
"Tetapi apa aku bisa melakukannya? Bagaimana bila bayangan itu muncul saat kami tengah berhubungan." pikir Agust. "Apa aku bisa melawannya? Apa aku bisa mengatasi nya?"
...****************...
Dengan wajah merengut, bibir manyun lima centi Archi turun ke lantai bawah. Bergabung bersama Ayah dan Ibunya menonton Persib lawan Arema malang di televisi.
"Ya ampun itu bibir, buat ngegantungin baju juga bisa itu." sindir Ibu dengan bergurau.
"Kenapa lagi Archi? Bertengkar lagi sama Agust?" tanya Ayah.
"Pulang jalan-jalan dari Yogyakarta kok malah bertengkar sih kalian?" sambung Ibu.
"Kurang kali jalan-jalannya." sahut Ayah lagi.
"Nggak tahu ah. Kalian malah bikin aku tambah bete." sungut Archi.
"Yah dia ngambek. Kami kan cuman mau bercanda sama kamu Archi," bujuk Ayah.
"Iya, jangan marah sayang." timpal Ibu mengusap rambut Archi.
"Memangnya kalian ada masalah apa lagi?" tanya Ayah. "Ayah lihat kok sering banget bertengkar?"
"Harusnya dari awal, kami nggak seharusnya menikah." jawab Archi dengan pandangan kosong.
Ayah dan Ibu terperangah sambil saling memandang mendengar jawaban sendu Archi.
Di tengah anak tangga, Agust terpaku mendengar ucapan Archi. Sayatan besar dan dalam terasa di hatinya. Buliran airmata tertahan memenuhi kornea matanya. Menjadikan matanya yang sayu berkilauan air mata.
"Kami bahkan nggak saling kenal. Asing satu sama lain. Terkadang aku lelah harus selalu mengerti dan mengikuti Agust yang nggak aku tahu kemana jalan pikirannya." sambung Archi.
Dengan langkah lemahnya dan wajah tertunduk dalam Agust berputar menaiki anak tangga dan kembali ke dalam kamar Archi.
"Jangan begitu Nak. Jangankan bagi kalian yang awalnya nggak saling kenal. Bagi yang berumah tangga dan sempat pacaran saja sering kok terjadi gesekan karena perbedaan arah pikirannya. Tapi itu biasa, ibaratnya itu kerikil dalam perjalanan kalian. Dan disitu rumah tangga itu diuji. Bila mampu menghadapinya bersama, Insya Allah rumah tangga itu malah bisa semakin kuat."
"Yang terpenting diantara kalian adanya kesabaran, dan sikap lapang dada untuk saling menerima. Apalagi kamu tahu Agust itu amnesia, dia bahkan belum bisa mengenal dirinya seutuhnya. Disitulah peran kamu sebagai istri diperlukan untuk mendukungnya." sambung Ayah.
"Kalau suami cemburu dan merasa protektif dengan pasangannya itu pertanda bagus loh. Artinya di hatinya ada cinta yang besar untukmu." timpal Ibu.
"Darimana Ibu tahu kalau aku bertengkar dengan Agust karena cemburu?" tanya Archi curiga.
"Ya apalagi dong Nak? Kalian ke Yogyakarta bertiga, kamu, Agust dan Ridwan. Di sana ibu yakin kamu lebih sering bersama Ridwan. Pasti Agust ada cemburu-cemburunya kan sama kalian." jawab Ibu terdengar meyakinkan.
Archi mengangguk seraya mengerucutkan bibir dan dagunya.
"Dari Agust punya rasa cinta dan cemburu sama kamu, itu sebenarnya sudah awal yang bagus untuk rumah tangga kalian loh Archi. Dari yang nggak saling kenal, ternyata cinta bisa timbul di hati kalian. Bagus kan?" wajah Archi bersemu merah mendengar ucapannya Ayahnya.
"Iya Ayah," jawab Archi yang tiba-tiba merasa jadi gugup.
"Aku mau ke kamar dulu." pamit Archi bergegas naik ke lantai dua menuju kamarnya.
"Hem....anak muda zaman sekarang. Tingkahnya suka macam-macam. Bener kayak di film-film, benci bilang cinta, cinta jual mahal. Hufh...." dengus Ibu.
"Ibu ini korban sinetron," gurau Ayah menggeleng seraya tersenyum.
Archi memasuki kamarnya, tanpa mau melihat Agust yang tengah berkonsentrasi di meja belajar, Archi beringsut ke atas tempat tidur dan menyelinap di balik selimutnya.
Agust menoleh memperhatikan istrinya yang membelakangi dirinya dan wajah yang di tutup selimut.
