Cinta Agusd Si Kucing Tampan

Cinta Agusd Si Kucing Tampan
27. Cemburu


"Sampai ketemu besok, Archi!" kata Ridwan tersipu malu.


"Iya Pak," jawab Archi.


"Pak lagi. Ridwan aja lah!" keluh Ridwan bersikap imut.


"Iya Ridwan." jawab Archi tersipu. Sedikit aneh dan canggung bagi Archi, ketika ia kembali memanggil nama untuk atasannya itu. Terakhir kali dia memanggil nama adalah saat mereka masih di bangku kuliah sebelum Ridwan pindah kuliah ke luar negeri.


"Gitu dong!..., ya udah. Aku pulang dulu, yah?" pamit Ridwan bergeser ke mobilnya.


"Oke Pak. Maksudku Ridwan," koreksi Archi segera.


Ridwan melambai berjalan mundur perlahan seolah tidak ingin berpisah dengan Archi. Setelah drama berpamitan antara dua orang itu. Archi pun berjalan memasuki pagar rumahnya dan menuju pintu rumahnya kemudian.


Ketika Archi membuka pintu dia terkejut dengan dua sosok pria yang berdiri disebelah pintu.


"Heeeuhhh!" tarikan napas Archi yang tercekat, terkejut melihat Agust dan Ayahnya.


"Kalian ini ngapain sih di situ?" sungut Archi sambil menutup pintu. "Bikin kaget aja," dengusnya.


"Ck...Archi kamu itu nggak boleh berduaan dengan yang bukan mahram kamu." Ayah mengingatkan dengan lembut.


"Tapi kan dia hanya mengantar aku pulang ayah!" jawab Archi.


"Ya tahu. Lagipula harus ingat ada hati yang harus kamu jaga. Kamu kan sudah punya suami. Nanti dia cemburu. Dan nggak enak juga kalau tetangga lihat bisa timbul fitnah," nasehat Ayah.


"Cemburu? Apa kucing ini bisa cemburu? Aku rasa nggak," gumam Archi menatap Agust.


"Iya Ayah. Aku ke kamar ya Ayah. Aku lelah." Archi pun pamit dengan wajah lelahnya. Dia sudah nggak bertenaga sekarang. Lelah bekerja dan makan bersama lumayan menguras energinya hari ini.


"Baiklah, selamat istirahat!" ucap Ayah.


Agust mengikuti Archi ke kamar. Di dalam kamar.


"Cemburu itu apa?" tanya Agust.


"Cemburu itu, perasaan nggak suka ketika kita melihat orang yang kita sayang bersama orang lain. Semacam ada perasaan jengkel di hati ketika melihatnya," jelas Archi lalu mengambil baju ganti di lemari.


"Apa kamu cemburu melihat aku sama pria tadi?" tanya Archi berbalik menatap Agust.


Agust segera merunduk, menutupi ekpresi wajahnya.


"Nggak," kilah Agust seraya menggeleng. Padahal di balik wajahnya tertunduk, rona merah telah memenuhi wajahnya.


"Sudah aku duga," sahut Archi acuh sambil berjalan keluar kamar menuju kamar mandi dengan langkah lemahnya.


"Jadi perasaan jengkel di hatiku saat melihat Archi sama pria tadi, namanya cemburu. Aku cemburu!" batin Agust dengan wajah takjubnya. Tiba-tiba jantungnya berdegup kencang. Senyum tergambar di wajahnya yang tersipu.


"Jadi siapa pria itu?" tanya Agust diliputi rasa penasaran. Setelah Archi selesai mandi dan bersantai dengan susu kotak dingin di meja belajarnya.


"Pria itu?" Archi menatap Agust. "Dia Ridwan. Ridwan Arkansa. Pria tampan, jenius dan multitalenta," puji Archi.


"Usianya seumuran denganku. Kami satu kuliah dulu tetapi dia pindah keluar negeri dan juga lulus lebih cepat dari aku."


"Apa kamu menyukai Ridwan?" tanya Agust.


"Wanita mana yang nggak menyukai pria tampan dan pintar. Apalagi dia suka olahraga, badannya atletis, berotot, di tambah tatoo di tubuhnya terlihat macho!" Archi menggerakan tangannya menggambarkan bisep-bisep di tubuhnya ketika berbicara.


"Kamu pernah melihat tubuh pria itu?"


"Belum..., maksudnya nggak. Nggak secara langsung. Tetapi ada beberapa foto di Instagram yang dia post saat dia hanya mengenakan kaos biasa," jawab Archi.


Agust memandang lengannya, dan perutnya sendiri.


"Apa aku harus mulai olahraga?" bisiknya.


...****************...


Keesokan harinya. Ayah dan Ibu menjemput Kenji di sekolahnya dan meninggalkan Agust sendirian di rumah.


