
Panggilan masuk ke handphone Archi. Archi mengangkat panggilan dengan id caller Kakak itu.
"Halo..." sapa Archi.
"Kamu nggak lupain sesuatu?" tanya Kakak dari sebrang sana.
Archi menyipitkan matanya dan berpikir maksud pertanyaan kakak.
"Apa?" tanya Archi bingung.
"Agust nggak sama kamu kan?" tanya Kakak.
"Agust?" Archi mulai ingat kemungkinan kakaknya yang tidak melihat Agust di mobil.
"Dia ada kok," jawab Archi bohong.
"Tapi tadi aku lihat dia nggak ada di mobil."
"Kakak salah lihat kali. Orang dia ada,"
"Coba kakak mau ngomong sama Agust!" pinta kakak.
"Gawat!" sahut hati Archi mulai panik.
"Archi, kasih ke Agust!" perintahnya.
"Halo...Kak...Kakak ngomong apa? Di sini kresek kresek...halo...kak!" Archi pun berpura-pura sambungan teleponnya terganggu.
Tuuuut.....
Sambungan telepon di putus Archi.
"Si Archi ini bener-bener, kurang ajar ya sama aku!" dumel Kakak.
"Tapi dia agak aneh nggak sih? Dia kaya lagi nutupin sesuatu. Udah jelas-jelas tadi aku nggak lihat dia sama Agust," kata Kakak.
...****************...
Hari menjelang malam tetapi Archi masih dalam perjalanan pulang. Agust kucing tidur meringkuk di pangkuan Archi. Archi pun sempat memejamkan mata ketika tangannya merasakan renggangan di kulit bulu Agust.
"Agust, sepertinya kamu akan berubah?" bisik Archi ke telinga kucing.
"Pak, itu ada rest area, kita ke situ dulu ya," pinta Archi.
"Baik Non,"
Mobil terparkir di area parkir khusus di depan deretan kantin umum. Archi memasukan Agust kucing ke dalam koper.
"Kucingnya tinggal di sini aja Non, saya jagain," kata Pak Supir.
"Jangan pak, dia mau ikut b.a.b di toilet," jawab Archi sambil membuka pintu mobil. Menarik koper kecil beroda, Archi berjalan ke toilet wanita.
"Ada..ada aja. Kucing b.a.b di toilet," kata Pak Supir lalu mencari kantin yang menjual kopi.
Secara kebetulan rest area ini sedang banyak orang beristirahat dari lelahnya berkendara. Ini adalah rest area pertama setelah melewati kemacetan panjang jadi wajar rest area ini selalu ramai pengunjung.
Kondisi yang sama pun terjadi di dalam toilet wanita. Banyak wanita sedang melakukan keperluannya. Beberapa mengantri menggunakan bilik kamar mandi. Beruntung tidak terlalu lama Archi menunggu, satu bilik kosong bisa dia gunakan. Archi menarik masuk kopernya ke dalam bilik toilet wanita. Dia harus menahan malu karena orang-orang di sana memperhatikan dirinya yang terlihat aneh membawa koper ke dalam bilik kamar mandi.
"Malu banget, yaa ampuuun!!!" bisik Archi.
Bilik kamar mandi ini terlalu sempit hanya cukup untuk 1 orang di dalam.
Archi mengeluarkan kucing dari dalam koper dan mendudukannya di atas toilet duduk yang tertutup. Kemudian Archi mengambil baju Agust untuk persiapan kalau-kalau dia sudah berubah.
Tubuh kucing meregang perlahan. Secara bergantian tubuh kucing berubah-ubah jadi kucing dan Agust manusia. Archi membalikkan badannya agar tidak melihat seluruh tubuh Agust yang memiliki kulit putih mulus bagaikan porselen. Takut-takut bisa membuat syahwatnya bangkit.
Archi merasakan pergerakan di belakangnya. Dia bisa merasakan Agust sudah berubah jadi manusia. Archi menoleh sedikit.
"Jangan lihat!" bisik Agust berusaha memakai celananya yang di dalam, di balik tubuh Archi karena ruangannya terlalu sempit.
Pintu terketuk dari luar....
Tok...tookkk...
"Masi lama? Tanya seseorang di luar.
"Masi bu, mohon maaf...saya sedang dii-aree!" jawab Archi dari dalam bilik.
"Oh...Iya. Semoga cepet sembuh!" sahut si Ibu pengertian.
Agust selesai mengenakan kaosnya, tinggalah celana jeans yang belum terpasang. Ini lebih sulit dari sebelumnya karena bahan jeans yang nggak melar dan ruang sempir membuatnya sulit bergerak.
