
Esok harinya Archi berangkat bekerja dengan perasaan riangnya.
"Waduh...waduh...padahal di luar mendung loh," goda Andini.
"Pantes mendung, mentarinya ada di wajah Archi, tuh! Dia kelihatan bersinar banget," sahut Susan.
"Cie..., kelihatannya senang banget nih," timpal Icha.
"Udah dapat malam pertama ya Chi?" bisik Susan.
"Astaga si Susan!" kawan-kawannya mengurut dada. Susan tertawa geli.
"Oh iya. Kemarin dia kan abis nonton sama suaminya."
"O iya. Pantes dia seneng banget gitu."
"Kencannya berhasil ya?" tanya Icha.
Archi mengangguk semangat.
"Udah ada tanda-tanda terang. Tinggal nunggu dia menyatakan aja deh." ujar Archi.
"Belajar dari pengalaman dengan Ridwan sampai akhirnya ditikung suamimu, apa mungkin Agust bisa menyatakan cintanya?" kata Andini.
"Kok kamu gitu sih. Doain dong biar Agust nggak kaya gitu,"
"Iya...iya. Maaf," jawab Andini sambil nyengir.
"Kalau Agust kan suami kamu. Kalau dia nggak mau menyatakan cintanya, kamu todong aja. Tanyain dia cinta sama kamu apa nggak, gampang kan."
"Iya, sama suami sendiri. Nggak perlu malu kaya ke pacar. Susan aja nggak pernah malu sama pacarnya. Malah malu-maluin nyosor terus kerjaannya."
"Hush...ujung-ujungnya pasti gua lagi deh." mereka pun tertawa bersama melihat Susan merasa kesal.
"Tumben Manager nggak nongol nih." kata Andini.
"Dia ada rapat di luar." jawab Susan.
"Wih...tau jadwal Manager nih." sahut Icha.
"Taulah, kan aku dekat sama,"
"Sama Manager?"
"Sama sekretarisnya lah. Hahahaha!"
"Rese lu. Kirain lu mau nikung Archi,"
"Dih kok jadi nikung aku? Aku kan udah punya." jawab Archi tersipu sendiri.
"Cie....yang dah punya!" ledek semua sambil tertawa.
"Nggak nyangka si Archi bisa jatuh cinta sama suaminya sendiri," ucap Icha.
"Lebih baik suami sendiri daripada suami orang hayo," sahut Andini.
"Lagian, bisalah dia jatuh cinta sama suaminya, orang suaminya ganteng gitu. Jangankan Archi gua aja mau kalau dikasih," timpal Susan.
"Hadeuuuh...!" sahut semua menepuk dahi masing-masing.
Sepulang bekerja, Archi membelikan martabak telor yang belum sempat jadi Agust makan waktu itu.
Dengan mengendap-ngendap Archi memasuki rumah dan segera pergi ke kamarnya.
"Kejutan!" seru Archi berbisik sambil menutup pintu kamarnya lagi.
Agust melonjak kaget dari kursi meja belajar. Dengan buru-buru dia menutup kertas yang dia tulisi.
"Wah...martabak!" serunya menghampiri Archi.
"Ayo kita makan tanpa nasi," kata Archi menyerahkan kotak martabak ke Agust.
"Asyiiik!!!" kata Agust.
"Kamu nulis apa sih?" Archi menyuruk ke meja belajar dan Agust mencegahnya dengan merangkul pinggang Archi dengan lengannya.
"Aku mau lihat!" Archi menarik kertasnya dan terpana melihat tulisan Agust.
"Kamu bisa menulis hangeul?" kata Archi terperangah menatap kertas-kertas itu.
"Daebak!" puji Archi.
"Apa arti tulisanmu ini?" tanya Archi.
"Aku suka kpop tapi aku nggak bisa bahasa korea," Archi nyengir.
"Itu nggak ada artinya. Aku aja bingung nulis apa."
"Bohong! Masa nulis tapi nggak ngerti artinya."
"Udah ayo makan martabaknya, aku udah nggak sabar makan." kata Agust duduk di atas tempat tidur.
Mereka pun memakan martabak bersama.
Ceklek....
Pintu kamar Archi. Mereka menoleh dengan mulut penuh martabak.
"Hayo....ketahuan!" seru Ibu dari pintu kamar yang terbuka. Memperlihatkan dirinya bersama Ayah dan kakak.
"Bagi dong!" kata Kakak memasuki kamar Archi mencomot martabrak.
"Bukan pakai nasi Archi," kata Ayah ikut nyomot.
"Itu ayah ikut makan," sahut Ibu mengambil martabaknya.
"Sekali-sekali nggak apa-apa." timpal Ayah terkekeh.
"Ganggu romantisan orang aja sih kalian," keluh Archi sekedar bergurau.
"Keinginan ibu bisa cepat terwujud," timpal Ayah.
"Aaamiiin!" seru kakak dan Ibu berbarengan.