Setelah sekian lama mereka pun kembali. Dengan wajah berseri Ayah dan Ibu memanggil Agust. Namun Agust nggak juga turun. Ayah mencari Agust ke kamarnya namun Agust pun tidak ada.


"Agust...nggak ada bu!" kata Ayah tergesa-gesa turun dari lantai dua.


"Yang benar, yah?" mata Ibu terbelalak seraya bangkit dari duduknya.


"Coba kita cari ke sekeliling rumah dulu. Ibu telepon Archi, mungkin dia tahu Agust kemana,"


"Apa? Agust nggak di rumah Bu?" tanya Archi sangat terkejut ketika mengangkat telepon dari Ibunya. Dia sedikit berbisik karena sedang berada di kantor.


"Apa jangan-jangan dia berubah jadi kucing?" pikir Archi dengan hati bedebar. "Mana pas aku lagi nggak di rumah lagi. Gimana nih?"


"Aku pulang sekarang, ya Bu!" kata Archi. "Aku bakal izin keluar," sambungnya.


"Udah ketemu?" seru Archi mendapat jawaban dari telepon. "Dia masih jadi manusia kan, Bu?..., eh maksudnya, dia beneran Agust kan?...., hahahha.... Ya kali gitu bu dia berubah jadi power ranger...., oh ya udah...baik bu. Dah Ibu!" Archi pun menutup teleponnya.


"Hufh...syukurlah! Kirain dia berubah jadi kucing. Bisa berabe," bisik Archi.


"Lo ngomong apa?" tanya Andini yang mejanya berada di sebelah Archi.


"Nggak...gua nggak ngomong apa-apa!" jawab Archi memberikan senyum terindahnya.


Kembali ke rumah...


"Ya ampun Agust...! Kami pikir kamu hilang. Baru kami mau telepon polisi," seloroh Ayah.


Ternyata Agust berada di ruang kerajinan kayu ayah untuk membuat sesuatu yang akan diberikan kepada Archi.


"Kamu bisa juga menggunakan alat-alat ini?" tanya Ayah takjub dengan kemampuan tersembunyi menantu amnesia nya ini.


"Tadinya aku di sini coba-coba. Ternyata bisa juga. Walau nggak sebagus buatan ayah," jawab Agust merendah menunjuk kursi yang telah di cat buatan ayah.


"Bisa aja kamu. Ini pasti untuk hadiah ulang tahun Archi, ya? Dia kan ulang tahun sebentar lagi?"


"Ulang tahun?" tanya Agust nampak bingung.


"Ulang tahun, itu perayaan hari lahir kita," jelas Ayah.


"Oh..., kapan ulang tahun Archi?"


"Duapuluh satu Juni. Sama dengan presiden Jokowi," kata Ayah bangga.


Agust hanya mengangguk dan tersenyum karena dia tidak tahu presiden jokowi.


"Oh iya, ini untukmu. Tadi Ayah dan Ibu ke mall beliin kamu ini," Ayah memberikan kotak bergambar Handphone.


"Ini handphone, Ayah Mertua!" seru Agust girang.


"Iya ini untukmu. Jadi gampang kalau kamu mau menghubungi Archi," kata Ayah.


"Terimakasih Ayah Mertua!" Agust berlari memeluk Ayah mertua dan tanpa sadar, saking senangnya, hendak memeluk Ibu Mertua yang baru datang dengan nampan jus buah.


Namun Agust mengurungkan niatnya memeluk Ibu mertua dan berbelok memeluk Kenji kecil. Ayah dan Ibu tertawa dibuatnya.


"Kenji, aku punya handphone!" seru Agust.


"Iya ka. Mau aku ajari cara pakainya, Ka?" tanya Kenji.


"Boleh..."


"Ayo kita ke dalam!" Ajak Ayah.


"Minumannya Ibu bawa lagi dong, Yah!" keluh Ibu memelas.


"Ucup...ucup... Sini biar Ayah yang bawakan." ayah mengangkat nampan berisi minuman.


"Aku loh yang pilihkan handphone-nya Kak!" celoteh Kenji sambil berjalan.


Mereka pun masuk kembali ke dalam rumah.


Berbeda dengan siang hari yang panas terik. Sore hari berubah menjadi kelabu. Mendung yang tidak seperti biasanya. Langit gelap dengan awan-awan hitam bergelayut suram di atas sana.


"Langitnya gelap banget Chi!" Andini berbisik kepada Archi yang tengah bekerja dengan komputer di mejanya. Kebetulan meja kerja mereka bersebelahan.


"Iya, anginnya juga kencang," timpal Archi memandang keluar jendela.


"Kayanya mau ada badai," lontar Andini merinding.


...****************...