
Sebuah foto jatuh meluncur dari atas kasur dan terjatuh ke hadapan Irene. Menampilkan seorang pria, berjas. Irene mengambil foto itu dan memeluknya sambil terus menangis.
Agust kembali ke rumah dengan perasaan campur aduk. Dia kesal tetapi juga sedih. Ketika sampai di rumah, dia tidak menemukan Archi sudah pulang dari bekerja. Dia melempar handphone-nya ke atas tempat tidur.
"Harusnya aku terima saja, permintaan Irene. Untuk apa aku bertahan dengan wanita yang nggak mencintai aku!" geramnya mencengkram rambut panjangnya.
Dengan kasar Agust mengambil handuknya dan pergi mandi. Cuaca hari ini ditambah kejadian-kejadian yang menguras emosinya ini membuatnya sangat kegerahan.
Ketika dia selesai mandi dan masuk ke kamar, Archi sudah pulang dan menunggunya dengan duduk di tepi meja belajar.
"Kamu baru mandi?" tanya Archi yang nggak tahu bagaimana perasaan Agust sebenarnya.
Agust hanya menatap tajam tanpa menjawab. Dia menggelar sajadahnya dan menunaikan shalat isya diselingi harapan hatinya bisa menjadi tenang.
"Dia itu kenapa sih? Merengut aja kerjaannya." dumel hati Archi sambil mengambil handuk mandi dan baju gantinya.
Selesai mandi. Archi melihat Agust meringkuk di atas tempat tidur dengan mata terpejam.
"Sebenarnya Agust kenapa ya?" tanya hatinya penasaran. "Apa dia marah sama aku? Tetapi marah kenapa? Apa aku berbuat salah?" Archi mencoba mengingat apa yang dia lakukan dan bisa memicu Agust marah. Akan tetapi dia tidak memiliki clue sama sekali.
Malam panjang berganti pagi. Rutinitas mereka di pagi hari berjalan sebagaimana biasanya. Archi pun telah berangkat ke tempat kerja. Ibu mengantar dan menemani Kenji sekolah. Ayah dan Kakak juga sudah berangkat kerja. Agust yang biasa berangkat kerja kali ini hanya menyapu di rumah. Handphone-nya bergetar.
Vita. Nama pemanggil di handphone-nya.
"Halo," Agust menjawab telepon dari Vita.
"Ka Agust, nggak kerja hari ini?" tanya Vita.
"Nggak. Aku berhenti kerja." jawab Agust.
"Nona Irene udah tahu?"
"Udah."
"Tetapi kenapa kamu berhenti? Apa ada masalah di sini? Kalau masih bisa dibicarakan kita bicarakan dulu. Tetapi jangan keluar bekerja. Kita lagi kekurangan orang," kata Vita.
"Iya Vit." sahut Agust.
"Aku tunggu putusannya besok ya, Kak. Hari ini kak Agust istirahat dan pikirankan dulu baik-baik, ya." kata Vita.
"Iya Vit." panggilan pun terputus.
Tidak lama sebuah pesan teks masuk
^^^"Agust, maafkan aku. Kalau kamu masih mau kerja kamu bisa bekerja lagi. Aku janji nggak akan ganggu kamu. Dan kamu lupakan aja apa yang udah terjadi semalam."^^^
Pesan teks itu datang dari Irene. Di balik pesan itu Irene telah memikirkan untuk tetap membuat Agust bekerja di sana yang terpenting dia bisa melihat Agust lagi.
Hujan turun sepanjang sore, Archi menatap keluar jendela kantor memikirkan nasibnya yang nggak bisa pulang kalau hujan tidak kunjung berhenti.
Di rumah, Agust mengulurkan tangannya keluar jendela. Membiarkan air hujan membasahi telapak tangannya.
"Sederas apapun air hujan yang turun bila telapak tangan tetap terentang, maka tak akan ada air yang dapat ditampung." gumam Agust melihat air hujan yang jatuh ke tangan dan mengalir kembali ke bawah.
"Begitupun cinta, sebanyak apapun cinta yang aku berikan, bila hati Archi tidak menampung nya maka itu tidak akan pernah mengisi hatinya. Hati Archi hanya menampung cinta Ridwan. Bukan diriku. Pernikahan ini bagaikan raga tanpa jiwa."
Archi pulang bekerja dengan diantar Ridwan. Ketika handak turun dari mobil, kaki Archi tanpa sengaja tersandung sesuatu di pintu hingga Archi nyaris tersungkur. Beruntung Ridwan yang membukakan pintu untuknya, masih berada di dekat pintu dan berhasil menangkap Archi ke dalam pelukannya. Mereka tertawa bersama, menertawakan kecerobohan Archi yang belum juga hilang.
"Terimakasih!" kata Archi di sisa tawanya.
"Untung aku masih di sini. Kalau nggak, aku akan melihat kamu nyungsep ke bawah." ejek Ridwan.
"Hahaha...tinggal kasih sound oh no..oh no...oh no no..." Archi menyenandungkan sound toktok yang dulu sempet viral untuk backsound orang-orang yang tertimpa kesialan.
"Hahaha...benar. Mungkin kamu bisa viral."
"Janganlah itu memalukan. Terimakasih ya," Archi melepaskan pelukan Ridwan.
"Yups."
