Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
89. Kucing Kawin


Archi tiduran menelengkup di atas tempat tidurnya sambil membaca novel.


"Ciri sekunder yang nampak berlaku untuk ras asia cowok yang nafsunya tinggi adalah, cenderung berkulit terang, tubuhnya mulus tanpa bulu sekunder, seperti bulu kaki, suaranya tennor antara bass dan treble, walau kumisan Tapi nggak punya bulu kaki," Archi membaca percakapan antara pemeran dalam novel.


"Walah, apa Agust termasuk ya?" pikirnya.


Saat itu Agust masuk ke kamar setelah dari kamar mandi. Agust mendekati tempat tidur dan dengan segera menindih Archi.


"Agust!" pekik Archi terkejut. "Kamu ngapain sih?" tanya Archi dan Agust masih berada di atas punggungnya.


"Tadi katanya mau coba HS," ujarnya begitu polos.


"Terus kenapa kamu nindih aku dari belakang gini,"


"Saat aku jadi kucing aku melihat kucing jantan melakukan begini saat kawin," jawab Agust.


Archi membalik tubuhnya membuat Agust turun dan bergeser dari tubuh Archi.


"Ya ampun Agust...!" ratap Archi. "Itu kan kucing. Kita kan manusia."


"Haduuh jadi malu, harusnya aku searching dulu tentang step by step HS di internet." batin Agust menimpali.


"Ya mungkin untuk variasi gerakan sih boleh, tapi ya ga di awal juga," terang Archi.


"Ah...nggak nggerti aku!" Lucunya melihat kucing maksudnya Agust uring-uringan kebingungan. "Aku pikir kucing dan...," ucapan Agust terhenti saat bibirnya diraih bibir Archi untuk dikecup.


Matanya membesar dan tertegun saat bibir Archi melu mat bibirnya.


Agust yang tidak tahu apa dan bagaimana ciuman hanya diam dan merasai bibir Archi melu mat bibirnya. Sensasi pagut tan bibir Archi membuat bibir Agust bergerak sendiri mengimbangi bibir Archi. Matanya terpejam merasakan nikmatnya ciuman dan Detak jantung keduanya pun memompa cepat.


Tangan Agust menekan belakang kepala Archi membuat ciuman mereka semakim dalam. Agust menghi sap bibir Archi lalu lidahnya menerjang masuk ke dalam mulut Archi saling beradu lidah, menggeliat ciuman mereka semakin intens disela napas yang memburu.


Bayangan sebuah situasi familiar dengan saat ini muncul dalam otak Agust. dalam keadaan ruangan gelap, Agust melihat dirinya dengan rambut panjang sebahu dan dikuncir separuh kebelakang sedang mencu mbu, dan melu mat penuh gairah bibir seorang wanita.


Pengambilan sudut bayangan yang hanya memperlihatkan wajah dirinya dari sisi samping atas kepala wanita dalam bayangannya, membuatnya tidak dapat melihat wajah wanita yang sedikit tertutup oleh rambutnya yang panjang terurai.


Agust melepaskan ciumannya cukup keras. Membuat Archi tersentak kaget.


"Ada apa Agust?" tanya Archi bingung.


"Aku..," Agust tidak dapat mengutarakan apa yang baru saja dia lihat dalam ingatannya.


Dia memikirkan perasaan Archi bila tahu apa yang terlintas dalam benaknya saat berciuman dengannya. Dia tidak ingin Archi kepikiran dan merasa sedih bila tahu Agust ternyata pernah bercu mbu dengan seorang wanita di masa lalunya.


"Nggak..., nggak ada apa-apa," jawab Agust mengatur napasnya yang berantakan.


"Apa aku nyakitin kamu?" tanya Archi jadi merasa khawatir.


"Nggak Archi. Hanya saja aku sedikit kaget dengan pengalaman baru ini," dalih Agust.


"Oh..., kamu mau kita menunda HS kita?" tanya Archi, menyimbolkan tanda kutip dengan jarinya saat mengatakan HS. "Nggak apa-apa kalau kamu belum siap, kita akan lakuin lain kali,"


"Kalau kamu nggak keberatan," jawab Agust lirih.


"Nggak, tenang aja."


