Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
121. Saksi Palsu


"Kalau begitu, lalu apa hubungannya Yoongi dan Agust? Bila jasadnya ditemukan dan dimakamkan, bagaimana sekarang bisa menjadi Agust? Tetapi Agust memiliki sedikit ingatan Yoongi. Apa bangkit dari kubur? Nggak mungkin nggak mungkin. Atau..., jangan jangan Agust adalah...," batin archi mencari kesimpulan yang memungkinkan antara Agust dan Yoongi cucu Kakek Ludwig.


...****************...


"Kamu adalah reinkarnasi dari Yoongi. Iya, hanya itu yang masuk akal untuk saat ini." jelas Archi pada malam hari setelah mereka makan malam dan bersantai di kamar.


Wajah khas Agust saat tengah mengernyit muncul, "Apa nggak ada kemungkinan lain?" tanyanya. "Reinkarnasi dari Yoongi menjadi kucing?"


"Terus bagaimana cara menjelaskannya selain seperti itu. Kamu bangkit dari kubur dan menjadi kucing. Itu lebih nggak masuk akal." sanggah Archi beralasan.


"Ya sudah. Seenggaknya kita sudah tahu siapa Yoongi dan kenapa Kakek itu memanggil aku Yoongi." Agust mendekati Archi yang tengah duduk ditepi tempat tidur.


"Eh...mau ngapain kamu?" tanya Archi beringsut bangun melihat gelagat aneh dari Agust.


Dengan cepat Agust menarik tangan Archi dan membawanya ke dalam pangkuannya. "Aaa...Agust!" pekik Archi.


"Jangan dilanjutkan kalau kamu masih trauma," bisik Agust yang hanya berjarak dua senti dari wajah Archi. Agust memiringkan kepalanya, memposisikan bibirnya ke bibirnya Archi.


Saling berpagut tan mesra. Agust merebahkan Archi di atas tempat tidur. "Aku nggak akan memaksa kalau kamu belum siap Archi." Kata Agust.


Dengan nafasnya yang bergetar, "Aku nggak apa-apa Agust." jawab Archi.


"Semoga!" bisik batin Archi penuh harap memperhatikan Agust menanggalkan kaos yang dipakainya. Memperlihatkan tubuh putih mulus bak porslen berhias otot perut yang sedikit nampak.


Nafas Archi semakin terasa berat tatkala Agust merangkak naik ke atas tubuhnya. "Mudah-mudahan Aku kuat." pikir Archi menerima cumbuan bibir Agust.


Tatkala lidah Agust menerjang ke dalam mulutnya, menjelajah di setiap sudut, Archi membalas, saling beradu lidah. Membuatnya dapat terbuai dengan gairah Agust. Pikiran Archi menjadi tenang karena bayangan trauma dengan Jeremy tidak ada untuk mengganggu malam penyatuan mereka.


Tangan kekar Agust menjelajah ke dalam piyama yang Archi kenakan. Meraba dan meremas perlahahan membuat lenguhan lolos dari mulut Archi yang membakar gairah Agust untuk terus berpacu.


Saat bajunya telah tersingkap, dan Agust melepaskan kaitan b*a nya. Samar-samar rekaman kejadian saat Jeremy memaksanya bersetubuh, mengusik dalam pikirannya. Saat bibir Agust mencium bibir Archi dan tangan satunya bermain di bukit. Seringai penuh nafsu Jeremy terlintas.


Archi terkesiap mendorong Agust untuk menyingkir.


"Kamu nggak apa-apa Archi?" tanya Agust khawatir melihat ekspresi Archi yang seperti ketakutan. "Apa kita perlu menghentikannya sekarang?"


Archi menatap yang menonjol meski bukan bakat, Archi menggeleng, "Nggak Agust, aku hanya kehabisan nafas karena kamu terlalu bernafsu." dalih Archi menutupi perasaannya yang sebenarnya.


Meski terasa berat untuk melawan perasaan takutnya, perlahan Archi mulai menikmati permainan Agust di tubuhnya. Membuainya hingga melupakan segalanya. Hanya sentuhan yang menggairahkan yang dia rasakan hingga berkali-kali melakukan pelepasan dirinya.


Cukup lama bermain, akhirnya tubuh keduanya menegang hebat. Agust menumpahkan seluruh cairan ke dalam tubuh Archi. Mereka saling melakukan pelepasan bersama.


Agust tersenyum bahagia menatap Archi dengan nafas terengah-engah. Agust membungkuk dan mencium bibir istrinya lagi. Walau Archi sudah terlihat sesak dan lelah.


"Terimakasih Archi. Aku mencintaimu." Kata Agust memeluk tubuh Archi kuat-kuat.


"Berat Agust!" goda Archi. Agust pun nyengir dan berbaring di sisi Archi. Dia menarik selimut menutupi tubuh keduanya dan saling berpelukan kembali.


