
Di dalam mobil....
"Jadi bagaimana kabar suami kamu?" tanya Ridwan.
"Katanya tangannya yang patah masih terasa sakit. Jadi dia nggak bisa leluasa bergerak," jelas Archi.
"Oh gitu, dua-dua nya yang patah?" tanya Ridwan.
"Yang kiri,"
"Loh, berarti tangan kanannya nggak apa-apa kan?" tanya Ridwan.
"Harusnya sih gitu," jawab Archi.
Sesampainya di rumah...
Archi bergegas pergi ke kamarnya dan menemui Agust.
"Agust...!" panggil Archi mendekati Agust yang duduk bersandar di headboard tempat tidur sambil memainkan handphone-nya.
Sekilas Archi melihat Agust sedang berkirim pesan dengan Irene sebelum dia menutup handphone miliknya. Hatinya tiba-tiba terasa kecut melihat itu.
Agust merengut, dia nggak mau melihat Archi.
"Maaf Agust. Ini udah acara wajib di kantor. Kamu kan udah tahu tiap bulan pasti begitu." bujuk Archi duduk di sebelah Agust.
Agust bergeming walau hidungnya tergelitik dengan harum makanan dari tentengan yang dibawa Archi.
"Nih....aku bawain kamu martabak telor. Boleh dimakan tanpa nasi," bujuk Archi.
Karena kebiasaan keluarganya yang takut mubazir, jadi melarang memakan martabak telor tanpa nasi. Martabak sejatinya berfungsi sebagai lauk di rumah Archi.
"Asal jangan ketahuan Ayah," sambung Archi menekankan ucapannya yang seolah bertanda kutip.
Agust berpura-pura nggak tertarik padahal dia sudah kepengen banget makan martabak telornya.
"Ya udah kalau nggak mau." jawab Archi ikutan manyun.
"Dahlah. Aku capek Agust. Capek dikerjaan, capek abis makan malam sama orang kantor," Archi melepas tas sling bag dari pundaknya.
"Capek apa senang?" sindir Agust dengan ketus.
"Maksudnya?" Archi mengernyitkan dahinya.
"Aku tahu pasti senang. Makan malam kantor kan ada atasanmu itu, si Ridwan." sulut Agust.
"Terus kalau ada Ridwan kenapa aku harus senang. Kenapa jadi bawa-bawa Ridwan?"
"Dia nyari-nyari alasan biar kamu bisa cepat masuk kerja dia juga bikin alasan biar kamu makan malam sama dia. Dan kamu ya, senang-senang aja. Nggak pernah mau nolak,"
"Ya posisi aku juga sulit. Kalau aku nggak nurut aku bisa dipecat. Aku nggak mau dipecat cuman gara-gara sikap konyol kamu,"
"Apa? Aku konyol? Kamu bilang aku konyol?"
"Apa namanya kalau bukan konyol? bikin alasan sakit biar terus diurusin," pekik Archi.
"Ya wajar aku suami kamu. Tapi atasan kamu? Kamu juga mau nurut sama dia karena kamu cinta kan sama si Ridwan itu!"
"Kalau aku memang cinta sama Ridwan kenapa?" tanya Archi berhadapan dengan Agust.
"Masalah buat kamu? Denger ya, kamu lupa alasan kita nikah itu apa? Aku juga punya kehidupan sebelum kita menikah. Jadi jangan lewati batasmu," sungut Archi.
Duuuuaaaarrr
Agust merasa seperti tersambar petir ketika Archi membahasnya. Nggak pernah terpikirkan olehnya Archi akan mengatakan hal dan mengingatkan tentang hal itu. Karena yang selama ini dia rasakan hubungan mereka benar-benar serius.
Bagaikan langit yang dijunjungnya runtuh dan bumi yang dia pijak hancur, seperti itulah perasaan Agust saat ini. Semua harapan yang dia tanam dan pupuk akan menjalani pernikahan seumur hidupnya ternyata semua hanya harapan hampa.
Archi pergi ke kamar mandi dan mandi di sana.
Tanpa disadari airmata mengaliri pipi Archi. Dia merasakan kejamnya dia mengatakan hal itu kepada Agust. Dia merasa sangat bersalah karena hal itu. Meskipun dia memang mencintai Ridwan nggak seharusnya dia mengatakan secara kasar begitu kepada Agust.
Seperti kata Ayahnya walau bagaimanapun Agust adalah suaminya. Dan mereka sudah terikat janji pernikahan di depan Allah.
Karena terlalu lelah beberapa hari ini sejak Agust kecelakan, ditambah hari ini di kantor, dan melihat Agust berkirim pesan dengan Irene, membuat Archi jadi sangat kesal hingga dia tersulut untuk marah ketika Agust mengatakan itu. Namun sekarang dia merasa sangat bersalah.