Walau agak sedikit kecewa Archi hanya bisa mendapatkan pengalaman pertama berciuman, namun dia sudah cukup bahagia. Akhirnya dia bisa merasakan yang namanya ciuman bibir dan itu bersama suaminya yang ganteng.


"Yah...seenggaknya sekarang aku tahu rasanya ciuman bibir itu bagaimana," pikir Archi menghibur diri.


"Siapa wanita yang aku cium itu? Aku yakin itu bukan Archi," kata hati Agust menjadi resah.


Esok hari, di kantor....


"Boro-boro." jawab Archi sedikit kesal.


"Kok bisa?" tanya Andini. Mereka bertiga menahan tawa melihat temannya pundung karena gagal malam pertama.


"Nggak tahulah, aku juga bingung."


"Begini, sebelum mulai bercinta ada baiknya kamu ajak Agust nonton film warna biru," usul Susan.


"Memang ada film warna biru?" tanya Archi.


"Haduuuh, gimana nggak mau gagal malam pertamanya. mereka kayanya masih pada polos gitu deh. Hahaha...." kelakar Susan mengundang tawa teman Archi yang lain.


"Aku nggak sepolos itu, aku juga tahu harus ngapain. Cuman semalam itu, Agust jadi aneh waktu dia cium aku." jelas Archi.


"Hm? Aneh bagaimana?" tanya Icha bingung.


"Iya, dia tau-tau lepasin ciumannya kaya kaget gitu." jelas Archi.


"Kamu gigit kali dianya."


"Nggak San, beneran deh. Akh percuma juga, kalian nggak akan ngerti," jawab Archi.


"Sttt..." Icha memberi kode bahwa Ridwan datang.


"Halo!" Ridwan duduk di seberang Archi seperti biasa. Yang lain membalas sapaan Ridwan.


"Jadi kamu udah mau malam pertama sama suami kamu, Archi. Akh...kenapa ini terasa sakit waktu aku mengetahui ini," batin Ridwan yang ternyata sempat mendengarkan percakapan mereka diam-diam sebelum lebih mendekati meja mereka.


"Rasanya aku jadi mau menuruti apa kata Jeremy untuk merenggut kesempatan menjadi yang pertama untukmu, Archi. Apalagi saat tahu dia nggak bisa memberikan kamu juga malam indah itu," sambung batinnya.


"Coba kalau sama aku Chi, jangankan malam pertama, kamu mau tujuh hari, tujuh malam juga aku jabanin, asal sama kamu. Duuuh... kenapa sama pikiran aku ini." pikir Ridwan lagi lalu terngiang lagu Jungkook BTS, Seven eksplisit verse.


...You know night aftеr night...


...I'll be fucckin' you right...


...Seven days a week...


Di malam jumat kemudian. Menuruti saran Susan, Archi mengajak Agust menonton film korea di handphone-nya. Film yang menampilkan adegan iya iya untuk memancing Agust.


Archi tidak ingin menonton biru film nya sungguhan, jadi dia memilih tontonan yang lebih smooth, namun ada pemancing gairahnya juga.


Sambil duduk rapat berdua, di atas tempat tidur dan bersandar di headboard mereka menikmati film tersebut. Hingga adegan itu muncul, Agust mulai merasa gelisah dan salah tingkah.


"Kamu kenapa ngajak aku nonton kaya gitu sih?" tanya Agust beringsut turun dari tempat tidur.


"Loh...kenapa? Kita kan udah merencakan ini. Kita mau mulai coba hubungan."


"Tapi aku belum siap Archi!" jawab Agust sedikit berteriak, kemudian langsung pergi ke kamar mandi.


"Agust kenapa? Apa dia nggak mau begituan sama aku?" pikir Archi jadi sedih.


"Apa iya dia cuman belum siap aja? Tapi kan kalau begini aku jadi ngerasa aku yang ngebet banget pengen begituan sama dia. Nyesel aku mulai duluan." gumam Archi, memasang wajah merengut.


Di kamar mandi,


Agust memandangi ereksinya di balik celana.


"Maafin aku Archi. Bukannya aku nggak mau melakukan itu sama kamu. Tetapi aku takut bayangan masa lalu itu muncul lagi saat kita melakukannya." batin Agust jadi sedih.