Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
26. Jodoh Pilihan Ayah


"Hey..., jangan sedih gitu!" ujar Archi mendekati Agust. "Lihat sisi baiknya, kamu jadi bisa tinggal di sini bersama keluargaku, kan?"


"Apa bagusnya?" tanya Agust.


"Bisa dekat denganku hahaha....!" kelakar Archi tertawa. "Aku hanya bercanda. Sudahlah,"


Agust masih terdiam.


"Ada yang menggangguku. Apa di tempat kamu dulu kamu juga berubah jadi manusia?" tanya Archi.


"Aku juga nggak tahu. Tapi aku rasa nggak deh," duga Agust.


...****************...


Keesokan harinya. Kenji tengah menonton kartun kesayangannya di televisi. Agust yang bosan pergi bergabung dengan Kenji untuk menonton.


"Nonton apa kamu Kenji?" tanya Agust duduk di sebelah Kenji.


"Pororo Ka," jawab Kenji.


"Pororo itu apa?"


"Itu Ka, yang penguin kecil itu!" tunjuk Kenji menunjuk penguin kecil memakai topi pilot pesawat terbang.


"Oh, ceritanya tentang apa itu?"


"Ini episode pororo dongeng-dongeng, kisah Beauty and the Beast,"


"Wah...benarkah!" antusias Agust tertarik. Dia fokus menonton film kartun itu dengan seksama.


Di layar menampilkan bagaimana penyerangan babi hutan kepada Beast hingga dia terluka dan tidak sadarkan diri dalam pangkuan Belle.


Airmata yang jatuh dari mata Belle karena kesedihannya jatuh di wajah Beast hingga cahaya terang menyilaukan muncul.


Beast yang buruk rupa pun berubah menjadi pria nan tampan.



"Benar kata Archi, cinta sejati yang tulus yang merubah Beast menjadi manusia. Tetapi aku saja nggak tahu kalau Archi itu mencintai aku atau nggak," bisik hati Agust.


"Dia bahkan kelihatannya cuek aja. Satu-satunya alasan dia menangis karena nggak tahan harus menyembunyikan keadaanku yang sebenarnya kepada keluarganya. Hufh...pasrah aja deh kalau harus begini terus," pungkas batinnya melanjutkan menonton bersama Kenji.


Di jam pulang kerja, di kantor Archi.


"Mane neng fotonya," tagih Susan di meja kerja Archi.


"Tau nih, ada kali seabad kita nungguin," timpal Andini.


"Rada peres sih, tapi ya bener juga kita nungguin loh,"


"Ya ngapain sih ampe ditungguin gitu. Cuman foto kan nggak penting." Archi menyahut dengan acuh sambil memasukan iPod ke tasnya.


"Pentinglah, kita kan mau tahu seperti apa pilihan Ayahmu untukmu," sahut Susan menedengkan tangannya di hadapan Archi.


"Iya...iya...," Archi merogoh tas slempang midi nya dan mengeluarkan handphone Samsul Galaxy berwarna ungu miliknya.


Jd teringat 'No IPhone only Galaxy .... Kata-kata yang diucapkan Agust D di konsernya tempo lalu.


"Nih...!" Archi menyodorkan handphone yang memuat gambar Agust. Gambar yang semula asal cekrek karena si miaw masih malu di foto untuk pertama kalinya. Namun karena dia sudah tampan dari sananya, foto yang terlihat sangat luar biasa.



"Wah gila sih ini!" Seru Susan.


"Mana...mana!" Andini merebut handphone dari tangan Susan. "Wow...amazing!" Andini menutup mulutnya yang menganga dengan telapak tangan.


"Ya Allah...giling...ganteng banget Chi!" sahut Icha


"Ada lagi nggak Chi stok kaya gini?" tanya Susan.


"Mang dikira barang stok," sahut Archi.


"Tanya bokap lu lah masih ada nggak yang buat dijodohin. Gue mau kalau modelan kaya gini," timpal Andini.


"Gue juga Chi!" sahut Icha.


Archi hanya bisa menepuk dahi melihat kelakukan teman-temannya yang terkagum-kagum pada suaminya. Padahal mereka nggak tahu bagaimana ceritanya dia bisa bersama Agust sekarang ini.


"Kalian lagi membicarakan apa nih?" tanya Ridwan kepo diantara sahabat-sahabat Archi.


Andini memencet tombol power handphone Archi hingga layarnya padam.


"Nggak ngomongin apa-apa kok Pak," jawab Susan.


Sekilas Ridwan melihat foto Agust di handphone Archi sebelum layarnya menghitam.