Malam pun berubah pagi tanpa terasa.


Setelah mereka bangun dari tidurnya mereka pergi mandi lalu shalat shubuh berjamaah. Kemudian saat Archi selesai berpakain kerjanya,


Agust menaruh dahinya di atas pundak Archi, "Capek, masih ngantuk!" keluhnya terdengar lemah.



"Lagian nembak berkali-kali." sahut Archi merangkul lengan Agust dan menariknya keluar kamar.


"Bis enak!" timpalnya.


"Stttt!" omel Archi menaruh telunjuk dibibirnya. "Dimarahin ibu loh, nggak bantuin masak."


"Haish!!!"


Agust nyengir.


Archi dan Agust memasuki dapur, "Pagi Ayah, Ibu!" sapa Archi kepada Ayah yang sedang menikmati kopi paginya menemani ibu yang sibuk memasak.


Ibu mesam-mesem pura-pura sibuk memasak, "Kayanya hari ini lebih cerah dari biasanya." goda ibu saat Agust mulai membantu memasak.


"Huh...kamu nggak tahu dari ayah datang, ibumu itu nggak berhenti gosip tentang kalian. Karena Agust belum datang, ibu terus mengatakan akhirnya ibu akan punya cucu." Ayah menepuk dahinya.


Agust dan Archi sama-sama tersipu, "Ya doain aja ibu, semoga disegerakan."


"Iya, ayah juga mendoakan. karena berisik mendengar ibumu yang terus mengatakan ingin cucu."


"Haha...sabar Ayah!"


"Oh jadi ibu berisik gitu!" omel Ibu yang nggak terima dibilang berisik.


"Nggak kok bu, Ayah bercanda doang." sahut Ayah melirik Archi dan tersenyum bareng.


Sesampainya di kantor, "Archi, maafkan aku ya karena berbohong kepadamu." kata Ridwan dengan sangat menyesal.


Archi melihat wajah Ridwan dari balik bulu matanya lalu kembali menatap layar monitor komputernya.


"Aku nggak benar-benar ingin menipu kamu Archi, tetapi aku memang malu mengakui aku ini anak ayahku. Aku ingin membuang identitas itu walau nggak bisa sepenuhnya. Tetapi aku ingin menjalani kehidupanku yang baru tanpa embel-embel anak pengusaha Selim Grup." jelas Ridwan. Namun Archi masih terdiam.


"Kita sudah berteman lama dan kamu sangat mengenalku bukan. Aku mohon maafkan aku dan kita berteman kembali." tambah Ridwan.


Archi berpikir untuk sejenak. Mempertimbangkan ucapan Ridwan.


"Aku ingin kembali berteman denganmu Archi." Ridwan kembali menyambung ucapannya.


Archi yang berhati lembut akhirnya luluh dan mau memaafkan Ridwan. "Baiklah aku harus memaafkan lagi kali ini. Tetapi kamu jangan jadi jahat seperti kakakmu."


"Kapan sih aku pernah jahat sama kamu? Aku malah selalu ingin melindungi kamu. Jangan samakan aku dengan Jeremy Archi."


"Baiklah kalau begitu."


"Jadi kita berteman lagi?" tanya Ridwan meyakinkan.


"Iya," Ridwan tersenyum lebar mendengarnya.


"Oke. Aku senang banget Archi. Terimakasih ya." ucap Ridwan dengan riang kembali ke mejanya. Ditengah jalan tanpa sengaja dia menabrak sofa. Archi menahan tawa melihatnya.


Ridwan cengengesan berjalan kembali ke mejanya.


Seminggu kemudian, persidangan pertama kasus Jeremy digelar. Walau dengan perasaan takut Archi memutuskan untuk ikut hadir menyaksikan jalannya sidang dimana dia pun harus memberikan pernyataannya di depan hakim.


Setelah memberikan kesaksikan, Archi duduk bersama Agust, Ayah dan Ibu di kursi penonton. Agust tak melepaskan rangkulannya di pundak Archi.


Kakek Ludwig yang sengaja hadir bukan untuk menyaksikan sidang Jeremy melainkan melihat Agust yang selalu bisa membuatnya mengobati rindu kepada cucunya.


Di tengah sidang, saksi di hadirkan. Yang membuat Archi terkejut, Maia yang duduk di mimbar saksi dan disumpah untuk bersaksi dengan sebenar-benarnya.


"Saya sering melihat Archi berusaha mendekati Pak Jeremy. Dia selalu menggoda Pak Jeremy." kata Maia membuat Archi tercengang. Dia tak pernah menyangka kalau Maia akan berbohong dipersidangan ini.


"Apa? Itu nggak benar! Dia berbohong. Maia!" pekik Archi yang tak terima dengan pernyataan Maia.


...~ bersambung ~...