Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
84. Ridwan vs Jeremy


Wajah Jeremy yang penuh nafsu terbayang dalam ingatan Archi lagi. Dia meringis, menutup matanya ketakutan.


"Pergi aku mohon!" gumamnya.


"Archi!" panggil Agust panik dengan segelas teh hangat yang di campur jahe dalam genggamannya.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Agust.


"Aku takut!" kata Archi dalam tangisnya.


"Ada aku sekarang Archi. Tenanglah. Aku akan selalu menjagamu." sahut Agust menenangkan sambil mengusap punggung tangan Archi.


"Bahkan Agust yang memiliki hak untuk menyentuhku saja masih menjaga harga diriku. Berbeda sekali dengan laki-laki biad*b itu." kata hati Archi.


"Minumlah ini dulu Archi. Aku membuatkan-nya untukmu," Agust membantu Archi untuk duduk.


Archi meminum teh jahe buatan Agust. Dan meminta Agust untuk meminumnya juga.


"Apa rusukmu masih sakit?" tanya Archi.


"Masih. Tapi pereda nyerinya bekerja jadi nggak terlalu sakit. Apa kamu mau minum obat juga?" tanya Agust perhatian kepada Archi.


"Nggak. Teh jahe ini sudah cukup menenangkan aku." jawab Archi.


"Agust saat tidur nanti, jangan jauh dariku ya. Temani aku terus."


"Iya Archi, jangan khawatir." jawab Agust.


"Hanya sama Agust aku bisa merasa aman dan nyaman." inner Archi.


Sepanjang malam Agust tidur berhadapan dengan Archi. Archi menaruh tangan Agust untuk memeluknya meski berjarak. Setelah usaha kerasnya untuk tidur akhirnya Archi bisa tertidur.


"Tidurlah, aku akan selalu menjagamu Archi." bisik Agust dan masuk ke alam bawah sadar Archi yang tengah tertidur. Archi bermimpi indah bersama Agust dalam tidurnya.


Keesokan paginya.


"Kamu jangan kerja dulu, Archi." kata Ibu yang datang membawakan bubur untuk Archi dan Agust.


"Aku kan udah nggak apa-apa, Bu." jawab Archi.


"Jangan memaksakan diri Archi." sela ibu.


"Lagian aku kan sakit juga Archi. Aduuuh..., rusukku!" Agust pura-pura mengaduh sakit.


"Hem..., mulai lagi." gumam Archi.


Archi pun mengirimkan pesan ke teman-temanya dan juga Ridwan karena tidak bisa masuk kerja untuk hari ini.


Saat istirahat, Susan, Andini dan Icha berbincang di meja kantin sambil menikmati makan siangnya.


"Kasian Archi. Nggak nyangka pacar kakaknya bisa berbuat begitu sama dia,"


"Berbuat apa?" tanya Ridwan yang tiba-tiba datang.


"Itu..., itu...," Icha tidak bisa menjawabnya.


"Mencoba memperk*sa Archi." jawab Susan dengan lantang.


"Apa? Yang benar kalian?" pekik Ridwan menjadi geram.


"Iya pak. Masa iya kita bohong." sahut Andini.


"Sudah menuntut cowok kurang ajar itu?" tanya Ridwan.


"Percuma Pak. Pacar kakaknya itu kan termasuk orang penting di negara ini. Dia dari keluarga kaya pemilik kerajaan bisnis Selim Grup."


"Apa? Siapa?" tanya Ridwan begitu penasaran.


"Jeremy Renner," jawab kawan-kawan Archi kompak.


"Jeremy...?!"


"Kurang ajar orang itu. Beraninya dia menyentuh Archiku?" Ridwan beringsut berdiri dan melangkah panjang keluar dari kantin.


"Loh...Manager mau kemana? Dia kaya marah banget itu," tanya Susan.


Kuat dugaan Ridwan pasti datang ke rumah besarnya untuk menuntut balas Jeremy. Dan benar saja Ridwah mengemudikan mobilnya ke rumah keluarganya.


Sesampainya dia di rumah.


Ridwan masuk ke dalam rumah,


"Jeremy! Jeremy!" teriak Ridwan memanggil kakak kandungnya itu.


"Sudah aku duga kamu di rumah!" sinis Ridwan menatap Jeremy tajam.


"Kenapa Ray?" tanya Ibu Ridwan bingung.


"Iya, kamu kayak marah gitu?" sahut Tuan Nicholas.


"Ada apa teriak-teriak?" tanya Jeremy sampai di bawah.


Buuuugggghhh


Tonjokan matang dilayangkan Ridwan ke wajah kakanya hingga Jeremy jatuh tersungkur.


Ridwan mengunci kakaknya di bawah tubuhnya dan terus menghantam wajah kakaknya tanpa ampun.


"Aaaa!" teriak Ibu Ridwan histeris.


