
Ridwan yang sambil berjalan ke ruangannya, tertawa tanpa suara memasuki ruang kerjanya. Lalu berkedip ke arah Archi yang kebetulan melihat ke arahnya.
"Ada apa dengan mereka? Ya ammpun!" dengus Archi.
Istirahat pun tiba....
"Memang benar kamu habis making laaf sama Ridwan?" tanya Susan menghadapkan wajahnya ke muka Archi, saat Archi mengelap sendok garpu untuk dia gunakan makan bakso.
"Nggak!" tegas Archi berwajah ketus. Mereka bertiga kompak mengelus dada mereka dan meniupkan nafas lega mereka.
"Syukurlah!" seru mereka.
"Aku mikirin Agust kalau memang benar." sambung Icha terdengar cemas.
"Memang aku segila itu apa?" sungut Archi.
"Terus maksud Pak Ridwan kucing kamu?" tanya Andini yang masih penasaran.
"Kucing beneran. Aku kan punya peliharaan kucing." jawab Archi.
"Oh...tenang kalau begitu." jawab Susan.
"Udah ah, aku mau menikmati bakso aku." tandas Archi.
Sementara itu, di sebuah meja terlihat dua mangkuk bakso.
"Aku lagi pengen makan bakso." ucap Irene tersenyum cerah. Agust membalas senyumannya setengah hati.
"Tetapi aku nggak mau makan sendiri. Jadi aku ngajak kamu deh. Bersyukur kamunya mau." sambung Irene.
"Iya, aku juga lagi pengen makan bakso." jawab Agust menuangkan saos dan sambal ke mangkuk baksonya.
"Aku senang banget. Kamu nggak lagi menjauh dariku." batin Irene memandangi wajah Agust yang tenang mengaduk isian mangkuknya.
Setelah mereka selesai makan bakso mereka kembali ke restoran. Dengan berjalan beriringan mereka saling berbincang santai hingga tiba-tiba sebuah motor hampir menyerempet Irene dari arah belakang. Dengan sigap Agust menarik Irene yang shock ke dalam pelukannya.
Wajah Irene yang menempel di dada Agust bisa mendengarkan detak jantung Agust. Dengan nyaman dia menikmati saat itu. Dejavu. Ingatan dalam pikiran membawanya saat berada dalam pelukan mantan tunangannya yang mengenakan jas hitam dengan inner kemeja putih.
"Kamu nggak apa-apa?" suara Agust mengusik kenangannya dan membawa Irene kembali ke alam sadarnya.
"Iya Agust. Terimakasih." kata Irene seraya menunduk dan menyelipkan rambut panjangnya di balik telinga.
"Syukurlah." sahut Agust lalu kembali berjalan.
Tiba-tiba tangan lentik Irene menggenggam jemari Agust. Agust terkesiap. Namun tak menolaknya. Dia tersenyum kepada Irene dan berjalan bergandengan tangan menuju restonya.
"Apa aku berada di alam mimpi? Tetapi kenapa ini terasa begitu nyata. Agust, nggak lagi menolak aku." pikir Irene tersipu.
"Bila aku hanya bisa membebani Archi, ada baiknya aku pergi untuk membebaskannya." pikir Agust dengan hatinya yang telah tersayat-sayat perasaan sedih dan berat melepaskan Archi.
"Hatchiii!!!" Archi bersin dengan hidung meler dan merahnya.
"Ya ampuuunnn...makanya kalau nuang sambal jangan banyak-banyak Archi!" Ridwan menyodorkan gelas es jeruk yang segera disambar Archi.
"Terimakasih." jawab Archi dengan mulut megap-megap kayak ikan kurang air.
"Nggak tahu tiba-tiba hidungku terasa gatal." jawab Archi mengelap hidungnya dengan tissue.
"Lagian liat aja tuh bakso, dah bukan kaya kuah tapi kaya lava gunung berapi." gurau Susan.
"Dia mah emang gitu, nggak makan bakso, mie ayam, mie instan banyakan saos sambelnya daripada kuahnya."
"Enak tahu makan yang pedes-pedes apalagi kalau lagi kesal." jawab Archi.
"Oh...!" seru mereka semua dengan serempak.
"Jadi ada yang lagi kesal." kata Andini.
"Kesal kenapa sih Chi" tanya Icha.
"Hem..paling bertengkar lagi sama Mas Agust." sahut Susan.
"Sok tahu!" tukas Archi menutupi kebenaran. Maniknya menelisik ke arah Ridwan yang tampak diam menundukkan wajahnya.
Ingatan Archi kembali ke saat dirinya dan Ridwan tengah bertengkar di dalam mobil.
