
Sampailah dia di halaman belakang dan tidak ada sosok Agust di sana. Ia menoleh ke samping dan teringat satu ruangan tertinggal untuk dicari. Ruangan studio carpentry Ayah. Sebuah ruangan tambahan yang menempel di sisi kiri belakang rumah. Ruangan yang digunakan ayah untuk membuat perabotan dari kayu.
Archi melihat Pintu kayu dengan kotak-kotak kaca di tengah daun pintu itu terbuka sedikit
"Mungkin dia di situ?" pikirnya mendekati ruangan tersebut kemudian membuka pintu lebar-lebar.
Di dalam ruangan yang tidak terlalu lebar namun panjang itu terdapat sebuah meja panjang di tengah ruangan, di sisi tembok lain ada meja scroll saw. Di sekeliling dinding-dinding tergantung beberapa perkakas pertukangan lainnya seperti palu, obeng, penggaris besi dan kayu berbagai ukuran. Dan ada beberapa kursi yang baru di buat Ayah dan belum di cat.
"Ya ampun kamu itu!" omel Archi dengan mata berkaca-kaca, berjalan ke dalam ruangan. Sementara yang dicari sedang anteng melihat-lihat isi studio.
"Aku mencari kamu dari tadi, aku mencari ke sekeliling rumah kamu nggak ada, dipanggil-panggil nggak ngejawab!" ocehnya seperti seorang rapper.
"Ya maaf..., aku kan nggak ngedenger kalau kamu manggil. Dari sini nggak kedengaran apa-apa," jawab Agust berdalih. "Ada apa? Kenapa mencariku?" tanyanya.
"Ya aku pikirkan kamu hilang atau berubah lagi jadi kucing," jawab Archi menahan sesak di dadanya karena rasa takut kalau Agust berubah lagi jadi kucing.
"Iya maaf. Habis aku penasaran dengan ruangan ini," sahut Agust.
"Ini studio ayah untuk kegiatan pertukangan kayunya," jawab Archi menjelaskan.
"Ayah suka membuat perabot juga?"
"Iya ini salah satu hobi ayah kalau lagi senggang," jawab Archi.
"Kamu pernah ikut membuat sesuatu di sini?" tanya Agust penasaran.
"Huh..., aku bahkan nggak boleh masuk ke sini," dengus Archi terdengar dongkol.
"Kenapa memang?"
"Nggak melihat di sini banyak barang berbahaya? Mereka takut kalau aku ke sini maka aku bisa melukai diriku sendiri,"
"Oh iya, aku lupa kalau kamu orang yang ceroboh,"
"Apa kamu bilang?" geram Archi.
"Nggak..., aku nggak ngomong apa-apa,"
"Ini untukmu!" kata Archi memberikan kemeja untuk Agust.
"Ini untuk aku?" tanyanya tidak percaya.
"Iya. Itu official merch Agust D, tolong jaga itu baik-baik, ya!" pesan Archi.
"Tentu, terimakasih ya," senyum mengembang di wajahnya.
"Sama-sama. Aku lapar, kita keluar yuk cari makan!" ajak Archi.
"Boleh," jawab Agust.
"Ya udah siap-siap!" suruh Archi.
Agust berganti baju dengan mengenakan kemeja dan kaos yang baru di berikan Archi.
"Ayo berangkat!" ajak Agust menuruni tangga. Sementara di sofa panjang berwarna putih Archi sedang asyik dengan handphone-nya.
"Wah... Langsung dipake," Archi tersenyum riang, mendongak untuk melihat Agust.
"Iya dong..., gimana ganteng nggak?" tanya Agust bangga.
"Ganteng dong!" jawab Archi memberikan jempolnya. "Suami Archi pasti ganteng," Kata Archi berbisik.
"Kamu ngomong apa?"
"Aku nggak ngomong apa-apa," kelit Archi.
"Dia bilang suami Archi..., dia mengakui aku sebagai suaminya," gumam Agust merasa senang.
