
"Nggak. Kok kamu malah ngekhawatirin itu sih. Apa aku berhenti kerja aja ya? Tanya Agust memandang lekat ke arah Archi.
"Kenapa berhenti?" tanya Archi.
"Habis aku mulai nggak nyaman sama bos Irene." jawab Agust.
"Dia kayanya suka deh sama kamu," terka Archi.
"Kok kamu ngomongnya gitu?"
"Kelihatan jelas kok." jawab Archi.
"Kalau dia beneran suka sama aku bagaimana hayo?" Agust menakuti.
"Ya aku sih terserah kamu. Kalau kamu suka juga sama dia, aku bisa berbuat apa?" jawab Archi terkesan cuek.
"Kamu nggak keberatan gitu?" tanya Agust.
"Jadi bener kamu suka sama dia?" pekik Archi.
"Ya bukan gitu. Kamu bakal masrahin aku sama dia?" tanya Agust menekankan.
"Perasaan nggak bisa dipaksa kan Agust. Kalau kamu sukanya sama dia, dan nggak suka sama aku, terus aku suruh paksa-paksa kamu buat bertahan gitu?" jawab Archi menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya.
"Aku tuh maunya kamu jawab, aku cinta sama kamu. Maunya kamu bertahan sama aku. Bukan jawaban kaya gitu Archi. Kamu kaya nggak mau banget mempertahankan aku. Apa sebenarnya kamu memang nggak cinta ya sama aku? Kamu cintanya sama si Ridwan?" pikir Agust merasa sedih.
"Aku maunya juga kamu selalu sama aku. Tapi kalau kamu maunya sama Irene? Irene lebih cantik dan lemah lembut daripada aku yang sedikit urakan ini. Nggak nyalahin kamu juga kalau lebih milih dia." pikir Archi
"Nih! Es krim untukmu!" kata Archi mengeluarkan es krim milik Agust dari freezer lemari es.
"Terimakasih." jawab Agust.
Mereka berdua saling tertunduk memakan es krim dengan pikiran mereka masing-masing.
Esok harinya, di kantor Archi.
"Jum'at, Sabtu, Minggu ada employee gathering di pantai." kata Susan memberikan selebaran yang diberikan perusahaan.
"Ih...malas banget sih!" keluh Archi di dalam hatinya. Archi paling malas untuk acara-acara seperti ini. Dia lebih senang menghabiskan waktunya di rumah dan bermalasan daripada harus pergi jauh dari rumah.
"Ada doors prize nya loh, Galaxy Z Flip."
"Kamu ikut kan Chi?" tanya Icha yang sedari memperhatikan Archi tidak semangat menanggapi acara ini.
"Ikutlah. Mau nggak mau. Nggak lihat dibawahnya ada tulisan wajib ikut." jawab Archi.
"Hahahaha...." kawan-kawan Archi tertawa mendengar Archi yang sedikit emosi karena seperti dipaksa ikut untuk kegiatan ini.
"Kalau nggak ada tulisan ini nanti banyak yang nggak pada ikut. Kalau nggak ikut tanpa alasan yang valid dan emergency kan bisa kena SP."
"Betul perusahaan nggak mau sama karyawan yang malas dan nggak ada loyalitasnya. Ini kan buat kebaikan bersama juga. Ya itung-itung jalan-jalan bareng." kata Andini.
Malam hari, di rumah Archi.
"Jadi tiga hari kamu nggak di rumah?" tanya Agust sedih.
"Iya. Hanya tiga hari kok."
"Itu kan lama."
"Nanti tiap malam ada waktunya buat nelpon keluarga. Nanti kita bisa vidcal or teleponan kan." sahut Archi.
"Tetap aja beda sama kalau ketemu langsung."
"Kamu ni kadang suka manja nggak jelas!" kata Archi.
Yang sebenarnya dalam hati Archi.
"Iya, aku nggak bisa bobo deket Agust. Nggak bisa ketemu Agust tiga hari. Pasti kangen berat," rengeknya dalam hati.
Hari Jum'at pukul 13.00 Archi berangkat ke kantor setelah mengemasi barang-barang untuk dia bawa selama gathering 3 hari ini.
"Pakai kaos ini rasanya norak," kata Susan setelah berada di bis memperhatikan kaos buatan perusahaan berwarna putih dengan berbagai hiasan.
"Iya siapa sih yang design segala ada pelanginya, kaya anak tk aja."
"Hahaha....ngeluh wae lu lu pada." sahut Archi.
Sementara di Irene's Pizza.
"Archi pasti udah berangkat. Sayang nggak bisa nganterin dia." keluh Agust memandangi handphone-nya yang berisi foto dirinya bersama Archi.