Archi kembali ke kamar dan melihat Agust sudah tertidur di atas tempat tidurnya. Ibu masuk ke dalam kamar,
"Archi," ucap Ibu lirih.
"Loh, Agust udah tidur?" kata ibu.
"Dia belum makan dari siang. Katanya dia mau menunggu kamu aja buat makan," kata Ibu. Archi bertambah sedih mendengarnya.
"Jadi Agust belum makan?"
"Iya, ini ibu mau nanya sama kamu. Makanannya mau dibawa naik atau kalian mau ke bawah,"
"Masa mau dibangunin? Kasian juga kan Bu?"
"Iya. Ya sudah kamu siap-siap aja kalau dia bangun lapar, kamu angetin makanannya." pesan Ibu.
"Ya udah kalau gitu, Bu."
"Ibu turun ya. Mau tidur, ngantuk."
"Iya Ibu."
Setelah Ibu pergi, Archi merebahkan badannya di atas kasur. Dia tidur miring menghadap Agust dengan perasaan sedihnya.
"Agust...maafin aku ya," bisiknya.
Tengah malam saat Archi sudah tertidur pulas. Agust terbangun dari tidurnya. Melihat Archi tidur meringkuk tanpa selimut, Agust menyelimuti Archi dan kemudian turun dari tempat tidurnya.
Karena lapar Agust pun pergi ke dapur untuk mencari makanan.
Dia mulai menghangatkan makanan yang di masak ibu lalu memakannya. Dia melihat martabak telor yang Archi bawa di bawah tudung saji.
"Kenapa ini begitu terasa miris di hatiku." Agust tertawa geli.
"Aku terlalu terbawa perasaan jadi berpikir Archi serius menjalani pernikahan ini. Sampai aku lupa kalau kami menikah hanya karena Archi ingin menolongku," Agust menggeleng dan kembali makan.
"Selamat datang kembali dalam kenyataan, Agust!"
Selesai makan Agust pergi ke ruang tamu dan menyalakan televisi. Dia menonton disana sampai ketiduran di sofa.
Archi yang menyadari Agust nggak ada di tempat tidur pun mencarinya. Awalnya Archi langsung ke dapur. Meskipun Agust merapihkan dan mencuci piringnya setelah makan, Archi tahu Agust baru saja makan dan menghangatkan makanannya sendiri.
"Hufh...aku ketiduran sampai nggak tahu Agust bangun. Dia jadi melakukan semuanya sendiri," gumam Archi lalu pergi ke ruang tamu dan mendapati televisi yang menyala sedang menonton Agust yang tertidur.
"Kenapa dia tidur di sini sih. Dia kan lagi sakit," kata Archi sambil mematikan televisi.
"Agust...bangun!" Archi menggoyangkan tangan Agust.
Agust mengerang sambil berbalik dengan mata terpejamnya. Archi pun menyerah dan kembali ke kamar.
Tidak lama Archi datang lagi dengan selimut. Dia pun menyelimuti Agust.
Keesokan harinya saat Agust terbangun dia terkejut dengan selimut yang sudah terpasang di tubuhnya.
"Apa Archi yang menyelimutiku?" pikirnya.
"Agust...kok tidur di sini?" tanya Ayah yang baru pulang salat shubuh di mesjid.
"Ketiduran Ayah. Lagi nonton tv malah tidur," jawab Agust.
"Oh gitu. Shalat shubuh dulu gih, keburu habia waktunya." suruh Ayah menengok jam.
"Iya ayah."
"Minta bantuan Archi untuk wudhunya."
"Aku bisa sendiri ayah." jawab Agust.
Archi yang turun dari tangga bisa mendengarnya dan merasakan sindiran itu tepat ke hatinya. Agust berjalan menuju tangga. Dia menaiki tangga tanpa menyapa atau melihat kepada Archi.
Selesai shalat mereka berkumpul di ruang makan untuk sarapan bersama.
"Ibu mertua maafkan aku belum bisa bantu Ibu mertua." kata Agust.
"Nggak apa-apa Agust. Ibu ngerti kamu juga kan lagi sakit." jawab Ibu.
Archi menyendokkan makanan ke piring untuk Agust. Saat akan menyuapinya, Agust mengambil piring nasinya dari tangan Archi dan memakan makanannya sendiri. Agust terlihat sedikit kagok ketika makan dengan tangan satu. Meski begitu dia menolak di bantu.
"Nggak minta disuapin lagi Agust?" tanya Kakak terkekeh.
"Nggak Kak. Kasihan Archi dia harus buru-buru berangkat ke kantor. Aku nggak mau karena aku dia jadi telat ke kantor," jawab Agust terdengar biasa oleh yang lain namun sinis di telinga Archi ditambah tatapannya yang tajam dari sudut terluar matanya.
"Sepertinya Agust benar-benar terluka karena ucapanku," kata hati Archi, merasa sedih dan terluka.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa dia mau menerima permintaan maafku?" pikirnya.