"Iya benar, Ayah, Ibu menginap di rumah nenek," Kakak berbicara di telpon sambil membuka pintu.
"Kamu mau kemana?" tanya Kakak saat berpapasan dengan Archi.
"Kami mau kencan lah!" jawab Archi mengejek Kakaknya.
"Kencan kencan...kenapa?" Kakak kembali bicara di telepon. "..., Iya Archi dan suaminya juga mau pergi....," terang kakak kepada si penelepon. "Kamu mau ke rumah? Yang bener? Boleh...boleh banget!" jawab Kakak berhenti berjalan dan melihat ke arah pintu yang baru di tutup Agust.
Setelah menutup sambungan telepon nya Kakak bergegas pergi ke kamarnya untuk bersiap.
"Aku harus kelihatan cantik banget!" kata Kakak membuka lemari bajunya dan memilih-milih baju untuk dia kenakan.
Pilihannya jatuh kepada blouse satin dengan potongan kerah berbentuk v yang rendah berwarna nude di tambah celana pendek berbahan semi jeans berwarna putih. Setelah mengganti pakaian kemudian Kakak melanjutkan dengan berias.
"Aku sudah cantik, kan?" tanyanya sendiri di depan cermin dengan rambut panjangnya yang terurai.
"Kenapa aku jadi berdebar?" Kakak memegang dadanya.
Ting Nong....
"Ini untukmu," ucapnya memberikan bucket bunga untuk Kakak.
"Wah...! Terimakasih, kamu romantis sekali!" puji Kakak sumringah seraya mengambil bucket bunga dari tanggan Jeremy. "Masuklah!" kata Kakak mempersilahkan.
"Terimakasih," jawab Jeremy memasuki rumah.
"Duduk dulu," suruh Kakak setelah menutup pintu. "Biar aku ambilkan minum," ujarnya lalu beranjak ke dapur sambil mencium bucket bunganya.
Jeremy memandang sekitar rumah, mengarahkan matanya ke lantai atas dan di lantai bawah. Mengamati dan meneliti setiap sudut rumah.
"Rumahmu nyaman sekali," pujinya saat Kakak datang membawakan dua gelas tinggi es jeruk dan sepiring cemilan dalam satu nampan.
"Benarkah? Ini terlalu sempit untuk lima orang anggota keluarga," jawab Kakak duduk di sebelah Jeremy. "Berbeda dengan rumahmu yang besar itu. Minumlah!" sambung Kakak lalu mempersilahkan.
"Ayah dan Ibumu menginap di rumah nenekmu?"
"Iya, nanti malam mereka baru kembali,"
"Dan Archi?"
"Dia bersama suaminya," jawab Kakak enggan. "Aku juga ingin kita segera menikah," kata Kakak bermanja.
"Tunggu lah sebentar lagi," jawab Jeremy. "Aku ingin minum air putih, tenggorokanku serak, nggak enak," pinta Jeremy memegang leher jenjangnya.
"Akan aku ambilkan," Kakak meluncur ke dapur.
Tidak menghilangkan kesempatan itu, Jeremy mengeluarkan bungkusan kertas kecil dari saku celananya lalu diam-diam ia memasukan bubuk obat ke dalam gelas orange jus Kakak.
Kakak kembali dengan segelas air putih di tangan ketika Jeremy selesai mencampur bubuk obat dengan minuman Kakak.
"Terimakasih," ucap Jeremy mengambil gelas air putih di tangan Kakak dan segera meminumnya.
Kakak meminum jus jeruk miliknya. Sambil minum, dari sudutnya matanya dia memandang Kakak, menyeringai tipis.
Sambil menikmati makanan dan minumannya, Jeremy dan Kakak saling berbincang dan sesekali bermanja satu sama lain layaknya pasangan muda mudi yang berpacaran.
