Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
124. CLBK


"Jabatanku lebih tinggi darimu, jadi aku bisa meminta yang aku inginkan." sahut Agust mengambil keuntungan dari posisinya untuk memperebutkan Archi. "Ini juga demi kebaikan, agar pekerjaanku dapat terarah."


"Eugh... dulu aku yang paling menyayangi Yoongi Hyung dan sangat membelanya. Namun sejak dia menjadi sosok Agust ini, aku jadi membencinya." gerutu hati Ridwan menatap permusuhan ke arah Agust.


"Selamat pagi!" suara lembut seorang wanita yang baru saja datang menyapa semuanya.


"Irene!" sapa Tuan Ludwig seraya merentangkan tangannya. Irene memeluk erat Kakek.


Agust dan Archi nampak sama terkejutnya melihat mantan bos Agust itu ada di sana. Berbeda dengan Ridwan yang tersenyum licik.


"Kamu datang hari ini?" tanya Tuan Ludwig.


"Iya. Katanya jabatan CEO akan kembali di isi dan sebagai asisten pribadi CEO aku memutuskan untuk kembali bekerja seperti dulu yang mendampingi CEO yang lama, Yoongi." jelas Irene menatap penuh makna ke arah Agust.


Tulang-tulang keras Archi tiba-tiba saja berubah jadi jelly. Dia nampak lemas dengan bahu terkulai. Rasanya kenyataan ini lebih pahit dari buah pare yang pernah dia makan di siomay langganannya.


"Nah kan! Kalian dengar itu. Jadi Archi tetap bersamaku." seru Ridwan dengan senangnya lalu menarik tangan Archi yang lesu. Dengan pasrah Archi mengikuti langkah Ridwan.


Archi menoleh ke arah Agust yang nampak bingung harus berbuat apa dengan kehadiran Irene di sana.


"Ya sudah Agust. Selamat bekerja ya. Irene akan menunjukkan ruanganmu." kata Tuan Ludwig berpamitan dan pergi ke ruangannya sendiri.


"Baik. Terimakasih Tuan." jawab Agust.


"Ayo Pak Agust, saya tunjukan ruangannya!" kata Irene tersenyum ramah.


Dengan sungkan dan kaku Agust mengikuti Irene dibelakangnya. Sepanjang jalan karyawan yang berpapasan dengannya masih memberi salam dan hormat.


"Sepertinya yang lain mengira kamu adalah Yoongi." kata Irene sambil membukakan pintu untuk Agust dan mempersilahkan nya untuk masuk. "Kalian memang sangat mirip. Ini juga sebabnya Tuan Ludwig memberikan kamu tempat Yoongi, agar membuat karyawan di sini nggak bingung kalau tiba-tiba kamu bekerja sebagai bawahan." jelas Irene.


"Jadi kamu sudah tahu dari awal tentang kemiripan aku dengan Yoongi?" tanya Agust setelah Irene menutup pintu.


"Iya. Tentu saja. Aku juga takjub melihat dirimu saat pertama kali. Kamu pikir apa alasanku menerima kamu bekerja di restoranku?" Irene bertanya balik kepada Agust.


"Kenapa kamu nggak pernah membicarakan itu?"


"Aku sering mengatakannya. Apa kamu lupa saat aku mengatakan kamu mirip tunanganku?" pertanyaan Irene mengejutkan Agust dengan satu lagi kenyataan tentang Yoongi.


Cuplikan rekaman ciuman bibirnya dengan seorang wanita di ruang gelap waktu itu kembali terlintas dalam ingatannya. Mengingat itu membuat kepala Agust terasa nyeri dan berputar.


"Kamu kenapa Agust? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Irene hendak menghampiri Agust yang segera disergah Agust dengan mengangkat tangannya.


"Apa wanita itu Irene?" tanya Agust.


Di ruangan kerja Ridwan.


"Dia bukan cuman assisten pribadi Yoongi Hyung. Irene itu tunangan Yoongi. Mereka hampir menikah kalau saja Yoongi hyung nggak meninggal." jelas Ridwan di depan meja kerja Archi.


Kepala Archi terasa berputar. Tubuhnya yang belum kuat terasa semakin lemas dibuatnya. Dadanya yang bergemuruh disertai mual perutnya yang tiba-tiba. Sekonyong-konyong air mata membasahi pelupuk matanya.


"Kenapa kamu tampak sedih Archi?" tanya Ridwan menjadi khawatir merendahkan tubuhnya, menaruh dagunya di meja menatap wajah Archi dengan tatapan lembut penuh perhatian. Tangan panjangnya terulur mengusap punggung tangan Archi yang tergeletak di meja.


"Apa kamu sakit?" tanya Ridwan lagi.


"Nggak. Aku nggak apa-apa. Hanya saja asam lambung ku sepertinya naik."


"Irene kan tunangannya Yoongi Hyung, bukan tunangan suamimu kenapa kamu jadi sedih setelah mendengar itu?" lontar Ridwan.


"Karena kamu nggak tahu kenyataannya tentang siapa sebenarnya Agust. Agust terhubung dengan Yoongi. Dan kenyataan itu membuatku terpukul." pikir Archi tak dapat membendung air matanya.


"Loh...kok malah nangis!" Ridwan bergeges mengambil tissue dan memberikannya kepada Archi. "Apa sesakit itu perutnya? Biar aku bawa ke klinik kalau kamu mau." Ridwan menawarkan diri.


