
Tiba-tiba Ridwan menyela Archi...
"Tunggu...!" Ridwan membuka laci dashboard mobilnya dan mengambil sebuah kotak berbungkus kado dari dalamnya sambil tetap fokus menyetir. Sebuah kotak dengan bungkus kado berwarna hitam bergambar abstrak dengan tinta emas.
"Ini kado untukmu!" katanya memberikan kotak itu kepada Archi dengan tangan kirinya sementara tangan kanan tetap di kemudi. Wajahnya bergantian melihat ke depan dan kadonya. Archi tertegun dan diam memandangi kotaknya.
"Ambil Archi!" suruhnya menggoyangkan kotak itu. Archi terkesiap, dengan gemetar dia pun menerima kadonya lagi.
"Kan tadi sudah ditraktir, kenapa masih memberikan kado?" tanya Archi semakin bertambah nggak enak.
"Kamu nggak suka aku kasih kado?" tanya Ridwan.
"Nggak maksudku bukan gitu. Tapi kenapa kamu baik banget, ngasih aku kado sama traktiran juga,"
"Ya nggak apa-apa kan? Aku yang mau kok." jawabnya.
"Iya tapi,"
"Aku semakin nggak enak karena nggak bisa ngasih yang kamu harapkan dariku." sahut hati Archi. Wajahnya tertunduk memandangi hadiahnya.
"Ridwan, aku berterimakasih banyak sama kamu yang udah baik banget sama aku, dari dulu. Tetapi aku mohon jangan terlalu baik sama aku, aku jadi nggak enak sama kamu," kata Archi.
"Slow aja kali Chi," tanggap Ridwan singkat.
Mobil berhenti di depan rumah Archi. Ridwan keluar terlebih dahulu, setengah berlari memutari depan mobilnya lalu dengan gentle membukakan pintu untuk Archi. Archi keluar dari dalam mobil.
"Terimakasih untuk segalanya ya Ridwan!" ucap Archi. Kelopak matanya terasa basah oleh airmata.
"Sama-sama...," jawab Ridwan. "Aku mau kamu bahagia di hari spesial kamu ini," tambahnya.
"Aku bahagia pake banget banget," jawab Archi tersenyum.
"Syukurlah kalau begitu," jawab Ridwan.
Mereka pun berpamitan dan Ridwan masuk ke dalam mobilnya. Archi melambai sampai mobil Ridwan hilang dari pandangannya.
"Aku bahagia tapi juga nggak enak hati sama kamu Ridwan. Aku jadi ngerasa jadi kaya orang jahat," pikirnya sambil membuka pintu.
Lampu rumah semua padam, membuat Archi bingung sekaligus takut.
"Kok lampunya mati? Nggak ada orang apa di rumah?" tanyanya.
"Surrrrppprrriiiseee!!!!" seru Kenji, Ayah, Ibu dan Agust ketika Archi masuk bersamaan dengan nyalanya lampu.
Archi melonjak kaget, "ya ampun...kalian bikin aku kaget!" kata Archi mengelus dadanya yang bergemuruh. Rasa dihatinya berganti dengan cepat, kali ini dia terharu dengan kejutan yang diberikan keluarganya.
"Happy birthday to you...happy birthday to you ..." Kakak masuk dari arah dapur dengan kue ulang tahun berhias lilin menyala di atas kue nya.
"Duh...dah kaya anak kecil aja sih," kata Archi menutupi rasa riangnya.
"Tiup lilinnya..."
Setelah potong kue dan makan kue bersama.
"Ini ada titipan kado." Ibu memberikan sebuah kotak berbungkus kertas kado berwarna pink dengan hiasan pita biru di atasnya.
"Dari siapa Bu?" tanya Archi.
"Jeremy,"
"Apaaaaa?" teriak Kakak sambil berdiri. "Dia ngasih kado ke kamu? Dan aku pacarnya aja nggak tahu dia ngasih kado ke kamu?" dumel Kakak mencak-mencak.
"Ya mana aku tahu, Kak." jawab Archi.
"Coba buka...apa isinya?" suruh Kakak dengan ketus.
"Aku aja Kak...aku mau buka kado!" rengek Kenji seperti anak-anak kecil lainnya yang selalu ingin buka kado.
Archi memberikan kadonya kepada Kenji. Dengan semangat Kenji membuka kertas kado berwarna pink itu. Terlihat sebuah kotak berwarna hitam dengan tulisan Chanel yang didalamnya terdapat sebuah jam tangan dengan case keramik putih dan bezel kristal safir putih. Jarum jam berpernis putih dengan siluet Mademoiselle Chanel.
"Ini nggak adil...!" protes Kakak merengek kaya anak kecil. "Masa Archi dapat hadiah dari Jeremy...mahal lagi!"