"Kalian kok belum pulang?" tanya Ridwan.


"Ini baru mau pulang, Pak!" jawab Icha.


"Ya udah, kita turun sama-sama, ya!" ajak Ridwan.


Archi berdiri menyandangkan tali tas di bahunya. Dia dan Ridwan sama-sama menanti Susan dan yang lain mengambil tas mereka.


Mereka berjalan bersama menuju ke luar gedung kantor. Susah, Andini dan Icha seolah sengaja membiarkan Archi jalan berdua dengan Ridwan di belakang.


"Kamu mau ya, aku antar pulang?" Ridwan menawarkan diri.


"Nggak usah Pak. Saya sama mereka aja," jawab Archi menolak halus.


"Kenapa? Ada yang cemburu ya kalau aku mengantar kamu pulang?" pancing Ridwan.


"Siapa yang akan cemburu? Si kucing? Apa dia bisa cemburu?" pikir Archi.


"Kok malah bengong? Bener berarti, ya?" goda Ridwan.


"Nggak kok Pak. Nggak ada yang cemburu. Paling Ayah saya yang marah kalau anak perempuannya dekat dengan pria yang bukan mahram ," jawab Archi.


"Ayahmu sampai segitunya?" tanya Ridwan.


"Iya Pak."


"Berarti harus dijadikan mahramnya dulu, ya?" tanya Ridwan menggoda Archi.


Archi tersenyum sambil tersipu. Meskipun dia menyadari nggak seharusnya dia baper karena status nya sekarang, tetapi mendengar orang yang pernah mengisi hatinya mengatakan itu tetap membuat hatinya berbunga-bunga.


"Semua!" tiba-tiba Ridwan memanggil tiga sahabat Archi. "Kita makan dulu yuk! Aku yang traktir," ajaknya.


Mereka bertiga melongo dengan ajakan mendadak Ridwan. Dan tanpa ba bi bu be bo mereka segera menjawab mau.


"Hadeuuuh!" Keluh Archi di dalam hatinya.


"kita makan di steak and shake aja ya? Itu kan dekat dari sini,"


"Iya pak... Dimana aja kita mau asal gratis mah!" ceplos Susan seperti biasa.


Mereka pun berjalan bersama ke tempat makan yang mereka tuju.


Sementara di rumah Archi . . .


Kenji, Ibu, Ayah dan Agust tengah menonton kartun favorit Kenji di televisi. Kartun yang ditayangkan seperti minum obat, tiga kali sehari, nggak pernah membuat Kenji bosan. Meski terkadang episodenya selalu berulang


Sementara mereka menonton berkali-kali Ayah memergoki Agust menengok jam di dinding. Wajahnya tampak cemas. Sepertinya dia menunggu Archi pulang.


Ayah mengirim pesan singkat ke Archi dan menanyakan keberadaan Archi


^^^^^^Aku ada acara makan-makan ayah.^^^^^^


Balasan pesan Archi.


"Archi sedang ada acara kantor," kata Ayah meneruskan pesan dari Archi.


Agust mengangguk dan mengobati resahnya. Dia kembali fokus dengan tontonan nya sambil mengajak Kenji berbicara mengenai film kartunnya.


Selesai makan malam bersama, Ridwan mengantarkan Archi pulang ke rumah dan memesankan ketiga temannya satu ojek mobil dengan beberapa tujuan untuk mengantarkan mereka pulang.


"Maaf Anda jadi mengeluarkan banyak uang untuk kami, Pak," kata Archi.


"Itu bukan masalah. Kan aku yang mengajak kalian," Ridwan tersenyum sambil fokus ke jalan.


"Kalau di luar kantor kamu jangan panggil aku pak dong Archi," protes Ridwan.


"Anda kan atasan saya, Pak!" jawab Archi.


"Kita aja satu kuliah Archi. Umur kita juga sama. Hanya saat melamar aku jadi Manager dan kamu jadi karyawan biasa,"


"Tetap aja aku nggak enak kalau manggil dengan nama," jawab Archi.


Sesampainya di depan rumah Archi, Ridwan menghentikan mobilnya dan segera keluar untuk membukakan pintu mobil untuk Archi.


"Terimakasih Pak!" ucap Archi keluar dari mobil.


"Nggak usah sungkan!" jawab Ridwan tersenyum ramah.


Dari jendela ruang tamu, di balik gorden seseorang tengah memperhatikan Archi dan Ridwan yang sedikit berbincang sebelum berpamitan.


"Siapa pria itu?" tanya Agust penasaran.


...****************...