
Setelah menunggu cukup lama, pegawai tadi datang bersama seseorang di belakang punggungnya.
"Ini tuan, Agus nya. Maaf lama. Dia baru sampai dari mengantar pesanan."
"Oh iya nggak apa-apa." jawab Ridwan.
Agus yang dimaksud pegawai keluar dari balik punggung pegawai yang membawanya. Ridwan tercengang melihatnya.
"Bukan..., bukan Agust ini yang saya maksud," sangkal Ridwan. Setelah melihat Agus ini yang memiliki kulit berwarna coklat dan tingginya kurang dari 170 sentimeter.
"Tapi cuman saya Agus yang kerja di restoran pizza ini Tuan," jawab si Agus.
"Oh, gitu. Ya udah kalau gitu. Maaf sudah merepotkan, ya." kata Ridwan lalu pamit pergi.
Ridwan keluar dari restoran pizza dengan wajah kecewa.
"Aku pikir aku bisa melihat Agust suami Archi. Kalau aku sengaja main ke rumahnya tanpa keperluan, nggak etis juga." gumam Ridwan, memasuki mobilnya.
Hampir sebulan sudah Agust bekerja di Irene's Pizza. Hari ini Agust pun mendapatkan gaji pertamanya. Untuk syukuran Agust membelikan dua kotak Pizza ukuran large di Irene's Pizza untuk keluarga Archi.
"Wah...pizza!" seru Archi saat Agust pulang mengambil gajinya. Karena ini hari minggu Agust pun libur bekerja.
"Terimakasih Agust, traktirannya!" ucap kakak mencomot pizzanya.
"Sama-sama, Kak. Maaf hanya bisa mentraktir ini. Karena gajiku juga ngga gede-gede amat." kata Agust.
"Wah...ini sudah bagus Agust. Alhamdulillah makan Pizza." jawab Ayah ikut makan. Begitupun Ibu dan Kenji.
"Aku doyan banget pizza," Kata Kenji dengan mulut penuh pizza.
"Aku makan satu aja deh. Takut nambah berat badan aku," kata Kakak yang sangat menjaga penampilannya agar tetap menarik di layar kaca sebagai pembaca berita yang cukup dikenal di negara ini.
"Satu lagi lah Kak. Kasian Agust udah beliin buat kita masa kakak makannya satu doang," kata Archi.
"Iya...iya deh. Demi Agust ini," kata Kakak mengambil satu potong pizza lagi.
Setelah pesta pizza, Agust dan Archi kembali ke kamar mereka.
"Archi...," panggil Agust menyembunyikan sesuatu dibalik punggungnya. Wajahnya memerah malu.
"Kenapa?" tanya Archi penasaran melihat Agust yang salah tingkah.
"Ini untukmu!" Agust menyodorkan sebuah tas sling bag berwarna hitam kepada Archi.
"Hadiah dari gaji pertamaku," sambungnya.
Archi terpukau melihat tas untuknya dengan.
"Wah Agust...beneran buat aku?" tanyanya terlihat sangat senang mengambil tas dari tangan Agust.
"Iya. Maaf bukan tas branded yang mahal. Hanya tas kw murah." katanya memelas.
"Aku nggak mikirin brand nya Agust tapi fungsinya. Ini bagus loh warna dan ukuran pas cocok sama yang aku suka," kata Archi sambil menyampirkan tasnya di bahu.
"Syukur deh kalau kamu suka," kata Agust tersipu.
"Besok mau aku pakai bekerja," kata Archi tersenyum.
Agust merasa sangat senang, terharu sekaligus bangga karena barang pemberiannya di sukai Archi.
"Dan ini Chi," Agust memberikan uang sisa gaji nya.
"Sisa gaji aku, yang udah kepakai beli pizza sama tas." sambung Agust.
"Kok dikasih ke aku? udah kamu pegang aja untuk keperluan kamu," tolak Archi mendorong tangan Agust yang memegang uang gajinya mundur dari hadapannya.
"Nggak Chi. Gaji suami diberikan kepada istrinya untuk dikelola. Aku hanya akan meminta beberapa untuk pegangan ku," jawab Agust memajukan tangannya lagi kepada Archi.
"Ya sudah kalau gitu. Aku terima ya uangnya," ucap Archi mengambil uang dari tangan Agust.
Esok hari ketika bekerja, Archi benar menggunakan tasnya untuk bekerja. Dengan perasaan riang ia datang ke kantor.
"Wih...tas baru nih!" seru Andini.
"Iya dong," jawab Archi.
"Idih...tas kw gitu doang!" sahut teman kantor Archi si bigos, biang gosip, Welin. Yang kebetulan lewat depan meja Archi hendak menuju mejanya.
"Memang kenapa kalau tas KW masalah buat loe." timpal Andini.
