Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
66. Di buang sayang


Ini versi lain dari Chapter 65 ya. Boleh di skip. Di baca juga boleh banget kok 😹 Awalnya mau dibuat begini tapi kasihan Agust nya ntar makanya tak skip. Tapi kok sayang juga kalau di hapus. Makanya aku masukin aja di sini 😹 komen ya lebih suka yang mana 😉


...----------------...


Ridwan menekan tombol darurat lagi.


"Kenapa lama sekali?" tanya Ridwan kepada petugas yang tersambung.


"Sedang kami usahakan Pak."


"Ada orang sakit di sini cepatlah!" pekik Ridwan emosi.


"Iya pak!"


"Bila terjadi sesuatu pada Archi aku tuntut hotel ini. Tapi, masa aku nuntut hotel aku sendiri?" pikir Ridwan kembali menghampiri Archi.


"Archi!" bibir Archi terlihat semakin pucat dan ungu. Suhu tubuh Archi turun secara drastis.


"Ya Tuhan Archi...bagaimana ini? Aku takut kamu kena hipotermia. Apa yang mereka lakukan? Kenapa liftnya belum berfungsi?" kesal Ridwan sambil memeluk Archi.


"Baju Archi basah. Bila kelamaan memakai baju ini, kondisinya bisa semakin parah. Tapi, masa aku harus membuka bajunya di sini?" pikir Ridwan terlihat bimbang.


"Agust....Agust....!" Archi mulai mengigau.


"Saat seperti ini nama orang itu yang dia sebut," gumam Ridwan.


"Archi...bertahanlah!"


Kondisi Archi semakin mengkhawatirkan dengan suhu tubuhnya yang terus turun.


Lebih dari sejam lift baru selesai diperbaiki dan pintunya berhasil di buka. Para teknisi masih berada di depan pintu lift untuk berjaga. Begitu juga kawan-kawan Archi menanti dengan cemas.


Dengan bertelanjang dada Ridwan membopong Archi yang tertutup selimut menuju ke klinik. Kawan Archi melihat baju basah Archi tergeletak di dalam lift. Mereka mengambil tumpukan baju tersebut.


"Dia kena hipotermia cepat lakukan tindakan!" perintah Ridwan menidurkan Archi di tempat tidur pasien.


"Baik Tuan, silahkan tunggu di luar!" kata suster jaga.


"Tuan," seorang staff memberikan selimut untuk menutupi bagian atas tubuh Ridwan.


"Terimakasih," jawab Ridwan dengan cemas menunggu diluar klinik.


"Kalian ambilkan baju dan perlengkapan Archi yang lain." perintah Ridwan kepada Andini, Susan dan Icha.


"Baik Pak!" mereka bergegas ke kamar mereka.


Ridwan menunggu dengan cemas di luar klinik.


Di kamar hotel Susan, Andini dan Icha.


"Kalian lihat tadi?" bisik Andini.


"Lihat. Sepertinya Pak Ridwan membuka baju Archi." jawab Icha.


Setelah mereka membawa baju dan perlengkapan Archi lainnya.


Ridwan pun sudah kembali ke depan klinik dan berganti pakaian.


"Ini Pak." kata Andini menunduk malu.


"Kalian jangan berpikir macam-macam. Aku nggak berbuat apa-apa sama Archi. Aku membuka bajunya untuk membuatnya nggak kedinginan dengan baju basah. Kalau dibiarkan terlalu lama bisa membahayakan kondisi Archi." kata Ridwan menjelaskan kepada teman-teman Archi.


"Jangan sampai ada orang lain yang tahu. Archi juga nggak boleh tahu soal ini. Nanti dia shock dan berpikiran macam-macam." Pesan Ridwan.


"Baik Pak." jawab kawan-kawan Archi berbarengan.


Dalam ingatan Ridwan, dia mengingat saat Archi berada dalam pangkuannya. Dia menutup tubuh Archi dengan selimut dan membuka baju basah Archi secara perlahan dari balik selimut. Mencegah terlihat ataupun terekam CCTV bila menyala. Untuk memberikan rasa hangat di tubuh Archi, Ridwan membuka bajunya yang basah dan memeluk Archi dalam selimut yang sama. Mencoba mentransfer panas tubuhnya kepada Archi.


"Bila keadaannya lagi nggak darurat bisa saja aku khilaf." pikir Ridwan.


Lamunannya hilang ketika pintu klinik terbuka.


"Kondisi pasien sudah semakin membaik Tuan. Tetapi untuk berjaga-jaga kita perlu membawanya ke rumah sakit besar." kata Dokter yang menangani Archi.