"Kamu mengharapkan aku berpisah dengan suamiku? Iya?" cecar Archi.
"Bukan mengharapkan. Hanya saja, ini feeling orang yang mencintai kamu Archi. Aku memiliki keyakinan kalian nggak akan bisa bersama selamanya," ucap Ridwan dengan serius dan begitu yakin.
"Bagaimana kalau itu benar. Dan itu terjadi saat ini? Aku dan Agust, pertengkaran kami yang nggak ada abisnya?" pikirnya setelah kembali ke alam sadarnya.
"Ah...nggak!!! Agust mencintai aku dan nggak mungkin kami berpisah dengan cara ini." kata Archi meyakinkan dirinya sendiri.
"Malah bengong!" Susan menepuk pundak Archi hingga membuat Archi melonjak kaget.
"Ayo, udah selesai jam istirahatnya!" ajak Andini.
"Iya," jawab Archi lalu melamun sambil berjalan mengikuti Susan dan Andini di depannya.
Pulang bekerja, Agust mengantarkan Irene pulang ke rumah menggunakan motor resto. Di atas motor yang dikendarai Agust, Irene merangkulkan lengannya dipinggang Agust dan bersandar di punggung Agust tanpa lagi merasa risih.
"Hati-hati di jalan ya, Agust!" kata Irene dengan manis tersenyum kepada Agust. Senyum berat dibentuk wajah Agust. Dia pun mengenakan helmnya lagi dan melajukan motornya kembali ke restoran.
Agust berjalan kaki dalam perjalanan pulangnya dari restoran. Di tengah perjalanan dia mampir di warung untuk membeli minuman teh dingin di dalam botol.
Ketika sedang membayar matanya tertuju ke kotak etalase kaca di atas etalase besar yang memajang aneka jenis rokok.
"Sama rokok dan koreknya satu," kata Agust kepada penjualnya.
Setelah membayar Agust duduk di bangku kayu panjang di depan warung. Tanpa terlihat kikuk Agust mengambil rokok dan menyalakannya.
"Kenapa rasanya seperti nggak asing?" pikirnya saat menyesap rokonya. "Sebelumnya apakah aku seorang perokok?" tanyanya dalam hati.
"Uhuk...uhuk....!" Agust pun terbatuk. "Hufh...!" Dia melempar rokoknya ke tanah dan menginjaknya.
"Baru juga mau terlihat keren. Sebaiknya aku pulang." katanya lalu melanjutkan perjalanannya.
Malam harinya.
"Aku sudah putuskan!" tekad batin Agust memandang Archi yang baru selesai shalat dan melipat sajadahnya.
Setelah Archi menaruh sejadah dan perlengkapan shalatnya. Ketika Archi berbalik, Agust sudah berada di hadapannya. Dengan kuat dia mencengkram bahu Archi.
"Agust? Kamu mau ngapain?" tanya Archi panik. "Lepas!" paksa Archi memberontak.
Agust mencium paksa bibir Archi dan menjatuhkan ke atas tempat tidur. Agust mengukung Archi di bawahnya. Dia mulai menciumi Archi dan tangannya meremas bukit Archi yang masih tertutup baju.
"Agust! Lepas!" pekik Archi mendorong Agust kuat. Namun Agust menahannya.
"Kenapa bukannya kamu menginginkan ini?" tanya Agust dengan seringai jahatnya.
"Nggak! Berhenti dengan urusan ranjang ini. Aku sudah muak!" teriak Archi mendorong Agust. Tanpa perlawanan Agust menjatuhkan dirinya ke sisi Archi.
"Aku nggak pernah mau melakukannya!" Archi berdiri dan menatap Agust dengan kemarahannya.
"Aku melakukannya karena ibuku karena kewajibanku sebagai istri. Tetapi aku juga nggak mau dengan cara ini. Jangan paksa dirimu bila kamu nggak mau melakukan itu. Aku nggak mau sesuatu karena terpaksa. Jadi jangan mencoba melakukannya!" Archi berbalik lalu keluar dari kamarnya.
"Heeeuhhh!" helaan nafas berat dari Agust memandangi Archi pergi.
"Kenapa jawaban ini yang aku dapat?" tanya diri Agust. "Bila kamu menolakku, berarti kamu menginginkan kita berpisah. Itu keputusan yang aku pikirkan. Dan kenyataan ini yang aku dapatkan!" sambung hatinya mencengkram kuat rambut gondrongnya.
"SHI BAL!" Jerit hatinya menangkupkan telapak tangannya ke wajah.
...~ bersambung ~...