
Selesai makan malam Agust dan Archi kembali ke kamar.
"Mereka selalu mengatakan seolah-olah aku ini perempuan mesum. Jangankan HS, ciuman bibir aja aku belum pernah," gerutu Archi merengut di atas tempat tidurnya.
"HS itu apa?" tanya Agust mengernyitkan dahi. Duduk di kursi meja belajar, terlihat bingung
"Sebaiknya kamu jangan tau. Bahaya kalau otakmu sudah tercemar, nasibku yang akan terancam," lontar Archi
Agust menaikan bahu mencoba acuh.
"Kamu tahu..., saat aku pulang tadi, sebelum berubah jadi kucing aku melihat orang lain di lantai atas," cerita Agust.
"Lalu aku bersembunyi. Aku pikir itu Kakak. Tetapi ternyata bukan," sambungnya.
"Mungkin itu Jeremy. Tamu yang ibu bicarakan tadi," jawab Archi. "Tunggu, kamu bilang dia di lantai atas?" tanya Archi mentautkan alis.
"Iya di kamar Kakak," jawab Agust menaikan alisnya.
"Munafik mengatakan munafik. Padahal dia sendiri juga berbuat yang dia tuduhkan kepadaku," sungut Archi. "Lalu apa lagi yang terjadi?"
"Lalu dia turun. Karena rasanya aku akan segera berubah saat dia lengah aku berlari ke kamarmu." kisah Agust.
"Dia menyadari keberadaaku dan mengejar ke kamarmu tetapi saat itu aku sudah berubah jadi kucing dan aku bersembunyi di bawah tempat tidur," sambung Agust.
"Syukurlah. Akan bahaya kalau da melihatmu berubah jadi kucing," ucap Archi. "Dia bisa membuat kehebohan,"
"Aku benar-benar ingin tahu bagaimana agar aku bisa berubah menjadi manusia seutuhnya," harap Agust.
"Aku juga, tetapi aku rasa itu sulit." tanggap Archi menyipitkan mata kirinya. Skeptis. "Karena kita saja belum bisa memastikan apa yang bisa membuatmu berubah-ubah begitu," lanjutnya.
"Aku pun belum mendapat potongan masa lalu lagi," sambung Agust.
"Itu juga. Tetapi aku inginnya tuh bila kamu harus berubah. Berubahnya hanya sebentar. Jadi aku nggak perlu takut menyembunyikan kamu terlalu lama,"
"Pengennya aku juga begitu,"
Selepas mengobrol Archi dan Agust rebahan di atas kasur. Berbaring miring saling bertolak belakang dengan selimut masing-masing. Mereka memejamkan mata dan hanyut dalam pikiran mereka masing-masing.
Pagi pun menjelang, sebelum adzan berkumandang Archi bangun dari tidurnya dan bergegas mandi. Selepas mandi berbarengan dengan selesainya adzan. Archi melaksanakan 2 salat sunnah terlebih dahulu sebelum melaksanakan shalat shubuh.
Selesai shalat Archi membangunkan Agust untuk mandi dan salat. Saat tengah bersiap untuk kerja tiba-tiba Archi merasa mual. Sekonyong-konyong dia pergi ke kemar mandi dan muntah di sana.
Dengan perasaan khawatir Agust yang baru selesai shalat segera menyusulnya dan dengan sabar mengurut punggung Archi.
"Sudah...," kata Archi meminta Agust berhenti mengusap punggungnya. "Sepertinya ini karena kemarin kita telat makan," kata Archi sambil menyiram toilet.
"Oh iya itu benar," jawab Agust.
Agust turun ke bawah dan segera pergi ke dapur untuk membantu Ibu memasak sarapan. Hanya menu simple untuk pagi ini. Nasi goreng kampung dan ayam goreng.
"Archi tadi muntah?" tanya Ibu kepada Agust.
"Iya," jawab Agust singkat. Dia tidak ingin mengatakan mereka telat makan karena akan ketahuan bahwa mereka tidak melaksanakan pesan ayah untuk sarapan jam 7 pagi. Sementara mereka baru makan di sore hari setelah membeli makan di luar.
Ibu termenung menatap Agust cukup lama. Agust yang sedang fokus mengoseng nasi di wajan baru menyadari ibu tengah melihat ke arahnya.
"Ada apa Ibu Mertua?" tanya Agust memperhatikan dirinya dari atas sampai bawah.
"Ah...tidak apa-apa," jawab ibu tersenyum lebar dan kembali mencuci di kitchen sink.