Archi yang jenuh menghadap tembok berbalik, "Lama banget sih!" bisiknya sangat lirih namun terdengar kesal.
Agust yang kaget kehilangan keseimbangannya, hampir terjatuh. Archi menangkapnya dari depan namun malah membuatnya terdorong, terpojok di tembok. Mereka saling berhadapan begitu dekat.
Hati mereka berdegup kencang, bukan hanya kaget hampir terjatuh namun juga karena posisi mereka yang begitu dekat seolah tanpa celah.
Napas Agust yang hangat dan harum mengusap lembut di wajah Archi. Sorot mata Archi memandang bibir Agust yang sedikit terbuka yang kini tepat di bawah matanya. Agust sedikit menunduk memandang wajah Archi, menatap bibir Archi yang berwarna pink lembut.
Tookkk...toookk....
Pintu terketuk lagi dan mengganggu waktu mendebarkan antara mereka berdua.
Sekejap mata dengan cepat Agust berdiri sempurna. Archi menutup matanya karena melihat celana jeans Agust baru terpasang sampai atas lututnya.
Setelah Agust berhasil memakai celana jeansnya. Archi mengintip ke luar bilik toilet. Toilet sudah sepi. Archi dan Agust bergegas keluar dari bilik. Di belakangnya Agust menarik koper Archi.
Archi mendorong pintu kamar mandi. Saat dia akan keluar seorang ibu menggunakan pakaian serba orange memergoki Archi keluar bersama Agust dari dalam kamar mandi. Archi dan Agust berjalan cepat menghindari ibu-ibu itu.
"Ck..., kelakuan anak muda zaman sekarang!" keluh Ibu itu, yang berpikir nggak-nggak.
Archi dan Agust tertawa bersama setelah keluar dari kawasan toilet. Archi memegang tangan Agust dan tertawa bersandar di dada Agust.
"Jantungku...deg-degan banget!" ungkap Agust.
"Aku juga..." Archi memegang dadanya. "Aku takut kita kepergok di dalam, bisa habis kita di amuk massa." jawab Archi mundur dari tubuh Agust.
"Lagian berubah nggak tahu tempat," protes Archi tapi belum bisa berhenti tertawa.
"Tapi serukan? Memacu adrenalin," sahut Agust. Membuat Archi ngakak lagi.
"Hahaha... Ya udah yuk. Ke mobil. Kasian bapak supirnya pasti nunggu lama," kata Archi menggenggam tangan Agust berjalan bersama ke mobil.
Agust tertegun, memandang tangannya yang digandeng Archi. Sentuhan listrik tidak nyata bisa dia rasakan menggetarkan hatinya karena sentuhan itu. Rasa apakah yang mendebarkan di hatinya? Pikir Agust.
"Loh...dia siapa Non?" tanya Pak supir kaget melihat Agust masuk ke dalam mobil.
"Dia suami saya Pak." Jawab Archi.
"Oohh...janjian ketemu di sini Non?" tanya Pak supir sambil menghidupkan mesin mobilnya.
"Iya pak." jawab Agust.
"Kalau kucingnya kemana?" tanya Pak Supir dibuat penasaran lagi.
"Dia kabur pak," jawab Archi menahan tawanya bersama Agust.
"Walah..." sahut si bapak.
Setelah melanjutkan perjalanan, akhirnya mereka pun sampai di depan rumah Archi. Hari sudah gelap saat mereka sampai. Archi membayar ongkos taksi online lebih dari yang tertera di aplikasi.
"Loh...kelebihan ini Non?" tanya bapaknya.
"Nggak apa-apa, Pak. Tadi bapak dah sabar nungguin saya di rest area. Itung-itung buat ganti bayar kopi bapak yang tadi," jawab Archi.
"Terimakasih Non."
Mobilnya melaju pergi. Archi dan Agust masuk ke dalam rumah. Mereka bertemu Ayah dan Ibu di ruang tamu sedang menonton televisi.
"Kamu sudah sembuh, Agust?" tanya Ibu saat Agust mencium tangan mereka.
"Alhamdulillah sudah Ibu Mertua," jawab Agust. Archi menahan tawanya.
"Kami naik dulu, Ayah, Ibu. Capek banget," kata Archi.
"Iya selamat istirahat!" sahut mereka.
Archi berjalan duluan, di susul Agust di belakang menenteng koper.
Tidak lama kemudian. Pintu rumah terbuka membuat Ayah dan Ibu terkejut.
"Arrrrchiiiii! Teriak Kakak
...****************...