"Maafin aku Archi. Aku benar-benar merasa nggak bisa jadi suami yang baik untukmu. Begitu banyak kekuranganku hingga membuatmu lelah harus mengikuti diriku," pikir Agust. Perlahan mengarahkan pandangannya keluar jendela menatap pekatnya malam yang sepekat suasana hatinya kini.
Shubuh itu Agust bangun lebih awal, mandi dan pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Sementara Archi bangun terlambat karena tidak mendengar alarmnya berbunyi.
Dengan tergesa-gesa dia bangkit dari kasur dan mandi. Tidak lupa mengerjakan kewajibannya untuk shalat shubuh sebelum bersiap ke kantor.
"Duuuh...Agust ini bukannya ngebangunin aku. Bangun lebih awal juga!" kata Archi ngedumel sambil bersiap.
Dengan langkah cepat dia menuruni tangga sambil memakai sepatu kerjanya. Di anak tangga terakhir, dia tersandung kakinya sendiri dan nyaris tersungkur bila Agust tidak kebetulan lewat di sana dan menangkapnya dengan cekatan.
Jantung Archi berdegup kencang, mereka saling tatap dalam keheningan. Ada yang berbeda dari tatapan Agust, begitu dingin tanpa ekpresi.
"Haduuuh...., hampir aja nyungsep!" kata Archi melepaskan pelukan Agust.
"Sarapan dulu Archi!" kata Ibu.
"Nggak Ibu. Aku ada meeting." jawab Archi sekenanya lalu pergi keluar rumah.
"Eh..., dia nggak nemenin aku?" tanya hati Archi menoleh ke arah pagar rumah yang baru saja dia lalui.
"Hah...terserahlah. Aku buru-buru." jawabnya sendiri.
Di kantor Archi...
"Cie...yang abis jalan-jalan berdua sama Pak Ridwan!" kata Susan ngecengin Archi yang baru sampai dengan nafas terengah-engah karena setengah berlari sejak turun dari bis.
"Jalan-jalan apa sih? Itu kan perjalanan bisnis bukan jalan-jalan." jawab Archi ketus sambil duduk di kursinya dan merebahkan kepalanya di meja.
"Sama aja atuh Archi. Pasti ada jalan-jalan berduanya kan?" sambung Icha.
Archi mengingat-ngingat saat dia dan Ridwan jalan berdua berkeliling menaiki delman sepanjang jalan Malioboro , berjalan kaki menelusuri Malioboro sambil berbelanja, dan makan di mencicipi aneka makanan khas, juga yang viral di sana.
"Eh...kalian nggak ngapa-ngapain kan di sana, berdua?" kepo Susan.
Wajah Archi tiba-tiba berubah merah, "Nggak lah mau ngapain emang?" sungut Archi sedikit menolehkan wajahnya menutupi malu.
"Kali kayak yang sempet viral 'staycation' atasan sama karyawan itu." kekeh Andini.
"Eh datang orangnya," kata Icha menunjuk ke arah Ridwan yang baru datang. Sambil berjalan dia bersenandung dan menjentikan jarinya dengan riang.
"Aduuuh!" bisik Archi membenamkan wajahnya ke lengannya di atas meja.
"Pagi semua!" sapa Ridwan dengan ceria.
"Pagi Pak!" seru semua Ikut ceria.
"Pagi Archi. kamu kenapa? Sakit?" tanya Ridwan berhenti di depan meja Archi.
"Pake nanya lagi. Aku masih malu sama kejadian di sana tempo lalu. Tapi dia malah kelihatan senang banget." gumam Archi lirih dan menegakkan kepalanya.
"Nggak pak." jawab Archi sambil tersenyum.
"Oh kirain kamu sakit. Btw kucing kamu imut juga ya!" kata Ridwan mengerling jahil.
Membuat teman-teman Archi terperangah dan salah paham hingga berpikiran ngeres kayak lantai nggak pernah disapu seminggu.
"Kucing?" tanya ketiga teman Archi saling menatap bingung.
"kamu mau lihat kucing di rumahku?" mereka pun teringat istilah itu lalu memandang Archi sambil mesam mesem.
"Yaaakkk!!!! Jangan mikir yang aneh!" pekik Archi kesal. Mereka bertiga tertawa.
"Archi udah nggak polos guys!" kelakar mereka seraya tertawa.
Ridwan yang sambil berjalan ke ruangannya, tertawa tanpa suara memasuki ruang kerjanya. Lalu berkedip ke arah Archi yang kebetulan melihat ke arahnya.
"Ada apa dengan mereka? Ya ammpun!" dengus Archi.
...****************...