"Ridwan apa yang kamu lakukan? Berhenti!" suruh Tuan Nicholas menarik Ridwan untuk berhenti.


"Bisanya mengangka*gi perempuan, aku yang melakukannya kamu nggak berdaya!" sungut Ridwan.


"Kamu itu ngomong apa sih Ray?" tanya Tuan Nicholas tidak mengerti. Kemudian dia menarik putra bungsunya untuk berhenti meninju kakaknya yang tak berdaya.


Jeremy berdiri dan mengelap darah di sudut bibirnya dengan kepalan tangannya.


"Berani-beraninya kamu menyentuh Archi!" teriak Ridwan.


"Apa?" pekik Nicholas sangat terkejut.


"Apa yang Ridwan katakan itu benar?" tanya Nicholas dengan geram menarik kerah baju putranya.


"Ayah...!" Ibu Ridwan melerai Nicholas.


"Cuih!" Jeremy membuang ludah darahnya ke lantai.


"Kalaupun aku menyentuh cewek itu kenapa? Apa urusannya denganmu? Dia bahkan bukan siapa-siapa kamu!" sungut Jeremy.


"Kurang ajar kau!" Ridwan bersiap maju untuk menghajar Jeremy lagi. Namun dihalangi Nicholas.


"Sudah...! Ada ada dengan keturuan Selim ini? Berebut wanita dari keluarga Handoko itu!"


"Kamu kan sudah dapat kakaknya, kenapa kamu mengganggu adiknya juga?" tanya Nicholas.


"Yang aku suka Archi bukan Levi!" pekik Jeremy mengejutkan Nicholas dan Ridwan.


"Apa?" serempak mereka memekik, terkejut.


"Iya. Dari aku kuliah bersama kakaknya, aku sudah menyukai Archi sejak pertama kali bertemu dia di rumah Levi." Jeremy menjelaskan perasaannya dengan serius.


"Walau aku sudah lama nggak bertemu dengan mereka, perasaanku kepada Archi masih sama." imbuh Jeremy.


"Kamu bukan mencintainya, tetapi kamu hanya bernafsu kepadanya." pekik Ridwan.


"Jangan sok! Aku lebih tahu perasaanku daripada kamu!"


"Kalau kamu mencintai dia nggak mungkin kamu tega merusaknya!" Teriak Ridwan lagi penuh emosi. Matanya berkilat air mata.


Dia mengingat bagaimana dirinya yang betul-betul mencintai Archi, begitu menjaga harga diri gadis kesayangannya itu. Meskipun sudah beberapa kali dia mendapatkan kesempatan untuk melampiaskan nafsunya tetapi selalu dia urungkan.


"Aku mencintainya tetapi aku juga nggak bodoh. Bila aku tidak bisa memiliki cintanya setidaknya aku bisa memiliki tubuhnya. Tetapi Kapan lagi aku memiliki kesempatan untuk memiliki tubuhnya? Dia telah bersuami. Dan saat mengetahui dia masih perawan hingga saat ini, hasratku untuk mendapatkan virginity nya semakin besar. Aku ingin menjadi yang pertama untuknya." sungut Jeremy.


"Gila! Sampai hati kamu memikirkan hal busuk itu?" geram Ridwan.


"Ya..., aku memang gila. Gila menginginkan Archi. Tetapi ayah malah menyuruhku memacari kakaknya." tuding Jeremy menunjuk Ayahnya.


"Bila kamu menginginkan Archi kenapa kamu menurut untuk memacari kakaknya? Kenapa kamu nggak berusaha mendapatkan Archi?" tanya Ridwan masih berteriak.


"Karena Archi tidak sebodoh kakaknya. Dia bukanlah orang yang mudah untuk dimanfaat kan. Dia bukan orang yang gampang ke-gr-an seperti kakaknya. Apalagi saat itu aku tahu dia mencintai orang lain." Jeremy melirik Ridwan.


"Tetapi ternyata orang yang dia cintai sama bodohnya denganku. Hingga dia juga tidak bisa mendapatkan Archi dan malah pria asing yang menikahi Archi." sinis Jeremy menatap Ridwan.


Ridwan tertunduk, tersinggung dengan ucapan Jeremy yang dirasa benar olehnya.


"Tetapi aku tidak ingin sebodoh dirimu. Bila aku tidak bisa mendapatkannya baik-baik, maka aku akan memaksanya." pungkas Jeremy.


"Aku bukan bodoh, tetapi aku juga tidak segila dirimu. Aku bergerak dengan elegan karena aku yakin, aku akan mendapatkan kesempatan untuk memiliki Archi." tegas Ridwan lalu pergi dari rumah besar itu.


"Heuh..., elegan katanya!" guman Jeremy dengan sinis menatap nyalang ke arah Ridwan.


"Mungkin aku gagal kali ini. Tetapi aku pastikan di kesempatan selanjutnya aku akan bisa menikmati tubuh Archi, " pikir Jeremy.


...~ bersambung ~...