"Keinginan apa sih?" tanya Agust yang bingung.
"Diam! Nggak usah dengerin mereka!" kata Archi menutup telinga Agust.
"Apa? Kasih tahu aku!" kata Agust dengan gummy smilenya.
"Nggak usah tahu!"
Beberapa hari kemudian. Agust sudah mulai bekerja karena tangannya sudah tidak terasa sakit lagi.
"Pemulihanmu cepat juga ya Agust!" kata Irene tersenyum bahagia.
"Iya Nona." jawab Agust.
"Cuman kamu jangan kerja berat-berat dulu. Untuk sementara kamu akan aku tempatkan sebagai waiters ya," kata Irene.
"Baik Nona. Kalau saya bagaimana Nona saja. Masih bisa bekerja di sini saya sudah sangat senang sekali Nona."
Agust pun berjalan untuk merapihkan bekas makan pelanggan di meja dekat pintu. Agust bekerja dengan perasaan senangnya. Melihat Agust yang ceria, beberapa pelanggan gadis dari sekolah menengah pertama sepertinya menyukai Agust sejak pandangan pertama.
Saat jam istirahat, Agust menyempatkan menelepon Archi.
"Kamu udah makan?" tanya Agust di telepon.
"Pasti makannya dekat-dekat sama Managermu deh!" tebak Agust.
^^^"Hahaha.... Memang kenapa kalau dekat Manager?"^^^
^^^"kamu cemburu ya?"^^^
"Nggak ih," jawab Agust pura-pura.
"Agust!" panggil Irene dari belakang Agust.
"Ya Nona!" Agust menoleh.
"Sebentar ya, aku dipanggil bosku," kata Agust lalu menutup teleponnya.
Di kantor Archi....
"Aneh banget sih? Ini kan jam istirahat kok bosnya malah ganggu jam istirahat Agust?" pikir Archi merasa jengkel.
Kembali ke Irene Pizza.
"Aku tahu kamu lagi istirahat tapi bisakah kamu menolongku?" tanya Irene dengan lembut.
"Menolong apa Nona?"
"Aku perlu berbelanja untuk keperluan resto. Kamu kan bisa menyetir, tolong antar aku ya?" pinta Irene.
"Oh, baiklah."
"Ini kunci mobilnya." kata Irene memberikan kunci mobilnya ke tangan Agust.
Irene mengajak Agust ke sebuah mall dimana tempat jual furniture dan perlengkapan rumat terlengkap berada.
Di sana Irene melihat-lihat barang yang akan dia beli.
"Wah....ini cantik ya Agust?" tanya Irene kepada Agust yang mengekorinya sambil mendorong troli.
"Iya bagus," jawab Agust tersenyum.
Sempilin foto ayang biar nggak kangen ditinggal wamil ðŸ˜
"Itukan lampu tidur. Lampu tidur di restoran untuk apa?" pikir Agust merasa aneh sambil menaruh lampu tidur berbentuk kelinci tidur dibulan ke dalam troli belanjaan.
Sedari tadi muter-muter, yang Irene beli kebanyakan adalah keperluan di rumahnya. Hanya beberapa item yang dia beli untuk di resto.
Irene berjalan bersama Agust di sisinya. Entah disengaja atau tidak, Irene melingkarkan lengannya di lengan Agust. Dengan perlahan Agust melepaskan tangan Irene.
"Eh...maaf. Aku suka kebiasaan sama mantan tunangan aku begini," kata Irene malu-malu.
Selesai muter-muter di supermarket perabotan, Irene mengajak Agust makan sebelum pulang.
Ketika tengah makan mereka berbincang. Irene berbicara sesuatu yang lucu dan tertawa. Namun Agust hanya tersenyum saja dan lebih terlihat canggung.
Saat tertawa jemari lentik Irene menggenggam jemari Agust. Wajah mereka berdua bersamaan memerah.
"Maaf Agust. Aku kebiasaan begitu kalau tertawa, suka menggenggam tangan," kata Irene memberi alasan.
"Iya Nona. Sudah sore, kita kembali ke resto ya Nona."
"Kalau di luar resto jangan panggil Nona dong. Panggil Irene saja." pinta Irene.
"Tapi ini kan resto," jawab Agust.
"Maksudnya restoran pizza aku Agust. Kamu orangnya lucu banget ya." kata Irene.
Kemudian di Irene's Pizza. Vita melihat Irene memandang terpesona ke arah Agust.
"Nona maaf, Mas Agust kan sudah punya istri," kata Vita.
"Aku tahu," jawab Irene merubah aura tatapannya. Dia menatap Agust dengan pandangan angkuh.
"Tetapi aku yakin bisa merebut Agust dari istrinya," kata Irene dengan yakinnya.
"Istrinya bahkan kurang menarik dibandingkan dengan diriku. Agust lebih cocok bersamaku daripada dengan gadis itu," batin Irene dengan congkaknya.
...~ bersambung ~...