Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
39. Dipermalukan


"Ridwan...ada meeting kan, kita?" kata Jerry menepuk bahu Ridwan dari belakang.


"Oh, iya!" jawab Ridwan berbalik hendak berjalan keruangannya mengambil laptopnya.


Dengan sengaja Jerry menjatuhkan ballpoint ke dekat Archi.


"Archila tolong ambilin dong!" suruhnya menunjuk dengan arogan kepada Archi. Ridwan menoleh memperhatikan mereka. Merasakan feeling yang nggak enak.


Archi merunduk mengambil ballpoint di bawah kakinya, saat perlahan dia mengangkat tubuhnya, Jerry sudah berada dihadapannya. Begitu dekat.


Dengan sengaja untuk menghina Archi dia mende*ah.


"Aah Archi!"


Archi memicingkan matanya menatap sinis.


"Kamu kayanya udah terlatih ya Archi," sindir Jerry kepada Archi. Sahabat Archi bersikap waspada.


Dahi Archi berkerut tidak mengerti. Ridwan menghampiri Jerry mencengkram kerah kemeja Jerry dengan kencang.


"Maksud loe apa sih, l*l?" geram Ridwan.


"Ini kantor jangan nyari ribut deh!" kata Ridwan dengan sinis. Jerry tersenyum menghina.


"Gua nggak tahan, beneran. Mau bongkar kelakuan gebetan yang loe puja-puja ini," ujar Jerry.


"Kelakuan apa hah?" tanya Ridwan mendengus di wajah Jerry.


"Lihat aja sendiri tuh!" Jerry menyerahkan handphone-nya yang sudah terbuka ke galeri yang menampilkan foto Archi di hotel tempo lalu.


Ridwan melepaskan cengkramannya untuk mengambil handphone Jerry. Dia melihat dengan seksama dan terkejut dengan yang dia lihat. Dia nampak tidak percaya. Matanya yang membesar memandang ke arah Archi yang bingung.


"Kata loe nggak mungkin Archi tidur sama laki-laki. Dia di hotel, Man, sama laki-laki. Ngapain di hotel sama laki-laki kalau bukan abis main latto-latto," jawab Jerry sudah jengkel. Dia melampiaskan kekesalannya dipermalukan Ridwan di depan umum tempo lalu.


Bisik-bisik karyawan lain bergunjing tentang yang baru mereka dengar tentang Archi. Tiga sahabat Archi menatap prihatin dan sedih ke arah temannya yang sedang dipermalukan. Archi menundukkan wajahnya. Matanya terasa panas ingin mengeluarkan airmata.


Ridwan tidak dapat bereaksi. Dia speechless dengan yang dia lihat. Dia sulit menerima kenyataan Archi benar bersama pria yang tidak terlihat wajahnya itu keluar dari hotel.


"Jangan munafik makanya jadi orang." sentak Jerry kepada Ridwan. "Mana ada cewek sekarang yang masih jaga...,"


"Cukuuuup!" pekik Archi sampai mengerutkan matanya, terlihat sangat marah. Jemarinya mengepal kencang di sisi tubuhnya. Badannya gemetar hebat menahan amarah dan malunya.


"Sudah puas menuduhku?" hardik Archi.


"Maaf Pak Ridwan. Saya memang sama laki-laki di hotel itu. Kami satu kamar. Tetapi itu nggak seperti yang Pria ca*ul ini katakan." Airmata mengalir jatuh ke pipi Archi.


"Itu suami saya, Pak. Saya sudah menikah. Mungkin salah saya masih menutupi hal itu. Tetapi saya bisa pastikan itu memang suami saya,"


"Iya, kami juga tahu Archi di hotel itu sama suaminya. Archi memang udah menikah," bela teman-teman Archi memegang bahu Archi yang terkulai lemas.


Ridwan semakin tersentak kaget mendengar pengakuan Archi. Entah lebih menyakitkan yang mana, bila Archi memang tidur dengan pria lain tapi tanpa ikatan atau kenyataan Archi sudah menikah dan memiliki suami. Keduanya sama buruknya dalam hati Ridwan.


Jerry beringsutan, dia malu karena gagal mempermalukan Archi dan malah dia yang jadi malu karena telah menuduh Archi yang tidak-tidak. Dengan kaki seribu Jerry kabur dari sana.


Archi menangis dalam pelukan Icha. Icha dan dua temannya mencoba menenangkan Archi. Namun Archi masih menangis.


Terlanjur malu Archi mengambil tasnya.


"Saya izin pulang, Pak!" ujar Archi sambil menangis pamit kepada Ridwan.