"Nggak usah Ridwan. Ini nanti juga hilang." jawab Archi.


Ridwan melipat bibirnya lalu berdiri menekan tombol telepon di atas meja Archi, "Maia bisa tolong ambilkan air hangat dan obat magh?" titah Ridwan.


"Baik Pak." jawab Maia.


"Kenapa kamu merepotkan orang lain? Aku bisa mengambilnya sendiri kalau perlu." omel Archi.


"Itu bukan masalah, Archi. Sudah jangan nangis lagi. Nanti Maia salah paham, mengira aku berbuat sesuatu kepadamu." goda Ridwan mengerling nakal. Archi tak tahan tersenyum mendengarnya.


"Begitu lebih baik."


Tok tok tok


"Masuk!"


"Terimakasih ya Maia."


Istirahat kerja, Archi dan kawan-kawan pergi ke musholla yang cukup besar di dekat salah satu gedung pabrik untuk melaksanakan shalat dzuhur.


Archi dan kawan-kawan nya berjalan di pelataran musholla setelah berwudhu hendak menuju ke bagian wanita. Hingga tiba-tiba Ridwan dan Agust berhamburan berlari menghampirinya. Agust yang mengerem mendadak mengenai lengan Archi.


"Kalian! Apa-apan sih? Ini musholla tempat shalat."


"Wah...Archi udah wudhu jadi batal tuh wudhu nya gara-gara kamu." Omel Ridwan.


"Ya nggak lah, aku kan suaminya. Weee!!!"


"Wah tengil!"


"Sttt!!! udah sana pada wudhu terus shalat!" omel Archi lalu berjalan pergi.


"Gue dulu!" Agust berlari menuju tempat wudhu disusul Ridwan.


Selesai semua shalat, "Kita istirahat bareng ya Archi." kata Agust berjalan bersama Archi dan teman-temannya.


Di antara mereka Ridwan menatap dengan perasaan cemburu. Andini dan dua orang temannya bermain mata mengejek Ridwan.


"Kasian ya, sekarang Archi sudah sama pawangnya." goda Susan disambut tawa Andini dan Icha.


"Udah Pak. Nyerah. Cari yang lain. Susan juga masih nganggur nih." kata Andini.


Archi menoleh ke arah kawan-kawannya. Agust merangkul lengan Archi dengan sengaja.


"Ini tempat kerja. Harus jaga sikap." kata Archi melepaskan lengan Agust. Ridwan terkekeh penuh kemenangan melihatnya.


Agust menoleh menatap persaingan kepada Ridwan.


"Hadeeuh...!" keluh Archi berjalan lebih cepat dari yang lain.


"Archi!" panggil Agust mengejar Archi.


Setelah istirahat di ruangan Tuan Ludwig. Pintu terbuka dengan keras dan tertutup sama kerasnya.


"Kenapa ayah melakukan itu?" tuntut Tuan Nicholas meminta penjelasan.


"Kenapa apanya?" tanya Tuan Ludwig dengan nada ringan, berpura-pura tidak mengerti.


"Kenapa ayah memberikan posisi itu kepada orang asing? Selama ini tempat itu dibiarkan kosong dan tetap menjadikan aku wakil CEO yang meng-handle segala pekerjaan nya. Tetapi sekarang, dengan seenaknya ayah memberikan tempat itu ke orang asing hanya karena dia mirip dengan Yoongi." cecar Tuan Nicholas bersungut-sungut.


"Seharusnya aku yang naik jabatan. Atau mungkin Ridwan. Kenapa harus orang lain?"


"Aku hanya nggak ingin melihat karyawan bingung melihat orang berwajah mirip Yoongi bekerja sebagai bawahan di sini. Biarkan orang-orang menganggap Yoongi telah kembali." jawab Tuan Ludwig.


"Dia orang lain Ayah walau wajahnya mirip Yoongi. Kapan ayah mau menerima kalau Yoongi sudah nggak ada. Dan kenapa harus memikirkan pemikiran karyawan di sini?" tanya Tuan Nicholas lagi.


"Biarkan saja dulu seperti ini. Aku ingin melihat juga kemampuan memimpin dia." jawab Tuan Ludwig menerawang ke luar jendela.


"Aku semakin nggak mengerti jalan pikiran Ayah. Ayah memang nggak pernah bersikap adil kepadaku!" Tuan Nicholas pergi dengan membanting pintu.


Malam harinya, Agust melihat perubahan sikap Archi yang jadi lebih pendiam dan banyak termenung.


"Archi kamu kenapa?" tanya Agust duduk di sebelah Archi di tempat tidur seraya menggenggam jemari istrinya.


"Nggak kenapa-kenapa." jawab Archi berbohong.


"Jangan bohong Archi, aku tahu ada yang lagi kamu pikirkan." tuntut Agust.


Archi membuang nafas, "Seharusnya aku mendengarkan kata ayah." suara Archi begitu lemah ketika mengatakannya. Agust mentautkan alisnya nampak bingung.


"Seharusnya kamu nggak usah kerja di sana." tukas Archi menyesal.


"Loh memangnya kenapa?" tanya Agust bertambah tidak mengerti.


"Karena bekerja di sana kamu jadi bersama Irene. Dan aku jadi tahu kalau Irene itu tunangannya Yoongi, tunangan KAMU!!!" Archi mengatakannya dengan air mata beruraian di pipinya.


Agust yang tak menyangka kalau Archi mengetahui hal itu, terperangah menatap Archi.


...~ bersambung~...