
"Apa?" Archi memekik kencang mengejutkan Ibu dan Agust. Seperti Archi, mereka berdua pun tercengang, tercengang karena mendengar kencangnya pekikkan Archi yang memekakkan telinga mereka.
"Kalian ini bicara apa? Aku hamil?" tanya Archi tidak percaya.
"Iya. Semalam kalian membeli obat mual dan tadi pagi kamu muntah-muntah." Ibu menerangkan bagaimana pikiran itu bisa tercetus.
"Aku hanya telat makan kemarin. Jadinya mual kena magh," sanggah Archi.
"Keseringan orang hamil awalnya memang nggak mengira hamil. Karena menganggap magh biasa." Ibu bersikeras kalau gejala yang Archi alami adalah gejala kehamilan.
"Tetapi Ibu..., bagaimana aku bisa hamil?" tanya Archi.
"Kamu kan punya suami ya pasti bisa hamil," jawab Ibu.
"Iya kamu kan punya aku," Agust lugu menyahut asal.
Archi memukul belakang bahu Agust, "Kita aja nggak pernah ngapa-ngapain. Gimana bisa hamil?" dengusnya. Sementara yang dipukul meringis kesakitan.
"Begini ya Ibu. Maksudku," Archi mulai bercakap sambil mengusap punggung Agust yang sakit. Dia merasa kasihan dan merasa juga bersalah di waktu bersamaan. Tetapi dia juga gemes dengan kepolosan Agust.
"bagaimana aku bisa hamil kalau kami bahkan nggak pernah berhubungan badan?" sambung Arci coba menjelaskan.
"Kalian belum pernah berhubungan badan?" Ibu mentautkan alisnya, tidak percaya.
"Iya ibu."
"Mana mungkin? Kalian tinggal dalam satu kamar dan satu ranjang dan kalian nggak pernah ngapa-ngapain?" Ekpresi ibu membeku. Dia benar-benar tidak bisa memasukan yang di dengarnya kedalam akal sehatnya.
"Buktinya itu yang terjadi. Dari awal kemunculan Agust di tempat tidurku aku sudah bilang kalau aku nggak berbuat apa-apa dengannya. Dan kalian terus menuduhku yang nggak nggak bahkan sampai detik ini." Jelas Archi lagi.
"Kalau Ibu masih penasaran aku hamil, ayo kita ke rumah sakit dan kita periksa," usul Archi.
"Nggak usah..," Ibu mengibaskan tangannya. "Ibu percaya kalau kamu yang mengatakan itu," sambungnya.
"Tetapi kalian hebat, selama ini dalam kamar berdua dan kalian nggak saling tergoda. Padahal banyak anak-anak sekarang yang nggak serumah tapi senang ngamar bareng,"
Setelah perdebatan hamil bersama Ibu, Archi dan Agust kembali ke kamar.
Archi menghela napasnya dan menjatuhkan diri ke atas kasur.
"Jadi kamu nggak hamil?" tanya Agust bersandar di tembok sebelah jendela kamar, bersebrangan dengan Archi.
"Nggak Agust," jawab Archi memejamkan matanya.
"Kita nggak jadi punya anak kucing dong?" lontar Agust.
"Apa?" Archi buru-buru terduduk memastikan apa maksud omongan Agust. "Anak kucing?"
"Iya, saat aku jadi kucing aku lihat kucing-kucing betina hamil dan mengeluarkan anak kucing." Archi tertawa keras mendengar kepolosan Agust si kucing.
"Hahaha..., kalau aku hamil yang keluar bukan anak kucing Agust tetapi bayi manusia," jelas Archi.
"Oh begitu," jawab Agust. "Lalu bagaimana caranya bisa hamil?"
"Stooobb it!" Archi membuka telapak tangan dan mengangkatnya menghadap Agust sambil sebelah tangannya menutup telinga. "Lebih baik kamu tetap polos seperti itu. Ok?" tekan Archi bangkit dari duduknya untuk berangkat mandi.
...****************...
"Jadi Archi nggak hamil?" Ayah memastikan lagi kepada Ibu.
Mereka berdua tengah duduk di sofa setelah makan malam bersama.
"Nggak Yah. Masa mereka belum begituan walau satu kamar? Apalagi mereka itu sah suami istri," tanya Ibu masih merasa heran.
"Bagus dong bu berarti anak kita imannya kuat," sahut Ayah.
"Ya tapi kan kalau mereka mau juga nggak apa-apa kan, Yah? Nggak dosa, orang mereka suami istri,"
"Iya bu." Ayah menjawab singkat dan fokus kembali menonton pertandingan bola di televisi.