"Baiklah kalau begitu." kata Ridwan.


"Kalian tetap di sini dan hubungi keluarga Archi ya. Aku akan menemani Archi ke rumah sakit." kata Ridwan.


"Baik Pak." jawab Andini.


Di rumah sakit. Setelah melakukan screening, Archi dipindahkan ke ruang perawatan.


"Syukurlah kamu baik-baik saja Archi!" ucap Ridwan duduk di kursi di sebelah tempat tidur Archi. Dia pun mengirimkan pesan kepada teman Archi nama dan nomor ruangan perawatan Archi.


Sebelumnya keluarga Archi telah dihubungi Archi dibawa ke rumah sakit umum daerah dekat sana. Sehingga mereka langsung berangkat ke sana.


Handphone Ridwan bergetar,


"Halo...kenapa?.... Aku belum bisa ke sana. Nanti kalau," kata Ridwan di telepon.


"Ridwan, bagaimana keadaan Archi?" tanya Ayah sudah datang.


"Dia sudah baik-baik saja Om." jawab Ridwan.


"Alhamdulillah ya Allah."


"Karena Om sudah di sini, saya izin pamit ya Om. Ada urusan mendadak yang harus saya tangani," kata Ridwan.


"Oh...iya Nak Ridwan. Terimakasih atas bantuan dan pertolongannya." ucap Ayah.


"Iya Om sama-sama." jawab Ridwan.


Ridwan pun bergegas keluar sambil tetap menelepon dengan handphonenya. Dia menanti lift. Pintu lift terbuka, orang dari dalam berhambur keluar. Ridwan masuk ke dalam lift.


"Agust... Ke sini!" panggil Ibu yang keluar dari lift bersamaan dengan orang-orang yang keluar tadi.


Mendengar nama itu, perhatian Ridwan teralihkan. Dia menatap ke depan dan mencari pemilik nama itu berada. Namun pintu lift segera tertutup hanya memperlihatkan tubuh belakang seorang pria.


Tidak lama kemudian. Archi sadar dari tidur panjangnya.


"Archi...syukurlah kamu sudah sadar Nak!" ucap Ibu sambil menitikan airmata.


"Ibu..." ucap Archi lemas.


"Aku kenapa bu?" tanyanya.


"Kamu terkena hipotermia,Archi." jawab Ayah.


"Beruntung kamu cepat mendapat pertolongan. Ridwan yang menolongmu." jawab Ayah.


"Oh...," Archi mencoba duduk.


"Apa kamu sudah baik-baik saja Archi" tanya Agust membantu Archi duduk.


"Sudah aku rasa." jawab Archi.


"Aku mau pulang aja ibu." kata Archi.


"Nggak bisa sekarang Archi. Besok baru boleh pulang." jawab Ayah.


"Untuk malam ini kamu menginap dulu di sini. Nanti kamu sama Agust. Kami harus pulang dulu. Besok kami ke sini lagi untuk jemput kamu, ya." sambung Ayah.


"Iya Ayah."


Panggilan video di handphone Archi. Archi menerima panggilan videonya.


"Udah," jawab Archi tersenyum malu.


"Maaf ya nggak bisa jenguk. Kita masih ketahan di sini sehari lagi." kata Andini meringis.


"Iya nggak apa-apa. Kalian seneng-seneng aja di sana." sahut Archi.


"Seneng dari mana. Malesin tahu di sini." timpal Susan.


"Archi dah mau mulai lagi acaranya. Selamat istirahat ya Archi. Cepat sembuh!"


"Iya aamiin. Dah semua!"


"Dah Archi!"


Panggilan video pun terputus.


Keesokan harinya....


Sarapan pagi diantarkan oleh suster.


"Selamat pagi! Sarapannya Nona!" sapa suster dengan senyum manisnya.


"Iya sus," jawab Archi.


Suster menaruh nampah sarapannya di meja tinggi sebelah tempat tidur lalu pergi keluar.


"Sarapannya Archi. Mau aku suapin?" tanya Agust mengambil nampan makanan dan ditaruh dipangkuannya yang duduk di tepi tempat tidur.


"Iya dong. Aku kan lagi sakit," jawab Archi dengan bibir manyun.


"Hadeuuuh....gantian manja nih ceritanya lagi sakit," ledek Agust.


"Iya dong. Kamu jadinya nggak kerja hari ini?" tanya Archi.


"Aku udah izin lewat WA ke Nona Irene." jawab Agust menyuapkan makanan di sendok ke mulut Archi.


Belum separuh sarapan Archi habis, handphone Agust bergetar. Agust melihat layar handphone yang menyala dan panggilan masuk dari Irene.