"Masalah lah. Kita harus menghargai brand yang sudah mengeluarkan produk aslinya." jawab Welin.
"Pagi Semua!" sapa Ridwan yang baru saja datang.
"Pagi, Pak!" jawab Andini dan Archi. Ridwan berkedip ke Archi. Membuat Archi terkesiap hingga dia tersipu tapi juga malu.
"Ya ampuun... Ridwan Ridwan... Kebiasaan suka bikin aku salting. Tapi kan sekarang sudah berbeda. Aku sudah punya Agust." batin Archi berubah murung.
"Aku jadi bertanya, mana yang lebih baik, saat dia marah setelah mengetahui aku sudah menikah atau saat ini, saat dia tetap baik kepadaku meskipun aku sudah menikah?" tanya hatinya bimbang.
Kemudian, jam kerja dimulai. Keadaan di ruangan itu mulai terasa hening, hanya terdengar suara ketikan keyboard, gesekan mouse di meja, kres kres kertas, pulpen yang menggesek kertas ketika dipakai menulis.
Keadaan itu terusik tatkala sebuah tapak sepatu terdengar memasuki ruang kerja mereka. Dari sudut mata mereka menoleh dengan rasa penasaran ke arah suara sepatu.
Seorang kurir datang dengan sebuah paperbag di tangannya. Di depan paperbag itu dengan jelas tertulis nama merk dari brand ternama.
"Permisi!" ucap kurir itu kepada Archi yang kebetulan mejanya paling dekat dengan jalan masuk ruangan.
"Iya," jawab Archi.
"Saya mencari Kak Archila," kata kurir itu.
"Archila?" sahut Archi bingung, kenapa kurir ini mencari orang yang bernama sama dengannya. Sementara dirinya tidak memesan apapun yang perlu diantar kurir.
"Saya Archila," jawab Archila tiba-tiba jadi gugup.
"Oh, ini pesanannya Kak," kata kurir tersebut menyerahkan paperbag bertuliskan GUCCI itu.
"Saya pesan apa?" tanya Archi bingung.
"Saya juga kurang tau Kak. Saya cuma disuruh mengantarkan. Kalau ada komplain silahkan hubungi official store yang ada di mall sebelah ya Kak." pesan sang kurir.
Archi menatap ke pintu ruangan Ridwan yang berhadapan dengan meja kerjanya.
"Oh, oke. Terimakasih ya," jawab Archi. Kurir itupun pergi.
"Wih...langsung pesen dong!" seru Andini sengaja dengan suara lantang agar Welin mendengar.
"Memangnya yang bisa beli merk Gucci satu orang doang!" timpal Susan juga.
"Shuttttt!" Archi menyuruh mereka diam dengan menaruh telunjuk dibibirnya yang manyun.
Sementara Archi melihat Welin misah misuh di meja kerjanya.
"Lucu sih, liat tu orang kena ulti. Tapi bukannya ini terlalu berlebihan ya? Ini pasti ulah Ridwan." kata hati Archi.
"Ini pasti pesanan Pak Ridwan," bisik Andini ke dekat Archi.
"Aku juga mikir gitu."
"Iya kan. Nggak mungkin ini barang kepesan sendiri atas nama kamu," timpal Andini lagi.
Mata Archi memandang ke pintu ruangan Ridwan lagi.
Sepulang bekerja Archi diantar pulang oleh Ridwan. Dalam perjalanan mereka.
"Ini, aku kembalikan." kata Archi menaruh paperbag yang belum dia sentuh isinya itu ke bangku belakang.
"Aku nggak bisa menerima barang semewah itu." sambung Archi kembali meluruskan badannya ke depan.
"Jangan gitu dong Chi. Aku kan ngasih itu buat kamu."
"Jangan kasih aku barang-barang apapun lagi Ridwan. Aku ini sudah punya suami yang harus aku jaga perasaannya." kata Archi.
"Apa salahnya sih nerima barang pemberian dari temannya," sahut Ridwan terdengar dongkol dari nada suaranya.
"Teman laki-laki? Siapapun bisa salah sangka ketika teman laki-laki memberikan hadiah kepada teman wanitanya." timpal Archi.
"Ayolah Chi," Ridwan mendelik jengkel ke jendela mobil sampingnya.
"Kalau suamimu nggak bisa memberikan yang layak buatmu, biarin aku yang ngasih itu kepadamu," sungut Ridwan.
"Maksudmu?" Dahi Archi berkerut.
"Aku tahu kamu nggak mencintai suamimu." ujar Ridwan menepikan mobilnya dipinggir jalan lalu menghadapkan badannya ke arah Archi.
"Dan aku akan menunggu kamu Archi sampai waktunya tiba kita akan bersama," kata Ridwan menatap lekat kepada Archi yang masih tertegun mendengar ucapan Ridwan yang diluar dugaannya.
...~ bersambung ~...