Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
91. Gairah Memanas


Tanpa aba-aba, bibir bertindik Ridwan menyambar bibir Archi. Sejenak Archi membeku sebelum akhirnya mendorong Ridwan untuk berhenti. Namun Ridwan yang masih dalam pengaruh alkohol, dengan cepat menahannya.


Ridwan mencium Archi dengan lembut, nafasnya harum. Ciuman lembut namun dalam membuat Archi tak berkutik dalam buaian Ridwan.


Sementara di dalam diri Archi terjadi perang batin. Bila hatinya berkata tidak dan menyuruhnya berhenti namun hal itu ditolak respon tubuhnya yang malah menerima dan menikmati itu.


Setelah paguutan panas mereka yang membuat mereka hampir kehabisan nafas, Ridwan menjatuhkan Archi ke atas tempat tidurnya dan segera merangkak naik ke atas tubuh Archi yang menstabilkan nafasnya yang berantakan.


Tangan kekar Ridwan menopang tubuhnya yang membungkuk di atas Archi.


"Archi, maafkan aku. Aku tidak bisa menahan diri. Namun aku juga nggak akan melakukannya tanpa persetujuan darimu. Aku hanya akan melakukannya bila kamu juga menginginkannya," kata Ridwan dengan halus dan lembut.


Archi dalam dilema. Dia terdiam, berpikir dengan jawaban yang akan dia berikan. Sorot matanya menurun dari wajah tampan Ridwan ke bawah dada dan perut kekar yang shirtless dan berakhir pada ereksi Ridwan di balik boxernya. Membuatnya semakin hilang akal dan desiran gairah dalam tubuhnya semakin memanas.


Karena jujur rasa menggebu yang akhirnya tertahan, saat dia ingin melakukan hubungan in tim dengan Agust membutuhkan pelepasannya.


Hatinya sakit dan tidak setuju dengan nafsu Archi yang membumcah namun sisi lain dirinya menginginkan itu. Setelah menimbang, ia pun memutuskan,


"Aku...," Archi bersiap menjawab. "Agust!" mata Archi terbelalak, melihat kucing putih berdiri dengan empat kaki di ambang pintu kamarnya. Kucing itu menggeram dan terlihat marah!


"Agust?" Ridwan mengernyit. Dalam benaknya sosok Agust manusia berada di balik punggungnya.


"Hatchi...!" dia bersin kemudian. Ridwan menoleh, ke arah pandangan Archi.


"Kucing!" seru Ridwan terkejut dan memasang wajah takut. "Hatchi...!" dia turun dari tubuh Archi.


"Kucing darimana itu?" tanya Ridwan bergidik ngeri.


"Itu kucing peliharaanku." jawab Archi.


"Apa? Bagaimana bisa dia sampai ke sini?" tanya Ridwan hidungnya mulai memerah dan berair. "Hatchi!" bersinnya lagi.


"Aku juga nggak tahu. Tetapi kemungkinan dia masuk dan terbawa di tasku." kata Archi.


"Hatchi...hatchi...!" Ridwan terus bersin.


"Kamu alergi kucing, ya?" tanya Archi.


"Iya, bisa kamu bawa masuk ke kamar kucing itu? Hatchi...!" tanya Ridwan yang tak tahan dengan alerginya.


"Baiklah!" jawab Archi.


"Hatchi!"


Archi dan Agust kucing masuk ke dalam kamar.


"Bagaimana kamu bisa di sini?" tanya Archi tapi kucing itu diam, tidak mengeong seperti biasa.


"Ini aneh. Harusnya kucing bisa diditeksi saat pemeriksaan tas di bandara. Tetapi kamu?" tanya Archi merasa bingung sendiri.


"Heuh...Allah pun menolongku untuk menyelamatkan istriku dari hal yang tidak halal," batin Agust mendengus kasar.


"Bagaimana kalau aku tadi nggak muncul? Aku yakin kamu sudah salah jalan." sambung batinnya.


Sementara di atas tempat tidurnya.


"Huh...kucing sialan! Seandainya dia nggak muncul sepertinya aku sudah bercinta dengan Archi," Dengus batin Ridwan kesal lalu melihat adiknya di dalam boxer yang telah tertidur lagi. "Hatchi..!"


"Padahal sudah On on nya tadi."


"Guk...guk....!" seekor guk guk dalam kandangnya menggonggong ke arah Agust.


"Apa kau guk guk? dasar...shibal!" umpat Agust dalam kandangnya.