"Astagfirullah..., si Ibu mikirnya kejauhan." cetus Ayah mengelus dada. "Sekarang kita lihat Agustnya aja amnesia dan lupa segalanya. Dia pasti belum mengerti dengan hal-hal begitu."
"Tau gitu, kalau mereka memang nggak ngapa-ngapain, dulu kenapa kita memaksa mereka nikah, Yah?" sesal Ibu.
"Jangan begitu Ibu. Anggap saja ini sudah takdir Archi. Lagian Ibu juga udah seneng punya menantu Agust, kan Bu? Ada yang bisa membantu Ibu memasak di dapur dan pekerjaan rumah lain."
"Iya sih Yah. Ternyata memang Agust anaknya baik,"
...****************...
Esok hari Kakak berkencan dengan Jeremy. Setelah menonton film di bioskop Jeremy mengajak kakak makan di sebuah restoran mahal.
"Jadi Archi hamil?" tanya Jeremy.
"Nggak..., Ibu bilang sih mereka malah belum pernah ngapa-ngapain," jelas Kakak sambil memotong daging steak miliknya.
"Maksudmu, Archi masih perawan gitu?" Jeremy tersenyum dengan senyuman misterius ketika bertanya kepada Kakak. Senyuman yang tidak bisa di artikan.
"Kata dia sih begitu. Tetapi kita mana tahu kan. Ya mungkin dia nggak hamil, tapi siapa yang jamin kalau suaminya belum ngapa-ngapain dia." kakak mode julid is on.
"Kalau Archi yang bicara begitu berarti benar," celetuk Jeremy membuat wajah Kakak merengut berwarna merah dan sorot matanya tajam menghunus ke arahnya.
"Kok kamu lebih mendukung dia!" pekiknya.
"Eh..., maksudnya bukan begitu. Tapi...,"
"Udahlah..., kamu itu selalu membela Archi daripada aku," Kakak berpaling dengan ekpresi marah dan melipat tangan di atas perut.
"Iya..., maaf Levi. Jangan marah dong..., kamu jadi tambah cantik kalau lagi marah. Aku kan jadi tambah cinta sama kamu," ucapnya memegang tangan Kakak.
Sudut bibir Kakak naik, membentuk senyuman tertahan. Kakak paling tidak kuat dengan pujian dari Jeremy. Dia pun luluh dan kembali makan.
"Jadi segelnya belum di buka," batin Jeremy menyunggingkan senyum penuh maknanya. "Laki-laki bodoh mana yang menganggur kan istrinya seperti itu," sambung batinnya sambil meminum iced coffee late.
Hujan deras di malam hari. Archi menikmati malam hujan dari balik jendela kamarnya yang dibiarkan terbuka. Duduk di kursi di bawah jendela, Archi menaruh dagu di atas lengan yang ia baringkan di ambang jendela.
Di ujung tempat tidur Agust duduk menggerak-gerakkan kakinya.
"Archi," panggil Agust mencari perhatian. Archi menolehkan kepala.
"Apa?" tanya Archi.
"Aku belum cerita ya?"
Archi duduk terbalik di sandaran kursi, "Belum. Ada apa?" tanyanya.
"Pandangan ingatan kucingku mengingat sesuatu,"
"Oh ya? Apa itu?"
"Aku melihat dalam ingatanku, aku sebagai kucing putih lagi tidur di bangku belakang mobil. Jok mobil itu terbuat dari kulit berwarna hitam. Di sebelahku, duduk dekat pintu mobil, aku melihat seorang pria menggunakan celana kerja berwarna khaki dan jas berwarna senada," jelas Agust.
"Benarkah?" Mata Archi terlihat dua kali lebih besar dari ukuran aslinya dan mulutnya pun menganga.
"Mungkin dulu ini kamu kucing orang kaya." Archi mencoba menyimpulkan.
"Oh iya!" Agust menyeru ada yang ia lewatkan dari petunjuknya. "Ada suara seorang pria yang berkata kita buang saja!"
"Berarti kamu dibuang oleh pemilikmu. Malangnya!" celetuk Archi.
"Jadi aku dibuang." Suara Agust melemah dengan wajahnya yang tertunduk dan bahunya yang terkulai.
"Agust," guman Archi tiba-tiba menyesali mulutnya yang terlalu berterus terang tanpa memikirkan bahwa mungkin itu bisa melukai hati Agust.
Ia pun memikirkan apa yang sebaiknya dia katakan dan lakukan agar Agust tidak lagi bersedih?
...****************...