bakalan Archi sampai sakit dan menderita seperti sekarang. Dari situ aja seharusnya kamu sadar bagaimana artinya dirimu buat Archi." kata Icha.


"Harusnya mata kamu bisa terbuka melihat Archi yang menderita sejak kamu tinggal pergi. Kalau dia nggak ada perasaan sama kamu seharusnya dia bakal bahagia, bebas menjalani hidupnya tapi dia nggak begitu, kan?" tukas Andini.


"Kamu lebih percaya apa yang keluar dari mulut Archi daripada yang ada dihati Archi itu keterlaluan Agust." Susan menimpali lagi.


"Kita lebih lama ngenal Archi. Secinta-cinta Archi sama Ridwan dulu, tapi dia nggak pernah seperti ini. Kita aja bisa lihat betapa besar rasa cinta buat kamu, kenapa kamu nggak bisa?" tanya Icha bernada prihatin.


"Semoga ini bisa membuat kamu sadar." pungkas Susan dan mereka pun pergi ke rumah sakit untuk menengok Archi.


Satu hari berlalu, Archi belum juga sadar dari tidur panjangnya.


"Archi itu hatinya lembut, Ibu selalu tahu kalau Archi itu nggak bisa merasa sedih. Sekalinya dia sedih yang mengena banget di hatinya, dia jadi gampang sakit." jelas Ibunya kepada Susan dan dua teman Archi lainnya yang datang untuk menengok Archi lagi.


Sementara itu di kedai kopi dekat komplek.


"Harusnya kamu sudah tahu alasan Ayah ingin menemui kamu." kata Ayah memulai pembicaraan mereka di hadapan dua cangkir kopi di atas meja.


"Ayah harus meluruskan ini, agar tidak lagi berlarut-larut. Ayah tahu sebagai suami kamu punya hak memutuskan untuk kehidupan rumah tangga kamu. Tetapi Ayah juga nggak bisa menyetujui jalan yang kamu ambil."


"Haram hukumnya bagi seorang suami menelantarkan istrinya tanpa sebab yang jelas. Kecuali istrinya telah berbuat durhaka kepadanya. Tetapi perbuatan apa yang Archi lakukan kepada kamu hingga membuat dia mendurhakai kamu sebagai suaminya?" Agust menggeleng sebagai respon pertanyaan dari Ayah.


"Archi nggak berbuat salah apapun," jawab Agust kemudian.


Praaak!!!!


Ayah menepuk meja cukup kencang hingga menarik perhatian pengunjung kedai saat itu. Dan membuat Agust melonjak kaget dalam duduknya.


"Nah itu kan!" serunya kemudian.


"Tetapi aku pergi karena memikirkan kebaikan Archi. Dia nggak bahagia kalau bersama saya. Saya nggak bisa menjadi suami yang baik untuk Archi." dalih Agust memberikan penjelasan.


"Hufh...darimana kamu tahu Archi nggak bahagia sama kamu? Terus kamu pikir karena kamu udah pergi sekarang Archi bahagia sekarang?" tanya Ayah.


"Nggak kan. Archi malah tambah menderita dia bahkan belum sampai sekarang di rumah sakit. Apa itu yang kamu maksud dia bahagia? Ini sama saja kamu menelantarkan dia." jelas Ayah tanpa menunggu jawaban dari Agust.


Agust menunduk dalam "Aku juga sebenarnya sedih!" Dengan mata terpejam dan tangannya yang mengepal di atas pahanya.


"Aku merasa berat dan juga nggak tega. Aku sangat ingin kembali, tetapi aku sudah mengatakan akan membebaskan Archi di depannya, apa kami bisa rujuk bila seperti itu?" tanya Agust mengangkat kepalanya. Memandang Ayah untuk mendapatkan jawaban.


"Aah...jadi masalahnya di situ." tanggap Ayah mengangguk. "Ini sebabnya kenapa seorang laki-laki yang disebut suami tidak boleh sembarangan mengatakan pisah kepada istrinya." sambung Ayah menyayangkan.


"Ini pun jadi sulit, karena setahu ayah ada talak yang tidak dapat dirujuk, salah satunya, pasangan suami istri yang belum pernah berhubungan badan." jelas Ayah.


"Jadi kami tidak dapat rujuk kembali?" tanya Agust terlihat sangat sedih.


...~ bersambung ~...