Setelah dua jam perjalanan, Archi dan semuanya sampai di hotel tempat mereka akan menginap.
"Aku kalau liburan juga di hotel ini." kata Archi.
"Iya,"
Setelah pembagian kamar....
"Seneng kita bisa sekamar," kata Icha yang sekamar dengan Archi, Susan dan Andini.
"Bosan, gila. Ketemu kalian mulu. Coba bisa sekamar sama Ridwan." kata Susan.
"Idih ngarep." sahut Andini.
"Nggak mungkin jugalah, cewek cowok dicampur. Gila emang si Susan nih." timpal Andini.
"Kalaupun boleh, udah pasti Pak Ridwan milihnya sama Archi ngapain juga sama Susan. Bisa abis dia digrepein sama kamu," kata Icha.
"Hahhaa bener tuh Cha." jawab Andini.
"Dia juga di sebelah kamar tuh!" kata Archi yang berdiri di balkon yang sedang tatap-tatapan dengan Ridwan di balkon kamar sebelah.
"Yang benar?" mereka berlarian ke balkon.
"Hai....Pak!" sapa mereka melambai-lambai.
"Pak, jangan ganteng-ganteng, nanti Archi nambah naksir!" seru Susan.
"Apaan sih kamu! aku lagi, aku lagi!" Archi berlari mengejar Susan ke dalam kamar.
"Hahha...iya...iya ampun!" jawab Susan terpojok diatas tempat tidur.
Acara malam ini adalah malam pengakraban. Para karyawan dikumpulkan di pantai. Duduk mengelilingi api unggun.
Satu persatu atasan yang datang memberikan wejangan diselingi bercandaan kepada para karyawan. Termasuk juga Ridwan yang diberikan kesempatan berbicara. Setelah acara ramah tamah, mereka bernyanyi bersama.
"Haduuh...masuk angin deh ini bisa-bisa." keluh Archi yang mulai merasa nggak enak badan karena acara belum juga selesai walau jam sudah beranjak dari angka 10.
Archi yang mulai merasa tambah dingin merasakan sebuah jaket tersampir dibelakang tubuhnya. Dengan lembut Ridwan memberikan jaket yang dia gunakan untuk menutupi tubuh Archi.
"Terimakasih," jawab Archi kepada Ridwan yang duduk disebelahnya. Ridwan pun tersenyum membalasnya.
Menjelang tengah malam acara barulah selesai. Mereka pun kembali ke kamar untuk istirahat dan mempersiapkan fisik untuk acara besok.
Archi bangun dengan sakit kepala dan nggak enak badan. Namun karena ini acara bersama Archi mencoba menguatkan diri untuk ikut.
Acara di awal adalah shalat shubuh berjamaah. Selesai itu dilanjutkan dengan lari pagi bersama mengelilingi pantai. Acara selanjutnya games berkelompok di halaman luas dekat kolam renang.
Saat tengah acara berlangsung Archi yang sedang berjalan ditepi kolam renang dengan sengaja di dorong oleh si biang gossip, Welin. Archi yang tidak bisa berenang nyaris tenggelam di kolam dua meter.
"To...long...!" pekik Archi mencoba mempertahankan kepalanya di atas.
"Archi!" seru teman-teman Archi bergegas ingin menolong Archi.
Byuuuur!!!!
Dengan sigap Ridwan masuk ke kolam renang dan membawa Archi yang sudah tenggelam ke tepi kolam.
"Archi...sadarlah!" kata Ridwan.
Andini melakukan CPR kepada Archi.
"Uhuk...uhuk..!" Archi mengeluarkan air dari tenggorokannya dan kembali sadar.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Ridwan. Namun Archi nggak menjawab karena masih merasa lemah.
"Sebenarnya dari pagi Archi nggak enak badan, sakit kepala katanya." kata Susan.
"Klinik hotel ada di lantai lima pak!" kata seorang staff sambil memberikan mantel tebal untuk menyelimuti tubuh Archi.
"Baiklah!" Ridwan membopong Archi.
"Kalian lanjutkan saja gamenya aku yang akan mengurus Archi!" kata Ridwan setengah berlari menggendong Archi ala bridal style menuju ke lift.
Di dalam lift. Baru setengah perjalan, tiba-tiba lift berhenti.
"Ada apa lagi ini? Kenapa tiba-tiba lift nya mati?" gerutu Ridwan menekan-nekan tombol lift. Karena lift tidak merespon Ridwan menekan tombol darurat.
"Bertahanlah Archi!" Kata Ridwan mendudukan Archi dibawah bersandar di dinding lift.
"Ya ampun! Badanmu panas," kata Ridwan. Sementara Archi menggigil kedinginan.
...~ bersambung ~...