Kakak diam tapi wajahnya merengut, bibirnya manyun masih menunjukkan rasa kesalnya.
"Aku buka satu lagi ya ka?" kata Kenji mengambil hadiah yang di berikan Ridwan.
"Oh...ini dari Ridwan," kata Archi. "Buka aja," kata Archi mempersilahkan.
Kenji membuka bungkus kadonya dan terlihat sebuah album Agust D D'day yang bertanda tangan Agust D langsung.
"Aaaaa....!" jerit Archi berjingkrak kesenangan sambil meraih album dari tangan Kenji.
"Ya ampuun...dapat album bertanda tangan Agust D!" haru Archi memeluk albumnya.
Sementara itu di belakang itu semua. Agust memegang hadiah darinya di balik punggungnya. Agust merasa rendah diri ingin memberikan hadiah kepada Archi karena melihat hadiah-hadiah yang diterima Archi lebih berharga.
"Agust...hadiah dari kamu mana? Berikan pada Archi!" kata Ayah menoleh ke arah Agust. Semua menatap kearahnya.
Agust terlihat gugup dan serba salah.
"A..aku meninggalkannya dikamar. Sebentar aku ambil dulu!" jawab Agust terbata memasang senyum palsu. Dia berjalan mundur dan berbalik cepat menyembunyikan kadonya di depan badannya agar tidak terlihat. Terburu-buru dia naik ke atas dan pergi ke kamar Archi.
"Aku harus menyembunyikan ini!" katanya melihat berkeliling mencari tempat yang cocok untuk menyembunyikan kadonya.
Saat itu dia mendengar langkah kaki menuju ke kamar Archi. Dengan cepat dia menaruh hadiah darinya di lemari bawah meja belajar Archi.
"Kamu ngapain?" tanya Archi kepada Agust yang telah berdiri di depan meja belajar.
"Lagi nyari kado dariku, sepertinya aku lupa menaruhnya dimana," jawab Agust nyengir.
"Sini biar aku bantu carikan." Archi menawarkan diri.
"Nggak usah!" Agust mengibaskan tangannya. "Aku udah cari disini nggak ada. Aku rasa ketinggalan di kamar Kenji," jawab Agust melipir, berjalan menuju pintu kamar Archi.
Agust tertunduk menuju ke kamar Kenji.
"Aku nggak mau kalau sampai Archi melihat hadiah dariku. Dia pasti kecewa, hadiah dari suaminya bahkan nggak menarik apalagi mahal seperti hadiah-hadiah dari cowok-cowok itu. Dia pasti merasa nggak beruntung memiliki suami kaya aku. Nggak bisa diharapkan, pengangguran," ungkap hatinya merasa sedih.
Sekembalinya Agust ke kamar Archi.
"Terimakasih Agust!" seru Archi tersenyum kepada Agust dengan sebuah papan kayu berpernis ukuran 19x14 cm, berbentuk paus dengan ekornya naik dan memiliki ukiran paus kecil di sudut bawah papan itu.
Wajah putih Agust terlihat berubah merah, "Dari mana kamu menemukan itu?" tanyanya dengan suara bergetar.
"Di lemari situ!" tunjuk Archi ke meja belajarnya. "Ini untukku kan?" tanyanya tersenyum.
"I...iya sih tapi...,"
"Ini hadiah paling bagus bagiku!" sanjung Archi memeluk papan itu.
"Pasti sulit membuat ini. Tetapi kamu sudah berusaha keras untukku, terimakasih ya!" Archi memeluk Agust. Membuat wajahnya kembali memerah dan jantungnya berdegup kencang.
"I...iya!" jawab Agust menaruh tangan di punggung Archi.
"Foto dulu!" kata Archi, mengambil handphonenya dan mengambil foto wefie bersama Agust sambil memegang papan hadiah dari Agust. Archi mendekatkan sisi wajah mereka sambil tersenyum, Agust tersipu malu dan menaikan senyum kakunya.
"Sebentar," kata Archi selesai berfoto. Dia mengambil printer portable dan mencetak foto tersebut.
Setelah mencetaknya dengan menggunakan doubletip di belakang foto cetak, Archi menempelkan foto mereka di atas papan dan menaruhnya di atas meja belajar Archi.
"Bagus kan?" kata Archi dengan bangga.
"I..iya," jawab Agust yang masih speechless.
"Aku pikir Archi nggak akan suka hadiahku, tetapi ternyata dia menyukainya," kata Agust dalam hati. "Syukurlah dia menyukainya," Agust memperhatikan Archi yang masih memandangi papan foto di atas mejanya dengan mata berbinar.
...****************...