"Aku masuk duluan." pamit Archi lalu saling melambai dan berpisah.
Agust yang melihat mereka dari balik jendela berjalan jengkel ke kamar Archi. Pernyataan cinta Archi yang dia dengar dari video yang dikirim anonim itu terngiang dalam ingatannya.
"Dia mencintai pria itu. Pernikahan ini nggak ada artinya. Bodohnya aku yang berharap banyak." sesalnya.
"Kamu udah pulang kerja Agust?" tanya Archi. Menyampirkan tas sling bag di gantungan baju di balik pintu.
Agust menoleh sedikit dan berwajah masam. Dia sama sekali nggak ingin menjawab apapun. Dia terlalu kesal, terlalu sakit hati dengan kenyataan.
Berulang kali dia meyakinkan diri untuk pernikahan ini, dan melihat sikap Archi dia berhasil percaya tentang ikatan pernikahan mereka.
Akan tetapi dalamnya hati Archi yang tak dapat diukur olehnya membuat Agust merasa tertipu. Archi menunjukkan keseriusan, padahal di hatinya hanya ada satu nama yang bersemayam yaitu Ridwan. Bukan dirinya sebagai suaminya.
Menurut Agust semua sikap baik dan manis Archi memperlakukan dirinya sebagai suami ternyata hanya sebuah manipulasi belaka.
Archi menatap Agust yang bergeming menatap tajam keluar. Archi menghela nafasnya.
"Boleh aku tahu apa yang terjadi kepada kamu?" tanya Archi terdengar putus asa mendekati Agust.
"Nggak ada." jawab Agust dingin melipat kedua tangan di dada.
"Kalau nggak ada kenapa kamu seperti marah begitu?" tanya Archi.
"Kalau aku ada salah. Katakan, jangan diam dan seperti ini. Aku jadi nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi." tuntut Archi.
Agust berdiri dan mendorong kasar kursi dengan belakang lututnya.
"Ada atau nggak ada yang terjadi dengan diriku, itu urusanku. Nggak ada hubungannya dengan dirimu." jawab Agust ketus lalu berjalan melewati Archi.
"Aku kan istrimu, kenapa aku nggak ada hubungannya dengan apa yang terjadi kepadamu?" tanya Archi berbalik menghadap Agust yang memunggunginya.
"Istri hanya di atas kertas."
"Kita kan udah pernah bahas soal ini. Dan semua sudah clear waktu itu. Kenapa kamu masih mempermasalahkan hal ini?" pekik Archi yang nggak bisa mengerti perasaan Archi.
"Aku tahu kita pernah membahasnya dan aku sudah mendapat jawabannya waktu itu. Tetapi itu hanya sekedar formalitas." Agust balas memekik dan berbalik menghadap Archi.
"Kamu itu kenapa sih? Maunya kamu apa? Hubungan kita masih saja disebut formalitas."
"Kamu lebih cocok dengan Ridwan, bahkan dia bisa terlihat seperti suami kamu daripada aku."
"Jadi kamu masih cemburu sama aku dan Ridwan? Aku rasa apa yang aku tunjukan dengan Ridwan hanya sebagai teman, nggak pernah lebih. Bahkan aku bisa lebih terbuka kepadamu tentang Ridwan. Nggak seperti kamu yang selalu menutupi kedekatan kamu sama Irene. Sampai berkali-kali berbohong kepadaku. Kalau membicarakan cemburu, aku juga cemburu. Tetapi aku nggak seperti kamu."
"Itu karena kamu memang nggak mencintai aku!" bentak Agust.
"Kamu biasa saja melihat aku bersama Irene karena di hatimu kamu nggak peduli. Berbeda dengan diriku yang memang mencintaimu." pengakuan itu keluar begitu saja dari mulut Agust yang marah.
Archi tertegun dan muncul perasaan senang mendengar itu meluncur dari mulut Agust meskipun dalam situasi yang tidak tepat.
"Aku juga mencintaimu Agust." tandas Archi.
"Bohong! Berhentilah bersandiwara. Entah apa yang membuatmu seperti ini? Menunjukkan cintamu untukku, sementara hatimu mencintai orang lain. Bila kamu hanya takut tentang Ayahmu yang akan marah dengan hancurnya pernikahan ini, biar aku yang berkorban. Limpahkan kesalahan itu kepadaku. Tetapi berhenti menipuku." pinta Agust.
Hati Agust terasa begitu perih. Tapi dia tidak menangis karena air mata itu dapat dia tahan sebaik mungkin. Hanya kilauan sedikit air yang terlihat dari maniknya yang membesar.
"Aku lebih baik mendengar ini langsung," Agust memutar video yang dia terima di hadapan Archi.
"daripada kamu harus terus berpura-pura, itu lebih menyakitkan bagiku." sambungnya.
Manik Archi membulat. Dia terperangah, terkejut karena Agust bisa mendapatkan video itu.
"Kenapa? Nggak bisa mengelak lagi?" sindir Agust dengan sinis.
"Darimana kamu dapat video itu?" tanya Archi.
...~ bersambung ~...
...****************...
...Berakhirlah sudah semua...
...Kisah ini dan jangan kau tangisi lagi...
...Sekalipun aku tak kan pernah mencoba kembali padamu...
...Berjuta kata maaf terasa kan percuma...
^^^Kerispatih _ tapi bukan aku^^^