Karena kucing, Ridwan mengurungkan niatnya mengantar Archi sampai rumah. Mereka berpisah di bandara. Dia naik ke dalam mobil jemputannya dan Archi menaiki taksi online.


Archi pulang ke rumah dengan membawa kucing putih. Sesampainya di rumah, dia beruntung karena semua orang sedang di luar dengan aktifitasnya masing-masing. Ibu dan Kenji masih berada di sekolah Kenji.


Di dalam kamar Archi merapikan baju dari dalam tasnya. Saat itu Agust berubah menjadi manusia kembali.


"Aaaa...!" teriak Archi melihat Agust bertelan jang bulat. "Cepat pakai bajumu!" pekik Archi seraya memejamkan matanya.


"Iya, aku juga mau pakai baju." jawab Agust segera berpakaian.


"Bagaimana gairahku tidak selalu muncul kalau mataku selalu disuguhkan pemandangan seperti itu?" keluh Archi.


"Akh...sakit!" rintih Archi merasa sakit saat Agust mencengkeram lengan atasnya.


"Apa yang kalian lakukan di kamar hotel waktu itu?" tanya Agust tampak emosi.


"Nggak ada," jawab Archi melepas paksa cengkraman Agust di lengannya. Dia tidak berani menatap wajah Agust. Dia kembali sibuk dengan tasnya.


"Bagaimana kalau aku nggak ada waktu itu? Pasti kalian akan melakukannya, kan?" bentak Agust.


"Nggak, aku nggak akan melakukannya!" teriak Archi di hadapan Agust.


"Nggak apa? Kalian bahkan sudah sampai berciuman bibir! Selanjutnya pasti kamu akan rela memberikan tubuhmu pada pria yang pernah kamu cintai itu!"


"Serendah itukah kamu berpikir tentang istri mu ini?" tanya Archi merendahkan suaranya.


"Aku akui, aku menerima ciuman Ridwan dan bahkan menikmatinya." tambah Archi.


Deg,


tamparan keras di hati Agust mendengar ucapan Archi, dia teringat bayangan dirinya tengah berciuman dengan wanita lain.


"Apa bedanya Archi dengan diriku, aku juga pernah melakukan itu bukan dengan dirinya. Bahkan ciuman pertama Archi dia berikan kepadaku, sementara aku, entah sudah berapa kali aku mencium wanita dalam bayanganku," pikiran Agust melayang.


"Tetapi apa kamu pikir aku juga akan menyerahkan diriku? Aku tahu aku salah menerima ciuman itu. Tetapi aku juga masih sadar, aku masih tahu untuk tidak melewati batasku. Kalaupun kamu nggak ada saat itu, aku bisa pastikan aku akan menolaknya!" tegas Archi.


Ingatan Agust tentang bayangan dirinya yang bercumbu dengan wanita lain, membuat Agust terdiam. Dia merasa tidak adil bila harus marah kepada Archi karena ini. Dia pun pernah melakukannya dengan orang lain tanpa sepengetahuan Archi.


"Kenapa diam? Lagipula kalau pun aku mau, bisa saja aku berbuat itu dengan Ridwan meskipun kamu yang berwujud kucing di sana."


"Karena bisa saja aku berpikir, suami yang seharusnya memenuhi kebutuhanku saja tidak bisa melaksanakan kewajibannya. Tetapi aku masih ingat Tuhanku, masih menghargai dirimu sebagai suami ku, aku harus tetap menjaga kehormatanku dan mencoba mengerti keadaanmu." tandas Archi.


"Aku kecewa padamu karena kamu malah menuduh aku, akan berbuat sehina itu," pungkasnya kemudian lalu pergi keluar kamar.


"Arrrggghhhh!!!!" geram Agust mencengkram kuat rambutnya kebelakang.


"Aku jadi merasa sangat bersalah. Maafkan aku Archi, maafkan aku!" gumamnya menahan air mata.


"Ini jelas nggak adil untuk Archi. Karena masa laluku aku menghukum Archi dengan tidak memenuhi kebutuhan biologis nya. Seharusnya aku nggak melakukan itu, walau bagaimanapun sebagai suami aku harus melaksanakan kewajiban ku." pikir Agust.


"Tetapi apa aku bisa melakukannya? Bagaimana bila bayangan itu muncul saat kami tengah berhubungan." pikir Agust. "Apa aku bisa melawannya? Apa aku bisa mengatasi nya?"