Berjalan dengan langkah cepat Archi keluar dari kantor setelah menghapus airmatanya. Dia menyetop taksi berwarna biru dengan gambar burung dan meminta supir mengantarnya pulang ke rumahnya.


Sesampainya di rumah, Archi berlari menuju kamarnya.


"Archi! Kamu kenapa udah pulang?" tanya Ibu dari bawah tangga namun tak mendapatkan jawaban.


Archi menutup pintu kamarnya lalu membanting tubuhnya tertelungkup ke atas tempat tidur. Dia melanjutkan menangis nya di sana.


Agust menatap heran dari kursi belajar Archi. Perlahan dia menghampiri Archi dan duduk di tepi tempat tidur.


"Kamu kenapa?" tanya Agust.


Archi duduk dan menyuruk untuk memeluk Agust.


"Maaf...ini salahku!" ucap Archi dalam tangisnya.


"Seharusnya dari awal aku mengaku kalau sudah menikah. Tetapi aku begitu pengecut untuk mengakuinya. Dan ini adalah balasanku karena menyembunyikan kebenaran. Mereka menuduhku wanita nggak baik dengan keluar hotel bersama kamu," sambung Archi.


Agust menempatkan telapak tangannya di punggung Archi lalu mengusapnya perlahan.


"Archi nggak mau mengatakan dia sudah menikah? Dia pasti malu bila harus mengakuinya. Menikah dengan pria pengangguran dan nggak berguna kaya aku," batin Agust merasa sedih.


"Bukan karena malu karena sudah menikah. Hanya saja aku merasa belum siap. Pernikahan ini terlalu mendadak dan cepat,"


Agust terkesiap merasa seolah Archi bisa mendengar hatinya.


"Giliran batin kucing, dia nggak ngerti. Giliran sekarang dia malah seolah bisa mendengarku."


Namun dengan cepat perasaannya berubah lagi.


"Aku hanya merusak hidupmu Archi. Membuat masalah untuk hidupmu. Karena aku, kamu harus menikah dengan pria asing. Karena aku, kamu mendapatkan penghinaan ini dari teman-temanmu," pikir Agust.


"Aku ingin ingatanku segera kembali. Bila aku sudah menemukan keluargaku, aku akan melepaskanmu untuk bahagia Archi. Dan berhenti membuatmu dalam masalah karena aku. Aku bukan apa-apa, kamu lebih pantas dengan pria-pria hebat itu," tambah Agust merasa semakin sedih.


Sore hari setelah Ayah pulang kerja.


"Jadi kamu juga belum mengurus perubahan data ke perusahaan kamu?" tanya Ayah yang terkejut mendengar cerita, apa yang telah terjadi kepada Archi di kantor.


"Seharusnya kamu mengatakan hal penting seperti ini. Jadi tidak akan terjadi salah paham," sambung Ayah.


"Siapa yang nggak akan shock dengan pernikahan mendadaknya. Apalagi harus mengakui di depan orang-orang kalau aku sudah menikah tanpa kabar berita kepada mereka." sahut Archi.


"Ya sudah toh Yah. Kasian Archi dia masih sedih dengan yang terjadi kepadanya." bela Ibu.


"Iya maaf. Yah sudah. Sekarang diambil hikmahnya saja. Sekarang semua orang kantor sudah tahu kamu sudah menikah. Dan nggak usah pikirkan penghinaan tadi. Mereka malah pasti malu telah menuduhmu yang bukan-bukan," kata Ayah mencoba menenangkan Archi.


Kemudian...


Hari semakin larut. Ridwan menggedor pintu rumah seseorang cukup keras.


Sang empunya rumah membukakan pintu untuknya. Menggunakan kaos dalam putih dan celana boxer bergaris putih biru.


"Ngapain loe?" tanyanya terkesiap memegangi pipinya karena takut di tonjok lagi oleh Ridwan.


"Boleh gue masuk?" tanya Ridwan.


"Ya boleh...silahkan. Asal jangan nonjok gue," jawab Jerry mempersilahkan Ridwan memasuki apartemennya.


Ridwan duduk di sofa. Membungkukkan badannya dan menopangkan tangannya di paha.


"Ada yang mau gua tanyain sama elo?" kata Ridwan dengan suaranya yang lemah.


"Nanya apa?" tanya Jerry.


"Apa elo ngeliat cowok yang sama Archi di hotel itu?" tanya Ridwan kepada Jerry menatapnya menyelidiki.


Jerry terkesiap dengan pertanyaan yang dilontarkan Ridwan.