Sementara itu di restoran cepat saji di depan komplek Archi dan Agust tengah mengantri untuk memesan makanan. Awalnya mereka saling mengobrol dan bercanda hingga Agust merasakan sesuatu menggeliat di tubuhnya.
"Archi," bisiknya di telinga Archi. "Rasanya aku akan berubah jadi kucing. Aku merasakan sensasi yang biasa aku rasakan saat akan berubah,"
"Yang benar?" tanya Archi terkejut. "Ini uang, naiklah ojek, ya!" Archi memberikan uang dua puluh ribu ke tangan Agust.
"Iya, aku pulang duluan, ya?"
"Tentu..., aku akan memesan ini lalu segera pulang!" jawab Archi. "Hati-hati Agust!" pesan Archi penuh perhatian sebelum Agust beranjak dengan tergesa-gesa.
Kembali ke rumah, di atas sofa itu, Jeremy mencium bibir Kakak dengan penuh na**u dan ga**ah. Nafas mereka memburu di iringi detak jantung yang berpacu.
"Aku menginginkanmu," bisik Jeremy. "Tetapi jangan di sini," tambahnya melihat penuh na**u bibir tipis Kakak.
"Di kamarku?" kata Kakak.
Mereka berjalan ke kamar Kakak. "Kamar siapa itu?" tanya Jeremy menunjuk kamar Archi yang tertutup.
"Kamar Archi,"
Di dalam kamar mereka melanjutkan aksi mereka saling berc**bu mesra. Jeremy membuka bajunya memperlihatkan tubuhnya yang sempurna, dadanya yang bidang, otot perutnya yang sexy. Membuat Kakak semakin terbakar api ga**ah. Jeremy merangkak ke atas tubuh Kakak.
Namun tiba-tiba Kakak merasa pandangannya menjadi kabur, dan sedikit pusing hingga akhirnya tidak sadarkan diri.
"Dasar wanita bodoh!" cela Jeremy berwajah dingin. Dia pun mengenakan bajunya lagi.
"Dimana rekaman itu dia taruh?" tanya Jeremy pada dirinya sendiri lalu mulai menjelajah kamar Kakak untuk menemukan yang dia cari.
"Tidak ada," desisnya terdengar kesal. "Mungkin di ruangan lain," pikirnya hendak keluar dari kamar kakak.
"Di atas adalah kamar Archi, berarti kamar ayahnya ada di bawah," analisanya sambil membuka pintu kamar Kakak.
Dia terkejut melihat sesosok pria mengendap-endap di lantai bawah.
"Itu?" dia terbebelak melihat sosok itu. Dengan cepat dia menutup pintu kamar Kakak agar orang di bawah tidak mengetahui keberadaannya. "Apa yang aku lihat tadi?" tanyanya, dan tiba-tiba merasa merinding.
Jeremy kembali membuka pintu, dan sosok itu menghilang. "Apa aku salah lihat?" pikirnya merasa heran lalu menuruni tangga terburu-buru.
Dia menuju ke kamar Ayah, sebelum bayangan hitam jauh di balik punggungnya, menaiki tangga. Jeremy menoleh lalu terhenyak kaget saat memandang ke lantai atas dan melihat bayangan itu sekilas karena bayangan itu berkelebat, menghilang segera.
"Dia?" Jeremy yang penasaran mencoba mengejar bayangan itu ke lantai atas.
"Kemana dia?" tanya Jeremy mencari di lantai atas dan tidak menemukan apapun, di dalam kamar Kakak dan juga kamar Archi. Dia tidak menemukan orang lain selain Kakak yang masih tidak sadarkan diri.
Bulu kuduk pria itu meremang, menimbulkan aura mistis yang kental. Tubuhnya merinding ketakutan.
"Nggak mungkin, ini nggak mungkin," sanggahnya sambil menggeleng. "Apa mungkin itu hantunya yang bergentayangan? Sebaiknya aku pergi dari di sini!" Dengan wajah pucat pasi Jeremy pergi keluar dari rumah Archi.
...****************...