Setelah bersiap Archi turun ke bawah untuk sarapan. Ketika memasuki dapur dia melihat Agust sedang menyiapkan meja makan.
"Biar aku bantu," kata Archi.
Ibu yang datang dari dalam memasuki dapur, "Eh...sudah jangan! Duduk saja," kata Ibu memegang lengan atas Archi dan mengarahkannya untuk duduk.
"Kenapa?" tanya Archi bingung.
"Mungkin Ibu takut kita nggak jadi sarapan karena kamu menjatuhkan masakan kami," bisik Agust, meledek di telinga Archi saat merunduk menaruh sepiring ayam goreng.
Dengan geram Archi memukul pundak belakang Agust. Agust terkekeh dibuatnya dan kembali dengan pekerjaannya.
"Apa kamu nggak istirahat di rumah saja Archi?" tanya Ibu mengambilkan nasi goreng untuk masing-masing anggota keluarga.
"Archi kenapa, Bu?" tanya Ayah.
"Iya. Mengapa aku harus istirahat?" tanya Archi juga merasa bingung.
"Kamu tadi kan muntah," jawab Ibu.
"Ini hanya masuk angin biasa Bu," jawab Archi menerima sepiring nasi goreng. Archi bergidik mencium aroma khas nasi goreng.
"Kenapa?" tanya Agust.
"Wuu...!"Bibir Archi membulat ingin muntah, merasa mual. "Aku pakai nasi putih aja, Bu," pinta Archi.
Setelah Ibu mengambilkan nasinya dan mengambil sepotong ayam goreng. Aroma nasi yang bercampur wangi ayam goreng mengocok perutnya yang sedari bangun tidur terasa tidak enak.
"Aku nggak sarapan deh Bu," kata Archi memegang perutnya dan beranjak buru-buru ke lantai dua.
"Archi kenapa?" tanya Kakak.
"Sepertinya dia hamil," jawab Ibu sekata-kata. "Semalam saja dia membeli obat mual katanya," sambung Ibu
"Apa?" semua terbelalak, kaget.
"Kenapa kalian begitu? Baguskan Archi hamil. Lagipula dia punya suami," Ibu menatap Agust yang tidak mengerti.
"Hamil?" Agust sedikit bingung. Di pikirannya ia teringat saat ia masih menjadi kucing dan kucing betina dengan perut besar yang berisi anak-anak kucing yang sering disebut hamil.
"Apa ada anak kucing di perut Archi?" pikir Agust.
"Kamu harus menjaga istrimu Agust," pesan Ibu.
"Iya Ibu Mertua," jawab Agust.
"Heran! kalau bicara seperti nggak pernah berbuat. Buktinya bisa hamil," nyinyir Kakak.
"Kamu benar akan berangkat ke kantor?" tanya Ayah saat Archi akan berangkat kerja.
"Iya," jawab Archi merasa janggal dengan tatapan khawatir dari kedua orang tuanya itu.
"Ya sudah. Hati-hati saja jangan terlalu lelah. Jangan bekerja yang terlalu berat," pesan Ayah.
"Iya," jawah Archi berjalan bersama Agust keluar rumah.
Habis Maghrib Archi sampai di rumah. Hari ini kantor pulang lebih awal jadi dia bisa sampai rumah lebih cepat. Ketika memasuki rumah dia di sambut Ibu yang segera menyuruhnya untuk duduk di sofa.
"Istirahat dulu," kata Ibu sangat perhatian kepada anaknya. Karena merasa akan memiliki cucu pertamanya.
"Aku mau ke kamar Ibu," kata Archi.
"Mengapa harus langsung ke kamar? Kangen suamimu ya?" tanya Ibu.
Archi merasa aneh mendengar Ibu menyangka dirinya kangen Agust.
"Agust...! Archi sudah pulang!" panggil Ibu dengan kencang. Terburu-buru Agust turun dan menghampiri mereka.
"Biar Agust saja yang turun, kamu jangan turun naik tangga dulu," kata Ibu.
"Iya betul," jawab Agust. "Kamu mau sesuatu? Biar aku siapkan," kata Agust.
"Kalian ini kenapa sih? Aneh sekali?" tanya Archi mengernyit. "Kalian ngetreat aku berlebihan sejak pagi,"
"Kamu kan sedang hamil," lontar Ibu.
"Apa?" pekik Archi terperangah. Terkejut mendengar Ibunya mengatakan hal itu.
...****************...