"Nona Irene," bisik Agust.


"Angkat aja!" suruh Archi.


"Tapi,"


"Udah angkat dulu!" Agust pun mengikuti keinginan Archi meski perasaannya sudah nggak enak.


"Halo...iya Nona. Tapi istri saya lagi sakit. Lagi di rumah sakit," jawab Agust di telepon. Archi hanya bisa menyimak ekpresi Agust yang tertekan menerima panggilan dari Irene.


Panggilan terputus. Agust kembali duduk dan memangku nampan makanannya lagi.


"Kenapa?" tanya Archi.


"Nggak pentinglah." jawab Agust malas.


"Kenapa ih?" paksa Archi memegang lengan Agust.


"Bos Irene nyuruh masuk kerja. Kalau nggak masuk dia bakal mecat aku." jawab Agust.


"Ya terus,"


"Terus apaan. Ya aku nggak mau masuk."


"Jangan gitu. Udah kamu masuk kerja aja. Daripada di pecat hayo."


"Ya biarin. Aku lebih nggak tega ninggalin kamu daripada dipecat bos Irene. Apalagi Ayah sama Ibu aja belum datang."


"Udah aku nggak apa-apa. Kamu berangkat kerja aja ya." bujuk Archi.


"Tapi Archi,"


"Aku aja disuruh Ridwan kerja akhirnya berangkat kerja juga kan. Kamu juga, kerja aja. Daripada di pecat. Aku beneran deh nggak apa-apa. Aku udah mendingan kok. Sebentar lagi Ayah sama Ibu pasti datang." jawab Archi.


"Aku nggak keberatan kok di pecat."


"Jangan Agust. Udah kamu berangkat kerja aja." Archi bersikeras.


"Aku pesenin taksi online ya," Agust mengangguk dengan tawaran Archi.


Karena permintaan Archi, walau enggan akhirnya Agust mengalah dan berangkat kerja.


"Hati-hati di jalan ya Agust!" Archi melambaikan tangan saat Agust akan berangkat.


Agust tersenyum berat melangkahkan kaki dan membalas lambaian tangan Archi.


"Padahal aku nggak masalah kalaupun dipecat. Tapi Archi maunya aku tetap bekerja." bisik hati Agust merasa murung.


"Aku tahu pekerjaan ini sangat berarti buat kamu. Sulit buat kamu mendapat pekerjaan itu. Akan sulit bagimu kalau kamu sampai nggak bekerja lagi," pikir Archi.


Langkah kaki terdengar mendekati kamar perawatan Archi. Archi mengira itu adalah Agust yang kembali. Pintu kamar pun terbuka.


"Pagi Archi!" sapa suara itu memperlihatkan kepalanya dari balik pintu dengan senyum mengembang cerah.


"Pak Ridwan!" seru Archi.


Ridwan masuk ke dalam kamar perawatan Archi dengan membawa kotak berisi donat dari merk ternama.


"Belum ada yang buka sepagi ini. Nemu ini doang!" kata Ridwan memberikan plastik kotak donat kepada Archi.


"Iya pak. Terimakasih. Jadi merepotkan." jawab Archi.


"Nggak repot kok." Ridwan menarik kursi ke dekat tempat tidur Archi.


"Kamu kok sendirian?" tanyanya melihat sekeliling.


"Agust kerja, ayah sama ibu belum datang." jawab Archi.


"Oh. Ini sarapan kamu belum dihabisin?" tanya Ridwan duduk di tepi tempat tidur.


"Aku suapin ya?" kata nya lagi menawarkan diri.


"Boleh. Aku lapar soalnya," jawab Archi sambil nyengir.


"Terimakasih ya Pak atas pertolongannya kemarin."


"Biasalah Archi, aku senang kok bisa nolongin kamu." jawab Ridwan sambil nyuapin Archi makan.


"Kamu nggak ikut acara gathering?" tanya Archi.


"Nggak, aku udah izin atasan untuk absen acara pagi hari ini. Siang baru ke sana."


"Hem..., enak ya jadi atasan bisa izin izin dengan mudah. Nggak kaya kami harus takut ancaman surat peringatan," sindir Archi.


Ridwan tertawa lepas.


Satu jam kemudian. Ridwan dan Archi mengobrol santai di atas tempat tidur sambil bercanda-canda.


"Loh...Agustnya kok berubah?" gurau Ibu saat memasuki ruangan bersama Ayah dan Kakak.


"Eh...ada mantan calon adik ipar....ups.... keceplosan!" kata Kakak dengan mata membesar sambil menutup mulutnya dengan tangan. Membuat semua jadi merasa canggung.


...~ bersambung ~...